Belajar "Seni Menjadi Tak Terlihat" dari Uwais Al-Qarni
Oleh : Bakharudin Yusuf - PT. Denso Indonesia
Suara deru mesin dan hiruk-pikuk target produksi seolah meluruh saat adzan Dzuhur berkumandang di Masjid BaabutTaubah. Ratusan pasang sepatu melangkah beriringan menuju masjid, meninggalkan meja kerja dan mesin-mesin statis demi mencari ketenangan yang lebih dinamis. Di antara aroma harum karpet masjid dan kesejukan AC yang menyentuh kulit, para jamaah duduk bersimpuh, lurus shaf dengan antusiasme yang tak biasa. Hari ini, Ustadz Asep Masdinar hadir membawa sebuah kisah lama yang tiba-tiba terasa sangat "kekinian" di tengah kepungan tuntutan profesionalisme kita: Kisah tentang kemuliaan yang tak butuh pengakuan.
Bukan Tentang "Siapa Kita" di Mata Manusia
Dalam pemaparannya, Ustadz Asep menyoroti fenomena manusia yang seringkali letih karena terus mengejar validasi dan pandangan sesama. Padahal, kemuliaan sejati (izzah) bukanlah hasil dari tepuk tangan manusia atau apresiasi yang kasat mata, melainkan buah manis dari Taqwa kepada Allah SWT. Beliau mengutip firman Allah:
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
"Kita seringkali sibuk memoles citra di depan orang, padahal tiket utama kebahagiaan itu datangnya dari langit," ujar beliau dengan nada yang menyentuh hati para jamaah.
Uwais Al-Qarni: Tak Dikenal di Bumi, Populer di Langit
Puncak emosional kajian terjadi saat beliau mengisahkan sosok Uwais Al-Qarni. Seorang pemuda yang secara strata sosial dianggap biasa saja, bahkan luput dari pandangan penduduk bumi pada masanya. Namun, karena ketaatannya yang luar biasa kepada ibunda dan ketulusan taqwanya, Rasulullah SAW menyebutnya sebagai sosok yang doanya sanggup menggetarkan arsy. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW:
"Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman... Jika ia bersumpah (meminta) kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya." (HR. Muslim)
Kisah ini menjadi pengingat bagi insan Astra bahwa dalam bekerja, excellence tidak selalu harus berujung pada panggung pujian, melainkan bagaimana integritas kita tetap terjaga meski tak ada yang melihat.
Rumus Taqwa: Bekal Perjalanan Tak Berujung
Ustadz Asep merangkum esensi taqwa sebagai persiapan terbaik menuju "perjalanan jauh" akhirat melalui tiga pilar utama:
- Rasa Takut (Khauf): Menjaga diri dari hal yang dilarang karena rasa cinta.
- Amal Sesuai Tuntunan: Bekerja dan beribadah berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.
- Qana’ah: Menerima setiap ketetapan dan pemberian Allah dengan hati lapang.
Beliau menekankan pentingnya bekal ini sesuai perintah-Nya:
"Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa." (QS. Al-Baqarah: 197)
Spirit Ramadan
Kajian ini seolah menjadi booster spiritual. Semangat taqwa yang disampaikan selaras dengan semangat Ramadhan, terutama dalam hal menjadi pribadi yang berintegritas dan bermanfaat bagi sesama. Menjelang Ramadan, pesan ini menjadi alarm lembut bagi kita untuk mulai "packing" amal saleh sebagai persiapan perjalanan panjang menuju keabadian.
Kajian ditutup dengan doa bersama yang hening, meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah yang tampak enggan beranjak. Benar-benar sebuah jeda siang yang mengisi kembali "tangki" batin sebelum kembali berkarya untuk perusahaan.
di Masjid Baabut Taubah PT. Denso Indonesia
"Kemuliaan itu bukan tentang seberapa tinggi posisi kita di bagan organisasi, tapi seberapa tulus posisi kita di hadapan Illahi."
Team Media DKM Baabut Taubah
PT. Denso Indonesia