Selasa, 24 February 2026
Masjid Baabut Taubah 

Luka yang Berbuah Surga, Rahasia Melepas Dunia demi Dekapan Allah

Oleh : Bakharudin Yusuf

 

Bismillah, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,,..

Alhamdulillah wa syukurillah salah agenda rutin kajian spesial Ramadhan pada hati ini berjalan dengan baik dan lancar,, Pada hari ini tausiyah disampaikan oleh Ustadz Nurkhozin, Lc. Berikut catatan kajian yang dapat resumakan, 

1. Beratnya Memikul Amanah

Amanah bukanlah perkara kecil. Ia adalah beban yang bahkan alam semesta pun enggan memikulnya karena takut akan pertanggungjawabannya di akhirat.

Refleksi Dalil: Hal ini selaras dengan QS. Al-Ahzab: 72:

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia..."

Poin Utama: Jika gunung yang kokoh saja merasa tidak sanggup, maka kita sebagai manusia harus senantiasa memohon pertolongan Allah agar tidak lalai dalam menjaga amanah (baik itu jabatan, keluarga, maupun titipan harta).

2. Janji Allah: Ganti yang Lebih Baik

Salah satu prinsip dalam iman adalah yakin bahwa melepaskan sesuatu yang buruk (maksiat/harta haram) demi ketaatan kepada Allah tidak akan pernah membuat kita rugi.

"Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik." (HR. Ahmad).

"Amanah itu berat bagi mereka yang memandangnya sebagai beban, namun akan terasa ringan bagi mereka yang memandangnya sebagai jalan menuju Surga. Jangan takut kehilangan sesuatu karena Allah, sebab Allah tidak pernah berhutang pada hamba-Nya; Dia akan membayar pengorbananmu dengan cara yang paling indah."
3. Belajar dari Kisah Para Nabi

Untuk memperdalam pemahaman, kita bisa mengambil ibrah (pelajaran) dari dua sosok agung:

A. Nabi Yusuf AS: Menolak Kenikmatan Semu demi Amanah

Nabi Yusuf dihadapkan pada godaan yang sangat besar (rayuan Zulaikha). Secara manusiawi, pintu terbuka lebar, namun beliau memilih amanah kepada Allah dan tuannya.

Hasilnya: Meski harus masuk penjara (terlihat buruk di mata manusia), Allah menggantinya dengan posisi Bendahara Mesir (Al-Aziz) dan kemuliaan dunia akhirat. Beliau meninggalkan kemaksiatan, dan Allah menggantinya dengan kekuasaan yang berkah.

B. Nabi Ibrahim AS: Amanah dalam Perintah Ekstrem

Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan istrinya (Hajar) dan putranya (Ismail) di lembah gersang, lalu kemudian diperintah untuk menyembelih Ismail. Beliau menjaga amanah perintah Allah meski secara logika sangat berat.

Hasilnya: Allah mengganti sembelihan itu dengan domba dari surga, dan menjadikannya bapak dari para Nabi. Ketaatan Ibrahim meninggalkan "logika manusia" demi perintah Allah membuahkan keberkahan yang kita rasakan hingga hari ini (ibadah Haji & Qurban).

4. Kesimpulan untuk Jamaah

Jangan takut kehilangan dunia saat kita mencoba jujur (amanah).

Meninggalkan hobi yang buruk, lingkungan yang negatif, atau cara mencari uang yang tidak halal mungkin terasa "berat" di awal seperti gunung, namun "gantinya" adalah ketenangan hati dan kemuliaan yang lebih besar dari Allah.

"Gunung yang kokoh saja takut mengkhianati amanah Allah, lalu siapakah kita yang merasa tenang dalam kelalaian? Belajarlah dari Yusuf yang memilih sempitnya penjara demi luasnya ridho Allah. Belajarlah dari Ibrahim yang rela kehilangan segalanya, hingga akhirnya Allah jadikan dia 'Kekasih-Nya' (Khalilullah)."

Team Media DKM Baabut Taubah 
PT. Denso Indonesia