💫💦  NGAJI DARI RUMAH - MASJID ASTRA  💦💫


🕌 Kajian Online Interaktif Untuk Ikhwan & Akhwat
🗓️ SENIN, 7 Juni 2021 / 26 Syawal 1442
🕣 19.30 WIB - Selesai

👤 Pemateri :
Ustadz Ahmad Zainudin Al Banjary حفظه لله تعالى
📖 "Bedah Kitab Kaifa Amalahum"
(Seni Interaksi Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam)
"Karya Syekh Shalih Al-Munajjid."


💫  MENJADIKAN NABI SEBAGAI SURI TAULADAN  - Chapter 2  💫


Dengan nama-nama Allah yang Husna, kita berdoa;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

(Allahumma inni/a as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa)

“Ya Allah, aku/kami memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib/baik dan amalan yang diterima.”
[HR. Ibnu Majah no. 925, shahih]


▶️  PASAL 2
"Kewajiban Menjadikan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam sebagai Suri Tauladan"


🔹 Kenapa kita wajib menjadikan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sebagai suri Tauladan.

1️⃣  Karena kehidupan Rasulallah shalallahu 'alaihi wasallam adalah kehidupan yang paling sempurna dari seluruh kehidupan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memilih Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam untuk dijadikan sebagai suri taulada seluruh manusia, semenjak beliau menjadi Nabi dan Rasul. Hal ini berdasarkan hikmah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sehingga manusia-manusia yang lain sanggup untuk mencontoh Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam.
Kalau seandainya Rasul itu dari para Malaikat maka niscaya sulit bagi manusia untuk mencontoh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

📖 Allah Ta'ala berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 128;

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
{QS. At-Taubah/9 : 128}


2️⃣  Mencontoh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berarti menta'ati perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

📖 Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 21;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
{QS. Al-Ahzab/33 : 21}

📔 Kata Imam Ibnu Katsir rahimahullah;
"Seakan-akan Allah menginginkan kepada umat manusia untuk menjadikan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sebagai suri tauladan, jika memang ingin berharap Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hari akhir (masuk kedalam surga dan bertemu dengan Allah), dan juga mendapatkan pahala yang besar di akhirat kelak."

Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa kebenaran tidak bisa dikaitkan dengan seseorang kecuali Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Oleh sebab itu tidak pantas bagi kita untuk menjadikan seseorang sebagai sumber perkelahian kita, menjadikan perkataan seseorang sebagai sumber kebenaran, kecuali Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Dengan begitu kita akan terlepas dari sifat fanatik dan hanya fanatik kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.


3️⃣  Karena didalam kehidupan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam penuh dengan pelajaran.

Baik itu dalam perkara Aqidah, ibadah, adab dan akhlaq serta muamalah. Seluruh kehidupan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam penuh dengan pelajaran.


4️⃣  Karena orang yang ingin bahagia dan mendapatkan keberuntungan tidak akan bisa dia dapat kecuali dengan mencontoh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

📖 Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-An'am Ayat 90;

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ 

"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka."
{QS. Al-An'am/6 : 90}

Disini menunjukkan bahwa petunjuk, keberuntungan, keselamatan, kebahagiaan, tergantung sebesar apa kita menjadikan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sebagai suri tauladan.
- Syarat keberuntungan adalah mencontoh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
- Keberuntungan didapat, saat mencontoh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
- Sebesar dia mencontoh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, sebesar itu keberuntungan yang dia dapat.
- Seteliti itu dia mencontoh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, sebesar itu pula kebahagiaan yang dia dapat.


🔹 Sisi-sisi apa saja yang bisa menjadikan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sebagai suri tauladan.

1️⃣  AKHLAQ YANG MULIA

📖 Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Qalam Ayat 4;

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung."
{QS. Al-Qalam/68 : 4}

Laa'ala ( لَعَلَى ) ini menunjukkan kepada Tauhid yaitu;
1.  Penekanan bahwa Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam selalu diatas akhlaq yang mulia.
2.  Menunjukkan kepada kita bahwa Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam selalu diatas akhlaq yang mulia. Baik dalam hubungan beliau dengan manusia, dengan hewan ataupun dengan alam semesta.

Dan akhlaq Rasul yang mulia ini dirasakan oleh para sahabat radhiallahu 'anhum, diantaranya;

📚 Dalam hadits, Shafiyah binti Huyay bercerita,
"Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih baik akhlaqnya dibandingkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam."
[HR. Ath-Thabrani dengan sanadnya yang hasan]

📚 Hadist Anas bin Malik radhiallahu 'anhu.
Anas bin Malik ini umur 10 tahun dibawa oleh ibunya Ummu Sulaim radhiallahu 'anha berkata kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam,
"Wahai Rasulullah ini Anas anakku akan menjadi pembantumu."

Kemudian Anas bercerita bagaimana dia menjadi pembantu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam selama 9 tahun.
“Demi Allah, saya telah menjadi pembantu Beliau selama sembilan tahun. Saya tidak mendapatkan Beliau mengomentari apa yang aku kerjakan, seperti ‘Mengapa kamu berbuat seperti ini dan begini?’ Atau sesuatu yang aku tinggalkan, “Mengapa kamu tidak berbuat seperti ini?’.”
[HR. Muslim]

@ Dua hal pelajaran yang disampaikan dan ini juga pelajaran kepada orang tua terhadap anaknya;
1. Untuk sesuatu yang sudah terjadi, Rasulullah tidak pernah mengatakan kenapa engkau lakukan itu.!
2. Untuk sesuatu yang belum dikerjakan, Rasulullah tidak pernah mengatakan kenapa belum dilakukan.!

📚 Dalam riwayat lain.
Anas bin Malik berkata :
“Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaq nya, yang paling lapang dadanya, dan yang paling dermawan. Maka suatu hari Beliau mengutus ku untuk suatu keperluan, kemudian aku keluar dan aku menuju anak-anak kecil yang sedang main di pasar untuk bermain bersama mereka dan aku pun keluar tidak untuk menunaikan hajatnya Rasulullah, maka ketika aku sedang bermain bersama mereka tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di belakangku dan memegang bajuku, kemudian aku memalingkan wajahku untuk melihatnya. Seketika aku dapati Rasulullah tersenyum manis kepadaku dan berkata: 
“Wahai Unais (panggilan kesayangan) apakah engkau sudah mengerjakan suatu keperluan yang telah aku perintahkan kepadamu?” 
Maka aku pun berlari dan berkata : 
“Ya, aku akan kerjakan sekarang wahai Rasulullah.”
[HR. Muslim]

@ Pelajaran yang bisa diambil.
"Sudahkah engkau pergi sesuai dengan apa yang aku perintahkan.?"
Kalimat inilah yang boleh disampaikan, bukan berkata,
"Kenapa belum pergi.?"
Kalau begini anak akan mencari alasan bagaimana bisa selamat dari kejaran orang tuanya, dan dia akan mencari alibi-alibi agar tidak disalahkan.


2️⃣  SIFAT PEMAAF

Sifat pemaaf dan sangat tidak cepat membalas dendam. Dan ini sangat susah karena beliau adalah pilihan.

📔 Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafidzahullah.
Mengapa sabar itu sulit.?
Beliau menjawab,
"Karena sabar itu adalah kedudukan yang paling tinggi, tidak akan ada yang sampai kepada kedudukan tersebut kecuali Ulul Azmi dari para Rasul."

@ Contoh dari sejarah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.
Saat itu Rasulullah pergi ke Thaif, kemudian beliau pergi mendakwahi 3 orang bersaudara pemuka Thaif secara rahasia agar tidak gaduh.
Kemudian Rasulullah berpesan,
"Kalau seandainya kalian tidak menerima dakwahku tidak mengapa, aku akan kembali ke Mekah dan tidak perlu kalian memberitahukan kepada orang Thaif agar tidak gaduh."

Ternyata mereka bertiga berkhianat dan diberitahukan kepada orang-orang, ketika Rasulullah ingin keluar dari Thaif, para budak dan anak-anak kecil sudah menunggu beliau dan melempari beliau dengan batu-batu sampai terluka.
Sedih hati dan sakit badan.

Maka ketika Rasulullah ditanya oleh Aisyah radhiallahu 'anha,
"Apa hari yang paling berat engkau lalui..?"
Rasulullah menjawab,
"Ketika berdakwah ke Thaif."

Setelah itu malaikat gunung datang kepada Rasulullah menawarkan agar gunung tersebut ditimpakan kepada Rasuulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Berkaata Rasulullah,
"Jangan, akan tetapi aku berharap kepada Allah agar keluar dari keturunan mereka orang-orang yang mengikhlaskan ibadah dan tidak mensyirikan Allah dengan sesuatu apapun."

Begitulah beliau Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, bagaimana pemaafnya beliau, tidak cepat membalas dendam (Al Halim).

Terkadang sikap kita menanggapi sesuatu terlalu berlebihan, padahal dianggap santai juga pasti selesai.

📚 Hadits dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu,
Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam saat itu Rasulullah memakai sebuah surban dari daerah Najran, dan surbannya tebal. 
Lalu datanglah seorang yang dari pedesaan, kemudian menarik surbannya dengan kencang.
Sampai aku lihat bekas tarikan surban tersebut si leher Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, setelah itu orang tersebut malah meminta-minta.

Orang tersebut berkata,
"Perintahkan agar aku mendapat harta yang Allah berikan kepada engkau, mana hartanya.?"

Kemudian Rasulullah hanya menoleh dan tersenyum dan berkata,
"Tolong kasih apa yang dia mau."
[HR. Bukhari dan Muslim]


3️⃣  SIFAT PEMALU

📚 Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu 'anhu bercerita,
"Adalah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam beliau sangat pemalu dari perawan didalam pingitan. Maka jika kami melihat sesuatu yang beliau benci kami tahu wajah beliau."
[HR. Bukhari dan Muslim]


4️⃣  SEMANGAT KASIH SAYANG

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sangat pengasih terutama terhadap umat beliau, dan bukan hanya kepada umatnya akan tetapi juga untuk alam semesta.

📖 Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Anbiya Ayat 107;

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
{QS. Al-Anbiya/21 : 107}

Rasulullah pernah menangis semalaman suntuk dengan membaca satu ayat, karena mempunyai sifat kasih sayang. Beliau membaca surat Al-Maidah ayat 118.

📖 Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Ma'idah Ayat 118;

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
[QS. Al-Maidah/5 : 118]

Ayat ini sangat menyentuh hati Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam karena beliau sangat sayang kepada umatnya, beliau tidak ingin umatnya di siksa oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Penyayang bukan berarti membiarkan seseorang dalam penyimpangan, bukan berarti membiarkan anak dengan hal-hal yang diharamkan dalam agama dengan dalil kasih sayang.
Kalau benar-benar kasih sayang maka akan meletakkan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar untuk orang-orang terdekat.

Penyayang juga terkenal dengan berkorban untuk orang yang dicintai.

📚 Dalam hadits Rasulullah berkata,
"Aku memohon kepada Allah syafa'at untuk umatku, dan Allah memberikannya untukku. Maka ia akan didapat dengan kehendak Allah bagi siapa yang tidak mensyirikan Allah dengan sesuatu apapun."
[HR. Imam Ahmad]

Lihatlah bagaimana sangat penyayangnya Rasulullah kepada umatnya, dan syarat agar seseorang dapat syafaat yang syafaat itu tumbuh karena kasih sayang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, syarat utamanya adalah tidak mensyirikan Allah dan tidak berkenalan dengan dosa syirik.

📚 Pernah suatu ketika ada pemuda dari kaum Malik ibnu al Khuwailid belajar kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Setelah hampir sebulan tepatnya dua puluh hari maka dia berkata,
"Adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sangat penyayang dan sangat lembut."


5️⃣  SANGAT INGAT KEBAIKAN ORANG LAIN

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sangat ingat kebaikan orang lain agar bisa membalasnya, meskipun sudah lama.
Diantaranya kebaikan istri beliau Khadijah radhiallahu 'anha.

📚 Aisyah radhiallahu 'anha bercerita;

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلَّا خَدِيجَةُ فَيَقُولُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ

"Dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata;
"Tidaklah aku cemburu kepada salah seorang istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya.
Akan tetapi ini karena beliau sering sekali menyebut-nyebutnya (memuji dan menyanjungnya) dan acapkali beliau menyembelih kambing, memotong-motong bagian-bagian daging kambing tersebut, lantas beliau kirimkan daging kambing itu kepada teman-teman Khadijah.
Suatu kali aku pernah berkata kepada beliau yang intinya seolah tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah.
Maka spontan beliau menjawab:
"Khadijah itu begini dan begini dan dari dialah aku mempunyai anak."
[HR. Bukhari no.3534]

Lihatlah bagaimana Rasulullah sangat ingat akan kebaikan Khadijah dan Khadijah adalah salah satu pejuang diawal-awal diutusnya Nabi menjadi Rasul.


6️⃣  TAWADHU (RENDAH HATI)

Beberapa kejadian bagaimana beliau sangat rendah hati, diantaranya;

📚 Hadits riwayat Bukhari;
"Beliau melewati anak kecil kemudian menyalaminya satu-satu."
Itu bukan hanya sekedar lewat begitu saja, tapi timbul karena sifatnya yang mulia yaitu tawadhu.

📚 Hadits riwayat Imam Ahmad dan Al Bukhari dalam kitab Al Adabul Mufrad;
"Anak kecil kadang narik beliau kemudian dibawa kemana, tapi beliau mengikuti saja."

📚 Hadits riwayat Imam Ahmad dari Aisyah radhiallahu 'anha;
"Beliau senantiasa membetulkan sendalnya, kemudian menjahit kembali bajunya, memerah sendiri susu dari kambingnya."

Itulah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, manusia paling utama dari anak keturunan Adam.

📚 Dalam hadits riwayat Imam Muslim;
"Beliau sering duduk bersama orang-orang miskin, dan beliau sering berjalan untuk keperluan anak yatim dan juga para janda."

📚 Beliau Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga memenuhi panggilan atau undangan seorang meskipun itu seorang budak.


7️⃣  SIKAP DERMAWAN DAN PEMURAH

Hal ini bisa dicontoh dengan mudah oleh sebagian orang yang benar-benar ingin mencontoh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yaitu sikap dermawan dan pemurah.

📚 Hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu;
"Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu, beliau tidak pernah mengatakan tidak, beliau tidak pernah minta tentang sesuatu, kalau beliau sanggup memberi beliau tidak pernah mengatakan tidak."
[HR. Bukhari dan Muslim]

📚 Suatu ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam diberi surban yang ditenun khusus oleh seorang perempuan untuk beliau, agar bisa dipakai karena Rasulullah tidak memiliki surban yang bagus.
Saat pertama kali dipakai oleh Rasulullah, ada sahabat yang mengatakan,
"Wahai Rasulullah, surbanmu bagus."

Rasulullah terkenal tidak pernah menolak orang yang minta-minta, maka beliau langsung kasih itu surban kepada sabahat yang berkata tersebut.

Sampai para sahabat yang lain marah kepada sahabat tersebut,
"Kenapa engkau ucapkan itu, bukankah engkau tahu sifat Rasulullah tidak pernah menolah orang yang minta."


8️⃣  RASA TAKUT KEPADA ALLAH


9️⃣  ZUHUD DALAM PERKARA DUNIA

📚 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

, مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا 

"Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya."
[Hasan shahih: HR. Ahmad, I/391, 441 dan at-Tirmidzi, no. 2377; Ibnu Mâjah, no. 4109 dan al-Hâkim, IV/310 dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu . Imam at-Tidmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, no. 438]

📚 Disebutkan dalam Hadist riwayat Bukhari dan Muslim.
Pernah suatu ketika Umar bin Khattab memasuki rumah rasulullah shallahu 'alaihi wasallam, dan Rasulullah sedang tidar diatas tikar, tidak ada alas antara kulit beliau dengan tikar tersebut. Dan dibawah kepala beliau ada bantal yang terbuat dari kulit-kulit yang dibungkus, dan diatas kepala beliau ada tempat minum yang terbuat dari kulit yang tergantung. 
Melihat keadaan seperti itu Umar bin Khattab mengatakan,
"Aku melihat bekas tikar membekas pada sisi Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam yang mulia."

Inilah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, manusia anak keturunan Adam yang paling mulia, beliau Ulu Azmi bahkan pemimpinnya Ulul Azmi dari para Rasul.

Kemudian Umar menangis melihat hal demikian, lalu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada Umar.
"Wahai Umar apa yang membuat engkau menangis."
Umar mengatakan,
"Wahai Rasulullah, itu raja kaisar mereka dengan segala macam kemewahannya, padahal mereka kafir. Sedangkan engkau Rasulullah kenapa demikian.?"

Sungguh manusia termulia pernah tidur diatas tikar yang membekas ditubuhnya.

Lihatlah bagaimana beliau zuhud kepada dunia. Apa jawab Rasulullah,
"Tidakkah engkau rela wahai Umar, biarkan mereka punya dunia, kita punya akhirat."


🔟  SANGAT YAKIN DENGAN JANJI ALLAH.

Inilah salah satu yang memotivasi kita untuk tetap teguh dalam keimanan dan ketaatan meskipun dalam kondisi sulit.

Beliau sangat yakin dengan janji Allah sehingga beliau tetap dalam iman, dalam taat, dalam kesholehan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Meskipun kalau dilihat dengan kasat mata, dilihat dengan ilmu pengetahuan manusia yang sangat terbatas, tidak mendatangkan keuntungan.

@ Contoh :
Seorang pedagang yang mengayuh sepedanya berdagang barang-barang kelontongan.
Dia yakin dengan janji Allah, maka setiap kali dia mau keluar rumah untuk berdagang, yang ada dibenaknya,
"Kalau saya pergi kekanan saya akan dapati masjid ini untuk sholat dzuhur berjamaah disana, kalau saya pergi kekiri saya akan mendapati masjid ini untuk sholat dzuhur berjamaah disana."
Yang ada dalam benaknya seperti itu, karena dia yakin dengan janji Allah.

📚 Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda;

« إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ »

 "Sesungguhnya Allah Ta'la berfirman: "Wahai manusia, Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan (rasa cukup dan puas, pent) dan Aku akan menutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan yang demikian itu, niscaya Aku akan penuhi kedua tanganmu (hari-harimu) dengan kesibukan (pekerjaan-pekerjaan) dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu."
[Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV/642 no.2466, Ibnu Majah II/1376, Ahmad II/358 no.8681, dan Ibnu Hibban II/119 no.393.]

Begitu juga Nabi Musa 'alaihisallam.
Ketika Nabi Musa dengan pengikutnya didepannya ada lautan, dan dibelakang ada Fir'aun dengan bala tentaranya. 

📖 Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara Ayat 60-62;

فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ

60. Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ

61. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul."

 قَالَ كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ 

62. Musa menjawab:
"Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".
{QS. Asy-Syu’ara/26 : 60-62}

Begitulah kita dalam kehidupan kita, harus yakin dengan janji Allah. Yang namanya proses keberkahan akan sulit dihitung dengan hitungan manusia.


🔹 Nasihat Ustadz untuk ikhwah-ikhwah yang sudah mengaji.

Semestinya harus lebih banyak beribadahnya, dzikir setelah sholatnya, jangan setelah salam lalu istighfar tiga kali lalu langsung ngobrol atau buka HP. 
Lebih banyak baca Qurannya, lebih banyak tahajudnya karena itu adalah kebiasaan orang-orang sholeh, harus lebih banyak ibadahnya.
Seorang penuntut ilmu tidak hanya kuat manhajnya tetap juga kuat ibadahnya.

📚 Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda;

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ

"Hendaklah kalian mengerjakan sholat malam karena itu merupakan kebiasaan orang saleh sebelum kalian, mendekatkan diri pada Allah, mencegah diri dari perbuatan dosa, menghapus keburukan dan mencegah penyakit dari badan."
[HR. Ahmad, Tirmidzi dan Hakim]

📚 Dalam kitab shahih, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.”
[HR. Muslim no. 7304]

Untuk sudah mengaji harus lebih semangat untuk beribadah, setelah ibadah yang wajib kerjakan ibadah-ibadah sunnah.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


💫  SOAL - JAWAB  💫


➡️  PERTANYAAN :
Pernah si fulan mempraktekkan cara Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam memperlakukan istrinya, tapi setelah dipraktekkan istrinya jadi ngelunjak, apa yang harus dilakukan Ustadz.?

➡️  JAWAB :
Yang dilakukan oleh si fulan apa dulu sampai si istri ngelunjak.
Salah satu contohnya adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sangat santun kepada istrinya, suka membantu pekerjaan-pekerjaan istrinya.

Kemudian kalau istrinya si fulan ini malah ngelunjak, malah menyuruh-nyuruh suami.
Maka jawabannya tetaplah santun kepada istrinya, tetaplah baik kepada istrinya.
Karena manusia itu tergadailan dengan kebaikan seseorang, dia akan sangat respek saat ada orang yang berbuat baik kepadanya. 
Bagaimanapun ketika seorang suami tetap berbuat baik kepada istrinya maka sang istri lambat laun akan menghormati suaminya.

Saya nasehatkan kepada para suami agar suami mempunyai panggilan yang romantis dan sayang kepada istrinya, sebagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mempunyai panggilan yang baik, sayang dan manja kepada istrinya.
Contahnya Rasulullah memanggil Aisyah dengan panggilan A'ish, Humairah.

Tetaplah berbuat baik kepada istri dan tunjukkan bahwa itulah akhlaqnya sudah sejak dahulu, sudah belajar dan ingin mempraktekkan.
Ketika suami berbuat baik kepada istrinya, maka jangan pernah berfikir bahwasanya dia merendahkan diri dihadapan istri, tetapi pada saat-saat tertentu dia tetap menjadi kepala keluarga.
Bukan berarti lembek didalam pendidikan pengajaran ditengah keluarganya. Tetapi berakhlaq yang baik tetap akan menjadikan sang suami bernilai dihadapan istrinya.

Ada pepatah mengatakan;
"Segala sesuatu akan rendah nilainya jika banyak, kecuali satu yaitu akhlaq yang mulia."

Maka jangan takut wahai para suami dengan sikap ngelunjaknya sang istri.
Wallahu'alam bishowab.


➡️  PERTANYAAN :
Tadi Ustadz menyebutkan jika kita tidak mendiamkan seseorang dalam penyimpangan, maksud penyimpangan disini yaitu yang berhubungan dengan syariat. Apakah sebuah kekeliruan apabila kita mengingatkan penyimpangan dalam hal mubah misalnya didunia kerja, yang berpengaruh terhadap lingkungan kerja. Mohon nasehatnya Ustadz.!

➡️  JAWAB :
Apabila seseorang mempunyai bawahan, kemudian bahawannya ini mengerjakan sesuatu yang keliru.
Berdasarkan penjelasan tadi, seperti cerita Anas bin Malik, tidak boleh kita mengatakan,
"Mengapa engkau mengerjakan ini, mengapa engkau melakukan kesalahan ini."

Maka tetap sama juga, baik dalam perkara ibadah syariat Islam ataupun perkara-perkara duniawi (mubah).
Seoranh atasan mengatakan kepada bawahannya, apabila bawahannya melakukan sebuah kesalahan yang patut dilakukan oleh atasannya adalah, memperbaiki kesalahan tersebut, bukan mencari mengapa kamu melakukan kesalahan ini.

Tetapi katakan kepada bawahannya, 
"Bahwa pekerjaaan kamu ini salah, yang benar itu begini."
Itu yang lebih tepat.

Jadi dia bisa dipakai, baik dalam perkara duniawi ataupun perkara akhirat.
@Contohnya:
Saya ingin mengingatkan bawahan saya bahwa dia mengerjakan pekerjaan yang salah. 
Baiknya Katakanlah,
"Ini adalah kesalahan dan yang benar adalah ini, kedepannya jangan sampai diulang."
Bukan dengan mengatakan,
"Mengapa kamu melakukan kesalahan ini."
Wallahu'alam bishowab.


➡️  PERTANYAAN :
Bagaimana Interaksi Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dengan mertuanya.?

➡️  JAWAB :
Jawabannya Insyaa Allah pekan depan akan kita bahas bagaimana sikap Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam kepada para kerabatnya, diantaranya kepada mertua. 
Dan mertua Rasulullah diantaranya adalah Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin Khattab, dan mereka adalah orang-orang yang sangat Rasulullah muliakan, hormati. 
Tetapi perlu diingat berbuat baik kepada mertua tidak bisa disamakan dengan bakti seorang anak kepada orang tua kandung.
Menantu Rasulullah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan.

Kita sebagai seorang muslim diwajibkan menghormati mertua dari beberapa sisi;
1. Mereka lebih tua umurnya dibandingkan menantunya, kalau memang lebih tua.
2. Mereka muslim
3. Kita sudah mempunyai hubungan dengan anak perempuannya yang menjadi istrinya

Maka pada saat itu kita berbuat baik kepada mertua kita disebabkan sebab-sebab tadi. 
Tetapi tidak ada kewajiban seperti kewijaban seperti kita berbakti kepada kedua orang tua kita.
Wallahu'alam bishowab.


✍️ TIM KAJIAN ONLINE MASJID ASTRA