WAHSYI
Namanya Wahsyi bin Harb, ia adalah pembunuh Hamzah r.a, paman tercinta Rasulullah saw.
Saat Fathul Makkah terjadi, ia terdesak dan mengungsi ke Thaif. Namun seiring waktu penduduk Thaif juga banyak yang beriman. Ia berniat hendak melarikan diri kemanapun yang aman. Namun kemudian ia ingin memeluk Islam.
Setiba di Madinah, Wahsyi mencari tahu keberadaan Rasulullah saw, dan ternyata beliau sedang berada di masjid. Dengan rasa takut dan khawatir yang luar biasa, Wahsyi memberanikan diri melangkah masuk.
Ia mendekat hingga berdiri di hadapan Rasulullah saw, lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Mendengar ucapan dua kalimat syahadat itu, Rasulullah saw menatapnya. Ketika beliau menyadari bahwa yang mengucapkan syahadat adalah Wahsyi, beliau menundukkan pandangan.
Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apakah engkau Wahsyi?”
Ia menjawab, “Betul, wahai Rasulullah.”
Lalu beliau berkata, “Duduklah dan ceritakanlah kepadaku bagaimana engkau membunuh Hamzah.”
Maka Wahsyi pun duduk dan menceritakan seluruh peristiwa pembunuhan Hamzah kepada beliau.
Ketika Wahsyi selesai bercerita, Rasulullah saw. memalingkan wajahnya seraya berkata, “Celakalah kamu, wahai Wahsyi! Sembunyikanlah wajahmu dariku. Aku tidak akan melihat wajahmu lagi setelah hari ini.”
Sejak hari itu, Wahsyi selalu berusaha agar wajahnya tidak terlihat oleh Rasulullah saw.
Setiap kali para sahabat duduk di hadapan beliau, ia memilih duduk di belakang.
Ia terus menjaga hal itu hingga Rasulullah wafat.
Meskipun ia tahu bahwa Islam menghapus seluruh dosa sebelum seseorang memeluknya, namun perbuatan yang telah ia lakukan tetap menghantui pikirannya. Bayangan masa lalunya tak pernah lenyap. Ia terus mencari kesempatan untuk menebus kesalahan besar yang telah diperbuatnya.
Dan ia pun berhasil membunuh Musailamah al-Kadzab menggunakan tombak yang sama dengan yang digunakannya untuk membunuh Hamzah.
Ini adalah sebuah kisah dimana Rasulullah telah memaafkan, namun tak bisa melupakan...
Cerita day 9 Ramadhan ❤