Julaibib, Kekasih Langit yang Terasing di Bumi

 

_Dicap buruk rupa, penuh kekurangan, tak jelas nasabnya, Julaibib tetap mendapat tempat di sisi Rasulullah. Bahwasanya semua orang setara di sisi Allah._

 

                  ♡♡♡♡♡♡

 

Matahari condong ke barat, meninggalkan gurat jingga di pasir dan bebatuan lembah yang baru saja jadi saksi pertempuran. Debu yang sempat membumbung kini mereda, menutup bumi dengan hening yang mencekam.

 

Saat para sahabat sibuk mengumpulkan rampasan perang dan merawat korban, Nabi Muhammad justru menanyakan hal lain, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

 

Para sahabat saling berpandangan, lalu menyebut tokoh berpengaruh, pemilik kabilah, orang kaya, atau wajah rupawan. Nabi mendengarkan, tetapi kemudian bertanya lagi dengan nada sama, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

 

Nama-nama lain kembali disebut. Hingga pertanyaan ketiga, mereka terdiam. Menurut ukuran sosial, semua sosok penting bagi mereka sudah dihitung.

 

“Tidak, kami tidak kehilangan siapa pun lagi,” jawab mereka.

 

Saat itulah Nabi Muhammad meruntuhkan hierarki jahiliah yang masih melekat, dengan menegaskan, “Lakini afqidu Julaybiban [Akan tetapi aku kehilangan Julaibib]," kemudian memerintahkan, “Carilah dia di antara jenazah!”

 

Para sahabat pun bergegas mencari, menyusuri ladang, membalik tubuh-tubuh kaku, hingga akhirnya menemukan Julaibib terbaring di samping tujuh musuh yang berhasil ia robohkan sebelum mati syahid.

 

Peristiwa tersebut tercatat dalamSahih Muslim nomor 2472, bab "Min Fadha’il Julaibib". Tapi, siapakah Julaibib? Mengapa ia terpinggirkan hingga ketiadaannya tak disadari?

 

*Tanpa Nasab, Tanpa Perlindungan*

 

Julaibib disebut-sebut memiliki kekurangan secara fisik dan penampilan. Kitab Usdul Ghabah fi ma’rifat al-Saḥabah (1200:550) karya Ali Izzuddin bin al-Athir menggambarkannya dengan jujur sekaligus pedih. Tubuhnya pendek dan disebut sebagai damiman (tidak rupawan, cacat, penampilan yang membuat orang enggan menatap lama).

 

Tak hanya penampilan yang membuat dirinya teralienasi, identitas nasabnya juga kabur. Satu-satunya informasi soal itu disebutkan oleh Ibnu Saad, dinukil dari kitab Sifatussafwah Jilid 1 (1424:283) milik Imam Ibnu al-Jauzi, yang mendengar seseorang menyebutkan bahwa Julaibib adalah laki-laki dari Bani Ta’labah, masih kerabat kaum Anshar.

 

Orang-orang menjauhi Julaibib karena menilai penampilan luarnya. Bahkan, ada riwayat yang mengisahkan Abu Barzah Al-Aslami, sahabat nabi yang juga berasal dari kaum Anshar, pernah memperingatkan istrinya agar menjauhi Julaibib.

 

“Jangan biarkan Julaibib masuk! Jika ia berani, aku akan melakukan sesuatu padanya,” ketus Abu Barzah.

 

Julaibib dianggap gangguan. Kehadirannya membuat orang tak nyaman, entah karena rupa atau status. Padahal, ia muslim, bersyahadat, salat di belakang nabi, berpuasa di bulan yang sama.

 

Nabi Muhammad menangkap kesedihan di balik senyum getir Julaibib setiap kali diperlakukan tak setara. Suatu hari, Rasulullah mengatakan dengan nada hangat dan menawarkannya untuk menikah.

 

Di Madinah, martabat lelaki dewasa pulih melalui pernikahan. Menikah berarti ada kabilah yang rela menyerahkan putrinya, sekaligus mengangkat status sosialnya menjadi setara.

 

Heran dengan tawaran itu, Julaibib menatap Nabi dan balik bertanya, “Siapa yang mau menikahkan putrinya denganku, Wahai Rasulullah? Aku tak punya harta, tak punya kedudukan...”

 

Dalam riwayat lain yang dikutip Daylam bin Ghazwan dari kitab hadis Musnad Abu Ya’la Jilid 6, ia berkata, “Kalau begitu, engkau akan mendapati aku sebagai barang yang tidak laku (kasidan).”

 

Mendengar Julaibib merendahkan dirinya sendiri, Rasulullah menegaskan, “Akan tetapi di sisi Allah, engkau bukanlah barang yang tidak laku.”

 

Rasulullah tidak berhenti pada nasihat. Dia memutuskan menjadi wali bagi Julaibib, melamarkan seorang wanita untuknya.

 

*Lamaran yang Mengguncang Madinah*

 

Seperti dikisahkan dalam kitab Syarhussunnah Jilid 14 (1983:196-197) karya Abu Muhammad al-Baghawi, Rasulullah memilih keluarga Anshar yang terpandang. Ia mendatangi ayah dari pihak perempuan.

 

“Wahai Fulan,” ujar Rasulullah, “Aku ingin melamar putrimu.”

 

Wajah sang ayah bersinar, membayangkan putrinya akan menjadi Ummul Mukminin. Namun, nabi segera meluruskan dengan lembut, “Aku tidak menginginkannya untuk diriku sendiri.”

 

Sang ayah tertegun, lalu bertanya, “Untuk siapa, Wahai Rasulullah?”

 

“Untuk Julaibib,” jawabnya singkat dan mengejutkan.

 

Nama itu membuat sang ayah tergagap. Ia berkata pelan, “Untuk Julaibib?”

 

Ayah dari si perempuan lalu bermusyawarah menemui sang istri. Sama halnya dengan respons suaminya, ia terperangah.

 

“Untuk Julaibib? Apakah [yang dimaksud adalah] Julaibib yang tidak punya ini dan itu?” Seolah tak butuh jawaban, ia lalu menegaskan, “Kita tidak akan menikahkannya.”

 

Perdebatan itu terdengar hingga kamar sang gadis—namanya jarang disebut, tetapi digambarkan cantik, cerdas, dan taat. Ia lantas menghampiri orang tuanya, “Siapa yang melamarku kepada kalian?”

 

Orang tuanya menjelaskan bahwa Rasulullah datang melamarkan untuk Julaibib. Sang gadis tidak bertanya tentang rupa atau harta. Ia hanya menegaskan siapa yang meminta.

 

Putri itu bertanya pada mereka, “Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah? Serahkan urusanku kepadanya, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjut sang putri.

 

Dalam riwayat lain diceritakan, sang putri membaca firman Allah (QS. Al-Ahzab: 36),“Tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka.”

 

Putri Anshar tersebut memahami bahwa pilihan nabi adalah pilihan Allah sehingga pasti mengandung kebaikan. Keyakinannya membuat hati orang tuanya luluh. Sang ayah kembali kepada Rasulullah dengan nada pasrah, “Wahai Rasulullah, urusan ini terserah kepadamu. Nikahkanlah dia dengan Julaibib.”

 

Pernikahan pun terjadi. DalamTafsir Al-Qur’anil ‘Adzhim Jilid 6 karangan Ibnu Katsir, Rasulullah, yang mengetahui pengorbanan hati sang gadis, memanjatkan doa khusus, “Allahumma shubba ‘alayhal khayra shabba, wa la taj‘al ‘ayshaha kadda [Ya Allah, tuangkanlah kebaikan atasnya dengan deras, dan jangan jadikan hidupnya susah]."

 

*Dia Dariku dan Aku Darinya*

 

Julaibib dan istrinya memulai hidup baru. Untuk pertama kalinya, ia punya rumah untuk pulang dan seorang istri yang menyambutnya dengan senyum.

 

Namun ujian datang cepat. Tak lama setelah pernikahan, seruan jihad bergema di Madinah ketika Perang Khandaq berkecamuk.

 

Syariat memberi kelonggaran bagi pengantin baru untuk tidak segera berangkat. Akan tetapi, Julaibib adalah jiwa yang ditempa kerinduan kepada Allah. Tanpa ragu, ia berpamitan kepada istrinya, yang memilih keikhlasan dan keteguhan hati yang sama. Dengan itu, Julaibib berangkat.

 

Julaibib turun ke medan perang dengan keberanian seekor singa. Tubuhnya kecil, tapi justru membuatnya lincah. Ia tidak bersembunyi, tapi maju ke garis depan. Ia berhadapan dengan musuh satu per satu. Pertama, kedua, ketiga, hingga tujuh orang berhasil ia robohkan.

 

Namun setelah menjatuhkan musuh ketujuh, Julaibib gugur. Tubuhnya rebah di tanah, jiwanya terbang menuju Tuhannya. Saat Rasulullah dan para sahabat menemukan jasadnya di samping tujuh mayat musuh, suasana hening. Nabi berdiri di samping tubuh sahabat kecil itu, menatap wajahnya yang berdebu.

 

Dengan suara bergetar penuh cinta, Nabi Muhammad bersabda, “Dia telah membunuh tujuh orang, kemudian mereka membunuhnya.” Ia kemudian mengulang suatu kalimat sebanyak tiga kali, yang menjadi mahkota kemuliaan Julaibib,

 

_“Hadza minni wa ana minhu. Hadza minni wa ana minhu. Hadza minni wa ana minhu [Orang ini bagian dariku, dan aku bagian darinya]."_

 

Nabi Muhammad mengangkat derajat Julaibib setinggi-tingginya. Keistimewaannya berlanjut di pemakaman.

 

Biasanya, jenazah diangkat dengan tandu bersama-sama. Tapi untuk Julaibib, Nabi Muhammad melakukan sesuatu yang jarang dilakukan. Ia meletakkannya di atas kedua lengannya, tanpa alas selain kulitnya sendiri, lalu meletakkannya di dalam kubur.

 

Salah seorang sahabat bernama Tsabit al-Bunani menyebut, Julaibib dimakamkan tanpa dimandikan karena mati syahid. Darahnya akan menjadi saksi wangi kasturi di hari kiamat.

 

Bagaimana dengan istrinya di Madinah?

 

Doa Rasulullah saat menikahkannya dengan Julaibib menjadi kenyataan. Tsabit mengisahkan, istri Julaibib menjadi wanita paling berkah hidupnya di Madinah. Ia kaya raya, dermawan, dan justru menjadi sosok yang paling diperebutkan lelaki Madinah untuk dinikahi.