Ini adalah tahun ke dua setelah pandemi berhasil membumi hanguskan segala apapun yang sudah direncanakan. Aku masih teringat jelas awal pandemi, semua produksi mendadak dihentikan. Setiap hari berkutat mengandalkan daring. Beberapa kali harus merasakan work from home (WFH) yang sangat menguras pikiran.

Menjadi seorang karyawan yang bergerak di bidang otomotif tentu banyak hal yang perlu diprioritaskan, mulai dari pengiriman yang on time delivery, kualitas kendaraan yang harus strive for excellent dan tentu kepuasan pelanggan menjadi tolak ukur bisnis proses tersebut berjalan dengan baik atau tidak.

Berdasarkan keputusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab), Karawang kembali menerapkan PSBB secara proposional yang mana masyarakat diminta tetap konsisten menerapkan protokol kesehatan memakai masker dan menjaga jarak. Bagi pelaku industri diterapkan 50% work from home (WFH) sementara sisanya work from office (WFO).

Dari kebijakan tersebut perusahan harus mengambil keputusan demi kebaikan bersama dan berlangsungnya bisnis proses yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Poster-poster dan himbauan hidup sehat pun tertempel di setiap sudut ruangan, ketika masuk area pabrik semua  diwajibkan cek suhu oleh petugas kesehatan, tidak lupa mengisi aplikasi tracking kesehatan guna sebagai monitoring atasan terhadap kondisi karyawan. Belum lagi setiap 5 menit sebelum istirahat terdengar himbauan deklarasi kesehatan dari resepsionis untuk tetap menjalankan protokol di area dalam pabrik.

Tiba-tiba aku ingat beberapa pesan dari grup whatsapp, sebuah unit urgent yang harus segera dikirim to customer. Celakanya, unit belum terupdate secara sistem, pun secara fisik tidak ditemukan. Mungkin salah parkir unit, pikirku. Segera aku koordinasikan dengan tim dispatcher(orang yang memindahkan unit) untuk menyisir semua area yang diduga unit terparkir. 

Setelah hampir 1 jam menyisir baru ditemukan unitnya, yang mana unit tersebut ternyata tercampur dengan unit hold atau unit yang masih menunggu konfirmasi pengiriman dari cabang. Segera aku instruksikan untuk memindahkan unit ke next proses. Permasalahan tidak sampai di situ, posisi unit yang berada di tengah stall membuatnya harus membongkar parkir unit lain untuk dapat dipindahkan.

Bel pulang sudah berbunyi, sementara proses pembongkaran masih belum selesai. Segera aku konfirmasikan ke tim storage  mengerahkan pasukannya untuk ikut membantu memindahkan unit, mengingat waktu jam kerja sudah berakhir. Sementara, aku kembali ke area final inspection untuk membuat laporan harian produksi.

Lima belas menit kemudian unit sudah berhasil keluar dari area tersebut dan unit sudah dipindahkan ke next proses untuk dikirimkan ke customer. Alhamdulillah aku merasa lega. Melihat abnormality yang terjadi, tidak lupa sebelum pulang kami melakukan breaving untuk mengingatkan kembali SOP saat memarkirkan kendaraanya. Pastikan melihat tiket tujuan dan menyamakan nomor rangka yang tertera pada unit.

Sekembalinya pulang dari pabrik, rasa kusut dan capek melanda sekujur badan dan pikiranku, tidak lupa aku langsung mandi dan mengganti pakaian seragam sehari sekali. Selain menghindari paparan virus saat pulang perjalanan pun sebagai antisipasi bahwa kita benar-benar bersih dari virus yang berpotensi menempel di badan kita.

Seperti biasa dalam sunyinya malam aku menunggu kabar istri dari kampung yang beberapa minggu lagi akan hadir buah hati kami yang pertama.

Dalam kegelisahan ini, aku berharap angka dua satu penunjuk waktu yang tertera pada ponselku tidak berubah. Biarkan saja detik yang berkedip lupa berdetak. Entah berapa ratus kilometer lagi untuk bisa memandang senyum merah jambumu tanpa canggung.

"Kapan pulang?" tanyamu di tengah-tengah obrolan kami melalui panggilan suara.

Sial, bahkan untuk menjawab itu membuat napasku berhenti seketika. Seolah aliran denyut ini terus terpompa di balik atrium dengan cepatnya.

"Nanti, Insyaallah kalau sudah kondusif." 

Aku menghela napas kemudian sepersekian detik menghirup kembali berkubik-kubik oksigen hanya sebatas meghardik. Ini cukup efektif sekedar menenangkan.

Sialnya, rindu datang tanpa diundang. Fix, ini curang. Bahkan yang kutemukan di setiap esensi, ada banyak hal yang tak bisa kusanggah darimu. Salah satunya rindu, yang selalu punya alasan menghadiahi diri. Seperti kau yang tiba-tiba muncul dalam benakku. 

"Kamu capek ya, suamiku?"

Ah, lagi-lagi pertanyaan itu. Terkadang rindu bagai kebingungan yang ganjil, menurutku. Segala persepsi yang mengalahkan logika. Pun capek tidak kurasakan ketika rindu mulai menghampiri.

"Iya, biasa masalah kerjaan. Sabar ya, aku pasti pulang," hiburku.

Bagiku itu seperti memiliki dua keinginan dalam satu waktu. Sementara tubuh ini bukanlah amoeba yang bereproduksi dengan membelah diri. Meskipun aku menyadari rindu bak virus yang terus menggerogoti sang inang, dan pertemuan adalah penawarnya, rasanya tak bisa, tak mungkin di kondisi pandemi seperti ini.

Sesaat obrolan terasa hening. Ada perasaan sebak di dada ketika harus menerima kondisi seperti ini. Meski itu kenyataanya, aku percaya ini semua akan segera berakhir dan rindu akan bersandar pada dermaganya. - SP

Perusahaan Grup Astra
TOYOTA
Wilayah Grup Astra
Purwakarta/Subang/Karawang