Shalat Fardhu Di Kendaraan

ย 

Ustadz Menjawabย 
Hari Tanggal : Kamis, 26 Maret 2026
Ustadz : Farid Nu'man Hasanย 
==========================
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชุฉย 

Ustadz .... Saya mau bertanya, jika kita di pesawat dalam perjalanan jauh yang tidak memungkinkan menjamak shalat di darat (misal shalat subuh sementara waktu mendarat akan lewat waktu syuruq) dan juga tidak memungkinkan menghadap kiblat.

Saya pernah dengar kajian kita shalat duduk tidak harus menghadap kiblat untuk menghormati waktu, tapi harus shalat lagi yang sempurna setelah mendarat.

Mohon penjelasannya ustadzย 

Jawabanย 
=========

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชุฉย 

Dalilnya, 'Amr bin Rabi'ah Radhiallahu Anhu berkata:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุงุญูู„ูŽุฉู ูŠูุณูŽุจู‘ูุญู ูŠููˆู…ูุฆู ุจูุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ู‚ูุจูŽู„ูŽ ุฃูŽูŠู‘ู ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุชูŽูˆูŽุฌู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุชููˆุจูŽุฉู

"Aku melihat Rasulullah ๏ทบย  di atas hewan tunggangannya bertasbih dengan memberi isyarat dengan kepala beliau kearah mana saja hewan tunggangannya menghadap. *Rasulullah ๏ทบ tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat-shalat wajib".* (HR. Bukhari no. 1097)

Safar di kendaraan dan tidak bisa berhenti untuk shalat, bisa shalat di kendaraanย  namun dalam rangka lihurmatil waqti (untuk menghormati waktunya), yang nantinya diulang sesampai tujuan. Alasannya, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Sallam tidak pernah shalat fardhu di kendaraan. Semua hadits-hadits tentang shalatnya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Sallam di kendaraan itu tentang shalat sunah.

Sebagian ulama mengatakan tidak perlu diulang, tetapi diulang lebih hati-hati.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

ู‚ุงู„ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู†ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุญูŽุถูŽุฑูŽุชู’ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุชููˆุจูŽุฉู ูˆูŽู‡ูู…ู’ ุณูŽุงุฆูุฑููˆู†ูŽ ูˆูŽุฎูŽุงููŽ ู„ูŽูˆู’ ู†ูŽุฒูŽู„ูŽ ู„ููŠูุตูŽู„ู‘ููŠูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุฅู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู ุงู†ู’ู‚ูุทูŽุงุนู‹ุง ุนูŽู†ู’ ุฑููู’ู‚ูŽุชูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุฎูŽุงููŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุงู„ูู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฌูุฒู’ ุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ูˆูŽุฅูุฎู’ุฑูŽุงุฌูู‡ูŽุง ุนูŽู†ู’ ูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ูŽุง ุจูŽู„ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฏู‘ูŽุงุจู‘ูŽุฉู ู„ูุญูุฑู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชู ูˆูŽุชูŽุฌูุจู ุงู„ู’ุฅูุนูŽุงุฏูŽุฉู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุนูุฐู’ุฑูŒ ู†ูŽุงุฏูุฑูŒ ู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฃูŽู„ูŽุฉูŽ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ุชู‘ูŽู‡ู’ุฐููŠุจู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุถููŠ ุญูุณูŽูŠู’ู†ูŒ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฏู‘ูŽุงุจู‘ูŽุฉู ูƒูŽู…ูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑู’ู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽูˆูุฌููˆุจู ุงู„ู’ุฅูุนูŽุงุฏูŽุฉู ูŠูŽุญู’ุชูŽู…ูู„ู ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽุญูŽุฏูŽู‡ูู…ูŽุง ู„ูŽุง ุชูŽุฌูุจู ูƒูŽุดูุฏู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุฎูŽูˆู’ูู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ ุชูŽุฌูุจู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ู†ูŽุงุฏูุฑูŒย 

Para sahabat kami (Syafi'iyah) mengatakan: Jika masuk waktu shalat WAJIB, dan mereka dalam posisi perjalanan, dan khawatir jika shalatnya mereka menghadap kiblat membuat mereka terputus dari rombongan, atau khawatir atas keselamatan diri sendiri, atau hartanya, di sisi lain shalat tidak boleh ditinggalkan atau keluar dari waktunya, maka hendaknya dia shalat di atas kendaraannya untuk menghormati waktunya, dan wajib baginya nanti untuk mengulanginya karena itu adalah 'udzur yang langka.

Demikianlah bahasanย  masalah ini, seperti yang dikatakan segolongan ulama di antara merekaย  pengarang At Tahdzib dan Ar Rafi'iy.

Al Qadhi Husein mengatakan tentang shalat di atas kendaraan seperti yang kami sebutkan, menurutnya kewajiban mengulangi itu ada dua makna:

Pertama. TIDAK WAJIB mengulangi karena sama dengan shalat dalam keadaan sangat khawatir/khauf.

Kedua. WAJIB ulangi, sebab ini udzur yang langka.

(Al Majmu' Syarh Al Muhadzdzab, 3/242)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

ูˆู†ู‚ู„ ุนู† ุจุนุถู‡ู… ุฃู†ู‡ ู„ุง ุชุฌุจ ุงู„ุฅุนุงุฏุฉุŒ ู„ุฃู† ูุนู„ ุงู„ูุฑุถ ูŠุทู„ุจ ู…ุฑุฉ ูˆุงุญุฏุฉุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฑุงุฌุญุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ุงู„ุฅุนุงุฏุฉ ุฃุญูˆุท.ย 

Dinukil dari sebagian ulama TIDAK WAJIBnya mengulangi shalatnya, karena melakukan shalat wajib itu hanya sekali di waktu yang sama, inilah pendapat yang lebih kuat, walau mengulangi itu adalah lebih hati-hati.

ย (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no.ย  14833)

Wallahu A'lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :ย 
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/@majelis_manis_

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812