Risalah 1 Ramadhan 1447 H
*Ilusi Dunia, Realitas Akhirat: Kajian Komprehensif 4 Fase Kehidupan manusia*
_Oleh: Junaedi Putra, S. Pd. S. Ag. 088297735477_
(Penceramah Radio DAKTA, Masjid Istiqlal, Masjid PBNU, Masjid BUMN, dll)
_Pendahuluan_
Kebanyakan kemaksiatan, kebatilan, dan kemungkaran dilakukan manusia karena mereka memberikan harga yang terlalu mahal pada dunia, padahal dunia disisi Allah tidak lebih berharga dari sebelah sayap nyamuk. Sebagaimana penjelasan Rasulullah
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
"Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk air pun kepada orang kafir." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)
Bahkan lebih buruk lagi sebagian manusia bahkan kehilangan orientasi dalam hidup sehingga menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An‘ām [6]: 32)
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sungguh, negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 64)
إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ
“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu.” (QS. Muḥammad [47]: 36)
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭاۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu, dan berlomba-lomba dalam kekayaan serta anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, lalu hancur berderai. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 20)
Allah menyebutkan hakikat dunia sebagai permainan dan senda gurau bagi orang kafir paling tidak dari 4 ayat diatas. Dari 4 ayat diatas ada 3 point yang ingin saya bahas:
_1. Dunia itu ilusi, akhiratlah kehidupan sebenarnya._
orang beriman tidak menjadikan dunia sebagai Permainan dan senda gurau, bagi orang beriman dunia adalah jembatan menuju kehidupan akhirat sebagaimana perkataan para ulama. Bahkan Allah menegaskan bahwa kehidupan akhirat itulah kehidupan sesungguhnya. Dalam Al-‘Ankabūt ayat 64 Allah menegaskan paling tidak dengan 2 cara yaitu menggunakan lam ta’kid (lam penegasan) dan menggunakan kata “hayawaan” sebuah mabna (bangunan kata) yg lebih banyak daripada “hayaah” saat Allah menyebutkan tentang dunia. Dalam kaidah tafsir dikatakan “ziyadatul mabna yadullu a’a ziyadatil ma’na” yang artinya “bertambahnya bangunan kata menunjukkan bertambahnya makna kata. Dan memang kehidupan akhirat jauh lebih lama daripada dunia. Allah jelaskan perbandingan itu dalam beberapa ayat, di antaranya:
Surah As-Sajdah (32:5):
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu".
Ayat ini menjelaskan bahwa satu hari di sisi Allah sama dengan seribu tahun menurut perhitungan manusia.
Surah Al-Hajj (22:47):
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu".
Ayat ini juga menegaskan bahwa satu hari di sisi Allah sama dengan seribu tahun menurut perhitungan manusia dan menjelaskan tentang permintaan orang-orang kafir yang meminta azab disegerakan.
Surah Al-Ma'arij (70:4):
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun".
Ayat ini menjelaskan bahwa satu hari di sisi Allah bisa setara dengan 50.000 tahun menurut perhitungan manusia. Ayat ini secara spesifik menjelaskan tentang naiknya malaikat dan Jibril kepada Allah dalam waktu yang sangat lama menurut ukuran manusia.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perbedaan angka dalam ayat-ayat tersebut (1.000 tahun dan 50.000 tahun) dapat memiliki beberapa makna:
Surah As-Sajdah dan Al-Hajj: Menjelaskan perbandingan umum antara waktu di dunia dan di akhirat.
Surah Al-Ma'arij: Menjelaskan tentang lamanya hari kiamat atau lamanya perhitungan amal bagi orang-orang kafir. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan betapa sulit dan beratnya hari tersebut bagi orang-orang kafir.
Dengan demikian, ayat-ayat ini memberikan gambaran tentang perbedaan signifikan antara konsep waktu di dunia dan di akhirat, serta mengingatkan manusia untuk memanfaatkan waktu di dunia sebaik mungkin untuk beribadah dan beramal saleh.
Maka sangat merugilah orang yang menjadikan dunia hanya sebagai permainan dan senda gurau.
_2. Analogi yang menggetarkan hati._
Dalam surat Al-Ḥadīd ayat 20 Allah memberikan analogi yang sangat tepat menggambarkan hidup manusia.
Hujan (غيث) yang merupakan Air yang menumbuhkan bumi menggambarkan Rezeki, kesempatan, nikmat, atau awal kehidupan yang membuat semua yang membuat manusia “bersemangat hidup”.
Tanaman tumbuh indah sebagai gambaran dari Kehidupan tampak segar & menjanjikan Masa muda, kejayaan dunia, karier, cinta, kesuksesan.
Mengagumkan para petani (أعجب الكفار نباته) inilah fase saat Petani senang melihat hasil kerja mereka lalu banyak yang “Kufur nikmat” akibat manusia terpesona oleh hasil usahanya sendiri dan lupa kepada Sang Pemberi.
Mengering (يهيج) digambarkan seperti Tanaman layu, kehilangan air sebagai analogi dari Umur menua, semangat menurun, dunia kehilangan daya tariknya.
Menjadi kuning (مصفرا) tanaman digambarkan dengan warna kematian tanaman sebagai simbol kefanaan dunia mulai tampak bisa dilihat dari tubuh, karier, dan relasi mulai pudar.
Akhirnya Hancur berderai (حطاما) digambarkan dengan tumbuhan hancur menjadi serpihan debu sebagai analogi dari akhir kehidupan dunia berupa kematian, kehancuran, kefanaan total.
Analogi ini menyentuh emosi dasar manusia pertama Di awal kehidupan ada optimisme & gairah, berkembang menjadi fase kebanggaan & kepuasan ditutup dengan kehampaan & kehilangan makna.
Itulah siklus hidup orang kafir. Kosong tanpa makna, hilang nilai, dan keluar dari tujuan hidup, serta jauh dari kebenaran.
_3. Makna susunan kata yang disengaja_
Salah satu hal yang disepakati para ulama tafsir adalah bahwa kemukjizatan Al Qur’an itu tidak terbatas hanya pada ajaran Al Qur’an tapi juga pada taqdim watta’khir, susunan kata, dan bahkan pemilihan katanya. Jika kita baca 4 ayat yg kita bahas diawal maka kita akan temukan 3 ayatnya menggunakan lafadz “لَعِبٌ وَلَهْوٌ” yaitu pada surat Al-An‘am ayat 32, surat Muḥammad ayat 36, dan surat Al-Ḥadīd ayat 20 sementara dalam surat Al-‘Ankabūt ayat 64 justru menggunakan lafadz “لَهْوٌ وَلَعِبٌ”. Kenapa beda sendiri? Satu yang pasti yaitu tidak ada yang namanya “tidak sengaja” dalam firman Allah, semua disusun dengan sempurna dan Allah terbebas dari perbuatan sia-sia semua pasti ada hikmah/pelajaran dibaliknya. Sebelum bahas lebih lanjut kita perlu membedakan makna La’ib dan Lahwu
Kata La’ib memiliki dimensi lahiriyah bersumber dari nafsu sehingga berdampak pada waktu yang terbuang. Sedangkan kata lahwu memiliki dimensi batin bersumber dari hati yang lupa tujuan hidup sehingga dampaknya adalah jiwa yang kehilangan arah dan makna.
Jika kita hubungkan waktu turunnya ayat dengan Fase Kehidupan Rasulullah. Maka kita akan temukan benang merah yang membuat hal ini makin jelas. 4 ayat diatas saya urutkan berdasarkan waktu turun dan fase dakwah Rasulullah.
A. Awal Dakwah Rasulullah (Al-An‘am ayat 32)
B. Sebelum Hijrah (surat Al-‘Ankabūt ayat 64)
C. Awal Kehidupan di Madinah (surat Muḥammad ayat 36)
D. Akhir Kehidupan Rasulullah (surat Al-Ḥadīd ayat 20)
Disurat awal dakwah Rasulullah di Mekah kafir Quraisy terjebak dalam kesenangan yang berulang tanpa makna sehingga penolakan mereka terhadap dakwah Rasulullah hanya bersifat sporadis tanpa pengorganisasian. Saat dakwah Rasulullah menyentuh kepentingan mereka maka masing-masing orang berreaksi sesuai ketersinggungan masing-masing. Ada yang keras ada yang lunak ada juga yang bahkan ada juga yang membela Rasulullah seperti yang dilakukan Abu Thalib. Sementara di akhir dakwah beliau di mekah, orang kafir Quraisy makin berani menentang Rasulullah bahkan berniat ingin membunuhnya terlebih setelah Abu Thalib yang selama ini melindungi Rasulullah sudah tiada mereka berkumpul dan bermusyawarah untuk mencari cara untuk melenyapkan rasulullah yang selama ini dianggap mengganggu kepentingan mereka. Sedangkan di saat awal dakwah Rasulullah di Madinah, kaum kafir Quraisy berpikir puluhan kali untuk berbuat buruk kepada Rasulullah karena beliau memiliki pengikut yang sangat banyak bahkan disetiap peperangan selalu dimenangkan Rasulullah, lalu di akhir dakwah Rasulullah penentangan kafir Quraisy makin tidak berarti terlebih setelah Fathu makkah justru hampir semua masuk Islam.
Dan jika kita baca semua keterangan diatas maka gambaran Allah tentang siklus hidup orang kafir makin menambah bukti kebenaran firman Allah.
Penutup
A. Islam menolak gagasan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup utama bukan melarang muslim menguasai dunia. Justru sebagi baik harta adalah harta yang ada ditangan orang bertaqwa.
B. Islam tidak melarang menikmati dunia, tapi mengatur (halal/haram, batas, niat). Dari ayat ini diambil prinsip niyyah dan prioritas: tindakan ekonomi dan sosial harus diarahkan pada kebaikan akhirat (mis. menunaikan kewajiban—shalat, zakat).
C. Larangan bermegah/riya': menahan pengeluaran untuk pamer bukan untuk maslahat.
D. Islam mengajarkan keseimbangan hak milik: mengurangi kecenderungan menimbun harta tanpa manfaat sosial.
E. Islam menegaskan prinsip taṭarruf (prioritas akhirat) dalam pengambilan keputusan sebagaimana Allah jelaskan dalam Surah Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang fokus pada akhirat dan tidak tertipu ilusi dunia
Wallahu a’lam bisshowwab