Menjaga Presisi Hati dan Lisan ala Luqmanul Hakim

Resume Kultum Dzuhur | Masjid Baabut Taubah 

Pmbicara KURMA: Ustadz Muh Hasan M.Pd.I

Oleh : Bakharudin Yusuf - PT. Denso Indonesia 

 

Ramadan bukan sekadar jeda untuk menahan lapar, melainkan saatnya kita melakukan "perawatan besar" terhadap mesin penggerak hidup kita: Hati dan Lisan. Dalam kajian di Masjid Baabut Taubah Rabu (25/2) lalu, Ustadz Muh Hasan mengajak kita berkaca pada sosok Luqmanul Hakim, pribadi yang namanya diabadikan Tuhan dalam Al-Qur’an karena kedalaman kebijaksanaannya.

Kegiatan
Ustadz Muh Hasan saat menyampaikan Tausiyah

Filosofi Dua Bagian: Lidah dan Hati

Ustadz Hasan mengisahkan sebuah ujian yang dihadapi Luqman. Ketika diminta menyembelih kambing dan menyajikan bagian yang paling baik, Luqman membawa lidah dan hati. Ajaibnya, saat diminta membawa bagian yang paling buruk, ia kembali membawa bagian yang sama: lidah dan hati.

"Jika keduanya baik, maka ia adalah sumber kemuliaan bagi pemiliknya. Namun jika keduanya rusak, maka ia akan menjadi sumber kehancuran yang paling nyata," ungkap Ustadz Hasan menekankan betapa krusialnya dua organ ini dalam menentukan nilai seorang manusia.

Poin Utama: Menjaga Standar Kualitas Diri

Dalam dunia kerja yang penuh dinamika dan tekanan, pesan Luqmanul Hakim ini menjadi kompas yang sangat tepat:

  • Kendali Mutu pada Lisan Lisan adalah cerminan kualitas diri. Di lingkungan kerja, satu ucapan yang salah, keluhan yang berlebih, atau kabar burung yang tidak benar bisa merusak keharmonisan tim. Menjaga lisan berarti memastikan setiap kata yang keluar memiliki manfaat dan bobot kebaikan.

  • Kejujuran Hati sebagai Pengendali Utama Hati adalah pusat kendali. Jika niat dalam bekerja sudah tercampur dengan kesombongan atau rasa tidak tulus, maka sekeras apa pun usaha kita, hasilnya hanya akan menjadi kelelahan tanpa keberkahan. Hati yang bersih akan menghasilkan etos kerja yang tenang dan jujur.

  • Semangat Ramadan: Saatnya Kalibrasi Diri Puasa melatih kita untuk mampu menahan diri. Kemampuan menahan lisan dari amarah dan menjaga hati dari rasa iri adalah wujud nyata dari ketaqwaan. Inilah saatnya kita memperbaiki kembali standar perilaku kita agar lebih baik dari sebelumnya.

Kesimpulan: Pekerja Hebat, Pribadi Bermartabat

Menjadi pribadi yang bijak seperti Luqmanul Hakim berarti menjadi karyawan yang tidak hanya terampil dalam tugas, tetapi juga memberikan kenyamanan bagi rekan kerja melalui tutur kata yang terjaga.

Kegiatan
Suasana Kegiatan KURMA (25/2) di Masjid Baabut Taubah

 

Keselarasan antara ucapan yang benar dan hati yang tulus adalah kunci untuk meraih kesuksesan yang utuh—sukses dalam karier, damai dalam batin.

"Jangan biarkan ibadah puasa kita berlalu tanpa makna. Jadikan ia penyaring untuk membuang penyakit hati dan penjaga untuk menyaring kotoran lisan."

Team Media DKM Baabut Taubah 

PT. Denso Indonesia