Menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang hayat. Dalam Islam, mencari ilmu bukan hanya kebutuhan dunia, tetapi juga jalan menuju kemuliaan di sisi Allah. Karena itu, tidak ada istilah terlambat atau tertinggal dalam menuntut ilmu. Selama seseorang masih memiliki niat dan kesempatan, maka pintu ilmu tetap terbuka.

Para ulama terdahulu telah memberikan contoh nyata bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup.

Sejarah mencatat bagaimana para ulama besar tetap haus akan ilmu meskipun telah mencapai kedudukan tinggi. Imam Syafi'i misalnya, dikenal sebagai sosok yang sangat tekun menuntut ilmu sejak kecil hingga dewasa. Beliau melakukan perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis atau satu pemahaman yang benar.

Begitu pula Imam Ahmad ibn Hanbal yang menghabiskan waktunya berkelana ke berbagai negeri untuk mengumpulkan hadis. Tidak ada rasa lelah dalam dirinya selama itu untuk mencari ilmu.

Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia merasa belum cukup.

Ada ungkapan masyhur dari Imam al-Ghazali yang menegaskan pentingnya ilmu sebagai cahaya kehidupan. Beliau terus menulis, mengajar, dan memperdalam ilmu hingga akhir hayatnya. Bagi para ulama, ilmu adalah ibadah.

Mereka memahami bahwa waktu yang berlalu tanpa ilmu adalah kerugian. Maka setiap detik dimanfaatkan untuk membaca, berdiskusi, meneliti, dan mengamalkan.

Dalam Al-Qur'an (QS. Al-Mujadilah: 11), Allah berfirman bahwa Dia akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Ayat ini menjadi motivasi kuat bagi kaum muslimin untuk terus belajar.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan menuju ketakwaan. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada Allah dan semakin baik akhlaknya.

Banyak orang merasa sudah terlambat belajar karena usia atau kesibukan. Padahal, para ulama mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah kapan seseorang mulai, tetapi apakah ia mau memulai.

Ada yang mulai belajar di usia muda, ada pula yang serius mendalami ilmu setelah dewasa. Selama hati masih hidup dan semangat masih ada, maka tidak ada kata tertinggal.

Yang benar-benar tertinggal adalah orang yang berhenti belajar dan merasa cukup dengan apa yang ia miliki.

Meneladani para ulama, kita belajar bahwa ilmu adalah perjalanan tanpa batas. Tidak ada usia untuk berhenti, tidak ada alasan untuk menyerah. Setiap langkah menuju majelis ilmu adalah langkah menuju kemuliaan.

Maka mari terus belajar, memperbaiki diri, dan mengamalkan ilmu. Karena sejatinya, selama kita mau menuntut ilmu, kita tidak akan pernah tertinggal.

Lilik Nuryanto
Dkm Pama Sangata