Hikmah-hikmah Kepedulian

Bang Pitung • 26 Januari 2021
di grup Masjid Astra

 

Kajian Online Interaktif Ikhwan & Akhwat
     - MASJID ASTRA -
JUMAT, 22 Januari 2021
              09 Jumadil Akhir 1442 H
Pukul, 19.45 WIB - Selesai

? Nara Sumber :
"Ustadz Harits Abu Naufal"


~ HIKMAH-HIKMAH KEPEDULIAN ~


Alhamdulillah pada malam hari ini kembali bisa bertemu, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala pertemuan ini adalah pertemuan yang semoga mendapatkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam,
Di dalam sebuah Hadits yang berbunyi;

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
"Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya"

Diantaranya adalah;

وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

"Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,"
(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Pertemuan yang saling mengingatkan dan saling menasehati, karena yang namanya manusia suka pelupa karena manusia memiliki hati yang mana hatinya itu cepat sekali berubah2.

Saking cepatnya perubahan hati manusia, Rasulullah mengabarkan dalam Haditsnya.

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”
(HR. Muslim)

Perubahan yang begitu cepat dari yang tadinya beriman lalu kepada kekufuran tidak sampai 24 jam.
Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita semuanya.

★ Allah Ta'ala berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
[QS. Adz-Dzariyaat : 55]

Kalau seandainya kajian yang kita ikuti secara rutin dan dengan seksama kita mendengarnya, dalam satu minggu sekian kali. 
Maka ketahuilah sebenarnya itu masih sangat kurang. Kita harus masih harus mencari hal2 lainnya agar bagaimana hati kita bisa selalu hidup. 
Karena setan yang menjadi musuh bagi kita telah bersumpah dihadapan Allah Subhanuhu wa Ta'ala untuk menyesatkan kita semua dari jalan Allah.

★ Allah Ta'ala berfirman,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ , ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ 

"Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur."
[Al-A’raf : 16-17]

Berarti banyak dari manusia yang akan mengikuti iblis dan bala tentaranya, dan iblis tidak aoan pernah diam, 24 jam dia akan menyesatkan kita dan menggoda kita dari jalan Allah.
Sementara hati yang kita isi sebagai nutrisi satu minggu hanya sekali atau sekian kali, maka itu sangatlah minim dan sangat sedikit.
Oleh karenanya hidup ini merupakan sebuah perjuangan dan jihad untuk melawan iblis dan nafsu, dan siapa yang mereka sukses mengalahkan iblis dan hawa nafsunya maka tidak ada balasan kecuali surganya Allah Rabbul'alamin

★ Allah Ta'ala berfirman,

 وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ , فَاِنَّ الۡجَـنَّةَ هِىَ الۡمَاۡوٰىؕ

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)."
[QS. An-Nazi’at : 40-41]


? Hikmah-hikmah bagaimana kepedulian para salaf, kepedulian Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam kepada saudara2nya atau sahabat2nya yang ada bersama beliau, dari sisi harta, hajat dan kebutuhan2 mereka.

Sehingga kita sebagai seorang Muslim dan pencinta Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti Islam ini secara totalitas.

★ Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
[QS. Al Baqarah : 208]

Didalam Islam yang diajarkan oleh Nabi shalallahu'alaihi wasallam ada didalamnya Aqidah, tauhid, muamalah.
Dan perlu kita ketahui didalam Sunnah Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam ada yang namanya Akhlak.
Sehingga seseorang jangan berfikir bahwasanya yang memasukkan dia kedalam surga itu hanya Tauhid, atau yang memasukkan dia kedalam neraka hanya kesyirikan atau kebid'ahan saja. Tetapi akhlak yang baik dan juga sebaliknya akhlak yang jelek juga salah satu faktor penentu, kita akan menjadi orang yang sukses ataukah tidak.

Bukankah Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam menyebutkan,
"Seorang wanita sholehah yang mana dia mengurung seekor kucing yang tidak diberi makan, kemudian kucing itu mati. Sebab dia menzalimi seekor kucing tadi, Allah masukkan dia kedalam api neraka. Dan sebaliknya ada seorang wanita yang pelacur dia mendapatkan seekor anjing dalam keadaan kehausan, kemudian dia buka sepatunya dan dia ambil air dari dalam sumur, dan dia berikan kepada anjing tersebut minum. Dan sebabnya Allah mengampuni dosanya dan Allah masukan dia kedalam surga."

Ini menunjukan kepada kita bahwa kita tidak tahu mana diantara amalan2 yang akan mengantarkan kita kedalam surga.

★ Allah Ta'ala berfirman,

وَٱفْعَلُوا۟ ٱلْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

"Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan."
[QS. Al-Hajj : 77]

Dan diantara bentuk perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita adalah perduli dengan kondisi dan keadaan orang2 yang disekeliling, terkhusus saudara2 kita yang seiman.

Rasulullah shalallahu wasallam, didalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori dan Muslim, menggambarkan tentang persaudaraan antara seorang muslim dengan muslim yang lainnya, antara orang yang beriman dengan orang yang beriman lainnya.
Hadits Rasulullah ini merupakan sebagai bentuk ujian dalam Qolbu dan diri kita, apakah kita telah merealisasikan keimanan tersebut ataukah belum.

Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam mengatakan,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. 

“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” 
(HR. Al-Bukhari no. 6011, Muslim no. 2586)

Begitulah gambaran yang digambarkan oleh Nabi shalallahu'alaihi wasallam keadaan orang2 yang beriman. Keadaan orang2 yang mereka mengaku cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam.
Persaudaraan seorang mukmin tidak hanya diikat dalam persaudaraan rumah tangga yang kecil atau yang diikat dengan satu nasab, atau satu suku atau satu kabilah, tidak.

★ Allah Ta'ala berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.”
[QS. Al Hujurot : 10]

Ketika saudara kita muslimin yang ada diujung dunia sana, mereka ditindas, disakiti, atau mereka hidup dalam keadaan kesusahan dan kesulitan. 
Maka tanda dan bentuk iman kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, kitapun merasa sakit apa yang mereka rasakan kesakitan tersebut.
Tapi kalau seandainya kita melihat kondisi saudara2 kita muslimin yang tertimpa musibah demi musibah, kemudian tidak ada sedikitpun empati dalam qolbu kita, atau minimal sedih atau minimal kita mendokan agar Allah memberikan kesabaran kepada mereka. Atau Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas kepada mereka dengan balasan yang baik dari apa yang telah Allah telah ambil dari mereka.
Seorang Muslim itu bukan egois dan bukan hanya mementingkan keluarganya saja, atau sukunya saja. Akan tetapi dia mementingkan saudara2 yang muslimin, terkhusus orang2 yang lemah dan faqir diantara mereka.

Nabi shalallahu'alaihi wasallam menyebutkan,
"Kesuksesan kalian dan keselamatan kalian perlu kalian ketahui, dikarenakan orang2 faqir diantara kalian."

Adanya kemudahan kehidupan dari sebagian orang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah sebagai bentuk dikarenakan adanya kebaikan dari orang faqir itu sendiri.

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu'anhu ketika beliau menjadi khalifah, dimana beliau berkata,
"Sesungguhnya orang2 yang lemah diantara kalian adalah orang yang kuat dimataku, dan orang yang kuat diantara kalian adalah orang yang lemah dimataku."

Karena terkadang orang yang lemah, yang miskin, yang faqir, yang tidak memiliki kekuatan terkadang suka ditindas, suka dizalimi.
Tetapi orang yang memiliki kedudukan, harta, jabatan dan semisalnya, terkadang mereka bisa aman dari segala hukuman.
Maka hal itu tidak berlaku bagi Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu'anhu yang di didik oleh Nabi shalallahu'alaihi wasallam untuk bisa bersikap adil, terlebih kepada orang2 yang lemah diantara mereka.

Begitu juga Nabi kita Muhammad shalallahu'alaihi wasallam diantara wasiat yang beliau berikan sebelum beliau meninggal,
"Takutlah kalian kepada budak2 kalian, karena budak adalah diantara manusia yang paling lemah, jangan sampai kelemahan mereka kemudian kalian bertindak semena2 kepada mereka, kalian berbuat zalim kepada mereka."

Abu Hurairah radhiallahu'anhu adalah sahabat yang tidak memiliki apapun. Tidak ada tempat untuk beliau tinggal kecuali di masjid Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam atau yang kita kenal dengan Ahlus Suffah.
Yang mana hari2 beliau habiskan untuk belajar dan menuntut ilmu agama, tidak sempat beliau untuk mencari nafkah. Kadang2 beliau mengikat batu diperutnya karena saking laparnya tidak ada makanan yang beliau makan.
Orang2 kadang berkata,
"Ya Abu Hurairah apakah engkau sudah gila."
Abu Hurairah berkata,
"Saya tidak gila tapi saya lapar."

Pada suatu hari beliau berdiri dijalanan karena sudah sangat lapar, beliau tidak tahu bagaimana cara untuk meminta makan karena beliau malu.
Dan setiap orang yang melewati beliau, beliau akan tanya sebuah soal dengan maksud dan tujuan supaya bisa diajak kerumahnya.
Lewat seorang sahabat, beliau bertanya kepada sahabat tersebut yang sebenarnya beliau tahu jawabannya, tujuan supaya diajak kerumahnya. Kemudian sahabat tersebut berlalu.
Kemudian lewat sahabat yang lainnya, ternyata seperti sahabat yang awal tadi.

Kemudian lewat Nabi shalallahu'alaihi wasallam. Nabi tahu kalau Abu Hurairah dalam keadaan lapar.
Kemudian Nabi shalallahu'alahi wasallam mengatakan,
"Ya Abu Hurairah mari kerumahku."
Kemudian Nabi bertanya kepada istrinya,
"Apakah ada sesuatu yang bisa dimakan.?"
Kemudian istri Rasulullah mengatakan,
"Ya Rasulullah, baru saja ada orang yang memberikan hadiah susu kepada kita."
Lalu Rasulullah berkata kepada Abu Hurairah,
"Ya Abu Hurairah panggil semua sahabat2mu yang ada di Suffah, agar kita bisa menikmati susu bersama2."

Abu Hurairah berfikir,
"Ini saya sudah sangat lapar sekali, sementara susu cuma satu gelas, untuk saya saja kadang gak cukup."
Tetapi beliau yakin karena ini perintah Nabi shalallahu'alaihi wasallam maka harus beliau lakukan.
Lalu Abu Hurairah memanggil semua sahabatnya yang ada di Suffah.
Nabi shalallahu'alaihi wasallam, beliau adalah seorang Nabi, beliau seorang Rasul yang memiliki beraneka ragam pekerjaan kesibukan, belum lagi istrinya sembilan. Akan tetapi beliau masih sempat untuk mengurusi orang2 yang fakir yang masih ada di masjid. Beliau masih memikirkan para penuntut ilmu yang mereka terkadang hanya memakai baju dari bahan yang kasar, perduli Rasulullah kepada mereka. Waktu yang beliau miliki yang sangat berharga tersebut tidak menghalangi beliau untuk memperdulikan orang2 yang faqir, orang2 yang lemah para penuntut ilmu. Terkadang mereka tidak punya bekal dalam menuntut ilmu.
Inilah akhlaq dari Nabi kita Muhammad shalallahu'alaihi wasallam yang harus kita contoh.
Kita sebagai ahlus Sunnah sebagai orang yang mengaku cinta kepada Nabi, kitalah orang yang paling terdepan yang seharusnya mempraktekan apa yang datang dari Nabi shalallahu'alaihi wasallam.

Kita tidak hanya perduli kepada orang2 yang kaya atau punya kedudukan. Sementara saudara2 kita yang miskin dan faqir yang mereka bukan siapa2 dan gak perduli dengan mereka.
Terkadang pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita dari orang2 yang lemah yang ada disekitar kita.

Kemudian kata Rasulullah kepada Abu Hurairah,
"Ya Abu Hurairah, Sesungguhnya orang yang menuang minuman adalah orang yang paling terakhir minum, berikan minuman ini kepada sahabat2 semuanya."
Karena ini perintah Rasulullah, maka Abu Hurairah kerjakan.
Ternyata ini mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi shalallahu'alaihi wasallam.

Kemudian susu yang ada digelas tersebut masih tersisa.
Nabi shalallahu'alaihi wasallam berkata kepada Abu Hurairah,
"Wahai Abu Hurairah, tinggal aku dan engkau yang belum minum, minumlah wahai Abu Hurairah."
Mulai Abu Hurairah minum dari gelas susu tadi, kemudian Rasulullah berkata,
"Tambah wahai Abu Hurairah."
Kemudian Abu Hurairah minum lagi, dan susu itu masih tersisa, dan Abu Hurairah berkata,
"Sudah wahai Rasulullah, tidak ada lagi tempat didalam perutku, aku sudah kenyang wahai Rasulullah."

Demikianlah gambaran persahabatan Rasulullah dengan para Sahabatnya, tidak memandang strata ekonomin, sosial atau dia begini dan begitu. Selama dia orang yang beriman dan cinta kepada Allah dan Rasulullah, maka ada hak kita sebagai seorang muslim untuk perduli kepada kondisi dan keadaan mereka.

Ketika para sahabat Rasulullah hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinnah, yang mana orang2 muhajirin mereka tidak membawa apapun dan sebagian mereka tidak punya bekal. Mereka tinggalkan semuanya karena untuk satu tujuan mempertahankan agama dan menjalankan perintah Allah dan perintah Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam.

Dari kasih sayangnya Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita, Allah adakan kita di zaman seperti ini sehingga zaman inilah yang cocok dengan keimanan kita, yang mana keimanan yang labil yang cepat berubah.
Kalau seandainya kita dihidupkan di zaman Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam dengan segala ujian dan cobaan kaum muslimin terkhusus di fase Mekkah, mungkin Iman2 seperti kita ini tidak akan berada di shaffnya Nabi shalallahu'alaihi wasallam, mungkin akan berada di shaffnya Abu Lahab dan  Abu Jahal.
Karena kasih sayang Allah, Allah jadikan kita hidup di zaman sekarang ini.

Setiap Shahabat Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam yang datang dari Mekkah ke Madinnah, Nabi persaudarakan mereka agar shahabat2 yang datang dari Mekkah mereka tidak terlantar ketika tiba di kota Madinnah. 
Diantara yang dipersaudarakan oleh Nabi shalallahu'alaihi wasallam adalah Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.
Kemudian Sa'ad bin Rabi berkata kepada Abdurrahman bin Auf,
"Wahai Abdurrahman, sesungguhnya aku memiliki dua petak tanah dan aku adalah saudagar yang kaya di kota ini, ambilah diantara tanahku mana yang kau inginkan, dan aku memiliki dua orang istri, aku akan ceraikan salah satu dari istriku yang paling cantik agar engkau bisa menikah dengannya."

Persaudaraan mereka diatas keimanan yang diikat oleh Nabi shalallahu'alaihi wasallam, jauh lebih berharga dari pada dunia dan seisinya. Dunia mereka korbankan untuk persaudaraan diatas Islam.
Sangat jauh dengan kondisi kita di zaman sekarang. Terkadang untuk dunia yang hina dan fana ini yang akan kita tinggalkan, terkadang kita pertaruhkan persaudaraan yang diikat diatas keimanan hanya karena dunia yang hina ini.

Berat bagi kita untuk mengaku sebagai seorang salafi, karena salafi itu bukan hanya sekedar pengakuan. Tetapi salafi adalah mereka yang berusaha berjalan diatas jalannya para salaf, dalam Aqidahnya, dalam manhajnya dan akhlaknya. Mereka lebih mementingkan saudaranya.
Allah sebutkan dari langit ke tujuh.

★ Allah Ta'ala berfirman,

 وَيُـؤۡثِرُوۡنَ عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌ ؕ 

"Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan."
[QS. Al-Hasyr : 9]

Tetapi dalam urusan akhirat dan kebaikan amalan sholeh, dalam urusan menjadi manusia terbaik di sisi Allah, kita akan dapati mereka tidak mau kalah satu dengan yang lainnya. Mereka ingin selalu berada didepan dan yang paling terhabat di sisi Allah.

Ketika Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam didatangi oleh orang2 yang faqir, orang2 faqir berkata,
"Ya Rasulullah, telah pergi orang2 kaya dengan harta2 mereka dan sedekah2 mereka. Mereka sholat seperti kami sholat, mereka berpuasa seperti kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah dan kami tidak bersedekah sebagaimana mereka bersedekah ya Rasulullah."

Mereka orang2 faqir khawatir mereka kalah disisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan shahabat2nya.
Tetapi kita yang selalu menjadi kesemangatan kita adalah ketika kita dikalahkan dalam urusan dunia, jabatan, materi kita. Ketika dalam urusan akhirat dinanti-nanti.

Contoh yang paling nyata,
Ketika berdiri dalam shaff sholat. 
Rasulullah mengatakan, 
"Kalau seandainya mereka tahu bagaimana keutamaan di shaff awal, mereka akan saling berdesakkan untuk mendapatkannya."

Kemudian Nabi mengajarkan kepada para sahabat yang faqir untuk berdzikir selesai shalawat, yang mana berdzikir tersebut serupa dengan harta yang dikeluarkan oleh orang2 kaya.
Ternyata orang2 kaya itu juga tidak mau ketinggalan, akhirnya mereka juga berdzikir setelah selesai sholat sebagaimana orang2 faqir tersebut.
Kemudian orang2 faqir tersebut datang lagi kepada Rasulullah, mereka mengatakan,
"Ya Rasulullah, engkau telah mengajarkan kami berdzikir yang bisa menyamai sedekah mereka, tapi sekarang mereka juga berdzikir sebagaimana kami berdzikir."
Kata Rasulullah,
"Itu merupakan kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki."

Melanjutkan kisah Abdurrahman bin Auf,
Ketika Abdurrahman bin auf ditawarkan dua perkara tadi, beliau berkata,
"Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu."
Kemudian Abdurrahman bin Auf hanya minta ditunjukan dimana pasar. Kemudian berniagalah Abdurrahman bin Auf dan akhirnya beliau menjadi saudagar yang paling kaya di Madinnah.

Persaudaraan al ukhuwah islamiah itu lebih kuat ikatnya dari pada hanya sekedar harta dan dunia yang fana ini. Karena dunia tidaknakan kita bawa untuk bertemu dengan Allah, tapi justru akan menjadi pertanggungjawaban kita dihadapan Allah Rabbul'alamin.
Namun persaudaraan al ukhuwah islamiyah yang diikat diatas ketaqwaan itu akan kekal abadi sampai yaumul qiyamah.

★ Allah Ta'ala berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”
[QS. Az-Zukhruf: 67]

Dalam Hadits yang lain, 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat."
(HR. Muslim)

Sesusah-susah apapun kehidupan kita didunia tiadaklah sesulit dan sesusah kehidupan kita diakhirat kelak, sedikit yang kita lakukan untuk memudahkan urusannya didunia ini, tetapi balasan yang akan diberikan oleh Allah bukan hanya kemudahan yang akan Allah berikan didunia ini tetapi Allah akan berikan kemudahannya nanti diakhirat.

★ Allah Ta'ala berfirman,
Dalam Surat Abasa ayat 34-37;

يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِِ
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,

وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ
dari ibu dan bapaknya,

وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
dari istri dan anak-anaknya.

لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
[QS. Abasa : 34-37]

Maka Aisyah radhiallahu'anha kaget ketika Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam mengabarkan,
"Sesungguhnya kelak diyaumul qiyamah manusia bangkit dalam keadaan telanjang."
Kata Aisyah,
"Kok bisa orang itu telanjang, bukankah dia akan melihat satu orang dengan orang yang lainnya.?"
Rasulullah berkata,
"Wahai Aisyah, kondisi dan keadaan diyaumul qiyamah adalah hari yang sangat mengerikan sehingga seseorang tidaknakan mungkin sibuk mengurusi orang yang lainnya, dia tidak perduli dengan auratnya dan aurat orang lain."

Apa yang kita gambarkan kengerian diyaumul qiyamah, kenyataan akan lebih dahsyat dari apa yang kita bayangkan. Tetapi ketika di dunia kita membantu suadara kita dengan apa yang kita miliki dan kita mampu. Kalau kita tidak mampu membantu dengan materi karena kita faqir, setidaknya kita membantu ya dengan kalimat2 motifasi dan kesemangatan untuknya.

★ Allah Ta'ala berfirman,

 قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَآ أَذًى ۗ 

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima)."
[QS. Al-Baqarah : 263]

Berbicara tentang kondisi dan keadaan masyarakat kita dinegeri kita ini, mungkin karena sebab dosa dan maksiat atau yang semisalnya, itu kita akhirkan dulu.
Karena bukan sesuatu yang tepat untuk kita lakukan dimasa2 mereka dapam keadaan kesedihan.
Tetapi dalam kesedihan ini kita kasih motivasi dulu kepada mereka, kasih kesemangatan bahwa ini adalah ujian sebagai tanda Allah mencintai kita dan seterusnya.
Ketika rasa sedihnya sudah hilang baru kita ingatkan bahwa ini tidak lain dikarenakan dosa dan maksiat yang kita lakukan.

Namun ada pelajaran yang sangat berharga disini, kita bisa merasakan bagaimana sedihnya keluarga yang ditinggalkan.
Bahwasanya nikmat yang besar yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada hamba2 Nya adalah nikmat punya keluarga dan orang2 yang dia cintai. 
Kenikmatan itu bisa dirasakan oleh seseorang, rasa cinta itu adalah sesuatu yang lezat dan nikmat didalam kehidupan manusia dimuka bumi ini.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam mengatakan,
"Allah memiliki seratus Rahmat, dan satu Rahmat yang Allah turunkan kedunia ini, satu Rahmat tadi dibagi2 oleh Allah Sunhanahu wa Ta'ala, sehingga dengan satu Rahmat ini muncullah rasa sayang dan cinta. Sampai2 binatang buas dia tidak menerkam anak2nya karena satu Rahmat yang Allah turunkan, sehingga sebuas apapun binatang dia sayang kepada anaknya. Apalagi manusia yang diberikan akal oleh Allah. Ketahuilah bahwa 99 lagi Rahmat Allah, akan Allah bagikan kepada penghuni Surga."

Dengan satu rahmat saja kita begitu bahagia dengan adanya keluarga anak, istri dan keturunan, teman, sahabat, begitu nikmatnya hidup kita.
Padahal itu hanya satu Rahmat yang Allah turunkan ke dunia. Dan 99 Rahmatnya lagi akan Allah berikan kepada para penghuni Surga. Dan disitulah pertemuan yang tidak akan pernah berpisah.
Kalau seandainya di Surga kenikmatan yang hanya adalah rasa cinta yang ditambah oleh Allah yang tersisa 99 lagi, maka sudah cukup indah surga tersebut.

Maka Allah ingatkan kita semuanya,
★ Allah Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا 

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
[QS. At-Tahrim : 6]

Nabi shalallahu 'alaihi wasallam juga menyebutkan dalam Haditsnya,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.”
(Shahih Muslim No.4684)

Dan disitulah, rasa sayang, rasa cinta dan rasa memiliki, akan dimiliki oleh orang2 yang beriman ketika dia mempraktekkan apa yg dikabarkan oleh Nabi shalallahu'alaihi wasallam.


? Bagaimana Para Imatus Salaf Bermuamalah dengan Sahabat-Sahabat dan Suadara-Saudaranya dari sisi yang lainnya.

Disebutkan dari Sofyan Ibnu Uyainah, beliau bertanya kepada Muhammad Ibnul Munkadir (seorang Imam dari Imam kota Mekkah),
"Apa amalan yang paling kau cintai.?"
Kemudian Muhammad ibnul Mukadir berkata,
"Memasukkan kebahagiaan dan menjadi sebab kebahagian bagi saudara2 saya orang yang beriman."

Disebutkan dalam sebuah Hadits dari Mabi shalallahu'alaihi wasallam, beliau mengatakan,
"Orang yang datang hari ini adalah orang yang akan masuk kedalam Surganya Allah."

Kemudian Ibnu Umar radhiallahu'anhu kaget, apa amalan orang ini sehingga dia dikabarkan oleh Rasulullah sebagai penghuni Surga dalam keadaan dia masih hidup didunia ini.
Kemudian Ibnu Umar radhiallahu'anhu menghampirinya dan mendatanginya.

Ibnu Umar berkata,
"Wahai fulan sesungguhnya Rasulullah mwngabarkan kepadaku bahwa engkau adalah penghuni Surga, aku ingin tau apa amalan yang engkau amalkan dirumahmu."
Lalu menginaplah ibnu Umar beberapa malam dirumahnya.

Ibnu Umar tidak mendapati sesuatu yang luar biasa dari ibadahnya tadi, biasa saja.
Ibnu Umar berkata,
"Engkau sholat biasa, puasa biasa, apa sebenarnya amalan sehingga engkau dikabarkan sebagai penghuni Surga.?"
Si fulan tersebut berkata,
"Sesungguhnya aku tidak pernah ada rasa hasad dan benci kepada saudara2ku kaum muslimin ketika saudaraku diberikan kelebihan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Hanya itu amalannya dan amalan yang ringan, tetapi kadang sulit untuk kita praktekkan, tapi nyatanya Surga Allah telah menantinya.

Dan ini salah satu pendalilan dari Muhammad ibnu Mukadir, bahwasanya amalan yang paling beliau cintai adalah bisa memberikan kebahagiaan kepada saudara2 mukminin.
Apalagi kondisi saudara kita sangat membutuhkan

Kondisi saat ini, gempa dan banjir dimana, dimana orang2 akan hilang fokus. Tetapi ketahuilah, orang yang mereka bersemangat membantu saudaranya yang saat ini dalam kondisi terkena musibah. Selain kita mendapatkan pahala menginfaqkan harta yang kita miliki untuk mereka dan kita juga bisa membuat mereka bahagia dan tersenyum, ini adalah sebuah ibadah yang lain lagi.

Disebutkan dari Abu Qilabah rahimahullah, beliau mengatakan,
"Ketika sampai berita kepadaku tentang saudaramu dari sesuatu yang engkau benci, maka carilah kepadanya udzur, tetapi kalau seandainya engkau tidak mendapatkan udzur darinya pada dirimu, maka katakanlah, "mungkin dia ada udzur yang aku tidak ketahui."

Ada orang yang hukum asalnya adalah para penuntut ilmu dan orang2 yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemudian mereka melakukan sebuah kesalahan dan kekeliruan.
Tentunya beda dengan kondisi dan keadaan orang2 yang memang asalnya bukan orang baik, bukan dengan ketaatan atau kesholehan. Maka berbeda2 kita menyingkapinya.

Bagaimana Imam Ahmad rahimahullah, beliau adalah orang yang sangat tegas dan keras didalam memerangi bid'ah dan pelaku bid'ah.

Diceritakan kepada beliau,
Ada seorang laki2 yang bernama Affan ibnu Muslim (ulama hadits), yang mana beliau ini suatu hari kedapatan berada dikuburan dan sedang mengaji dikuburan para raja.
Kemudian ditanya,
"Wahai Affan celaka engkau, apa yang engkau lakukan.?
Affan mengatakan,
"Saya butuh roti dan saya butuh makan, maka saya berkeliling dikuruan para Raja saya mendaptkan uang."

Diceritakan hal ini kepada Imam Ahmad rahimahullah, kemudia beliau berkata,
"Jangan kau kabarkan ini kepada manusia, sesungguhnya dia berada dikondisi yang paling terbaik ketika manusia mengatakan bahwa Alquran adalah Makhluk."

Ada orang yang memang asalnya dia baik dan ta'at, kemudian dia berbuat kesalahan. Maka disitulah kita berusaha untuk mencari udzur walaupun salah tetap salah dan tidak bisa dibenarkan.
Tetapi orang yang asalnya memang itu orang yang jelek dan tidak berjalan diatas kebaikan.

Kita lihat bagaimana Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersikap pada kaum kjawarij, dengan bersikap kepada Hatib ibn abi balta'ah sahabat Rasulullah yang berbuat kesalahan.
Kesalahannya adalah,
"Mengirim surat kekota Mekkah kalau Rasulullah akan menyerang kota Mekkah."

Dan kesalaham Hatib ibn abi Balta'ah Allah menurunkan ayat Nya,
★ Allah Ta'ala berfirman,

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا عَدُوِّىۡ وَعَدُوَّكُمۡ اَوۡلِيَآءَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia."
[QS. Mumtahanah : 1]

Kemudian Umar berkata,
"Ya Rasulullah apakah aku penggal laki2 munafik ini ya Rasulullah.?"
Rasulullah berkata,
"Jangan, sesungguhnya dia iku oerang badar dan Allah mengatakan, "lakukan apapun yang ingin kau lakukan, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa2 kalian."
Akan tetapi ketika Rasulullah menyingkapi orang khawarij, Rasulullah mengatakan,
"kilabunnar (anjing neraka)"

Sehingga kaidah yang disebutkan oleh para ulama, ketika ada orang yang memang asalnya dia adalah orang yang istiqomah, berada diatas ketaatan, diatas Sunnah dan semisalnya, kemudian dia berbuat kesalahan, tetapi kita memberikan udzur kepadanya.
Tapi orang yang memang asalnya ahlul bid'ah dan selalu membuat penyimpangan2 pemikiran, maka ketika kita bermuamalah dengannya berbeda dengan sikap yang mereka berada diatas Sunnah.

Disebutkan oleh Yahya bin Mu'adz rahimahullah, kata beliau,
"Saudaramu yang dianggap sebagai saudara yang hakiki, siapa yang mengenalkan kepadamu aib."
Itulah saudara yang sebenarnya.

Maka Imatus Salaf berkata,
"Semoga Allah merahmati orang2 yang mereka menampakkan aibnya, dan shahabatmu adalah yang mengingatkan engkau dari dosa."
Itulah hakikat persaudaraan.
Teman yang baik adalah teman yang selalu mengarahkan kita kepada kebaikan dan mengingatkan kita akan bahayanya dosa dan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kalau seandainya kita memberikan harta ketika mereka membutuhkan, tentunya ini sudah cukup mendapatkan pahala yang itu merupakan kebaikan dunianya.
Apalagi ketika seorang mempunyai empati dan perhatian kepada saudaranya dan itu akan  isa memberikan mudhorot kepada akhiratnya, tentunya jauh lebih baik dan lebih agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Disebutkan dari Umar bin Khattab radhiallahu'anhu,
"Janganlah engkau berprasangka jelek dengan sebuah kalimat yang keluar dari mulut saudaramu muslim yang itu lafadznya adalah kejelekan, akan tetapi anda masih bisa untuk mencari kemungkinan bahwasanya maksud dia adalah begini dan begini.

Wallahu Ta'ala 'Alam bishowab.   


?  SOAL - JAWAB

1️⃣ Bagaimana cara menjelaskan kepada teman kita yang berkeyakinan kalau musibah sekarang ini karena Ulama2 yang meninggal.!
↪️  Jawab :
1)  Musibah adalah sesuatu yang tidak terlepas dari kehidupan seorang manusia.
◆ Disebutkan dari Ibnul Qoyyim rahimahullah,
Ada tiga perkara yang itu tidak pernah terlepas dari yang namanya manusia :
1. Nikmat
2. Dosa
3. Musibah.
Siapapun diantara manusia dia akan berbuat dosa, mendapatkan nikmat dan mendapatkan musibah.
Tetapi yang membedakan antara orang yang beriman dengan kejujuran keimanannya dan orang yang tidak jujur dengan keimanannya didalam menghadapi nikmat dan didalam menghadapi musibah tersebut.
》Orang2 yang beriman ketika mereka mendapatkan musibah,
- tingkatan yang paling tertinggi dia bersyukur dengan musibah tersebut,
- tingkatan yang paling rendah dia bersabar dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala mengujinya.
2)  Di dalam ayat2 Alquran, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwasanya sebab datangnya musibah dikarenakan dosa dan maksiat yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.
★ Allah Ta’ala berfirman,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”
[QS. An Nahl : 112]

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”
[QS Ar Ruum : 41]
Jelas dalilnya semua itu dikarenakan dosa maksiat.
Dan diantara bentuk dosa yang paling cepat mengundang bala nya Allah Subhanahu wa Ta'ala, tersebarnya musik2 dan bisuan2 wanita.
◆ Rasulullah mengabarkan dalam sebuah haditsnya, Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu, bahwasanya bersabda:

 يَكُونُ فِـي آخِرِ الزَّمَانِ خَسْفٌ وَقَذْفٌ وَمَسْخٌ قِيْلَ: وَمَتَى ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَازِفُ وَالْقَيْنَاتُ. 

“Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan dirubah rupanya.” Beliau ditanya, “Kapankah hal itu terjadi wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Ketika alat-alat musik dan para penyanyi telah merajalela.”
(HR. Ibnu Majah)
Mereka akan didatangkan sebuah musibah yang musibah itu belum pernah didatangkan kepada siapapun sebelum mereka.
Ini Nash yang datang dari Nabi shalallahu'alaihi wasallam.
Adapun wafatnya ulama, kita tidak memungkiri wafatnya ulama merupakan sumber malapetaka.
Dampak yang terjadi dari wafatnya ulama2 yang baik adalah tersebarnya kebodohan dan kejelekan.
◆ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. 

‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.’” 
(HR. Shahih Bukhari dan Muslim).
Ini kalau yang meninggal adalah ulama2 yang Rabbani yang mereka berpegang diatas Alquran dan diatas Manhaj Para Shahabat Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam.
Dan mereka adalah orang yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka meninggalnya mereka akan menjadi malapetaka ditengah umat Islam.
Diantara bentuk malapetakanya adalah tersebarnya kebodohan dan kejelekkan yang Rasulullah kabarkan.
Tetapi kalau seandainya yang meninggal adalah orang yang diulamakan yang sebenarnya mereka bukanlah Ulama, siapapun dia yang kemudian mereka menyeru kepada manusia bukan diatas jalan yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka wafatnya mereka merupakan hal yang baik untuk umat Islam.
Karena sudah semakin sedikit orang2 yang mereka menyeru kepada kejelekan.
Adapun selanjutnya itu perkara ghaib, tidak bisa kita katakan, 
"Karena meninggalnya fulan makanya datang bencana."
Ini adalah perkara ghaib, dan itu suatu ilmu yang ada di sisi Allah. Tetapi Allah menceritakan kepada kita didalam Alquran, bahwa sumber daripada dosa dan maksiat itulah yang mengakibatkan terjadinya bencana.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.

2️⃣ Jika kita belum mampu membantu dengan materi, karena kitapun fakir, kita bisa membantu dengan ucapan nasehat yang baik, tetapi sipenerima merasa tersinggung dan salah faham. Bagaimana solusinya.?
↪️  Jawab :
Dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan, dan diantara ujian yang Allah berikan kepada kita.
★ Allah berfirman ;

َعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain, sebagai ujian. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” [Q.S. Al-Furqan : 20]
Ketika seseorang berniat untuk berbuat baik, tetapi balasan yang diberikan adalah sebuah hal yang tidak baik dan semisalnya, disitulah kita harus belajar kesabaran dan ikhlas.
Kita berbuat baik kepadanya apakah untuk mendapatkan sanjungannya atau ucapan terima kasih darinya. Disitu Allah menguji kita.
Kalau seandainya apa yang kita buat adalah suatu kebaikan, maka disitulah kita harus bersabar. Walaupun terkadang apa yang diberikan kepada kita tidaklah seperti apa yang kita maksudkan. Dan itu tidaklah terjadi hanya kepada kita manusia yang banyak dosa dan maksiat, tapi ini juga terjadi kepada Nabi kita shalallahu'alaihi wasallam.
Rasulullah memberikan sesuatu yang sangat berharga, yaitu wahyu yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, menyelamatkan mereka dari kekekalan api neraka dan menyelamatkan mereka dari kebodohan dan kejahilan. Diberikan oleh Rasul kepada penduduk Thoif, tapi apa yang mereka lakukan, mereka mengusir Nabi shalallahu'alaihi wasallam. Apakah itu membuat Nabi mundur untuk mwnyebarkan kebaikan.
Bahkan datang Malaikat kalau saat itu mengabarkan,
"Kalau seandainya engkau menginginkan, aku akan menghimpit mereka diantara dua gunung ini."
Orang yang hebat dan kuat, ketika ada orang yang berbuat kejelekan kepadanya padahal dia mampu untuk membalasnya, tapi dia tidak membalasnya, itulah orang yang hebat.
Rasulullah mengatakan,
"Mudah2an ada diantara mereka orang2 yang nantinya akan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Imilah contoh yang harus kita contohkan dalam kehidupan kita.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.

3️⃣ Apakah bersedekah dalam bentuk makanan atau uang kepada orang yang disabilitas dan bukan mukalaf, seperti orang2 yang autis, down sindrom, gila, dapat mengalir juga pahalanya seperti mereka yang ahli ibadah.?
↪️  Jawab :
◆ Rasulullah menyebutkan dalam haditsnya,
Ketika beliau ditanya, apa amalan yang paling afdhol.?
"Engkau memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan makanan."
Orang gila, orang autis mereka juga butuh makan. Apalagi mereka dapam keadaan lemah, lemah akal dan fisiknya. Maka semakin orang itu lemah kemydian kita memberikan kepadanya sesuatu perkara, maka tentunya itu jauh lebih besar pahalanya dibandingkan kita memberikan hadiah kepada kepala kantor atau bos kita.
Kalau kita memberikan makan kepada mereka orang autis atau gila, apa yang kita harapkan dari mereka kecuali sesuatu yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka inilah sebuah amalan kebajikan dan sebuah amalan yang sangat Agung.
Dan dia masuk dalam kedalam hadits2 yang datang dari Nabi shalallahu'alaihi wasallam untuk memberikan makanan kepada orang yang dibutuhkan.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


?  PENCATAT :
~ Tim Kajian Online Masjid Astra ~