KAJIAN MUSLIMAH SPESIAL EDISI RAMADHAN

Keputrian Al-Khansa di bawah Naungan DKM Al-Kautsar PT TACI

Kamis,19 Februari 2026 dengan pemateri Ustadzah Wila Hodijah S.Pd.,M.Pd.

 

Di dunia yang memuja kecepatan, berhenti sering kali dianggap sebagai kekalahan. Kita berlomba dengan tenggat waktu, terjebak dalam guliran feed media sosial yang tak berujung, dan membiarkan pikiran kita berlari lebih cepat daripada langkah kaki kita. Namun, Ramadhan hadir sebagai interupsi ilahi—sebuah "Jeda Strategis" yang dirancang untuk menyelamatkan jiwa dari kelelahan eksistensial.

Konsep The Power of Pause dalam Ramadhan bukan sekadar berhenti makan dan minum, melainkan seni mengambil jarak dari kebisingan dunia untuk mendengar kembali suara hati dan perintah Sang Pencipta.

A. Jeda Fisik: Detoksifikasi dan Disiplin

Secara biologis, puasa memaksa sistem pencernaan kita untuk beristirahat. Jeda ini memberikan kesempatan bagi tubuh untuk melakukan pemulihan diri (self-healing). Namun secara filosofis, jeda fisik ini mengajarkan kita bahwa:

  • Kita adalah tuan atas keinginan kita, bukan budaknya.

  • Ada kekuatan besar saat kita mampu berkata "tidak" pada hal yang halal (makan/minum) demi ketaatan, yang memperkuat otot mental kita untuk berkata "tidak" pada hal yang haram di luar Ramadhan.

B. Jeda Mental: Memutus Rantai Otomatisasi

Banyak dari kita hidup dalam mode autopilot. Kita marah tanpa berpikir, bicara tanpa menimbang, dan bekerja tanpa makna. Ramadhan menuntut kesadaran penuh (mindfulness).

"Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus." (HR. Ahmad)

Hadits ini adalah peringatan bahwa tanpa "Jeda Mental"—yaitu berhenti sejenak sebelum bereaksi—puasa kita kehilangan substansinya. Berhenti sejenak sebelum marah, berhenti sejenak sebelum mengetik komentar negatif, dan berhenti sejenak untuk berpikir sebelum berucap adalah inti dari kekuatan jeda ini. Dalam jeda mental ini kita sedang dilatih untuk bersabar. Bersabar dalam tiga hal yakni : 1) Bersabar dalam ketaatan  2) Bersabar untuk menjauhi kemaksiatan 3) Bersabar dalam mengahdapi takdir/ujian.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai Sabar dalam 3 Hal:

1. Sabar dalam Ketaatan kepada Allah

Ketaatan sering kali membutuhkan konsistensi yang melelahkan bagi nafsu. Di bulan Ramadhan, jeda yang kita ambil dari kebiasaan sehari-hari menuntut kesabaran ekstra untuk tetap tegak dalam ibadah.

  • Bentuknya: Menjaga shalat tepat waktu, bangun sahur meski mengantuk, dan tetap istiqamah tadarus Al-Qur'an saat tubuh mulai lelah.

  • Kuncinya: Fokus pada tujuan akhir (reward), bukan pada beratnya proses. Tanpa kesabaran ini, ibadah hanya akan menjadi rutinitas yang hambar.

2. Sabar dalam Menjauhi Kemaksiatan

Ini adalah bentuk sabar yang paling relevan dengan konsep The Power of Pause. Di sini, sabar berarti menahan diri dari dorongan impulsif untuk melakukan hal-hal yang dilarang atau sia-sia.

  • Bentuknya: Menahan lisan dari ghibah (gosip), menahan mata dari pandangan yang tidak terjaga, dan menahan emosi saat diprovokasi.

  • Kuncinya: Menyadari bahwa "jeda" antara rangsangan dan respon adalah ruang di mana kebebasan dan karakter kita diuji. Saat berpuasa, kita belajar berhenti sejenak sebelum mengikuti syahwat.

3. Sabar dalam Menghadapi Takdir (Ujian)

Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, bahkan di bulan yang penuh berkah sekalipun. Sabar di sini adalah tentang bagaimana kita merespon ketetapan Allah yang terasa pahit.

  • Bentuknya: Menghadapi musibah, kehilangan, sakit, atau kesulitan ekonomi tanpa mengeluh yang berlebihan (tasyakki).

  • Kuncinya: Memahami bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah yang sering kali belum tertangkap oleh logika manusia. Sabar dalam hal ini adalah bentuk rasa syukur yang tertunda.

Mengapa 3 Hal Ini Penting dalam Ramadhan?

Ramadhan adalah "kamp pelatihan" untuk melatih ketiga jenis sabar ini secara simultan:

  1. Kita dipaksa taat dengan aturan puasa dari terbit hingga terbenam fajar.

  2. Kita dipaksa berhenti dari hal-hal yang membatalkan atau merusak pahala puasa.

  3. Kita dilatih menerima rasa lapar dan haus sebagai bagian dari takdir yang harus dijalani dengan ikhlas.

"Sabar itu ada tiga: sabar atas musibah, sabar dalam ketaatan, dan sabar dari kemaksiatan." (Dikutip dari penjelasan para ulama, termasuk Imam Al-Ghazali).

3. Jeda Spiritual: Menghubungkan Kembali Kabel yang Putus

Ramadhan adalah momen untuk melakukan recalibration. Shalat Tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan i’tikaf adalah bentuk nyata dari "Pause". Kita berhenti dari urusan duniawi untuk menghadap Tuhan.

  • Dalam Jeda ada Doa: Saat kita berhenti sejenak di antara adzan dan iqamah, atau di sepertiga malam, di situlah komunikasi paling intim dengan Allah terjadi.

  • Dalam Jeda ada Refleksi: Tanpa jeda, kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kita telah melangkah menyimpang.

Mengapa Kita Membutuhkan Kekuatan Jeda?

Tanpa jeda, hidup hanya akan menjadi rangkaian peristiwa tanpa makna. Ramadhan memberikan kita momentum untuk:

  1. Melihat Perspektif Baru: Seperti melihat pemandangan dari kereta yang sedang berhenti, kita bisa melihat detail kehidupan yang biasanya terlewat saat kita melaju kencang.

  2. Menghargai Kehadiran: Menghargai nikmat seteguk air saat berbuka, yang selama ini kita anggap remeh.

  3. Memperbaiki Fokus: Mengalihkan fokus dari "apa yang saya inginkan" menjadi "apa yang Tuhan inginkan dari saya."

Kesimpulan :

The Power of Pause dalam Ramadhan adalah tentang berhenti untuk menjadi lebih kuat. Kita berhenti makan untuk memberi makan jiwa. Kita berhenti mengejar dunia untuk mengejar ampunan. Kita berhenti sejenak dari kebisingan agar bisa mendengar petunjuk-Nya dengan lebih jelas.

Jeda ini tidak membuat kita tertinggal. Justru, ia mempersiapkan kita untuk berlari lebih jauh dan lebih terarah di sebelas bulan berikutnya.