Memahami Luasnya ampunan Allah

Bang Pitung • 11 Februari 2021
di grup Masjid Astra

 

Kajian Online Interaktif Ikhwan & Akhwat
     - MASJID ASTRA -
JUMAT, 05 Februari 2021
              23 Jumadil Akhir 1442 H
Pukul, 19.45 WIB - Selesai

? Nara Sumber :
"Ustadz Muhammad Qosim Muhajir"


~ MEMAHAMI LUASNYA AMPUNAN ALLAH ~


Memahami luasnya ampunan Allah Rabbul Izzah, menjadi hal yang sangat penting untuk dikaji dan diselami.
Berangkat dari beberapa fenomena yang tidak jarang kita dapati dimaayarakat kita, atau sebagian kecil dari masyarakat kita yang mulai dijangkiti penyakit yang dalam istilah Islam namanya;
"al-Ya'su , al-Qanath" 
◇ Yaitu unsur berputus asa dari rahmat dan mapunan Allah Rabbul Izzah.

Ini semua diawali ketika diantara mereka, atau sebagian kecil dari mereka terjatuh dalam kubangan lumpur dosa. 
Sisi lain diantara mereka secara fitrah nalurinya ingin kembali kepada Allah Rabbul Izzah. Namun tidak jarang muncul dalam hati mereka bisikan-bisikan, baik dari syaiton atau orang sekitar dia yang ingin mematahkan semangat dia untuk kembali kepada Allah Rabbul Izzah.
Sehingga menjadi sempit pemahaman manusia dalam memahami luasnya Maghfirah dan rahmatnya Allah Rabbul Izzah.

Hal yang harus kita sepakati bersama sebagai hamba Allah Rabbul Izzah, sering kita mendengar istilah,
"Al Insaanu mahalul al khatha' wan nisyan"
◇ Yaitu Manusia adalah tempat salah dan lupa dan salah.

◆ Hadits Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam;

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ 

"Semua bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat."
(HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hasan, menurut syaikh al-Albani rahimahullah)

Tidak ada setiap orang diantara kita yang berani mengatakan bahwa dirinya adalah seorang hamba yang terbebas dari kesalahan dan dosa.
Namun yang menjadi permasalahan adalah;
1. Bagaimana tatkala diantara kita ingin kembali kepada Allah Rabbul Izzah.
2. Timbul keraguan, saya ini sepertinya sudah terlampau jauh terjatuh dalam jurang perbuatan dosa, bahkan tidak jarang mengatakan "sudah tidak bisa dihitung berapa kesalahan saya dan dosa saya, apakah pantas saya memohon ampun/maghfiroh dan rahmat kepada Allah sementara saya masih kotor."

Inilah hal-hal yang menjadi kerancuan diantara sebagian kecil kaum muslimin, sehingga kita perlu meluruskan. 
Tidak jarang para ulama sudah mengingatkan kita, konsep yang memang sudah dibangun secara permanen salam Islam. Kita itu ada ditengah-tengah, antara sikap melampaui batas dengan sikap terlalu meremehkan.

Mengapa demikian.?
Bila konsep ini sudah difahami dengan baik dan benar, maka akan bisa mengikis sebagian persepsi atau asumsi dari sebagian kecil kaum muslimin,
- yang pada akhirnya mereka kelompok sudah pesimistis seolah sudah tidak bisa lagi menjadi orang baik,
- yang satunya kelompok yang melampaui batas yang akhirnya meremehkan juga.

◆ Para Ulama mengatakan,
"Kalau seorang hamba tidak memiliki unsur Al-Khauf (rasa takut) dan Ar-Rodja (berharap) yang seimbang, justru akan mencelakakan dia, kalau seorang hamba tidak memiliki keseimbangan antara al-Khauf dan Ar-Rodja."

◇ Artinya, 
Rasa takut (Khauf) dan rasa harap (Rodja) itu harus balance, mengapa.?
"Bila salah satunya itu lebih dominan bisa mencelakakan seorang hamba."

◇ Gambaran contoh kasus;
Ketika si A misalnya, 
-> Perasaan takutnya terlalu berlebihan. 
Bila perasaan takutnya sudah melampaui batas dan berlebihan, kata para ulama,
"Justru menyeret dia dalam jurang keputusasaan (pesimis)."
-> Unsur pengharapannya terlalu berlebihan.
Ketika pengharapannya terlalu berlebihan,
"Justru akan menyeret dia semakin berani berbuat dosa." 
Sehingga muncullah sebuah statemen dari sebagian kecil orang-orang muslimin diantara kita mengatakan,
"Ah masa iya sih kesalahan seperti ini saya akan di adzab oleh Allah Rabbul Izzah, padahal saya sholat, puasa, zakat, membantu kaum fuqoro dan dhuafa, membangun masjid, membantu anak2 yatim, dsb."

◆ Islam sudah memberikan kepada kita kaidah yang begitu indah,

خير الأمور أوسطها

(khairul umur ausathuha)
“Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahannya”

◇ Maksudnya;
"Tidak melampaui batas dan tidak meremehkan."

Dari sini para Ulama ingin mengajak kepada kita, yang seharusnya ketika setiap orang diantara kita memang tidak kita pungkiri berpotensi berbuat salah dan dosa.
Ketika unsur keimanannya tidak dipupuk sejak dini dan tidak dikuatkan dengan ilmu agama yang benar. Justru akan menyengsarakan dan menyiksa pelakunya.
Sehingga tidak jarang diantara sebagian kaum muslimin, ketika merasa sudah banyak dosa yang dilakukan, dia memilih jalan pintas dengan mengatakan, "sudah kepalang basah ya sudah lanjutkan."

★ Allah Ta'ala berfirman,

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

"dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."
[QS. Al-A'raf : 156]

PR yang harus kita kerjakan bersama, bagaimana bisa menempatkan kaidah ataupun norma dan aturan, keseimbangan antara Al-Khauf dan Ar-Rodja.
Unsur rasa takut dan unsur rasa harap kepada Allah Rabbul Izzah.
Ingatkan kepada setiap orang diantara kita, bahwasanya Allah itu Maha Pengampun, tapi ditambahkan lagi bahwasanya Allah juga Maha menyiksa.

Mengapa demikian.?
Agar setiap orang diantara kita menyelami dua ayat dalam Alquran.
★ Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Surat Al-Hijr ayat 49-50;

نَبِّئۡ عِبَادِىۡۤ اَنِّىۡۤ اَنَا الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُۙ

"Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang,"

وَاَنَّ عَذَابِىۡ هُوَ الۡعَذَابُ الۡاَلِيۡمُ

"Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih."
[QS. Al-Hijr : 49-50]

Allah Maha Pengampun, mengampuni semua dosa2 hambanya tanpa kecuali.
Bahkan ketika seorang hamba terjatuh dalam jurang perbiatan dosa besar sekalipun, syirik misalnya.
Dan dia bertobat kepada Allah Rabbul Izzah, Allah akan mengampuni dia, apalagi selain syirik.
Sehingga mereka yang tidak rela teman2nya kembali kepada kebaikan harus kita patahkan.

Allah ingin menenangkan hamba-hamba Nya, sebanyak apapun dosa yang kamu lakukan selama engkau kembali dan beryobat kepada Allah, maka Alah akan menerima taubatnya.

◆ Dalam Hadits Qudsi, Allah menegaskan kepada hamba-hambanya,

إن رحمتي تغلب غضبي

"sesungguhnya rahmat Ku mengalahkan murka Ku"
(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Allah lebih mengedepankan rahmat Nya kepada hamba-hambanya, terlebih kepada para hamba yang mereka mau kembali kepada Allah Rabbul Izzah.
Ketika hamba itu ingin kembali pada Nya maka Allah sangat senang.

◆ Nabi shalallahu'alaihi wasallam mengatakan,
"Allah lebih berbahagia dan sangat senang ketika ada diantara hamba-hamba Nya yang mereka kembali dan bertobat kepada Allah Rabbul Izzah."

Bagaimana Allah Rabbul Izzah ingin mengiingatkan hamba-hamba Nya, agar hamba-hamba Nya yang detik ini atau kemarin sempat terjebak dalam jurang perbuatan dosa, agar mereka tidak berputus asa.
Karena memang potensi setiap orang diantara kita untuk berputus asa itu besar peluangnya.
Terlebih ketika teman-teman disekitar dia tidak memberikan dukungan secara moril, apalagi bila diantara mereka ada yang mengatakan "sok alim sok suci", sehingga merasa malu.

★ Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Surat Az-Zumar ayat 53;

قُلۡ يٰعِبَادِىَ الَّذِيۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَةِ اللّٰهِ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِيۡعًا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ

"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
[QS. Az-Zumar : 53]

◇ Jangan sekali-kali terjebak dalam jurang keputus asaan dari Rahmat Allah Rabbul Izzah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.

Bila apa yang Allah sampaikan ini kepada kita dapat difahami dengan baik oleh orang-orang diantara kita, maka akan bisa menepis segala bentuk keraguan setiap orang diantara kita untuk kembali meraih rahmatnya Allah. 
Karena apa.?
- Yang menawarkan Allah
- Yang menyampaikan Allah
- Yang menjanjikan Allah

Namun ayat ini terkadang tidak jarang disalah tafsirkan oleh sebagian kecil dari saudara-saudara kita.
Kata mereka,
"Berarti Allah akan mengampuni dosa kita, kalau gitu saya gak mau tobat sekarang deh nanti saja."

Ada syubhat diantara mereka sebagian kecil kaum muslimin, orang yang memiliki hati yang lemah dan mudah goyah.
Bukan berarti ayat ini kita permainkan.

Setiap orang diantara kita haruslah bersegera untuk bertobat kepada Allah Rabbul Izzah. Dan Allah akan sangat gembira dan menyambut bila ada hamba Nya yang mau kembali pada Nya.
"Dan Rahmat Ku melampaui segala sesuatu."

Pentingnya bagi kita untuk saling mengingatkan.
◇ Bagaimana caranya untuk mengingatkan,
"Bila saat ini diantara kita terjebak dalam kubangan dosa segera bertobat kepada Allah Rabbul Izzah, sebelum ajal menjemput kita."

Sering kita katakan bahwasanya kematian itu tidak hanya menimpa orang yang berusia tua renta, tidak hanya harus orang yang sering sakit-sakitan.
Tidak ada Nash dari Alquran maupun Hadits, maupun dari para ulama salaf yang menunjukkan bahwa orang akan mati harus tua dulu.

Tapi Nash dalam Alquran mengatakan,
★ Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Surat Al-Ankabut Ayat 57;

 كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ 

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan."
[QS. Al-Ankabut : 57]

Maka kita semestinya kita harus waspada agar jangan sampai kita terburu dijemput malaikat maut sebelum kita bertobat.
Sehingga setiap kita memiliki konsep bahwa Allah Rabbul Izzah akan menerima taubat seorang hamba ketika taubat itu betul-betul tulus dari hati yang paling dalam,
1. Meninggalkan dan menanggalkan dosa
2. Menyesali apa yang diperbuat.
3. Tekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa.

Sadari bahwasanya peluang kita untuk bertaubat itu sangat besar, dan ini bukti cinta Allah kepada hamba-hamba Nya.

◆ Nabi shalallahu'alaihi wasallam mengatakan kepada kita,

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ 

"Orang yang bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak berdosa."
(Shahih : HR. Ibnu Majah no. 4250, dari Ibnu Mas’ud)

Ini bukti, apalagi Allah sudah menegaskan kepada kita dalam hadits Qudsi,
"Rahmat Ku mendahului kemurkaan Ku."
Allah sangat sayang dan sangat mencintai hamba-hamba Nya.
Kalau Allah mengedepankan kemarahan dan kemurkaan Nya, tidak ada diantara kita yang bertahan lama dimuka bumi ini.

Sehingga Allah senantiasa memberikan peluang besar kepada hamba-hamba Nya.
★ Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Surat Thaha ayat 82;

وَإِنِّى لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا ثُمَّ ٱهْتَدَىٰ 

"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar."
[QS. Thaha : 82]

◇ Ini janji Allah,
1. Tatkala kita bertaubat
2. Kembali beriman kepada Allah
3. Diiringi dengan amal sholeh
4. Istiqomah (ini yang berat).

Ini membuktikan bahwasanya Allah Rabbul Izzah sangat menyayangi hamba Nya.
Bersyukurlah kita bahwasanya Allah itu, bahkan lebih banyak memberikan peluang kepada kita dan tidak menyegerakan siksa dan adzab kepada hamba-hamba Nya, ketika hamba ini mau kembali kepada Allah Rabbul Izzah.

Sadari bila hari ini diantara kita semapt berbuat dosa dan sampai detik ini masih diberikan nikmat bernafas, mendengarkan kajian, shilat Isya, baca Quran.
Iti berarti Allah masih sayang kepada kita dan Allah cinta kepada kita.
Bukti Allah cinta kepada hamba yang beriman, Allah berikan peluang seluas-luasnya kepada hamba Nya untuk beramal sholeh.

★ Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Surat Al-Furqon ayat 70;

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا 

"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
[QS. AL-Furqon : 70]

Fenomena yang menimpa sebagian kecil kaum muslimin, ketika memahami ini adalah ayat hiburan bagi mereka orang-orang yang terjebak dalam jurang keputus asaan. 
Yang mereka mengatakan,
"Kalau gitu taubatnya nanti aja deh jangan sekarang."
Jangan karena ini ucapan yang berbahaya.

◆ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya apabila seorang yang beriman berbuat satu kesalahan (dosa), maka akan ditulis noktah hitam di hatinya. Tetapi jika ia menahan dirinya dari perbuatan maksiat, meminta ampun kepada Allah dan bertaubat, maka hatinyapun akan bersih kembali, dan jika ia berbuat kesalahan lagi, maka akan ditambah titik hitam tersebut di hatinya, sehingga titik-titik itu memenuhi hatinya. Dan itulah ‘raan’ yang difirmankan Allah “Sekali kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
[QS. Mutofifin : 14]
(Hadits hasan shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no.3334, Ahmad dan Abu Daud, Al-Hakim II/517, Ibnu Majah no.4244 dan Ibnu Hibban dalam At-Ta’liiqaatul Hisaan, no.926 dan 2776)

◇ Dalam Hadits tersebut Nabi mengatakan kalau ada tiga indikator atau tiga hal yang dia lakukan,
1. Jika dia segera bertaubat,
2. Meninggalkan perbuatan dosa,
3. Beristighfar kepada Allah Rabbul Izzah.
Maka hatinya akan bersih kembali dari noktah hitam.

Inilah indahnya Islam, Islam itu balance,
- Ada perintah ada larangan
- Ada kabar gembira ada peringatan.

Maka bagi orang2 yang mereka terjebak dalam jurang yang melampaui batas dalam Unsur Rodja (Harap), tidak punya Rasa Al-Khauf (Rasa Takut) sama sekali, akan menyeret dia untuk berani berbuat dosa.

Kalau kita meyakini Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Kita juga harus meyakini bahwa Allah Maha Menyiksa, mampu mengadzab siapa saja yang Allah kehendaki.

Inilah indahnya Islam balance, tidak ingin menjadikan setiap penganut Islam ini mereka terjatuh kedalam kelompok yang ekstrem, berlebihan dalam hal rasa takut sehingga putus asa dan pesimis.
Demikian pula dalam hal Rodja/harapannya, membuat dia nekat berbuat dosa.

Inilah seorang mukmin harus berjalan dengan dua sayap, sayap Al-Khauf dan sayap Ar-Rodja yang balance.
Karena dampak seorang hamba yang menunda-nunda untuk meraih Maghfirah/ampunan Allah, akan membahayakan hidup dia, sehingga al maut menjemputnya sebelum dia bertaubat dimanapun dia berada.

◆ Abdullah bin Umar pernah mengatakan,
"Kami pernah dalam satu majelis menghitung taubatnya Nabi, memohon ampun kepada Allah 100 kali."

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم
ِ
“ALLOHUMMAGHFIR-LII WA TUB ‘ALAYYA, INNAKA ANTAT TAWWABUR ROHIIM
 
"Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang) sampai beliau membacanya seratus kali."
(HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 619. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih.)


? Ringkasan dari kajian yang dikupas.

- Islam mengajarkan kepada kita, agar kita ini memiliki sifat yang baik.
- Berhusnudzon kepada Allah Rabbul Izzah, bahwasanya Allah mengampuni semua dosa-dosa hambanya, sehingga ini memicu kita untuk senantiasa kembali kepada Allah dengan Taubat kepada Nya.
- Konsep baku yang diajarkan oleh para ulama kepada kita, agar kita menyeimbangkan antara unsur Al-Khauf (rasa Takut) dan Rodja (rasa Harap).
- Artinya kalau seorang mukmin itu berjalan maka dengan dua sayap yang seimbang, tidak boleh timpang salah satunya.
- Bila salah satunya lebih dominan maka berbahaya, bahayanya apa;
"Ketika seorang hamba memiliki rasa takut yang berlebihan maka akan menyeret dia kedalam jurang keputus asaan dan pesimis. 
- Begitu juga sebaliknya ketika dia memiliki rasa harap yang berlebihan, merasa percaya diri dia susah sholat, sudah puasa, rajin baca Quran, rajin kemesjid, sekian kali berhaji dan umroh. Ini berbahaya karena meremehkan perbuatan dosa.
- Dan sebagian kita yang mulai berputus asa dari rahmat Allah, Allah telah menghibur kita memberi kita ultimatum,
★ Allah Ta'ala berfirman;

قُلۡ يٰعِبَادِىَ الَّذِيۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَةِ اللّٰهِ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِيۡعًا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ

"Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
[QS.Az-Zumar : 53]

Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


?  SOAL - JAWAB

1️⃣ Dahulu saya pernah berbuat dzolim, takut dan selalu was-was akan ibadah tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena bisa jadi rumah yang kita tempati tercampur dengan harta haram, bagaimana cara taubatnya agar gelisah ini hilang.?
↪️  Jawab :
Dahulu pernah berbuat dzolim, artinya kita harus faham dulu bahwa dzolim itu adalah:
"Berbuat hal yang melampaui batas, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya."
Bisa jadi karena perkataan atau perbuatan kita, atau kita merampas harta orang lain.
Sekarang ingin tobat, tapi terjangkiti penyakit keraguan, takutnya rumah yang saya pakai tercampur dengan harta haram.
Seperti halnya ketika Allah mengisahkan kepada kita tentang haramnya riba.
Allah memberikan kita toleransi yang lalu sudah Allah maafkan ketika kita tidak tahu.
Sekarang perbaharui niat kita, perbaharui amal kita, dan banyak kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalau toh pada akhirnya Allah beri kita kemampuan dan kita tidak tahu dulu berapa yang pernah saya ambil. Maka Islam tidak memberatkan dan memberikan beban kepada hambanya diluar kemampuannya.
Sehingga Allah menegaskan kepada kita;

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسۡتَطَعۡتُمۡ 

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu"
[QS. At-Taghabun : 16]
Silahkan kita bersedekah dengan nominal yang kita miliki dan tidak dipaksakan, seingat kita. 
Jangan sampai penyakit was-was itu pada akhirnya menggoyahkan kita. Ingat iblis itu bisikannya sangat-sangat dahsyat.
Iblis itu itu awal bisikan kepada kita adalah mengatakan;
"Siapa yang menciptakanmu.?"
Nanti puncaknya akan membuat ragu aqidah kita dengan mengatakan,
"Siapakah yang meciptkan Tuhanmu.?"
Kata Rasulullah, "kalau ini mulai terbetik dihati dan fikiran kita, maka diam, tinggalkan dan baca istiadzah."
Kembali lagi dikatakan, silahkan kita kira2 berapa dulu yang diambil. Kalau masih ingat, Alhamdulillah. Tapi kalau tidak ingat maka semampu kita.
Maka kita katakan,

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.”
[QS. Al-Baqarah: 286]
Dan Nabi shalallahu'alaihi wasallam juga mengatakan;

«إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي: الخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ»

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa, dan dipaksa.” 
(Hadits hasan, HR. Ibnu Majah no. 2045, Al-Baihaqi VII/356)
Jadi kembali kepada konsep semampu kita untuk kita kembalikan kepada orang yang kita ambil haknya, seingat kita. Yang lalu sudah Allah ampuni termasuk dosa Riba. Sekarang buka lembaran baru, kembali kepada Rabbul Izzah.
Nabi shalallahu'alaihi wasallam pernah bersabda;

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena dapat menghapusnya…”
(Riwayat Tirmidzi, dia berkata, "haditsnya hasan)
Setiap kali berbuat kesalahan dan dosa, hapus dengan amal kebjikan sebagai penghapus amal keburukan tadi.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.

2️⃣ Bagaimana keterkaitan antara ampunan dan Rahmat Allah dengan salah satu bunyi ayat, "Bahwasanya musibah yang terjadi pada dirimu adalah perbuatan tanganmu sendiri."
Sehingga apakah itu menjadi adzab atau balasan atas dosa2 yang pernah di perbuat.?
↪️  Jawab :
Ini diantara hal yang terkadang masih menjadi rancu oleh swbagian kecil kaum muslimin, bagaimana korelasinya antara Rahmat Allah, ampunan Nya, adzab Nya, dengan kaitannya masalah musibah yang menimpa kita. Sehingga seolah-olah kita aoan langsung mengatakan ini adzab. 
Harusnya diantara kita itu mencermati, ini adzab, ini teguran atau ini musibah. Sehingga kita tidak salah kaprah dapam menempatkan sebuah pemahaman.
Seorang mukmin yang dia beriman kepad Allah dan hari akhir dan kuat imannya, akan mengalami yang namanya ujian atau musibah. 
★ Allah Ta'ala mengatakan;

وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu."
[QS. Al-Baqarah : 155]
Ini signal dari Allah Rabbul'alamin.
◆ Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda;

اَلْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

“(Orang yang paling berat ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya (lalu orang yang sholeh lalu orang yang sholeh),"
(Hasan Shahih:HR. At-Tirmidzi (no. 2398).
1. Ada yang namanya ujian.
Ketika seorang hamba ini secara lahiriah orangnya baik, ahli ibadah, sholat tahajud dan sedekahnya masyaa Allah, ahli quran. Tapi ada hal yang menjadi penghalangnya, sekarang sakit, lalu barangnya ada yang hilang, lalu sakit lagi, itu namanya ujian.
2. Ada juga yang namanya teguran.
Teguran itu berlaku kepada orang2 yang mukmin dan pelaku dosa agar mereka bertobat.
Allah berikan peringatan, adanya kalanya seorang mukmin Allah tegur. 
Ada kisah bahwasanya sahabat Nabi tanpa sadar menikmati pandangan matanya melihat wanita, akhirnya mukanya terbentur tembok dan berdarah hidungnya. 
Kata Nabi shalallahu'alaihi wasallam itu teguran langsung yang Allah bayar tunai untukmu.
3. Ada yang namanya adzab.
Adzab ini jelas siksa Allah terhadap mereka orang2 yang melampaui batas dan tidak mau beriman kepada Allah Rabbul Izza.
★ Allah Ta'ala berfirman;

وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَاَنۡتَ فِيۡهِمۡ‌ؕ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُوۡنَ

"Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan."
[QS. Al-Anfal : 33]
Maka harus kita pilah antara Ujian, Teguran atau Adzab.
Adzab jelas untuk mereka orang2 kafir yang tidak beriman pada Allah dan orang yang melampaui batas, ketika diingatkan justru mereka membangkang.
★ Maka ketika Allah mengatakan;

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,"
[QS. Ar-Rum : 41]
Musibah disini bisa bermakna dua, yaitu Teguran dan Adzab.
Teguran jika kampung itu banyak orang islam tapi mereka melalaikan perintah dan larangan2 Allah dan mereka kadang2 ingat kepada Allah. Allah ingatkan mereka agar kembali kepada Allah.
★ Allah Ta'ala berfirman;

 وَمَا نُرۡسِلُ بِالۡاٰيٰتِ اِلَّا تَخۡوِيۡفًا

"Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti."
[QS. Al-Isra : 59]
Jadi sangat jelas bedanya antara Ujian, Teguran dan Adzab. Dan segala hal yang buruk itu adalah karena ulah tangan2 manusia.
Diantara doa ulama para salaf ketika melihat didepan matanya terjadi kemungkaran mereka berdoa; 
"Allahumma la tu'akhizna bima fa'alas sufaha'u minna."
(Ya Allah jangan Engkau sertakan kami menjadi golongan umat yang Engkau adzab dan Engkau siksa hanya karena perbuatan orang2 yang jahil diantara kami)
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.

3️⃣ Apakah apabila seseorang senantiasa mengulangi peebuatan dosa karena memperturutkan hawa nafsunya, apakah maaih diampuni oleh Allah. Dalam hal ini dosa berupa melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dimana dosa tersebut setelah dilakukan kemudian bertobat, kemudian bermaksiat lagi. Mohon nasehatnya agar bisa menjauhi maksiat tersebut.?
↪️  Jawab :
Tidak kita pungkiri dan tidak mustahil diantara kaum muslimin itu mereka sekarang tobat besok ngulangin lagi, terus tobat lagi.
Dalam sebuah Hadits Nabi mengisahkan kepada kita, sampai2 Allah mengatakan;
"Silahkan hambaku berbuat semau dia."
Artinya disini ketika dia ber uat dosa segera bertobat. Ini memang ada diantara kita berpotensi terkadang sekarang tobat besok ngulangi lagi. 
Kenapa..? Karena setiap orang diantara kita terjebak dalam jurang dosa karena dua hal, 
- Karena kebodohan.
- Karena bisikan hawa nafsu.
Makanya setiap kali ini terjadi, seperti yang dikatakan dalah hadits Rasul;

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena dapat menghapusnya…”
(Riwayat Tirmidzi, dia berkata haditsnya hasan)
Tapi ingat Ibnu Abbas pernah mengatakan;
"Bukan seorang hamba dia dikatakan beristighfar, tapi terus mengulangi lagi."
Berbeda dengan seorang hamba yang hari ini terbawa dengan bisikan syahwatnya berbuat dosa, dia segera bertobat.
Bagaimana motivasi dia agar bisa bertahan tidak teejatuh dalam dosa;
1. Perbanyak doa.
2. Harus bergaul dengan orang2 yang sholeh dan baik.
3. Terus belajar agama agar dia tidak terus mengulangi perbuatan dosanya dan menjadi cahaya bagi kita.
4. Tidak membiarkan dirinya dalam kondisi tidak memiliki waktu untuk beribadah. Artinya jangan ada waktu kosong, karena waktu kosong adalah peluang besar untuk seorang hamba berbuat dosa kepada Allah Rabbul Izza.
5. Mendekatkan diri kepada Allah dengan rajin membaca doa;

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik."
(Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.

4️⃣ Bagaimana cara kita yakin bahwa taubat nasuha yang kita lakukan benar2 sudah dihapus oleh Allah. Kadang datang difikiran kita apakah dosa ini sudah diampuni oleh Allah apa belum.?
↪️  Jawab :
Itulah fenomena yang terkadang tidak mustahil menjangkiti kita. Saya sudah bertobat tapi apakah tobat saya diterima dan bagaimana kita mengetahui tobat kita ini diterima atau tidak.
Yang namanya Tobat Nasuha itu tobat yang betul-betul tulus yang pada akhirnya menjadikan seorang hamba tidak lagi mengulangi.
Sebagian orang mengatakan diantara tobat anda diterima oleh Allah Rabbul Izzah adalah anda semakin dekat kepada Allah. 
Diantara ungkapan para ulama, 
"manusia ketika takut sama orang lain dia menjauh, tapi ketika takut kepada Allah, mendekat."
Maka tatkala kita dihari ini semakin dengan Allah, ta'at kepada Allah, itu ciri tobat anda sudah benar dan baik.
Dan semakin tumbuh rasa takut kepada Allah Rabbul Izzah.
Ketika dia sudah betul2 melupakan yang dosa, tidak ingin lagi menoleh kebelakang. Menutup lembaran masa lalu, membuka lembaran baru dan berusaha berdoa kepada Allah.
◆ Nabi shalallahu'alaihi wasallam pernah mengingatkan kita dalam hadist-hadits yang masyhur riwayat hakim dalam Mustadraknya;

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!”
Syaikh Profesor Dr. Abdulrozak mengatakan,
"Contoh mengamalkan hadits ini kita berdoa dengan mengatakan, "Ya Allah ya Rabbku, perbaharuilah imanku."
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


?  PENCATAT :
~ Tim Kajian Online Masjid Astra ~