Risalah 2 Ramadhan 1447 H

 

*Tanggung Jawab Fardhiyah & Qiyadah dalam Membangun Masyarakat Islami ‎untuk Meraih Ampunan dan Keselamatan*

Oleh: Junaedi Putra, S. Pd. S. Ag. 088297735477‎

‎(Penceramah Radio DAKTA, Masjid Istiqlal, Masjid PBNU, Masjid BUMN, dll)‎

 

*Pendahuluan*

Semua ulama sepakat bahwa Al Qur’an itu kitab mukjizat dari segi ajaran sampai ‎susunan dan bahkan diksi yg digunakan. Hal itu hanya berlaku untuk Al Qur’an, ‎namun meski demikian perkataan Rasulullah juga memiliki keunggulan ‎dibandingkan perkataan manusia biasa yaitu beliau memiliki “Jawami’ul kalam” ‎perkataan singkat namun memiliki makna yang sangat dalam dan luas. Lebih dari ‎itu sebagian hadits juga bisa dibahas dengan metode “Tafsir Maudhu’i” seperti ‎dalam Ilmu tafsir tentu dengan kualitas dan kedudukan yang masih dibawah Al ‎Qur’an. Hal itu bida dipahami karena baik Al Qur’an dan Hadits sama sama ‎merupakan wahyu, hanya saja Al Qur’an itu lafadznya juga langsung dari Allah ‎sementara hadits itu lafadznya dari Rasulullah sendiri sehingga keagungannya ‎tidak mungkin menyamai Al Qur’an.‎

 

*‎3 Hadits Unik*

Ada tiga hadits yang memiliki kesamaan yaitu sama sama diawali dengan lafadz ‎‎“semua ummatku” yg bicara 3 hal yg berbeda tetapu memiliki benang merah dalam ‎menekankan pentingnya tanggung jawab, baik secara Fardhiyah (sebagai individu) ‎maupun Qiyadah (sebagai Pemimpin), untuk meraih ampunan Allah dan masuk ‎surga.‎

 

Hadits Pertama menekankan pentingnya menaati Rasulullah sebagai bagian dari ‎taat kepada Allah.‎

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، ‏وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى‎.‎

‎"Setiap umatku akan masuk surga kecuali mereka yang menolak. Orang orang bertanya: ‎‎‘Siapa yang menolak, wahai Rasulullah?’ Beliau ‎ﷺ‎ menjawab: ‘Barang siapa menaati aku ‎maka ia masuk surga, dan barang siapa durhaka padaku maka sesungguhnya telah ‎menolak.’" (HR. Bukhari no. 7280 dari Abu Hurairah ra.)‎

Hadits ini menekankan bahwa semua umat Nabi Muhammad ‎ﷺ‎ berpotensi masuk ‎surga, asalkan mereka tidak menolak atau enggan mengikuti petunjuk dan ajaran ‎Islam. Ini menunjukkan pentingnya ketaatan dan kepatuhan dalam meraih ‎keselamatan.‎

 

Hadits Kedua menekankan pentingnya rasa malu dan tidak menormalisasi ‎keburukan.‎

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ ‏مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولُ: يَا ‏فُلَانُ، عَمِلْتُ ‏الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا… وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ‎.‎

‎"Aku mendengar Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda: 'Seluruh umatku mungkin diampuni, kecuali yang ‎terang-terangan berdosa.' Dan salah satu bentuk menunjukkan dosa terang-terangan itu ‎adalah ketika seseorang beramal di malam hari—Allah merahasiakannya—kemudian di pagi ‎hari dia mengumumkan: 'Wahai si fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu'—padahal ‎Rabb nya telah menutupi dosanya." (HR. Bukhari no. 6069 & Muslim)‎

Hadits ini menekankan tanggung jawab individu untuk menjaga diri dari perbuatan ‎dosa dan tidak menampakkannya secara terang-terangan. Ini menunjukkan ‎pentingnya rasa malu dan kesadaran diri dalam menjaga diri dari perbuatan ‎maksiat.‎

 

Hadits Ketiga menekankan pentingnya tanggungjawab kepada rakyat.‎

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ ‏عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ ‏رَعِيَّتِهِ، وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

‎"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai ‎pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan ‎akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang laki-laki ‎adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas ‎kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ‎dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah ‎pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas ‎kepemimpinannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai ‎pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari, no. 7137, Muslim, no. ‎‎1829).‎

Hadits ini menekankan tanggung jawab setiap individu dalam memimpin dan ‎menjaga orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, baik dalam ‎lingkup keluarga, masyarakat, maupun negara. Ini menunjukkan pentingnya ‎kepedulian dan tanggung jawab sosial dalam menjaga kebaikan dan mencegah ‎kemungkaran.‎

 

Dengan demikian, jelas sudah bahwa ada benang merah yang menghubungkan ‎ketiga hadits tersebut, karena semuanya menekankan pentingnya tanggung jawab ‎dalam berbagai aspek kehidupan untuk meraih ampunan Allah dan masuk surga. ‎Bahkan jika kita bangun sebagai sebuah roadmap menuju Masyarakat Baldatun ‎Thoyyibatun warobbun Ghofur ternyata sangat relevan.‎

 

*Menuju masyarakat Islami*

 

‎*1. Memasyarakatkan ketaatan dan menjadikan hal itu mendarah daging.‎*

Allah berjanji bahwa keberkahan akan diberikan jika suatu masyarakat itu beriman ‎dan bertaqwa kepada Allah.‎

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

‎"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami ‎akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka ‎mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan ‎perbuatannya." (QS. Al-A'raf, 7: 96)‎

Dan secara umum taqwa itu punya dua sisi yaitu "Imtisalu awamirillah wajtinabu ‎nawahihi" (‎امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه‎) melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.‎

Maka masyarakat yang bertaqwa adalah masyarakat yang ketaatan jadi hal yang ‎biasa karena sudah mendarah daging, dan kemaksiatan menjadi sesuatu yang ‎dibenci secara umum.‎

Adalah sangat menyedihkan jika orang sholat dianggap orang sholih dinegara ‎mayoritas muslim seperti Indonesia. Sholat itu kewajiban bagi semua muslim ‎apapun statusnya, kecuali jika sholatnya dimasjid, lalu sering sholat sunnah baru ‎ada nilai tambah sehingga pantas disebut sholih. Lebih menyedihkan lagi jika ‎muslimah menggunakan cadar dianggap aneh sementara membuka aurat ‎dianggap biasa. Memang para ulama beda pendapat tentang hukum ‎menggunakan cadar ada yang mewajibkan seperti madzhab Hambali dan pendapat ‎mu’tamad dari madzhab Syafi’i, ada juga yang mensunnahkan seperti madzhab ‎Hanafi, tapi Wajib dan sunnah itu sama sama ibadah, bagaimana mungkin orang ‎beribadah justru dianggap aneh di negara mayoritas muslim? Tentu banyak cara yg ‎perlu dilakukan untuk sampai ke tahap ideal. Melalui pendidikan, aturan dari ‎pemerintah, peningkatan kesejahteraan, perbaikan trend, penyebaran dakwah, dll. ‎Yang pasti untuk menuju masyarakat Islami semua jenis ketaatan harus dianggap ‎biasa. Semua kita punya peran untuk itu.‎

 

‎*2. Meminimalisir Kemaksiatan yang ada di Masyarakat*

Selain memasyarakatkan ketaatan, untuk sampai kepada tahap masyarakat islami ‎juga harus meminimalisir semua bentuk dan potensi maksiat. Semua orang yang ‎mau maksiat harus malu, jangan sampai maksiat dianggap biasa dan dilakukan di ‎depan umum tanpa kontrol sosial dari masyarakat. Sebagai masyarakat kita tifdak ‎boleh permisif agar Allah tidak mengazab kita karenanya.‎

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ‏

‎"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang ‎zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya". (QS. ‎Al-Anfal, 8: 25)‎

 

Taqwa itu tidak cukup sekadar sholih pribadi. ‎

‎"‎وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ ‏لَكُمْ‎"‎

‎"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian benar-benar ‎mengajak kepada yang ma'ruf dan benar-benar mencegah dari yang munkar, atau ‎jika tidak, niscaya Allah akan segera mengirimkan hukuman kepada kalian dari sisi-‎Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun tidak dikabulkan untuk kalian" ‎‎(HR. Tirmidzi)‎

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِلْمَلَائِكَةِ: «إِذَا أَرَدْتُمْ أَنْ تُهْلِكُوا أَهْلَ قَرْيَةٍ فَابْدَؤُوا بِعُبَّادِهَا»، قَالُوا: يَا رَبِّ، فِيهِمْ فُلَانٌ الْعَابِدُ! قَالَ: بِهِ فَابْدَؤُوا، فَإِنَّ ‏وَجْهَهُ لَمْ يَتَمَعَّرْ فِيَّ سَاعَةً قَطُّ‎.»‎

Allah berfirman kepada para malaikat: “Jika kalian hendak membinasakan suatu ‎negeri, maka mulailah dari para ahli ibadahnya.”‎

Para malaikat berkata: “Wahai Rabb, di antara mereka ada si fulan yang ahli ‎ibadah.”‎

Allah berfirman: “Mulailah darinya, karena wajahnya tidak pernah berubah (marah ‎karena Allah) walau sesaat pun.” ‎

Kisah ini bisa dibaca dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn – al-Ghazālī, Tafsīr al-Qurṭubī ‎saat menafsirkan QS. Al-Mā’idah: 79, dan juga Tafsir Ibnu Katsir.‎

Walaupun sanadnya bermasalah tapi isi haditsnya shahih.‎

Dalam hal ini peran pemerintah sangat diperlukan karena untuk mengajak kepada ‎ketaatan semua orang bisa melakukan dengan resiko yang sangat minim, tapi ‎untuk melakukan nahi munkar itu sangat butuh peran pemerintah karena semua ‎pihak yang terlibat dalam kemaksiatan tidak akan rela dan tidak mungkin tinggal ‎diam dengan orang yang melakukan nahi munkar karena sangat merugikan ‎kepentingan mereka secara langsung. Dan hal ini sangat besar resikonya jika ‎dilakukan oleh perorangan. Itulah sebabnya rasulullah berpesan ‎

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

‎“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan ‎tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan ‎hatinya—dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)‎

Hadits ini jelas menekankan pentingnya kekuasaan yang paling wajib melakukan nahi munkar, ‎adapun ulama wajib melakukan nahi munkar sebatas dengan lisan, sementara orang awam nahi ‎munkar dengan hati yaitu membanci dan tidak memfasilitasi kemunkaran.‎

 

Mensyiarkan ketaatan dan memarjinalkan kemaksiatan adalah wujud nyata dari ‎taqwa. Kedua point diatas sangat sesuai dengan firman Allah

وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

‎"...dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang haq dengan ‎kalimat-kalimat-Nya (bikalimatih). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi ‎hati." (QS. Asy-Syura, 42: 24)‎

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

‎"Agar Allah menetapkan yang benar (Islam) dan membatalkan yang salah (syirik), ‎walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya". (QS. Al-‎Anfal, 8: 8)‎

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

‎"Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". ‎Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap". (QS. Al-Isra', 17: ‎‎81)‎

 

‎*3. Memiliki Ruhul Qiyadhiyyah (Jiwa Kepemimpinan)‎*

Tidak cukup bertaqwa tapi masyarakat islam harus dibangun dengan kesadaran ‎bahwa Ummat Islam itu adalah Ummat terbaik

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ ‏الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang ‎ma‘ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahlul Kitab ‎beriman, itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan ‎mereka adalah orang-orang fasik. (QS. Āli ‘Imrān: 110‎)‎

bahkan kita diajarkan doa

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ‏

Artinya: "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada ‎kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan ‎jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa'." (QS. Al-Furqan: 74)‎

Pemimpin untuk orang bertaqwa, bukan pemimpin untuk orang awam. Artinya ‎Islam mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri menjadi manusia terbaik sebatas ‎kemampuan kita masing masing. Dan memang itulah yang dibutuhkan. Bukan ‎sebatas kerumunan orang bertaqwa, tapi orang bertaqwa yang bersatu dalam ‎jamaah dan memiliki visi yang jelas.‎

 

Penutup

Jika dikaitkan dengan Ramadhan yang stasiun akhirnya adalah taqwa, ternyata ‎taqwa bukan tujuan akhir tapi mempersiapkan bahan terbaik untuk mewujudkan ‎masyarakat islami. Jelaslah bagi kita bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tapi ini ‎adalah sebuah Universitas pembangun peradaban agar Umat islam kembali ‎kepada taqdir mereka sebagai Ummat terbaik yang berhasil memimpin dan menjadi ‎soko guru bagi peradaban dunia selama 14 tahun.‎

Semoga ramadhan tahun ini bisa membangunkan kesadaran kita untuk ‎mengembalikan kemuliaan Islam kepada posisi dimana seharusnya dia berada.‎

Wallahu a’lam bisshowwab