Sejarah Sahabat Ali bin Abi Thalib - 2

Bang Pitung • 26 November 2020
di grup Masjid Astra

 

Kajian Online Interaktif Ikhwan & Akhwat
     - MASJID ASTRA -
SELASA, 24 November 2020
                   8 Rabi'ul Akhir 1442 H
Pukul, 19.30 WIB - Selesai

? Nara Sumber :
"Ustadz DR. Firanda Andirja, LC., MA."


~ SEJARAH SAHABAT ALI BIN ABI THALIB - Bagian 2 ~

Melanjutkan kisah sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu Khalifah ke 4, salah seorang sahabat yang dijamin masuk Surga.


? Peristiwa Yang Terjadi dimasa Kekhilafahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu.

Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi dimasa pemerintahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu;

1. Dibaiatnya Ali radhiallahu'anhu setelah terbunuhnya Utsman bin Affan pada tahun 35 hijriah.
2. Terjadinya Perang Al Jamal pada tahun 36 Hijriah.
3. Terjadinya Perang Siffin pada tahun 37 Hijriah
4. Peristiwa Al Hakamain yaitu 2 utusan di Bulan Ramadhan pada tahun 37 Hijriah
5. Perang melawan Khawarij di Nahrowan 38 Hijriah 
6. Terbunuhnya Ali radhiallahu'anu pada tahun 40 Hijriah.

Semua peristiwa ini terjadi bermula dari terbunuhnya Utsman bin Affan.
Maka semua sepakat bahwasanya Ali yang berhak menjadi khalifah.

Ketika Utsman bin Affan dibunuh.
Muawiyah bin Abi Sofyan adalah Amir Syam/Gubernur kota Syam sejak pemerintahan Umar bin Khattab.
Orang2 Syam sangat senang dan cinta pada Muawiyah.
Mereka semua tunduk kepada Muawiyah.
Ketika Umar bin Khattab meninggal dunia, pada masa pemerintahan Utsman, Muawiyah melanjutkan sebagai Gubernur Kota Syam.

Ketika wafatnya Utsman bin Affan, beliau meninggal dirumah istrinya yang bernama "Nailah binti al- Farafishah al Kalbiyah."
Beliau adalah wanita yang terkenal cantik jelita, disebutkan sebagian riwayat bahwa beliau adalah seorang Nasrani kemudian masuk Islam dan menikah dengan Utsman bin Affan radhiallahu'anhu dan dia sangat sayang kepada Utsman bin Affan radhiallahu'anhu dengan cinta yang sangat luar biasa.

Di hari Utsman akan dibunuh, kemudian Naila membuka khimarnya dan menguraikan rambutnya dengan harapan orang2 yang masuk kerumahnya karena melihat aurat wanita terbuka, mungkin mereka akan mundur dan agar orang2 tidak membunuh suaminya.
Tapi ketika Naila membuka khimarnya, maka Umar melarangnya..
"jangan kau lakukan demikian, pakailah jilbabmu, tutup rambutmu, sesungguhnya apa yang mereka inginkan lebih besar dari pada itu."

Namun akhirnya orang2 masuk, lalu ada orang pertama datang kemudian mau menebas Utsman, maka ditahan oleh sang Istri sehingga jari2nya terputus.
Kemudian datang lagi orang yang berikut menebas Utsman dan akhirnya meninggal dunia.

Dalam sebuah riwayat.
Setelah Utsman terbunuh, Nailah sangat sedih melihat suaminya meninggal dihadapan beliau, beliau berusaha membela sehingga jari2nya terputus dan beliau sendiri terluka.
Akhirnya Nailah mangambil Gamis Utsman yang berlumuran darah setelah Utsman wafat.
Kemudian beliau mengirimkan surat kepada Muawiyah radhiallahu'anhu dan disertakan jari2nya yang putus kedalam surat tersebut.
Beliau meminta agar Muawiyah menggantungkan Gamis/jubah tersebut dimasjid, agar semua orang melihat bagaimana Utsman bin Affan terbunuh dengan dizholimi.
Maka datanglah surat tersebut ke Muawiyah dan meletakkan Gamis tersebut di Masjid.
Ribuan orang menangisi Utsman bin Affan radhiallahu'anhu karena penduduk negeri Syam sangat cinta kepada Ustman bin Affan.

Muawiyah adalah orang yang sangat dekat dengan Utsman bin Affan radhiallahu'anhu karena Nasab mereka kembali kepada kakek yang sama yaitu "Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab."
Bisa dikatakan bahwasanya mereka sepupuan.

Oleh karenanya Muawiyah merasa bertanggung jawab untuk menuntut darah Utsman bin Affan radhiallahu'anhu.

★ Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Quran Surat Al-Isra Ayat 33;

 وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۗ وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِۦ سُلْطَٰنًا فَلَا يُسْرِف فِّى ٱلْقَتْلِ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ مَنصُورًا 

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan."
(QS. Al-Isra : 33)

Karena orang yang paling pertama dan yang paling berhak menuntut darahnya Utsman untuk menangkap para pembunuh Utsman yang jumlahnya ribuan, adalah Muawiyah bin Abu Sofyan radhiallahu'anhun.

Kembali kepada Nailah binti al-Farafishah.
Disebutkan akhirnya setelah terjadi peristiwa-peristiwa Perang Jamal, Perang Siffin, kemudian Ali bin Abi Thalib terbunuh tahun 40 Hijriah.
Kemudian Al-Hasan diangkat menjadi Khalifah setelah Ali bin Abi Thalib.
Setelah 6 bulan kemudian Hasan mengundurkan diri demi untuk persatuan, dan Hasan pun menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Muawiyah.
Jadilah Muawiyah Amirul Mukminin, khalifahnya kaum Muslimin.
Akhirnya Muawiyah melamar Nailah yang terkenal dengan wanita yang cantik.
Banyak yang melamar tapi dia tolak, termasuk yang dia tolak adalah Muawiyah radhiallahu'anhu.
Kenapa..? Karena Nailah begitu cinta kepada Utsman bin Affan radhiallahu'anhu.

Sampai disebutkan dalam sebuah riwayat, apa yang disukai lelaki kepada Nailah.
Disebutkan bahwa gigi Nailah itu sangat manis, kalau dia tersenyum gigi depannya terlihat tampak sangat manis, sampai dia cungkil giginya dan dia kirim kepada Muawiyah agar orang2 tidak ada lagi yang melamar dirinya.
Jika ditanya kenapa..?
Dia mengatakan, "Bahwasanya kesedihan itu tadinya bisa berkobar, lama2 menjadi berkurang seperti baju yang lama2 jadi usang, dan saya tidak ingin kesedihan saya kepada Utsman berkurang."
Ini menunjukan bagaimana cintanya kepada Utsman sampai Muawiyah sang Khalifah kaum mukminin melamarnya, dia tolak.


? Dibaiatnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anu tahun 35 Hijriah.

Ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, tentu Ali juga tidak setuju dengan terbunuhnya Utsman bin Affan.
Namun beliau tidak bisa menangkapi orang2 para pembunuh tersebut.

Bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan.
Ali bin Abi Thalib bertanya, "Siapa diantara kalian yang telah membunuh Utsman."
Maka berdiri 4000 orang semuanya menutup wajahnya mereka berkata, "kami yang bunuh Utsman."
Tidak gampang, belum lagi mereka punya Kabilah2, kalau 4000 orang ini dibunuh bisa goyang pemerintahan.

Sehingga Ali bin Abi Thalib punya pemikiran menunda.
Menurut Ali bin Abi Thalib,
"Kemaslahatan untuk menegakkan hukum had ini bisa menimbulkan kemudhorotan yang lebih besar."
Akhirnya Ali berfikir untuk menunda hal tersebut.
Menurut ide Ali bahwasanya pemerintahan menjadi tenang terlebih dahulu, kaum muslimin menjadi kuat, semua orang membaiat kepada Ali.

Karena saat itu sebagian sahabat belum membaiat, salah satunya Muawiyah radhiallahu'anhu bersama sahabat2 yang ada di Syams, seperti Amr bin Ash radhiallahu'anhu.
Mereka belum mau membaiat Ali dengan mempersyaratkan ,
"Kami baiat engkau wahai Ali dengan syarat kau bunuh para pembunuh Utsman, atau kau serahkan kepada kami agar kami yang bunuh."

Beda dengan pemikiran Ali.
Ali punya fikiran,
"Kita semua kompak dulu, gabung dulu, semua tunduk diatas perintahku, aku sebagai khalifah kaum mukminin, kalau semua sudah kuat baru ditangkapi satu demi satu para pembunuh Utsman."


? Terjadinya Peristiwa Perang Al-Jamal tahun 36 Hijriah.

Idenya Ali bin Abi Thalin tidak diterima sebagian sahabat diantara terjadilah peristiwa Perang Al-Jamal.
Ketika Zubair bin Awwam dan Tholhah bin Ubaidillah.
Yang keduanya termasuk 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga.
Mereka menuju ke Mekkah bertemu dengan Aisyah radhiallahu'anha.
Kemudian mereka menyampaikan tentang maksud mereka ingin menuntut para pembunuh Utsman, karena Utsman dibunuh dengan cara yang zhalim.

》Menurut hukum Islam.
Satu orang saja terbunuh, kita boleh menuntut darahnya, kalau 1000 orang bersepakat membunuh satu orang mukmin biasa yang tidak berhak dibunuh, maka 1000 orang ini boleh dibunuh. Bahkan satu juta orang bersepakat membunuh satu orang yang tidak berhak untuk dibunuh, maka satu juta orang tersebut boleh dibunuh."

Kalau orang biasa saja boleh dituntut pembunuhnya untuk dibunuh, ditegakkan hukum Qisos.
Bagaimana lagi yang dibunuh adalah Utsman bin Affan seorang Dzun Nurain.
Para sahabat tidak ridho pembunuh Utsman berkeliaran di kota Madinah, di kota Kuffah, tidak ada yang menangkap mereka.
Diantaranya yang tidak ridho adalah Tholhah dan Zubair.

Sudah pernah dikisahkan pada kisah Perang Al-Jamal.
Silahkan dilihat kembali pada kajian dan catatan kajian kisah Aisyah radhiallahu pada Perang Al-Jamal.


? Terjadinya Peristiwa Perang Siffin pada tahun 37 Hijriah.

Setelah Ali bin Abi Thalib selesai dari perang Al Jamal.
Ali berfikir bahwa semua harus tunduk dibawah satu komando, sementara negeri Syam belum tunduk dan belum membaiat Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu.
Sementara Muawiyah sudah menuntut darah Utsman bin Affan radhiallahu'anhu.

Akhirnya Ali mengutus beberapa utusan.
Diantaranya;
▪️"Jarir bin Abdillah al-Bajali" untuk berbicara kepada Muawiyah agar Muawiyah membaiat Ali dan penduduk Negeri Syam membaiat Ali, baru nanti dibicarakan masalah penangkapan para pembunuh Utsman.
Ini pandangan Ali bin Abi Thalib, karena tidak ada wahyu. Dan kondisi sangat genting.
Ali ingin semua bersatu dulu.
Sementara Muawiyah tidak, dia tidak ridho, sementara bajunya Utsman penuh dengan darah dan penduduk Syam semua cinta kepada Utsman. Mereka ingin menangkap para pembunuh Utsman.

Akhirnya Muawiyah menyampaikan kepada Jarir bin Abdillah al-Bajali,
"Sampaikan kepada Ali bin Abi Thalib kami akan membaiat beliau dengan syarat, Ali membunuh para pembunuh Utsman, atau kalau tidak dia serahkan para pembunuh Utsman kepada kami, biar kami yang urus, baru kami akan baiat."
Muawiyah tidak mau tunduk.

▪️"Abu Muhsin al Khaulani" datang ke Muawiyah,
"Wahai Muawiyah apakah kau menyelisihi Ali dalam urisan kekhilafahannya, apa kau mau jadi Khalifah juga.?"

Kata Muawiyah,
"Tidak, dia lebih baik dari saya tentunya, saya bukan urusan Khalifah, urusan saya bagaimana darah Utsman bin Affan radhiallahu'anhu, khalifah ke 3, mantunya Rasulullah yang dijamin masuk Surga dibiarkan begitu saja tanpa ada kelanjutan, sementara para pembunuh berjalan begitu bebas di kota Madinah dan Kota Kuffah tanpa ada yang menangkap mereka, tidak.. saya hanya ingin menuntut balas, baru saya akan berbaiat."

Tidak ada seorang sahabatpun yang tidak setuju kekhilafahan Ali, apakah itu Tholhah, apakah itu Zubair bin Awwam, apakah Aisyah, apakah Muawiyah..! Tidaak ada yang ribut masalah ini.
Permasalahan mereka semua menuntut darah Utsman bin Affan radhiallahu'anhu agar terlebih dahulu para pembunuhnya ditangkap baru mereka mau berbaiat.
Bukan perkara yang mudah, seandainya ada wahyu selesai urusan, tapi tidak ada wahyu.

◆ Muawiyah merasa diatas kebenaran, bukankah Utsman terbunuh dengan kezhaliman.
Jelas Rasulullah pernah mengatakan kepada,
"Utsman akan terbunuh dengan kezhaliman."

Sehingga Muawiyah merasa diatas kebenaran dan berpegang pada dalil,
★ Firman Allah Quran Surat Al-Isra ayat 33;

وَمَنۡ قُتِلَ مَظۡلُوۡمًا فَقَدۡ جَعَلۡنَا لِـوَلِيِّهٖ سُلۡطٰنًا

"Dan barang siapa dibunuh secara zhalim, maka sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya,:
(QS. Al-Isra : 33)

Kata Muawiyah kepada Abu Muslim Al Khaulani,
Dan saya adalah wali terdekat Utsman, saya adalah sepupunya dan saya yang berhak menuntut darahnya, kami sama2 dari Umayyah."
Akhirnya tidak ketemu.

◆ Ali bin Abi Thalib juga merasa diatas kebenaran.
Apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang benar.
Karena gak mungkin, bagaimana cara menangkapi orang2 tersebut sementara dalam kondisi demikian.

Akhirnya Ali bin Abi Thalib mengirim pasukan ke Negeri Syam dari Kuffah (Iraq).
Jadi Ali bin Abi Thalib berpindah pemerintahan dari Madinah ke Kuffah.
Lalu Ali membawa pasukan, ada yang mengatakan 100.000, sementara pasukan Muawiyah 70.000.
Ada yang mengatakan 150.000 pasukan dari Iraq menuju ke Negeri Syam.
Muawiyah datang dengan pasukan ada yang mengatakan 130.000.
Maka Muawiyah berdiri dihadapan jamaahnya, sesungguhnya Ali telah bangkit datang menyerang kita, maka kita juga keluar.

Berangkatlah dua pasukan tersebut.
Pasukan Ali berangkat dan pasukan Muawiyah juga berangkat. 
Sampailah ketemu pada suatu tempat namanya Siffin.
Akhirnya perkara tidak bisa ketemu. Dan banyak riwayat2 yang menceritakan terjadinya peperangan, ada yang mengatakan mereka berperang berhari2.
Ada yang mengatakan sebelumnya mereka datang disuatu tempat, kemudian Muawiyah datang terlebih dahulu karena mereka di Syam, yang tempat tersebut adalah sumber air.

Sementara pasukan Ali datang terlambat datang, sehingga mereka terlambat menguasai sumber air, akhirnya mereka kehausan, akhirnya mereka mengirim utusan kepada Muawiyah, mereka mengatakan,
"Biarkan kami minum air, jangan biarkan kami begini."
Sebagian pengikut Muawiyah berkata,
"Biarkan mereka mati kehausan sebagaimana Utsman bin Affan sebelum meninggal tidak dikasih minum."
Sampai akhirnya Amr bin Ash mengatakan, 
"Tidak bisa, kita sama2 kaum mislimin,"
Akhirnya air dikasih kepada mereka. Ini sebelum terjadi peperangan.

Karena Muawiyah tidak mau tunduk, maka terjadilah apa yang terjadi.
Bagaimana pasukan 150.000 melawan pasukan 130.000. Peperangan terjadi berhari2.
Sampai akhirnya Amar bin Yasir yang berada di kubu Ali bin Abi Thalib

◆ Nabi pernah berkata tentang Amar bin Yasir, ketika sedang membangun Masjid Nabawi, ketika Amar mengangkat bata kemudian menyusun Masjid Nabiwi.
Kemudian Nabi mengatakan,
"Sesungguhnya kau akan dibunuh oleh kelompok yang bersalah dan membangkang."

◇ Pasukan Ali mereka sangat yakin diatas kebenaran karena ada nash dan dalil ditangan mereka bahwasanya Amar bin Yasir akan dibunuh oleh pasukan yang bersalah, sementara Amar bin Yasir bersama barisan mereka.
Dan para sahabat tau Nabi mengatakan bahwasanya Amar bin Yasir akan terbunuh oleh kelompok yang salah dan membangkang.
Amar bin Yasir usianya sudah 90 thn. Maka dia bawa bendera dan menyemangati pasukan Ali bin Abi Thalib untuk menyerang pasukannya Muawiyah. Sebagian sahabat mengikuti Amar bin Yasir dimana dia berada, mereka ingin tau Amar bin Yasir terbunuh oleh kelompok yang mana. 
Sampai akhirnya Amar bin Yasir terbunuh oleh pasukan Muawiyah. 

◇ Dan seorang sahabat datang kepada muawiyah,
"Hai Muawiyah, bagaimana Amar bin Yasir terbunuh."

Sebelumnya pasukan Ali condong kepada kekalahan, ketika Amar bin Yasir menyemangati, maka mereka semakin semangat, akhirnya Amar bin Yasir terbunuh. 
Ketika beliau terbunuh maka terbalik pasukan Muawiyah yang mulai kendor karena merasa berada dipihak yang salah, karena Nabi berkata Amar bin Yasir akan dibunuh oleh pihak yang salah.

Dan mereka lapor kepada Muawiyah.
Kata Muawiyah,
"Bukan saya yang bunuh, mereka yang telah mendatangkan Amar bin Yasir kepada pedang2 kita, jadi bukan kita yang bunuh."
Muawiyah juga berusaha mencari kebenaran, dia punya dalil bahwasanya dia membela Utsman.
Bahwa kondisinya saat itu tidak semudah yang kita bayangkan. Masing2 punya dalil.

◇ Dalam satu hadist, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda;

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ ، يَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ ، دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ ، 

"Tidak akan tegak hari kiamat, sampai akan bertempur dua pasukan yang besar, dan terjadi pertempuran besar2an diantara mereka dan keduannya seruannya sama2 diatas kebenaran."
[HR. Bukhari]


? Isi Pendalilan dari Keduanya.

▪️ Pasukan Ali bin Abi Tholib radhiallahu'anhu.
=)  Ada Amar bin Yasir yang Rasulullah mengatakan bahwa Amar akan dibunuh oleh pihak yang salah.
=)  Ali memandang penangkapan / pelaksanaan Qisos ditunda.

▪️Pasukan Muawiyah bin Abu Sofyan radhiallahu'anhu, Negeri Syam.
=)  Mereka punya dalil bahwasanya Utsman terbunuh dengan zhalim, dan Allah telah memberikan walinya untuk balas dendam,
Dalam QS. Al-Isra : 33.
Walinya disini adalah Muawiyah.
=)  Tersebar dipenduduk Syam isyu yang tidak benar, bahwa Ali ridho dengan terbunuhnya Utsman. Tentunya ini tidak benar.
Dalil mereka, 
- Bahwasanya Ali radhiallahu'anhu tidak menangkapi para pembunuh.
- Dalam pasukan Ali ada para pembunuh tersebut.
- Ali bisa berperang dalam Perang Jamal, lantas kenapa tidak bisa memerangi para pembunuh.
- Kenapa Ali radhiallahu'anhu memindahkan pemerintahan ke Kuffah yang Kuffah adalah markasnya para pembunuh.
Ini semua adalah hoax yang tersebar di negeri Syam.

Jadi dua2nya bertempur dan tidak mundur sama sekali.
Dua2nya merasa membela kebenaran dan bertempur luar biasa, tidak ada yang kabur sama sekali.
Berperang dengan habis2an.
Mereka bertempur sampai malam, sampai subuh, sampai mereka sholat dalam kondisi isyarat, tidak berhenti, terus sampai terbunuh banyak orang sekitar 70.000 orang dari dua pasukan.
Ketika sudah terbunuh sangat banyak. Maka sebagian dari mereka yang berfikir lebih jauh minta agar diberhentikan peperangan.

Ada yang mengatakan dari pihak Muawiyah menulis surat kepada Ali,
"Bahwasanya kami mengajak engkau untuk berhukum kepada kitabullah."
Akhirnya Ali setuju,
"Kami lebih utama untuk berhukum dengan Kitabullah."

Disebutkan juga pasukan Muawiyah mengangkat Mushaf, mereka taro ditombak mereka kemudian mereka angkat tombak tersebut, mereka mengatakan,
"Kita berhenti.. kita berhukum dengan Kitabullah, kalau kita tidak berhenti kita akan diserang oleh pasukan Romawi dan Persia, ini pasukan kaum muslimin, siapa yang menjaga Iraq dan Syam."
Akhirnya mereka sadar dan mereka berhenti dari peperangan tersebut, tapi yang meninggal sudah sangat banyak.
"Kalau Allah sudah memutuskan pasti terjadi."


? Peristiwa Al-Hakamain tahun 37 Hijriah.

Akhirnya sepakatlah Ali bin Abi Tholib dan Muawiyah untuk menyerahkan urusan mereka kepada Al-Hakamain yaitu dua wakil.

》Dari kubu Muawiyah diutus Amr bin Ash radhiallahu'anhu.
》Dari kubu Ali bin Abi Thalib adalah Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu.

Dan perang selesai, mereka akan mengadakan pertemuan, bukan di Siffin (daerah Suriah sekarang dipinggir sungai Furot).
Mereka mengadakan tahkim yaitu Muhakamah yang diwakili dua orang pada bulan Ramadhan di Dumatul Jandal.
Akhirnya berhentilah peperangan.
"Inilah yang disebut Ma'rokah Siffin / Maukiat Siffin"


? Penjelasan Para Ulama.

Para ulama menjelaskan mana yang lebih diatas kebenaran, karena dua2nya berijtihad dan sama2 punya niat baik.
Tapi mana yang lebih diatas kebenaran.

◆ Dalam hal ini ada tiga kelompok;
1》Kelompok pertama pasukan Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu.
2》Kelompok kedua pasukan Muawiyah bin Abu Sofyan radhiallahu'anhu.
3》Kelompok ketiga yaitu ribuan sahabat yang tidak ikut perang.

◇ Imam Ahmad meriwayatkan dari Muhammad bin Sirrin (seorang tabiin) mengatakan,
"Terjadi Perang Jamal dan Perang Siffin, bahwasanya sahabat Nabi puluhan ribu dan mereka tidak ikut dalam pasukannya Ali ataupun Muawiyah. Sahabat yang ikut dalam dua peperangan ini tidak melebihi 100, bahkan sebagian riwayat ada yang mengatakan sekitar 30 orang. Sementara ribuan sahabat memilih tidak ikut, karena menurut mereka ini adalah fitnah."

◆ Perbandingan antara Kelompok Ali dan Kelompok Muawiyah mana yang lebih benar.

Rata2 Para Ulama mengatakan Muawiyah radhiallahu mengatakan bersalah dalam hal ini karena ada nash jelas.

◇ Rasulullah berkata,
"Amar bin Yasir radhiallahu'anhu dibunuh oleh pasukan yang keliru."

◇ Nash yang lain, ketika Rasulullah berbicara tentang peperangan melawan Khawarij.
Rasulullah berkata;
"Khawarij akan diperangi oleh kelompok yang lebih utama mendekati kebenaran dari pada dua pasukan yang ada."
Maksudnya kelompok Ali, karena kelompok Ali yang memerangi Khawarij, bukan kelompok Muawiyah.

Kalau dibandingkan pasukan Ali dan pasukan Muawiyah adalah pasukan Ali.
- Ali lebih alim dari pada Muawiyah.
- Ali lebih sholeh dari pada muawiyah.
- Jelas Ali bim Abi Thalib beda jauh dengan Muawiyah.
- Sama2 mulia tapi Ali mempunyai kedudukan lebih tinggi.
- Ali adalah Amirul Mukminin penguasa ketika itu, seharusnya rakyat tunduk.
Ketika para sahabat di Madinah dan Mekkah sudah membaiat Ali, seharusnya Muawiyah membaiat juga, baru dibicarakan dam didiskusikan.
Jadi dalam hal ini pasukan Ali lebih benar.

◆ Perbandingan kelompok Ali dengan Kelompok yang tidak ikut berperang, mana yang lebih benar.

Wallahu'alam bishowab yang benar adalah para sahabat yang tidak ikut fitnah tersebut.
Para sahabat yang tidak ikut fitnah tersebut/ tidak ikut berperang saat itu jumlahnya ribuan.

Ketika dikatakan ini peperangan para sahabat sebenarnya tidak tepat.
Karena sahabat yang ikut serta cuma sedikit, tidak bisa mewakili ini semua.
Dikatakan perang para sahabat karena para pemimpinnya memang para Sahabat.

Oleh karenanya Nabi shalallahu'alaihi wasallam memuji Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Nabi pernah mengatakan,
"Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang pemimpin, Allah akan buat dengan sebab dia mendamaikan dua pasukan yang besar dari kaum Mukminin."

Ketika Ali bin Abi Thalib meninggal dunia, Hasan menjadi Khalifah, setelah 6 bulan dia menyerahkan semuanya kepada Muawiyah radhiallahu'anhu agar kaum muslimin bisa bersatu.
Tahum tersebut disebut dengan "Amul Jamaah."
Tahun persatuam ditahun yang sangat membahagiakan kaum Muslimin karena jasanya Al Hasan bin Ali.
Dan Nabi memuji Al-Hasan karena mendamaikan. 


? Peringatan-peringatan penting.

Di akhir pembahasan Ustadz menyampaikan beberapa catatan penting yang berkaitan dengan fitnah5 yang terjadi dikalangan sebagian kecil sahabat.
Yang semuanya dibangun di atas ijtihad.

Diantaranya;
1️⃣ Yang ikut dalam fitnah sekitar 30 orang sahabat saja, sementara ribuan sahabat/mayoritas tidak ikut sama sekali.
》Disebutkan dalam sebagian riwayat.
Ali bin Abi Thalib mengajak seorang sahabat, Ali berkata,
"Tidakkah kau ikut perang bersamaku,"
Kata dia,
"Rasulullah telah menyampaikan, jika telah datang fitnah maka ambillah pedang dari kayu, apakah aku harus bertempur dengan pedang kayu."
Akhirnya dia tidak jadi berangkat.
》Dalam sebuah riwayat Ali juga pernah ditanya,
"Bagaimana dengan yang terbunuh, puluhan ribu."
Kata Ali bin Abi Thalib,
"Semuanya yang terbunuh dari pasukan kami dan pasukan mereka Insyaa Allah di Surga, nanti urusan semuanya kepada saya dan Muawiyah."
2️⃣ Bahwasanya awal perselisihan antara Ali dan sebagian sahabat semenjak terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu'anhu.
Kenapa hal ini ditekankan..!
Karena Syiah Rofidho menggambarkan Ali sudah benci dengan para Sahabat sejak Abu Bakar diagkat menjadi Khalifah, ini adalah kedustaan.
3️⃣ Muawiyah dan sahabat yang lain, dalam hal ini adalah Aisyah, Tholhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Amar bin Yasir, dan yanh lain2.
Tidak ada yang menggugat kekhilafahan Ali, semua mengaku Ali lebih utama untuk jadi Khalifah.
Pembacaraan mereka hanya pembicaraan masalah pembunuh Utsman bin Affan. Dan ini shahih.
4️⃣ Ali sama sekali tidak mengkafirkan kubu Muawiyah.
Bahkan Ali mengatakan semuanya di surga, urusannya antara saya dan Muawiyah dihadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jangankan kubu Muawiyah, sementara khawarij tidak dikafirkan oleh Ali.
Ketika Ali ditanya, 
"Bagaimana dengan Khawarij apakah mereka kafir.?"
Ali menjawab.. tidak..
"Lalu apakah mereka Kafir..?"
Ali pun menjawab.. tidak..
"Apakah mereka munafik..?"
Ali menjawab.. tidak.. orang munafik malas beribadah, kalau mereka semangat beribadah, mereka justru lari dari kekufuran. Mereka tidak ingin kufur justru akhirnya menghalalkan darah kaum muslimin gara2 tidak ingin kufur.
Justru mereka mengkafirkan Ali karena mereka tidak ingin terjerumus kedalam kekufuran. Mereka adalah saudara2 kita yang membangkang maka kami lawan mereka."

◇ Orang2 Syiah mereka mengkafirkan Muawiyah karena memerangi Ali dan lainnya, sementara mereka mengatakan Al-Hasan adalah Imam yang kedua yang anehnya Al-Hasan menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah.
Kalau Muawiyah Kafir untuk apa Al-Hasan memberikan kepemimpinan kepada Muawiyah yang dianggap kafir.

5️⃣ Kubu Ali dapat dua pahala:
- Pahala Ijtihad
- Pahala kebenaran karena lebih benar.
Kubu Muawiyah dapat satu pahala:
- Pahala Ijtihad karena pada posisi yang salah.
Kata Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam mengatakan:
"Kalau seorang hakim berijtihad maka dia dapat dua pahala, kalau dia salah maka hanya dapat satu pahala."

Inilah peringatan2 penting yang berkaitan dalam perang Siffin antara sebagian para sahabat, yang mereka kalau ada kesalahan itu sangat kecil dibandingkan dengan bagaimana jasa mereka yang luar biasa.
Mereka adalah manusia biasa bisa salah dan benar.
Maka kesalahan mereka lebih sedikit dibandingkan lautan kebaikan mereka.
Ingatlah Sabda Nabi;
"Jangan mencela para sahabatku."

Ini semua Allah takdirnya bahwa yang maksum hanya Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wasallam.

Wallahu'alam bishowab.
Kita lanjutkan kisah Ali bin Abi Thalin radhiallahu'anhu pada pertemuan berikutnya.
Insyaa Allah.

?  SOAL - JAWAB

1️⃣ Apakah ada sambungannya khilafah yang saat ini didengung2kan di Indonesia dengan khilafah para khulafaur rasyidin dan sahabat yang Ustadz sampaikan tadi dan apakah saya berdosa bila tidak bergabung dengan gerakan kekhilafahan ini, mohon petunjuk.!
↪️  Jawab :
Wallahu'alam Ustadz tidak tahu sambungnya kemana dan anda tidak berdosa jika bergabung dengan mereka.
Wallahu'alam bishowab.

2️⃣ Bagaimana jika kita menghadapi hal serupa yang disampaikan tadi, ada perselisihan dan ada dua orang yang berselisih tapi sama2 berdasarkan hadits, apakah yang harus kita lakukan Ustadz.?
↪️  Jawab :
Kalau hanya berbicara tentang tidak sampai pada mengangkat senjata dan pertumpahan darah, maka kita menjalankan perintah Allah,
"Bertanyalah kepada para ahlul dzikir / para ulama yang berilmu jika kalian tidak mengetahui."
Tatkala kita orang awam, seandainya kita bisa menilai suatu permasalahan dengan dalil, kita lihat dua2anya dan mendengar dari dua belah pihak, kita bisa memilih dan punya kemampuan untuk memilih kecenderungan kepada yang mana, maka kita pilih. Tapi kalau kita tidak punya kemampuan untuk memilih maka saat itu kita hanya memilih yang menurut kita lebih bertakwa, setelah itu kita jalankan.
Ini masalah ijtihadiah dua2nya berusaha mencari kebenaran. Yang benar salah satu diantara mereka berdua tentunya. Tetapi kita sebagai orang awam tugas kita hanyalah bertanya kepada para ulama. Kalau kita sudah bertanya ya sudah selesai, kita tidak ada dosa lagi kalau ternyata yang kita pilih salah, tidak ada urusan disisi Allah.
Karena kita sudah menjalankan perintah Allah "bertanyalah kepada orang yang berilmu."
Tapi kalau ternyata khilat tersebut sampai mengangkat senjata dikalangan kaum muslimin dengan mengatakan jihad.
Sementara yang dijihadin masih sholat, puasa, haji dan umroh, istrinya juga berjilbab, kemudian kita bilang jihad dalam rangka menumpahkan darah kaum muslimin yang lainnya. Ini yang harus kita tinggalkan.
Jangan sampai kita punya andil sehingga terbunuh satu saja orang, jangan... baik dalam tulisan atau perkataan.
Banyak hadits2 yang menyuruh kita untuk meninggalkan fitnah2.
Hadits Nabi;
"Yang duduk lebih baik dari pada yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari pada pada yang berjalan menuju fitnah, yang berjalan lebih baik dari pada yang berlari menuju fitnah."
Maka bila ada potensi untk menumpahkan darah, tinggalkan.
Wallahu'alam bishowab.

3️⃣ Kadang kami mendapati di medsos khususnya dikolom komentar2 para asatidz, ada celaan dan hinaan yang sangat mengganggu apabila kami baca celaan untuk para asatidz dan materi kajiannya. Namun bila kami jawab juga tidak ada selesainya, bagaimana kami harus bersikap karena ini mengganggu kami.!
↪️  Jawab :
Harus melatih diri, jangan digubris, tenang aja. Anggap saja anak kecil anak SD sedang komentar. Lewatin saja atau doakan saja, kalau kita gubris kita yang sakit hati sendiri.
Kalau ada admin harusnya admin yang blokir, kadang adminnya jg sibuk sehingga tdk sempat kontrol.
Wallahu'alam bishowab.

4️⃣ Bagaimana tanggapan kita apabila memiliki teman ikhwah yang dominan, selalu menasihati tanpa melihat tempat dan waktu, misalnya menasihati dijalan, dikafe atau ditempat keramaian. Mohon pencerahannya.!
↪️  Jawab :
Tujuannya bukan sekedar menyampaikan, tapi kita juga ingin orang lain dapat hidayah. Lihat situasi dan kondisi bagaimana, kalau hanya ketemu sebentar dan kita ngobrol boleh, jangan kalau orang lagi konsentrasi jng diceramahi.
Intinya silahkan berdakwah yang penting tau apa yang didakwahkan dan lihat situasi dan kondisi. 
Tujuan kita kan agar dakwah tersampaikan dan bisa dikerjakan. Tetap ada rambu2nya.
Wallahu'alam bishowab.

?  PENCATAT :
~ Tim Kajian Online Masjid Astra ~
ٌ