Isi Kultum Ustadz Ahmad Syahrin Thoriq
Dalam sebuah kultum yang penuh makna, Ustadz Ahmad Syahrin Thoriq menyampaikan pesan penting tentang keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal dalam kehidupan seorang muslim. Beliau menekankan bahwa keduanya bukanlah hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Ikhtiar berarti usaha sungguh-sungguh yang dilakukan manusia untuk mencapai tujuan. Dalam Islam, usaha adalah bentuk tanggung jawab dan bagian dari ibadah.
Ustadz Ahmad Syahrin Thoriq menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh hanya berpangku tangan lalu berkata “saya sudah tawakal.” Karena tawakal tanpa usaha adalah kelemahan, bukan keimanan.
Beliau mengingatkan bahwa para nabi pun berikhtiar:
-
Nabi Nuh membuat kapal sebelum datang banjir.
-
Nabi Muhammad menyusun strategi saat hijrah.
-
Para sahabat bekerja keras dalam berdakwah dan mencari nafkah.
Artinya, usaha adalah sunnatullah (hukum Allah) di dunia ini.
Setelah berikhtiar maksimal, seorang muslim diperintahkan untuk bertawakal, yaitu menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan ketenangan hati setelah usaha dilakukan.
Menurut Ustadz Ahmad Syahrin Thoriq, tawakal melahirkan tiga sikap:
-
Hati menjadi tenang
-
Tidak mudah putus asa
-
Tidak sombong ketika berhasil
Karena seorang mukmin yakin bahwa hasil bukan semata-mata karena kemampuannya, tetapi karena izin Allah.
Dalam kultumnya, beliau menegaskan bahwa kegagalan sering terjadi bukan karena kurang usaha saja, tetapi karena kurang tawakal. Ada pula yang merasa kecewa karena hanya mengandalkan kemampuan diri tanpa melibatkan Allah dalam doa dan keyakinan.
Ikhtiar tanpa tawakal akan melahirkan stres.
Tawakal tanpa ikhtiar akan melahirkan kemalasan.
Keduanya harus berjalan beriringan.
Lilik Nuryanto
DKM Pama Sangata