Kemuliaan Abu Bakar Ash Shiddiq - 2

Bang Pitung • 7 November 2020
di grup Masjid Astra

 

Kajian Online Interaktif Ikhwan & Akhwat
     - MASJID ASTRA -
SELASA, 3 November 2020
                18 Rabi'ul Awal 1442 H
Pukul, 19.30 WIB - Selesai

📔 Nara Sumber :
"Ustadz DR. Firanda Andirja, LC., MA."


~ KEMULIAAN ABU BAKAR ASH SHIDDIQ - Bagian 2 ~


Melanjutkan pembahasan tentang sahabat yang mulia Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu'anhu.

💠 Hadist-Hadist Keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu'anhu.

Dinukil dari Kitab Shahih Al-Bukhari dan juga Kitab Shahih Muslim.
Yang rata2 hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari diriwayatkan juga oleh Imam Muslim.
Dan ada hadist yg diriwayat oleh Imam Muslim tapi tidak diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari.
Sampai Al Imam Bukhari membuat bab khusus tentang keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu'anhu.
Demikian juga Imam Muslim membuat bab khusus tentang keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu'anhu.


◆ Dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhu.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tutup seluruh pintu kecuali pintu Abu Bakar."
[Hadits Shahih Al-Bukhari No.3381]

Maksudnya :
- Pintu yang ada di Masjid Nabawi, sebagian Sahabat ada yang pintu rumahnya langsung masuk ke Masjid Nabawi. 
- Maka semua pintu itu di suruh di tutup kecuali pintu Abu Bakar radhiallahu'anhu.
Abu Bakar bisa masuk masjid lewat pintu tersebut, sebagai bentuk kemuliaan kepada Abu Bakar radhiallahu'anhu.
Dan juga akan menjadi Isyarat akan menjadi Khalifah setelah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.


◆ Dari Abu Sa'id Al Khudriy radhiallahu'anhu.

 أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ ذَلِكَ الْعَبْدُ مَا عِنْدَ اللَّهِ قَالَ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ فَعَجِبْنَا لِبُكَائِهِ أَنْ يُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَبْدٍ خُيِّرَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْمُخَيَّرَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابَ أَبِي بَكْرٍ

"Dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khathbah di hadapan manusia lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah telah memberi pilihan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah". 
(Abu Sa'id) berkata; 
"Tiba-tiba Abu Bakr menangis yang membuat kami heran dengan tangisannya hanya karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan ada seorang hamba yang diminta untuk memilih. Ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah yang dimaksud dengan hamba tersebut. Dan Abu Bakr adalah orang yang paling memahami isyarat itu. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Sesungguhnya manusia yang paling terpercaya di hadapanku dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakar. Dan seandainya aku boleh mengambil puncak kekasih selain Rabbku, tentulah Abu Bakar orangnya. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. Sungguh tidak ada satupun pintu di dalam masjid yang tersisa melainkan akan tertutup kecuali pintu Abu Bakar".

Hadist ini menunjukan,
- Cerdasnya Abu Bakar radhiallahu'anhu, beliau faham sementara para sahabat tidak faham.
- Bagaimana lembutnya hati beliau mudah menangis.
- Abu Bakar adalah orang yg paling berjasa dalam menemani Nabi shalallahu'alaihi wasalam, dan menemani Nabi dalam perjalan hijrah, berjasa dalam hartanya.
- Rasulullah sangat mencintainya. 
- Nabi memuliakan Abu Bakar dengan membiarkan pintu masjid yang mengarah kerumah Abu Bakar tidak boleh di tutup.
[Hadits Shahih Al-Bukhari No.3381]


◆ Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu menceritakan bahwa suatu hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya :

 مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَااجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّادَخَلَ الْجَنَّةَ ‘

"Siapakah diantara kalian yang berpuasa hari ini?’ Abu Bakar menjawab,’Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapakah diantara kalian yang telah mengantar jenazah hari ini?’ Abu Bakar pun menjawab, ‘Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, ‘Siapakah diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?’ Abu Bakar menjawab lagi, ‘Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih bertanya lagi, ‘Siapakah diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?’ Abu Bakar pun menjawab lagi, ‘Saya.’ Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah amal-amal yang telah disebutkan tadi berkumpul pada satu orang, melainkan ia akan masuk surga.’ 
[HR. Muslim, no.1028]

Ini menunjukkan bahwasanya,
- Abu Bakar masuk Surga.
- Beliau semangat dalam banyak amal sholeh.


◆ Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma , bahwa beliau Radhiyallahu anhu mengatakan :

 كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَابَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ 

"Kami (para sahabat) pernah menilai orang terbaik di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami dapatkan yang terbaik adalah Abu Bakar Radhiyallahu anhu , kemudian Umar bin Khattâb Radhiyallahu anhu , kemudian Utsmân bin Affân, mudah-mudahan Allâh meridhai mereka semua“. 
[HR. al-Bukhâri, no. 3655]

◆ Dalam Hadist riwayat lain:
"Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam mendengar kami berkata2 diantara kami, yang paling afdhol adalag Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman. Rasulullah mendengar dan Rasulullah tidak mengingkari."

Mereka mengucapkan hal tersebut di zaman Nabi shalallahu 'alaihi wasalam masih hidup dan Rasulullah tidak mengingkari, menunjukan bahwasanya Abu Bakar adalah manusia termulia setelah Rasulullah shalallahu'alaihi wasalam kemudian Umar bin Khattab.


◆ Dari Jubair bin Muth’im dari ayahnya, 
"Bahwa ada seorang perempuan yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suatu perkara. Maka beliau menyuruh agar perempuan itu kembali lagi untuk menemuinya. Maka perempuan itu mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya datang tapi tidak bertemu dengan Anda?”. Ayahku Jubair bin Muth’im mengatakan, “Seolah-olah perempuan itu memaksudkan kematian.” Maka beliau (Nabi) menjawab, “Kalau kamu tidak bisa bertemu denganku maka temuilah Abu Bakar!”
[HR. Muslim dalam Kitab Fadha’il as-Shahabah, hadits no.2386]

Hadist2 ini memberi isyarat yang sangat kuat bahwa yang menjadi Khalifah setelah Nabi shalallahu 'alaihi wasalam adalah Abu Bakar radhiallahu'anhu.


◆ Dari Ammâr bin Yâsir Radhiyallahu anhu mengatakan :

 رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا مَعَهُ إِلَّ اخَمْسَةُ أَعْبُدٍ،وَامْرَأَتَانِ وَأَبُو بَكْرٍ 

"Aku melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada awal da’wah beliau) hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita dan Abu Bakar."
[HR. al-Bukhâri, no. 3660]

Siapakah 5 budak tersebut dijelaskan oleh para Ulama, mereka adalah:
1. Bilal bin Rabbah
2. Zaid bin Haritsah
3. Amir bin Fuhairah
4. Abu Fuqaihah
5. Syukron

Adapun dua wanita tersebut adalah:
1. Khadijah radhiallahu'anha
2. Ummu Aiman radhiallahu'anha

Hadist ini menunjukan bahwasanya lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar Ash Siddik radhiallahu'anhu.


◆ Hadist perbandingan Abu Bakar dan Umar Bin Khattab.
Para Ulama sepakat bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah ada Abu Bakar setelah itu Umar.
Jarak antara Abu Bakar dan Umar itu jauh.

▪️ Dari Abu Darda radhiallahuanhu `anhu, dia berkata:
Dalam suatu hadits, pernah terjadi masalah antara Abu Bakar dan Ummar radhiallahhu'anhuma dalam Shahih Bukhari.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ أَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ آخِذًا بِطَرَفِ ثَوْبِهِ حَتَّى أَبْدَى عَنْ رُكْبَتِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ” أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَدْ غَامَرَ “. فَسَلَّمَ، وَقَالَ إِنِّي كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنِ الْخَطَّابِ شَىْءٌ فَأَسْرَعْتُ إِلَيْهِ ثُمَّ نَدِمْتُ، فَسَأَلْتُهُ أَنْ يَغْفِرَ لِي فَأَبَى عَلَىَّ، فَأَقْبَلْتُ إِلَيْكَ فَقَالَ ” يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ “. ثَلاَثًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ نَدِمَ فَأَتَى مَنْزِلَ أَبِي بَكْرٍ فَسَأَلَ أَثَمَّ أَبُو بَكْرٍ فَقَالُوا لاَ. فَأَتَى إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَسَلَّمَ فَجَعَلَ وَجْهُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَتَمَعَّرُ حَتَّى أَشْفَقَ أَبُو بَكْرٍ، فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ أَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ مَرَّتَيْنِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ” إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ. وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ. وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُو لِي صَاحِبِي “. مَرَّتَيْنِ فَمَا أُوذِيَ بَعْدَهَا

“ Dari Abū Darda  radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu beliau berkata:
“Aku pernah duduk di sebelah Nabi shallallahualaihi wa sallam. 
Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi shallallahualaihi wa sallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. 
Nabi shallallahualaihi  wa sallam berkata: "Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah/masalah yang sulit." 
Lalu Abu Bakar berkata: 
“Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar mau memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang. 
(jadi umar tidak memaafkan Abu bakar lalu ini yang membuat Abu bakar sedih, sedih karena tidak dimaafkan oleh sahabatnya, para sahabat kadang terjadi perselisihan, kesalahan, namun kekeliruan mereka terlalu sedikit bila dilihat dari lautan kebaikan mereka dalam beragama).
Nabi shallallahualaihi  wa sallam lalu berkata: 
"Allah mengampunimu wahai Abu Bakar."
Sebanyak tiga kali (seakan beliau berkata: biar saja Umar tidak memaafkanmu tapi tenanglah karena Allah mengampunimu walau Umar tidak mau memaafkanmu).

Tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya: 
“Apakah di dalam ada Abu Bakar?” 
Namun keluarganya menjawab, tidak. 
Umar segera mendatangi Rasulullah shallallahualaihi  wa sallam. 
Sementara wajah Rasulullah shallallahualaihi wa sallam terlihat memerah karena marah (ketika melihat munculnya Umar), hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk bertumpu pada kedua lututnya: 
“Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. (sekarang Abu bakar membela Umar supaya Nabi memaafkan Umar).

Maka Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda: 
"Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, “Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, “Engkau benar wahai Muhammad, setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku? (beliau ucapkan) sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti lagi”.

▪️ Dalam riwayat yang lain Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam marah kepada Umar. 
Rasulullah berkata,
"Engkau yang Abu Bakar minta maaf kepada engkau dan engkau tidak terima, jangan ganggu sahabatku Abu Bakar."

Hadist ini adalah dalil bahwasanya,
- Boleh memujinya seseorang didepannya jika aman dari fitnah.
- Bagaimana Abu Bakar perduli dan tidak ingin punya masalah di akhirat.


◆ Dari Amr bin Ash radhiallahu'anhu (seorang sahabat yang hebat dan pandai berbicara).

Ketika dia masuk Islam baru beberapa bulan.
Nabi menempatkan sahabat sesuai dengan kondisinya, Amr bin Ash adalah orang hebat di Quraisy, dia masuk Islam Nabi muliakan dia.
Kemudian Nabi menyuruh Amr bin Ash menjadi pemimpin dalam "Perang Dzatu As-Salasil".

Ketika Amr bin Ash memimpin perang, anak buahnya ada Abu Bakar dan Umar. Mereka tidak protes karena Rasulullah yang menyuruh Amr bin Ash untuk menjadi pemimpin perang.

Sampai akhirnya Amr bin Ash berfikir kenapa dijadikan pemimpin sementara anak buahnya ada Abu Bakar dan Umar. Berarti Rasulullah sangat sayang kepadanya.
Bagaimana akhlak Nabi senyum kepada Amr bin Ash dan tidak dendam kepadanya.

Amr bin Ash mengatakan dalam hadistnya,
"Sungguh dulu orang yang paling saya benci adalah Muhammad, kalau saya mampu berkesempatan bunuh Muhammad maka saya akan bunuh Muhammad, tapi Rasulullah dengan akhlaknya yg baik maka sekarang Muhammad menjadi orang yang paling saya cintai."
Tapi Amr bin Ash tidak mampu memandang wajah Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, saking cintanya kepada Nabi sahalallahu 'alaihi wasallam.

Dan Nabi mensikapi Amr bin Ash dengan sikap yang luar biasa sampai2 dia merasa dia orang yang paling dicintai oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.
Maka Amr bin Ash ingin tahu seberapa besar cinta Rasulullah kepada dirinya.

Amr bin Ash bertanya kepada Rasulullah,
" "Siapa yang paling kau cintai? Dia menjawab Aisyah". Lalu aku berkata, "Bagaimana dengan laki-laki? Dia menjawab, ayahnya (Abu Bakar)." Aku berkata lagi, "Siapa berikutnya ya Rasulullah? Dia menjawab Umar." Kemudian Rasulullah menghitung nama beberapa orang laki-laki dan aku menjadi diam. Aku takut Rasullah tidak memasukkan aku di urutan terakhir. 
[HR Bukhari]

Inilah akhlak Nabi shalallahu'alaihi wasallam yang memposisikan orang yang mulia pada posisinya sampai orang tersebut mengira bahwa dialah orang yang paling dicintai oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.


◆ Hadist dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhu.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

من جر ثوبه خيلاء ، لم ينظر الله إليه يوم القيامة . فقال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي ، إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لن تصنع ذلك خيلاء 

“Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’.
[HR. Bukhari 3665, Muslim 2085]

Tazkiah dari Nabi shalallahu'alaihi wasallam menunjukan bahwa Abu Bakar bukan orang yang sombong.
Yang jelas Sunnah Nabi adalah tidak Isbal.


◆ Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ « نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” 
[HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no.1027]

Al Imam Ibnu Hajar radhiallahu'anhu mengatakan,
"Adapun pintu yang ke lima adalah pintu Haji, pintu Surga yang keenam adalah pintu meredam amarah dan memaafkan orang lain, pintu surga yang ke tujuh adalah mereka yang masuk surga tanpa adzab tanpa hisab, pintu ke delapan adalah pintu dzikir bisa jadi pintu ilmu."

Inti dari hadist ini adalah,
Bagaimana Abu Bakar radhiallahu'anhu dipanggil dari seluruh delapan pintu surga.


◆ Ketika Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam wafat, Abu Bakar tegar menjelaskan kepada para sahabat bahwa Rasulullah sudah meninggal.

▪️Dari Aisyah radhiallahu'anha,
Ketika Rasulullah meninggal dunia, Abu Bakar sedang tidak berada di Madinah.
Abu Bakar terlambat datang, dan yang mendominasi situasi saat itu adalah Umar.

Ketika dikabarkan Rasulullah meninggal dunia, Umar berkata dihadapan para sahabat bahkan beliau bersumpah;
"Demi Allah, Rasulullah tidak meninggal, beliau hanyalah pingsan dan akan kembali siuman, dan akan memotong tangan dan kaki orang-orang yang mengira bahwa Rasulullah sudah wafat.” 
[HR. Bukhari, Ahmad, Nasai, Ibnu Sa’id dan Baihaqi]

Kemudian Abu Bakar datang.
Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu'anhu pun datang ke rumah putri Rasul, ia pun melihat kondisi Muhammad telah diselubungi kain. 
Abu Bakar menyingkap kain tersebut dan menciumi kening Nabi seraya berkata, 
“Alangkah indahnya di waktu engkau hidup, alangkah indahnya pula di waktu engkau mati. 
Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan Nya, maut yang sudah ditentukan Allah kepadamu sekarang sudah sampai kau rasakan. Sudah itu takkan ada lagi maut menimpamu.”

Setelah itu Abu Bakar keluar,
Setelah Abu Bakar melihat dengan kepalanya sendiri bahwa Rasulullah telah tiada, dia berkata kepada Umar, “Bersikaplah hati-hati wahai Umar."
Ketika Abu Bakar bicara Umar terdiam tidak berani bicara.

Kemudian Abu Bakar datang, Maka beliau mengucapkan hamdalah dan pujian bagi Allah Subahanhu wa Ta’ala , kemudian berseru:

 أَمَّا بَعْدُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَإِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ الهَْ فَإِنَّ الهَْ حَيٌّ لاَ يَمُوتُ قَالَ الهُ’ تَعَالَى وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ إِلَى الشَّاكِرِينَ 

“Amma ba’du. Barang siapa menyembah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , sungguh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal. Dan barang siapa yang menyembah Allah, sungguh Allah Maha hidup, dan tidak akan pernah mati,”

Abu Bakar kemudian membaca firman Allah,
★ QS. Az-Zumar : 30

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)"

★ QS. Ali-Imran ayat 144:

 وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ

“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.”
(QS. Ali Imron : 144)

Ketika para sahabat mendengar ayat-ayat tersebut maka mereka sadar bahwa Rasulullah benar-benar meninggal dunia. Dan para sahabat menangis dan tersadar, seolah2 mereka baru mendengar ayat ini.
Mendengar hal tersebut, Umar berkata, 
“Demi Allah, seakan baru kali ini aku mendengarnya (ayat Al-Quran yang dibacakan oleh Abu Bakar).”


◆ Dari Muhammad Ibnu Hanafiyyah.
Beliau adalah putranya Ali bin Abi Thalib dari istri yang lain setelah Fatimah meninggal dunia.
Ibunya dari Bani Hanifah sehingga dia dinisbahkan kepada ibunya sebagai pembeda.

Berkata Muhammad ibnu Hanafiyyah anaknya Ali bin Abi Thalib, aku berkata kepada ayahku,

قُلْتُ لِأَبِي أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : أَبُو بَكْرٍ،قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ عُمَرُ،وَخَشِيتُ أَنْ يَقُولَ عُثْمَانُ، قُلْتُ: ثُمَّ أَنْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلَّا رَجُلٌ مِنَ المُسْلِمِينَ. 

“Aku bertanya kepada ayahku, siapa orang terbaik setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia menjawab: Abu Bakar, aku pun bertanya lagi: Kemudian siapa setelah itu? Ia menjawab: Kemudian Umar, maka aku khawatir ia akan menjawab Utsman setelah itu, aku pun segera memotongnya: kemudian engkau? Ia menjawab: Aku hanyalah seseorang dari kaum muslimin“. 
[HR. al-Bukhâri, no.3671]

Inti dari hadist ini adalah,
- Ali bin Abi Thalib mengakui bahwasanya orang terbaik setelah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam adalah Abu Bakar ash Siddik radhiallahu'anhu.
- Dan hadist ini juga sebagai bantahan kepada orang2 Syi'ah yang mengatakan Abu Bakar dan Umar kafir dan bahwasanya Ali marah kepada mereka.


◆ Terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dengan Abdurahman bin Auf.
Sampai Khalid bin Walid mencela Abdurahman bin Auf.
Dan hal ini sampai kepada Nabi, kemudian Nabi marah dan berkata,

« لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِى فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ »

Wahai Khalid..,
 “Janganlah kalian mencaci salah seorang dari sahabatku karena seandainya seseorang dari kalian berinfaq dengan emas seukuran Gunung Uhud maka (pahalanya) tidak dapat menyamai infaq para sahabatku dengan ukuran 1 mud (takaran untuk dua gengaman tangan normal) ataupun setengahnya”
[ HR. Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2541]

Inti dari hadist ini adalah,
- Seandainya Khalid bin Walid punya emas sebesar gunung Uhud dan diinfaqkan ikjlas karena Allah, tidak sama dengan infaqnya Abdurahman bin Auf (Sahabat yang awal2 masuk Islam).
- Kalau infaqnya Abdurahman bin Auf saja yg hanya satu genggam gandum tidak bisa di samakan dengan infaqnya Khalid bin Walid emas sebesar Gunung Uhud apalagi Infaqnya Abu Bakar.
- Abu Bakar menolong Nabi dengan harta dan jiwanya tatkala para sahabat tidaknada yang menolong Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.
- Infaqnya Abu Bakar luar biasa di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena mereka adalah pionir dan perintis yang infaq mereka diawal2 dakwah menentukan tentang berlanjutnya Islam atau tidak.


◆ Hadist yang menjelaskan bahwa Abu Bakar di Surga.

▪️ Dari Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu,
"Abu Musa Al Asy'ari menjaga pintu kebun yanga Nabi shalallahu 'alaihi wasallam saat itu berada dalam kebun, dan Abu Musa berkata,
"sungguh hari ini aku akan menjadi penjaga pintu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam."

Lalu datanglah Abu Bakar mendorong pintu itu.
Aku bertanya, ‘Siapa ini?’ 
Ia menjawab, ‘Abu Bakar.’
Aku mengatakan kepada beliau, 
‘Tunggu sebentar!’
Kemudian aku mendatangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil memberitahu, 
‘Wahai Rasûlullâh, Abu Bakar datang meminta izin (untuk masuk).’ 
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

 ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ 

"Biarkan dia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya bahwa dia akan masuk surga."

▪️ Hadist dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu,
Ketika Nabi naik diatas Gunung Uhud, bersama Abu Bakar dan Umar dan Utsman.
Maka Gunung Uhud bergetar dan Nabi berkata,
"Tenang engkau wahai Gunung Uhud, sesungguhnya yang ada di atas engkau adalah seorang Nabi, seorang Shiddikun dan dua orang mati syahid."
Bahwasanya mereka semua akan masuk Surga.


◆ Hadist dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhu (ahlul bait).
Ketika Umar bin Khattab dalam kondisi akan meninggal dunia setelah ditikam oleh Abu Lu'lu'ah Al Majusi dengan tikaman yang kalau dia minum susu maka keluar dari bekas tikaman tersebut, dan dia berbaring dari tempat tidurnya.

Ibnu Abbas berkata,
Aku sedang berdiri disitu bersama sekelompok orang dan mereka mendoakan Umar bin Khattab yang sudah meninggal diatas tempat tidurnya. 
Tiba2 ada orang dibelakangku dan meletakkan sikunya di atas punggungku, kemudian berkata,
"Rahimakallah" (semoga Allah merahmati engkau wahai Umar), dia mengucapkan kepada Umar.

Kemudian orang tersebut berkata,

 إِنْ كُنْتُ لَأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ، لِأَنِّي كَثِيرًا مَاكُنْتُ أَسْمَعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : كُنْتُ وَأَبُوبَكْرٍ وَعُمَرُ، وَفَعَلْتُ وَأَبُوبَكْرٍ وَعُمَرُ، وَانْطَلَقْتُ وَأَبُوبَكْرٍ وَعُمَرُ 

"Aku sangat berharap Allâh akan mengumpulkanmu bersama dua sahabatmu (Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar), sungguh sangat sering aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, ‘Aku pernah bersama Abu Bakar dan Umar, Aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar, Aku telah pergi bersama Abu Bakar dan Umar.” 
[HR. al-Bukhâri, no. 3677]

Lalu aku melihat siapa orang tersebut, ternyata Ali bin Abi Thalib, yang sedang memuji Umar yang dalam pujian tersebut dia juga memuji Abu Bakar.


◆ Hadist dari Urwah bin Zubair, dia berkata,
"Aku bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Ash tentang perkara yang paling parah yang pernah dilakukan oleh kaum musyrikin kepada Nabi shalallahu'alaihi wasallam."

Abdullah bin Amr bin Ash berkata,
Aku melihat Uqbah bin Abi Muith, dia datang kepada Nabi dan Nabi sedang sholat. Kemudian dia mengambil selendangnya dan diletakkan dileher Nabi, dan mencekik Nabi dengan cekikan yang kuat.
Abu Bakar yang melihat kejadian tersebut segera mendekati Uqbah lalu mendorong Uqbah dengan bahunya. 
Abu Bakar kemudian berkata, 
“Apakah engkau hendak menyakiti orang hanya karena ia mengatakan, ‘Tuhanku adalah Allah?’”
Padahal dia telah mendatangkan penjelasan2 dari Rabb kalian."
Yang membela Nabi saat itu adalah Abu Bakar ash Shiddik radhiallahu'anhu.

Wallahu'alam Bishowab.
Demikianlah yang bisa disampaikan tentang Keistimewaan2 Abu Bakar ash Shiddik dalam sebagian dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Semoga makin menambah kecintaan kita kepada Abu Bakar radhiallahu'anhu.


📔  SOAL - JAWAB

1️⃣ Ada beberapa Hadist yang melarang menjadikan rumah seperti kuburan atau menjadikannya sebagai kuburan, seperti:
- Dari ibnu Umar radhiallahu'anhu,
"Jadikanlah rumah kalian sebagai tempat sholat kalian, jangan jadikan sebagai kuburan." 
[HR. Bukhari Muslim]
- Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu,
"Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan dan jangan jadikan kuburanku sebagai masjid, bersalawatlah kepadaku karena shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kamu berada."
[Hadist riwayat Abu Dawud, Imam Ahmad dan Tabrani].
Pertanyaannya, jika ada karangan tersebut apa ada dasar dalil pengecualian bahwa Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab boleh dimakamkan dirumah Aisyah.?
↪️  Jawab :
Dalam Hadist Rasulullah mengatakan,
"Para Nabi dikuburkan dimana mereka wafat."
Karena ada hadist pengkhususan bahwa Rasulullah sahalallahu'alaihi wasallam meninggal dirumah Aisyah, maka Rasulullah dikuburkan disitu.
Adapun Abu Bakar dan Umar kemudian mengikuti hukum disitu karena ini sudah dikecualikan bagi Nabi sehingga hukum tersebut terangkat, tidak berlaku bagi Nabi, sehingga rumah Aisyah dijadikan kuburan berdasarkan kekhususan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam karena Nabi meninggal disitu, sebagaimana Nabi menjelaskan:
"Para Nabi dikuburkan dimana mereka wafat."
Adapun di rumah2 yang lain maka tidak boleh dijadikan kuburan.
Wallahu'alam bishowab.

2️⃣ Dalam riwayat ada kisah yang shahih yang mengatakan bahwa, 
"Abu Bakar dan Umar pernah bertengkar,"
Apakah ini menunjukan bahwa para sahabat juga pernah berbuat kesalahan.?
↪️  Jawab :
Tidak ada yang mengatakan sahabat maksum, yang maksum hanya Nabi shalallahu'alaihi wasallam.
Itu keyakinan kita ahlul sunna, justru keyakinan Syiah yang aneh yang mengatakan ke 12 imam mereka maksum.
Imam Malik berkata,
"Setiap orang boleh diambil perkataannya dan boleh ditolak kecuali perkataan Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam."
Umarpun sudah menjadi Khalifah jika ada masalah dia bertanya kepada yang lain, artinya dia memandang pendapat orang lain tidak ada masalah, karena mereka bukan Nabi dan mereka tidak diberi wahyu. Mereka menghargai pendapat sahabat yang lain.
Abu Bakarpun ketika ingin mengangkat Umar menjadi khalifah dia bertanya kepada beberapa sahabat.
Adapun yang mengatakan bahwasanya Abu Bakar dan Umar pernah bertengkar itu benar, dan ini salah satunya.
Yang kedua diantara sebab turunnya firman Allah,
★ QS. Al-Hujurat ayat 2:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari“. 
[QS. Al-Hujurat : 02]
Pertengkaran para sahabat adalah hal biasa dibandingkan dengan persahabatan mereka yang puluhan tahun. 
Wallahu'alam bishowab.

3️⃣ Apa yang kita lakukan sebagai seorang anak terhadap ayahnya tentang isbal.?
↪️  Jawab :
Yang penting sudah dinasehati, mungkin ayahnya berpendapat dengan pendapat jumhur ulama yang mengatakan isbal kalau tidak sombong tidak mengapa.
Ini hanya masalah khilat, tugas kita hanya menyampaikan dan kita doakan.
Wallahu'alam bishowab.

4️⃣ Bapak kami beli tanah yang pembayarannya gabungan dengan istri yang keduanya, apakah itu termasuk hak waris atau termasuk hibah untuk istrinya.?
↪️  Jawab :
Bagaimana si ayah statusnya, bila si ayah menghibahkan kpd istrinya maka jadi hibah, kalau si ayah tidak menghibahkan dan kalau pembayaran bareng2, maka harus di bagi, ibu berapa persen danbayah berapa persen (yang utk jd warisannya), karena itu milik bersama.
Kecuali sdh dihibahkan kepada istrinya maka itu milik istri dan bukan lagi menjadi harta warisan si ayah.
Wallahu'alam bishowab.

5️⃣ Bagaimana hukum jika ada yang mengagumi kita tetapi tiba2 timbul rasa ujub dan riya dihati kita, apakah kita berdosa disaat itu dan apakah yang mengagumi kita itu juga berdosa.
↪️  Jawab :
Orang mengagumi tidak berdosa yang penting tidak melampaui batas.
Kalau ada yang mengagumi kita maka kita mengatakan, 

اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ

“Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan, ampunilah aku, atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik dari pada penilaian yang mereka berikan untukku.”
Kita dikagumi seseorang karena tersebut tidak tahu aib2 kita.
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah ketika ia berkata,

لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ

“Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku.” 
[Muhasabah An-Nafs, hlm. 37. Lihat A’mal Al-Qulub,hlm. 373].
Tapi Allah menutup aib2 kita dan itu anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga kita masih dihormati dan dikagumi orang.
ketika kita dipuji orang dan timbul ujub maka kita lawan.
agar kita terbebas dari penyakit ujub.
Wallahu'alam bishowab.


📔  PENCATAT :
~ Tim Kajian Online Masjid Astra ~