Rahasia Ramadhan
Ust. Rojih Fikri, Lc. Al-Hafizh
Ramadhan adalah bulan yang penuh rahasia dan keistimewaan. Setiap detiknya begitu berharga. Waktu yang sama—60 detik—namun nilainya berbeda ketika berada di bulan suci ini.
Di antara rahasia Ramadhan:
-
Detik-detiknya sangat berharga.
Setiap amal dilipatgandakan. Setiap doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan. -
Ada kebahagiaan saat bertemu Ramadhan.
Hati orang beriman merasakan kegembiraan ketika dipertemukan kembali dengan bulan penuh ampunan. -
Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan.
Bahagia ketika berbuka, dan bahagia ketika berjumpa dengan Rabb-nya kelak. -
Puasa akan menjadi syafaat di hari kiamat.
Ia akan membela orang yang menjalankannya dengan ikhlas.
Maka, sudah seharusnya kita menyambut Ramadhan dengan semangat terbaik.
Namun pertanyaannya:
Kapan Ramadhan menjadi yang terbaik dalam hidup kita?
Ya Allah, jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Kita diperintahkan bukan sekadar menjadi baik, tetapi menjadi yang terbaik di antara orang-orang terbaik.
Indikasi Target Ramadhan Tercapai
-
Apa yang Allah wajibkan kita laksanakan.
-
Apa yang Allah larang kita tinggalkan.
-
Ibadah sunnah kita maksimalkan.
Agar Ramadhan Ini Menjadi yang Terbaik
1. Taubatan Nasuha (Tobat yang sebenar-benarnya)
Kita semua memiliki dosa. Ramadhan adalah momentum besar untuk bertobat.
Dosa membuat hati berat beribadah.
Dosa menjadi noda hitam dalam hati.
Semakin banyak dosa, semakin tertutup hati dari cahaya ketaatan.
Istighfar adalah pembersihnya.
Perbanyak istighfar. Ingat dosa-dosa kita. Rendahkan hati di hadapan Allah.
Ada kisah seorang pemuda yang terus melakukan dosa, namun merasa hidupnya baik-baik saja—keluarga dan rezekinya lancar. Ia bertanya kepada Hasan al-Basri:
“Mengapa Allah tidak menghukum saya?”
Beliau menjawab,
“Kapan terakhir kamu membaca Al-Qur’an?
Kapan terakhir kamu qiyamul lail?”
Terkadang kita dihukum, tetapi tidak menyadarinya.
Hukuman Allah ada dua:
-
Hukuman yang terasa oleh pancaindra—bencana, musibah, dan kesulitan.
-
Hukuman yang lebih berat: dicabutnya kelezatan beramal saleh tanpa sebab yang kita sadari.
Maka segeralah bertobat. Saling memaafkan. Doakan sesama.
2. Meminta Pertolongan Allah
Jangan sampai kita mengandalkan diri sendiri tanpa meminta pertolongan Allah walau sekejap mata.
Ya Allah, jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau hanya sekejap.
Ingat kisah Yusuf.
Ketika di penjara, dua orang meminta beliau menafsirkan mimpi.
Yang satu akan bebas dan menjadi pelayan raja.
Yang lain akan dihukum mati.
Setelah menafsirkan, Nabi Yusuf berpesan kepada yang akan bebas, agar menyampaikan kepada raja bahwa ia dipenjara tanpa kesalahan. Namun orang itu lupa menyampaikan pesan tersebut. Akibatnya, Nabi Yusuf tetap di penjara beberapa tahun lamanya.
Pelajaran pentingnya: dalam setiap ikhtiar, dahulukan meminta pertolongan Allah sebelum berharap kepada manusia.
Ketika akhirnya pertolongan Allah datang, Nabi Yusuf tidak marah, tidak dendam. Hatinya bersih dan penuh tawakal.
Maka kita pun memohon:
Ya Allah, tolong kami untuk bisa berdzikir, bersyukur, dan beribadah terbaik di bulan Ramadhan.
Pentingnya Niat yang Jujur
Dalam riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj, ada seorang Arab Badui yang masuk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah.
Ketika perang dan kaum Muslimin menang, Nabi hendak memberinya bagian ghanimah. Namun ia berkata:
“Bukan untuk ini aku berperang, wahai Rasulullah. Aku ingin tertembus panah di sini,” sambil menunjuk lehernya, “lalu aku mati syahid dan masuk surga.”
Tak lama kemudian, ia benar-benar gugur sesuai dengan apa yang ia niatkan.
Rasulullah bersabda,
“Dia jujur kepada Allah, maka Allah pun membenarkannya.”
Inilah kekuatan niat yang jujur.
Kisah lainnya adalah Anas ibn Nadr.
Beliau menyesal tidak ikut dalam Perang Badar. Ia berkata,
“Jika Allah memberiku kesempatan lagi, sungguh Allah akan melihat apa yang akan aku lakukan.”
Ketika Perang Uhud terjadi, ia bertempur dengan luar biasa hingga gugur sebagai syahid. Tubuhnya penuh luka hingga sulit dikenali.
Ia membuktikan janjinya kepada Allah.
Penutup
Ramadhan terbaik adalah Ramadhan yang penuh kejujuran kepada Allah.
Jujur dalam tobat.
Jujur dalam niat.
Jujur dalam meminta pertolongan-Nya.
Mari kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah kita benar-benar ingin Ramadhan terbaik?
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan yang penuh keberkahan, memudahkan kita menjalani hingga akhir, dan menerima seluruh amal kita.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.