💫💦  NGAJI DARI RUMAH - MASJID ASTRA  💦💫


🕌 Kajian Online Interaktif Untuk Ikhwan & Akhwat
🗓️ SELASA, 08 Juni 2021 / 27 Syawal 1442
🕣 19.30 WIB - Selesai

👤 Pemateri :
Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc., M.A. حفظه لله تعالى


💫  KEMULIAAN SAHABAT SAAD BIN ABI WAQQASH RADHIALLAHU'ANHU  💫

- Chapter 2 -


Kita lanjutkan kisah tentang sahabat yang Mulia Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu. Dan kita akan bahas kejadian-kejadian penting yang dialami oleh Saad bin Abi Waqqash sampai wafatnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.


🔹  Hijrahnya Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu.

Saad bin Waqqash radhiallahu 'anhu termasuk orang-orang yang pertama kali berhijrah, bahkan dia adalah rombongan kedua.

♦️  Rombongan pertama yang berhijrah yang diutus oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam adalah;
1. Mush'ab bin Umair radhiallahu 'anhu.
2. Abdullah bin Ummi Maktum radhiallahu 'anhu.
Keduanya adalah orang-orang ahli Alquran, maka diutuslah mereka.

Mush'ab bin Umair punya peranan besar dalam mendakwahi kaim Anshor yaitu Suku Aus dan Suku Khazraj sehingga banyak yang masuk Islam, dan kemudian mereka menjadi kaum Anshor.

📚 Sebagaimana cerita dari Al-Bara' bin 'Azib ;
"Mereka berdua Mush'ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum mengajarkan Al-Quran kepada masyarakat.

♦️  Setelah itu rombongan kedua datang tiga orang berbarengan;
1. Bilal bin Rabbah radhiallahu 'anhu.
2. Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu.
3. Ammar bin Yasir radhiallahu 'anhu.

♦️  Setelah itu rombongan ketiga;
1. Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu.
2. Dan bersama Umar ada dua puluh orang sahabat lainnya.

♦️  Yang terakhir datanglah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar radhiallahu 'anhu.

Dari sini bahwasanya Saad bin abi Waqqash adalah termasuk orang-orang yang pertama berhijrah setelah Mush'ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum.


🔹  Ketika Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu tiba di Madinah.

Ketika Saad bin Abi Waqqash sampai di kota Madinah beliau tinggal dirumah kakak beliau Utbah bin Abi Waqqash (meninggal dalam kondisi kafir setelah perang uhud).

=》 Utbah bin Abi Waqqash ini dia punya masalah, membunuh seseorang di Mekah kemudian akhirnya dia kabur ke kota Madinah dan membangun rumah dikampung Bani Amr bin Auf. Ketika permasalahan maka Utbah balik lagi ke kota Mekah.

Saad bin Abi Waqqash ketika tiba di kota Madinah dia tinggal dirumah tersebut bersama saudaranya Umair bin Abi Waqqash.
Jadi Saad bin Abi Waqqash tidak tinggal bersama orang-orang yang tinggal di Suffah.
Mereka yang tinggal di Suffah adalah Ashab al-Suffah yaitu orang-orang yang berhijrah dari Mekah menuju Madinah, dan tidak punya tempat tinggal dan tidak punya saudara di Madinah. Akhirnya mereka dibuatkan semacam tempat tambahan di belakang Masjid Nabawi dan mereka tinggal disitu, dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sering mengirim makanan ketempat mereka.


🔹  Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tiba di kota Madinah.

Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tiba dikota Madinah di bulan Rabiul 'Awal, maka Nabi shalallahu 'alaihi wasallam segera menyiapkan Syariah (pasukan-pasukan kecil yang disiapkan oleh Nabi untuk berperang, dan Nabi tidak ikut), karena Nabi dan para sahabat terusir dari kota Mekah menuju Madinah, genderang peperangan telah dikobarkan dan digaungkan. Maka Nabi shalallahu 'alaihi wasallam selalu bersiap untuk berperang melawan orang-orang kafir Quraisy.

Maka Nabi shalallahu 'alaihi wasallam mengirim Syariah (yaitu pasukan-pasukan kecil untuk perang dan Nabi tidak ikut, kalau Nabi ikut namanya Gazwa), untuk berjihad dijalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, diantaranya untuk menghadang kafilah-kafilah dagang Quraisy dan merebut harta mereka.

Pasukan Syariah yang dikirim oleh Nabi diantaranya dipimpin oleh Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthalib radhiallahu 'anhu. Dan diantara anggota Syariah tersebut adalah Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu.
Kemudian diutuslah pasukan Syariah ini bersama 60 orang sahabat yang semuanya dari kaum muhajirin, untuk berjihad dijalan Allah Subhanahu wa Ta'ala menuju tempat yang bernama Robiq (kalau sekarang dekat Jeddah). 

Diutuslah Pasukan Syariah yang dipimpin oleh Ubaidah bin Harits ketepi pantai, untuk menghadang Abu Sofyan dan pasukannya yg ketika itu Abu Sofyan bersama 200 kaum musyrikin.
Didalam pasukan Syariah itu ada Saad bin Abi Waqqash. Saat itulah Saad bin Abi Waqqas menyerang mereka dengan anak panah sehingga melukai sebagian mereka. 
Maka disebutkan Saad bin Abi Waqqash adalah orang yang pertama kali yang menyerang kaum musyrikin dengan anak panah. Pemanah pertama kali dalam jihad adalah Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu, dan akhirnya dia menghujani anak panah kepada pasukan Abu Sofyan yang masih kafir ketika itu dan akhirnya merekapun memilih untuk kabur.

Kemudian Saad bin Abi Waqqash memberi ide kepada Ubaidah bin Harits bin Abdul Mutholib agar mengejar Abu Sofyan, tapi Ubaidah mengatakan tidak perlu karena Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengutusnya sampai di Robiq. Akhirnya dibiarkanlah Abu Sofyan pergi.
Itulah pertama kali seorang muslim melepaskan anak panah kepada kaum musyrikin.

▪️ Saad bin Abi Waqqash adalah orang yang pertama kali memukul musyrikin sampai berdarah di Kota Mekah.
▪️ Saad bin Abi Waqqash juga yang pertama kali melepaskan anak panah melukai kaum musyrikin ketika Nabi sudah sampai di Madinah.
▪️ Rasulallah shalallahu 'alaihi wasallam Mengirim juga Saad bin Abi Waqqas dalam beberapa Syariah (pasukan-pasukan kecil) sebelum terjadinya perang Badar.

Jadi ketika Nabi sampai ke Madinah ada perang-perang kecil untuk membalas kaum musyrikin. 
Ini semua terjadi sebelum perang Badar,
sampai akhirnya terjadilah perang Badar pada tahun 2 Hijriah di bulan Ramadhan.


🔹  Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu Ketika Perang Badar.

Sebagaimana kita tahu kisahnya, Rasulullah ingin menghadang kafilah dagang Abu Sofyan yang cuma beranggotakan 40 orang, sementara Nabi shalallahu 'alaihi wasallam membawa sekitar 300 sekian pasukan.
Nabi tidak menyangka ternyata datang bantuan dari kota Mekah sehingga berjumlah menjadi 1000 orang.

Awalnya Nabi menyangka cuma 40 orang yang membawa kafilah dagang, maka Nabi mengatakan yang ingin ikut aku silahkan, yang siap jalan yang tidak siap tidak perlu. Maka mereka berjalan hanya berjumlah 300 sekian, mereka menyangka akan melawan sekitar puluhan pasukan yang mengawal kafilah dagang Abu Sofyan.
Ternyata Abu Sofyan kabur dan yang datang Abu Jahal dengan membawa 1000 pasukannya. Maka terjadilah perang Badar yang diluar dari dugaan, 315 atau 319 pasukan melawan 1000 pasukan.

Diantara yang keluar bersama Nabi shalallahu 'alaihi wasallam adalah Saad bin Abi Waqqash dan saudaranya Umair bin Abi Waqqash, ketika itu Umair usianya masih kecil. Ketika dia ikut berangkat ke Badar dia sembunyi-sembunyi.

Umair mengatakan,
"Aku khawatir Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melihat aku, sehingga aku dianggap masih kecil, maka Raaulullah akan menyuruh aku pulang sebagaimana banyak anak-anak muda yang di suruh pulang oleh Nabi. Padahal aku ingin berjihad, semoga Allah menganugrahkan kepadaku syahada (mati syahid)."

Bagaimanapun Umair bersembunyai, akhirnya ditampakanlah dihadapan Rasulullah.
Dan Rasulullah berkata,
"Pulanglah kekota Madinah, belum saatnya berjihad."

Maka Umairpun menangis dan berharap bisa mati syahid, dan Rasulullah tidak tega melihat tangisannya dan keseriusannya akhirnya Rasulullah ijinkan berjihad bersama saudaranya Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu. 
Dan akhirnya Umair meningal dunia dibunuh oleh Amru bin Abdi Wud adalah seorang jagoan dari kaum musyrikin dan umurnya sudah tua.

▪️ Adapun Saad bin Abi Waqqash ketika berperang menuju Badar tidak menunggangi tunggangan ketika berangkat maupun ketika pulang.

Saad bin Abi Waqqash pernah berkata kepada anaknya;
"Aku adalah sahabat Nabi yang paling berkecukupan, ketika itu aku tidak butuh naik kendaraan ke Badar (karena tidak punya kendaraan), aku orang yang paling cepat berjalan diantara mereka dan aku yang paling pandai memanah diantara mereka ketika perang Badar. Tidak ada satu langkahpun yang aku lewati dengan menggunakan tunggangan."

Ini menunjukkan bagaimana hebatnya Saad bin Abi Waqqash, kuat tubuhnya berjalan dari Madinah menuju Badar (sekitar 135 km). Dia tidak memperlambat pasukan menunjukkan dia orang yang kuat, sama sekali tidak naik tunggangan. 
Sebagian sahabat berganti-gantian menaiki tunggangan.

▪️ Saad bin Abi Waqaash ketika dia berperang, perangnya dia seperti seorang yang sedang naik tunggangan.

Kata Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu;
"Sungguh aku telah melihat Saad bin Abi Waqqash ketika perang Badar dia berperang seperti seorang pasukan prajurit berkuda."

Dalam riwayat yang lain, Ali memuji dengan mengatakan;
"Saad bin Abi Waqqash ketika perang Badar dia berperang bersama Nabi shalallahu 'alaihi wasallam seperti perangnya seorang prajurit berkuda dan seorang prajurit pejalan kaki."

▪️ Saad bin Abi Waqqash ketika perang Badar maka dia memanah dihadapan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Saad sambil memegang anak panah yang sudah ditarik siap untuk dilepaskan, dia berdoa;
"Ya Allah goncanglah kaki-kaki mereka, berikan rasa takut dalam hati mereka, lakukanlah kepada mereka dan hancurkanlah mereka."

Kemudian Rasulullah berdoa;

اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لَهُ إِذَادَعاَك

"Ya Allah kabulkanlah doa Saad bin Abi Waqqash."

📔  Sebagian Ulama mengatakan,
"Sejak saat itu karena dengan doa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, jadilah Saad adalah seorang mujabud da`wah (orang yang doanya selalu dikabulkan)."

▪️ Diantara nikmat yang Allah berikan kepada pasukan perang Badar adalah Allah berikan mereka rasa kantuk sebentar yang membuat mereka segar kembali.

Karena kondisi menakutkan, pasukan musyrikin 1000 orang sementara mereka hanya sekitar 315 - 319 orang dengan peralatan perang yang sederhana.
Dan mereka keluar bukan untuk melawan pasukan 1000, mereka keluar awalnya untuk menghadang 40 pasukan kalifah dagang Abu Sofyan, sehingga tidak memerlukan peralatan perang yang banyak dan pasukan kuda yang banyak.

Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan lolosnya Abu Sofyan dan datangnya Abu Jahal bersama 1000 pasukan dengan kesombongan dan persenjataan perang yang lengkap.
Tentunya ini membuat para sahabat gentar para sahabat, maka Allah menghilangkan kegentaran mereka dengan memberikan rasa kantuk.

📖 Allah Ta'ala berfirman dalm Surat Al-Anfal Ayat 11;

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ

"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya."
{QS. Al-Anfal/8 : 11}

Dan diantara yang ketiduran adalah Saad bin Abi Waqqash, sehingga menjadi tenang dan bisa kontrol diri, dan inilah yang dialami oleh para sahabat.

Kata Saad bin Abi Waqqash;
"Aku tidak sadar sampai aku lihat daguku sudah ada didadaku, dan tiba-tiba aku terjatuh disamping lambungku (ketiduran)."

Mereka hanya tertidur sebentar, dan ketika mereka sadar mereka benar-benar diberi kekuatan dalam pertempuran.

▪️ Dalam perang tersebut Saad bin Abi Waqqash berhasil membunuh seorang yang bernama Al-Ash bin Said bin Ash bin Umayyah yaitu anaknya Said bin Ash bin Umayyah.

Said bin Ash bin Umayyah ini mempunyai pedang yang terkenal Dzalkatifah (pedang yang masyhur dan hebat yang digunakan untuk bertempur), dan Al-Ash bin Said bin Ash dengan bangganya membawa pedang ayahnya, dan akhirnya diperangi oleh Saad bin Abi Waqqash dan akhirnya meninggal.

Kemudian Saad bin Abi Waqqash membawa pedang tersebut yaitu pedang Dzalkatifah kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan berharap Rasulullah menghadiahkan pedang tersebut kepada dirinya.

Tapi Rasulullah berkata;
"Pergilah engkau dan lemparkanlah pedang tersebut dikumpulan ghonimah, jangan kau ambil."

Kata Saad;
"Aku mendengar perkataan Nabi dan akupun pergi dan aku lemparkan pedang tersebut dikumpulan ghonimah, aku sangat sedih dan hanya Allah yang tahu kondisi hatiku ketika itu. Saudaraku Umair terbunuh dan pedang yang sudah aku berjuang untuk mendapatkannya ternyata harus dilemparkan di ghonimah."

Tidak lama aku berjalan lalu Rasulullah memanggil aku kembali dan berkata;
"Pergilah engkau ketempat ghonimah dan ambillah pedangmu (pedang Dzalkatifah)."

▪️ Dalam satu riwayat lain Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berkata;
"Wahai Saad engkau minta kepadaku pedang tersebut, ketika itu belum jadi milikku. Tapi ketika sudah menjadi ghonimah maka pedang itu menjadi milikku, maka sekarang aku pedang itu aku hadiahkan kepada engkau."

Akhirnya Saad bin Abi Waqqash memiliki pedang Dzalkatifah, pedang yang paling tersohor dikalangan Quraisy, dan pedang tersebut bagus untuk bertempur, tidak semua orang layak untuk menggunakan pedang tersebut dalam pertempuran. Dan akhirnya Nabi mengembalikan pedang tersebut kepada Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu.

▪️ Disebutkan dalam sebagian riwayat dalam Mustadrak Al-Hakim.

Ketika Saad bin Abi Waqqash perang Badar, dia memakai jubah yang terbuat dari Bulu Domba, dan baju tersebut selalu terkenang di hati Saad bin Abi Waqqash, dan dia jaga baju tersebut.

Para Sahabat semua tahu tentang kemuliaan para peserta Perang Badar.
📚 Rasulullah pernah mengatakan;
"Bisa jadi Allah melihat kepada para peserta Perang Badar, lakukan apa yang kalian kehendaki, Aku sudah maafkan kalian."

Para peserta perang Badar sudah diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Oleh karenanya para Sahabat yang paling mulia diantara para Sahabat adalah para Sahabat yang ikut perang Badar.
Diantaranya Saad bin Abi Waqqash dan dia berperang memakai jubah tersebut.

▪️ Ketika Saad akan meninggal dunia di usia 55 tahun, disisinya ada putrannya yang bernama Mush'ab bin Saad bin Abi Waqqash.

Saad berkata;
"Wahai putraku bukalah kotak itu."
Tatkala putranya membuka kotak tersebut ternyata isinya Jubah yang dipakai Saad ketika perang Badar 53 tahun yang lalu.

Dan Saad berkata;
"Kalau aku meninggal kafankan aku dengan baju tersebut, sungguh aku berhadapan dengan kaum musyrikin ketika aku perang Badar aku pakai baju itu, aku simpan bajuku itu untuk hari kematianku."


🔹 Kepahlawanan Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu Pada Perang Uhud.

Perang Uhud terjadi di tahun ke 3 Hijriah di bulan Syawal.

▪️ Ketika sebelum perang, Saad bin Abi Waqqash bertemu dengan Abdullah Bin Jahsyi radhiallahu'anhu.
Kemudian mereka berbincang-bincang tetang pertempuran, kemudian mereka berdua mengingat tentang pahala dan ganjaran yang besar bagi orang yang berjuang dijalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta mereka merenungkan tentang surga dan kenikmatannya.

Abdullah Bin Jahsyi berkata;
"Wahai saudaraku mari kita sama-sama berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebelum berjihad."

Lalu Saad bin Abi Waqqash berdoa sebelum perang Uhud;
"Ya Allah kalau aku berdua bertemu dengan musuh besok, jadikanlah aku bertemu dengan seorang yang paling keras peperangannya, aku memeranginya dan dia memerangiku, kemudian anugrahkanlah kepadaku aku mengalahkan dia, sampai aku bisa bunuh dia kemudian aku mengambil harta yang dia miliki."
Inilah doanya Saad dan dikabulkan. 

Abdullah Bin Jahsyi mengatakan;
"Aamiin"

Ini menunjukkan hebatnya Saad, dia tidak ingin berperang dengan orang biasa, dia ingin berperang melawan orang yang kuat dan jagoan.

▪️ Adapun doanya Abdullah Bin Jahsyi berbeda dengan doanya Saad bin Abi Waqqash.
Sama-sama berdoa dan sama-sama dikabulkan.

Adapun doa Abdullah Bin Jahsyi;
"Ya Allah anugrahkanlah kepadaku besok seorang musyrik yang jago dan keras pertempurannya, aku memerangi dia dan dia memerangiku, kemudian dia berhasil membunuhku lantas dia memotong hidungku dan memotong telingaku, dia robek perutku, kalau aku bertemu dengan Engkau ya Allah pada hari kiamat diakhirat kelak, Engkau akan bertanya kepadaku, "kenapa hidung dan telingamu dipotong." Aku lakukan ini demi Engkau ya Allah demi membela Rasul Mu, maka Engkau berkata ya Allah, "engkau benar."

Saad berkata;
"Aamiin."
Dan ternyata dikabulkan.

Saad bin Abi Waqqash dengan tawadhu berkata;
"Doanya Abdullah Bin Jahsyi lebih baik dari pada doaku."

Abdullah Bin Jahsyi ingin mati syahid tapi Saad ingin menang.
Kemudian Saad berkata;
"Sungguh dikabulkanlah doa Abdullah Bin Jahsyi, ketika dipenghujung hari aku melihat hidungnya dan telinganya sudah diikat dengan tali oleh orang musyrikin, dan diapun mati syahid."

Sebagian Ulama mengatakan, bagaimanapun Saad bin Abi Waqqash lebih mulia dari pada Abdullah Bin Jahsyi.
Karena setelah itu Allah memperpanjang umur Saad bin Abi Waqqash, dan dia melakukan banyak peperangan, sampai menjadi panglima perang dalam Ma'rakah al Qadisyyah (Perang al-Qasiyyah).
Makanya dia dijamin oleh Nabi masuk Surga.

📚 Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda;

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya."
[HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim]

▪️ Dalam perang Uhud sebagian sahabat melanggar, akhirnya turun dari Jabal Ainain / Gunung Rumat.
Akhirnya pos pertahanan yang dipasang oleh Nabi sekitar 50 orang turun 40 orang, akhirnya yang 10 orang dibunuh oleh pasukan Khalid bin Walid ketika masih Musyrik. 
Akhirnya kaum musyrikin balik dan kaum muslimin sedang sibuk mengumpulkan ghonimah, akhirnya datang serangan balik dn akhirnya kaum muslimin kocar-kacir.

Ada yang berhenti perang, ada yang kabur ke Madinah, ada yang tetap bertahan berperang bersama Rasulullah, dan ada yang bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Diantara Sahabat yang masih bertahan bersama Nabi untuk berperang adalah;
- Abu Bakar Ash Shidiq
- Ali bin Abi Thalib
- Abdurahman bin Auf
- Saad bin Abi Waqqash
- Thalhah bin Ubaidillah
- Abu Ubaidah bin Al Jarrah
- Zubair bin Awam
- Abu Dujanah
- dan sebagian yang lainnya.

Diantaranya ada Saad bin Abi Waqqash yang tetap berada disekitar Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan membela Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.
Saad mati-matian membela Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan dia sangat mahir dalam memanah.

📚 Oleh karenanya ketika Saad memanah dihadapan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam memuji Saad dan berkata;
"Aku menebusmu wahai Saad dengan ayah dan ibuku."

📚 Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan, dari Saad bin Abi Waqqash, dia berkata;
"Sungguh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah mengumpulkan ayah dan ibunya untukku pada hari perang Uhud."

📚 Ali bin Abi Thalib berkata;
"Rasulullah tidak pernah mengumpulkan ayah dan ibunya untuk menjadikan tebusan bagi seorangpun, kecuali Saad bin Abi Waqqash ketika Perang Uhud.
Rasulullah berkata;
"Panahlah wahai Saad bin Abi Waqqash, aku menebuamu san tebusanmu adalah ayah dan ibuku."

Bahkan ketika Saad memanah, Rasulullah yang mengoper dan melayaninya dengan memberikan anak panahnya kepada Saad bin Abi Waqqash sambil menyemangatinya dengan berkata,
"Panahlah wahai Saad.. panahlah wahai Saad."
Dan Saad merasa bangga.
Ini menunjukkan kemuliaan Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu, satu-satunya sahabat yang dimuliakan oleh Nabi dengan perkataan tersebut."

Oleh karenanya putrinya Saad yang bernama Aisyah binti Saad ketika ditanya siapa engkau, dia berkata;
"Aku adalah putrinya seorang Muhajirin yang ketika perang Uhud, Nabi shalallahu'alaihi wasallam menebusnya dengan kedua orang tuanya."


🔹 Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu Dalam Perang Khandak.

Saad bin Abi Waqqash juga termasuk pejuang dalam Perang Khandak yang terjadi pada tahun 5 Hijriah, dimana 10.000 pasukan datang dari kaum musyrikin, dari Quraisy, dari Ghathafan, berkumpul untuk menuju kota Madinah untuk mengepung kota Madinah.

▪️ Ketika itu Saad bin Abi Waqqash ingin menjaga Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.

📚 Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha, Aisyah berkata;

Rasulullah pernah berkata dihadapanku;
"Seandainya ada seorang yang sholeh dari kalangan para sahabatku menjagaku malam ini."
Tiba-tiba kami mendengar suara pedang berbunyi, maka Rasulullah berkata,
"Siapa ini.?"
Saad bin Abi Waqqash berkata,
"Aku wahai Rasulullah, aku datang untuk menjagamu."
Rasulullah tahu yang menjaganya adalah Saad bin Abi Waqqash dan ini adalah orang shaleh, amanah dan jagoan.
Aisyah berkata,
"Maka Rasulullah tertidur sampai aku mendengar suara dengkurannya Nabi shalallahu 'alaihi wasallam."

Ini menunjukkan Rasulullah merasa tenang dan bisa tertidur pulas, karena yang menjaganya adalah Saad bin Abi Waqqash seorang yang jagoan.


🔹  Saad bin Abi Waqqash ikut serta dalam Shulhul Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiyah).

Shulhul Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiyah) terjadi pada tahun 6 Hijriah dimana para Sahabat membaiat Nabi dibawah sebuah pohon, kemudian Allah menurunkan ayat Nya.

📖 Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Fath Ayat 18;

۞ لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)."
{QS. Al-Fath/48 : 18}

📚 Rasulullah shalallah mengatakan;
"Tidak ada yang membaiatku di bawah sebuah pohon kecuali semuanya masuk Surga."

Ketika jumlah mereka sekitar 1.300 -1.400 dan diantaranya ada Saad bin Abi Waqqash.


🔹  Perang Dzatus Salasil.

Dimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjadikan Amr bin Ash sebagai pemimpin, yang baru beberapa bulan masuk Islam kemudian memimpin pasukan peperangan ke sebuah tempat yanh bernama Dzatus Salasil.
Sekitar ada 300 kaum Muhajirin yang menjadi anak buahnya, diantaranya Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu.


🔹  Saad bin Abi Waqqash juga ikut dalam Fathu Makkah dan Perang Thaif.

Fathu Makkah terjadi pada tahun 8 Hijriah di bulan Ramadhan.
Kemudian dilanjutkan dengan Perang Hunain lalu Perang Thaif.

▪️ Ketika Fathu Makkah tahun 8 Hijriah, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam membawa sekitar 10.000 pasukan dari kalangan Muhajirin maupun kaum Anshor, dan orang-orang Islam yang baru masuk Islam.

Ketika itu pasukan kaum Muhajirin ada 700 pasukan, 300 pasukan berkuda dan dijadikanlah 3 bendera untuk kaum Muhajirin.
- 1 bendera dipegang oleh Saad bin Abi Waqqash
- 1 bendera dipegang oleh Ali bin Abi Thalib
- 1 bendera dipegang oleh Zubair bin Awwam

Oleh karenanya dikatakan 4 orang paling hebat dalam pertempuran dan yang keras serta tegas adalah;
1. Umar bin Khattab
2. Saad bin Abi Waqqash
3. Ali bin Abi Thalib
4. Zubair bin Awwam

Diantara 3 orang pemimpin kaum Muhajirin adalah;
1. Ali bin Abi Thalib
2. Saad bin Abi Waqqash
3. Zubair bin Awwam

▪️ Kejadian lain yang juga disebutkan dalam hadits-hadits

Ketika Utbah bin Abi Waqqash kakaknya Saad yang meninggal dalam kondisi kafir, sebelum meninggal dunia Utbah pernah berwasiat kepada Saad bin Abi Waqqash.

Utbah mengatakan;
"Wahai Saad ada budak wanitanya Zam'ah (bapaknya Suadah binti Zam'ah) di Mekah, saya punya anak dari budak tersebut, tolong jaga ponakanmu."

Ketika Saad bin Abi Waqqash sampai di Mekah, banyak orang yang masuk Islam setelah Fathu Makkah, Saad bin Abi Waqqash ingin mengambil keponakannya.
Ketika dia mau ambil keponakannya, rupanya Abd bin Zam'ah (anaknya Zam'ah) menolak.
Dia mengatakan;
"Ini saudaraku bukan keponakanmu."

Saad mengatakan;
"Ini keponakanku, ini anaknya saudaraku Utbah, karena budak itu digauli oleh kakakku Utbah."

Kata Abd bin Zam'ah;
"Tidak ini adikku, ini anak bapakku karena dia lahir dari budak bapakku."

Karena mereka saling berseteru, akhirnya mereka lapor kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Saad berkata kepada Rasulullah;
"Ya Rasulullah ini keponakanku, ini anaknya Utbah bin Abi Waqqash, kakakku telah mewasiatkan aku untuk memperhatikan keponakanku ini."

Abd bim Zam'ah bin Qais berkata;
"Ya Rasulullah ini saudaraku, ini anak bapakku, dia lahir dari budak perempuan bapakku, berarti dia anak bapakku."

Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melihat itu anak wajahnya sangat mirip dengan Utbah (anak zina Utbah).
Tetapi karena lahir dari hasil zina maka dalam Islam hukumnya berbeda.

Maka Rasulullah mengatakan;
"Ini anaknya Zam'ah, meskipun secara wajah mirip dengan Utbah."

Maka Rasulullah mengatakan;
"Anak ini untuk pemilik tempat tidur tuannya yaitu Zam'ah, adapun pezina tidak dapat apa-apa."

Tetapi karena anak ini memang mirip dengan Utbah, akhirnya Rasulullah berkata kepada istrinya Saudah;
"Wahai istriku Saudah, berhijablah dari ademu ini."
(Karena ada syubhat, secara hukum itu adenya Saudah, tapi wajahnya mirip Utbah)


🔹  Saad bin Abi Waqqash ikut serta dalam Haji Wada.

Haji Wada pada tahun 10 hijriah, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pergi ke Mekah untuk Haji Wada, diantaranya yang ikut adalah Saad bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu.

Setelah Haji Wada para Sahabat Muhajirin pulang ke Madinnah, qadarullah ketika semua sahabat pulang ke Madinah, Saad bin Abi Waqqash sakit keras dan tidak jadi pulang.
Saad sempat bertemu dengan Nabi shalallahu'alaihi wasallam, maka Saad sangat sedih dan merasa dirinya akan meninggal dunia karena sakit keras.

Maka Saad berkata kepada Rasulullah;
"Wahai Rasulullah saya ingin bersedekah, ingin berwasiat, bolehkan saya berwasiat, saya punya harta banyak bolehkan saya menyedekahkan dua pertiga dari hartaku.?"

Rasulullah berkata;
"Tidak boleh, kebanyakan kalau dua pertiga."

Saad berkata lagi;
"Wahai Rasulullah bagaimana kalau saya berwasiat sedekah dengan setengah dari hartaku.? Sebagaimana engkau ketahui Rasulullah, hartaku banyak dan putriku hanya satu."

Rasulullah berkata;
"Tidak."

Saad berkata lagi;
"Wahai Rasulullah, bagaimana kalau sepertiga dari hartaku.?"

Rasulullah berkata;
"Tidak mengapa kalau sepertiga dari hartamu."

📚 Kemudian Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menasehati Saad bin Abi Waqqash:
"Wahai Saad, kau meninggalkan anakmu dan keluargamu dalam kondisi berkecukupan, itu lebih baik dari pada kau meninggalkan mereka dalam kondisi kesulitan dan minta-minta kepada orang lain. Cukup sepertiga dari hartamu kau sedekahkan, sisanya untuk anak dan istrimu. Bisa jadi kau dipanjangkan umurmu oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kau beramal sholeh, sehingga setiap amal sholehmu karena kau mengharap wajah Allah, maka akan menambah derajatmu dan ketinggianmu disisi Allah subhanahu wa Ta'ala. Tidaklah kau memberi nafkah dengan berharap wajah Allah kecuali kau dapat pahala, sampai suapan yang kau berikan kepada mulut istrimu. Bisa jadi dipanjangkan umurmu oleh Allah, maka banyak orang mendapatkan manfaat dari panjangnya umurmu, dan banyak orang mendapat kemudhorotan dengan panjangnya umurmu."

Dan ternyata benar Saad bin Abi Waqqash yang menyangka dirinya akan meninggal dunia ketika itu dan sempat berwasiat, ternyata setelah itu dia hidup sampai 45 tahun lagi.
Inilah salah satu Mukjizat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Dan setelah itu Saad bin Abi Waqqash punya anak masih 35 orang lagi, sehingga total anaknya bersama putrinya yang pertama berjumlah 36 orang.
Kemudian dia ikut dalam berbagai peperangan dan akhirnya menjadi pemimpin dalam Perang Al Qadisiyyah sampai akhirnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


💫  SOAL - JAWAB  💫


➡️  PERTANYAAN :
Apakah kondisi was-was Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sebelum datangnya Saad bin Abi Waqqash untuk menjaga beliau termasuk sesuatu yang dapat diterapkan oleh kita, pada saat sekarang kita ada orang yang melindungi tidak mengurangi sikap tawaqal kepada Allah, atau tidak boleh karena bergantung diri keamanan kepada makhluk bukan kepada Allah. Mohon pencerahannya Ustad.!

➡️  JAWAB :
Wallahu'alam bishowab. 
Rasul ada kegelisahan dan dia berharap ada yang menjaganya dan itu salah satu bentuk ikhtiar agar ada yang menjaganya. Rasul berharap dan memintanya kepada Allah dan Allah kabulkan ketika itu, dan akhirnya beliau bisa tenang. Rasulullah juga manusia, selain berdoa dia juga melakukan ikhtiar.
Tidak jadi masalah dan wajar kalau seandainya kita dalam kondisi ketakutan kemudian ada yang membantu kita dan kita bisa lebih tenang, tapi tawaqalnya kita tetap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


➡️  PERTANYAAN :
Bagaimana implemestasi keutamaan Saad bin Abi Waqqash pada masa kini, karena pada masa kini belum ada jihad perang sebagai mana yang dilakukan oleh beliau radhiallahu'anhu.!

➡️  JAWAB :
Bagaimana Saad berjuang untuk membela Islam dengan jiwa dan raganya dan hartanya, keikhlasnya, dengan kepada hadits-hadits Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Dan itu adalah sifat seluruh para sahabat.
Bagaimana mencintai Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dengan kecintaan yang luar biasa, selalu siap membela Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Diantara sebab Al Imam Bukhari menulis kitab Shahih Bukhari, dia bermimpi bahwasanya dia dihadapan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, kemudian dia mengusir sesuatu dari hadapan Nabi karena ada yang mengganggu Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.
Maka ketika ditanya dan ditakwilkan bahwasanya engkau akan membela Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam
Ternyata bentuk pembelaan Imam Bukhari adalah dengan menulis Kitab Shahih Al-Bukhari.
Didalam kitab tersebut diantaranya beliau membantah ahlul bidah, dan beliau menjelaskan hadits-hadits yang shahih. Sehingga ini adalah bentuk pembelaan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Alhamdulillah kita bisa membela Nabi dengan banyak cara.
Diantaranya;
1. Dengan memperjuangkan sunnah-sunnahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya agar kita dicintai Nabi dan dicintai Allah subhanahu wa Ta'ala.
2. Membela kalau ada orang yang menyimpangkan makna sunnah-sunnah Nabi atau ada orang menyampaikan hadits-hadits palsu, ata menyelewengkan dan menghina ajaran-ajaran Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
3. Membela dengan ilmu, dengan dana untuk berdakwah.
4. Berjuang menyebarkan Islam sebagaimana para sahabat.

Intinya masing-masing berusaha menjalankan Sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan membela sunnah-sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


➡️  PERTANYAAN :
Kenapa para sahabat begitu pemberani dan banyak yang hebat dalam berperang, apakah dari kecil mereka telah terlatih dalam berperang, ataukah mereka mendapat pelatihan khusus dari Rasulullah.?

➡️  JAWAB :
Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa mereka latihan bela diri, tapi dalil menunjukan bahwa mereka jagoan semuanya dalam berperang.
Karena tabi'at orang Arab dahulu mereka memang hidup dalam peperangan. Suku Aus dan Suku Khazraj, 120 tahun mereka berperang, sudah pasti mereka latihan berperang.

Dalam kebiasaan Arab dahulu ada yang namanya Al-Asyhurul Hurum (empat bulan dilarang berperang), karena mereka biasanya selalu berperang diatara kabilah yang satu dengan kabilah yang lain maka ada masa liburnya berperang. Dan pastinya sudah otomatis mereka berlatih perang dan berkuda.
Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


➡️  PERTANYAAN :
Pertanyaan di luar jalur tema.
Mana yang lebih baik dalam memberikan nama anak, apakah dengan nama Abdulrozak atau Abdulrahman, dan lainnya. Ataukah dengan nama para Nabi dan para Sahabat.?

➡️  JAWAB :
Nama terbaik adalah nama-nama penghambaan kepada Allah, kita berharap dengan nama-nama penghambaan kepada Allah mereka menjadi hamba-hamba Allah yang sebenarnya.
Seperti Abdulrahman, Abdulrahim, Abdulmuhsin, Abdulrozak, dan yang lainnya.
Tapi kalau seorang memberi nama dengan nama yang lain, silahkan saja terserah dan perkaranya lapang, mau nama-nama sahabat silahkan, untuk mengingat jasa-jasa para sahabat, karena kita dituntut untuk mencintai para Sahabat.
Wallahu Ta'ala 'al bishowab.


✍️ TIM KAJIAN ONLINE MASJID ASTRA