Kajian Online Interaktif Ikhwan & Akhwat
     - MASJID ASTRA -
SENIN, 12 Oktober 2020
              24 Safar 1442 H
Pukul, 19.30 WIB - Selesai

📔 Nara Sumber :
"Ustadz DR. Firanda Andirja, LC., MA."


~ SEJARAH UMAR BIN KHATTAB AL FARUQ - Bagian 2 ~


💠 Bagaimana pemerintahan Umar yang penuh Rahmat dan Kasih Sayang.

Ketika Abu Bakar radhiallahu'anhu sakit parah, maka Abu Bakar mengumpulkan orang2 dan dia berkata,
"Wahai sahabatku, wahai rakyatku, lihatlah aku telah di timpa penyakit, dan menurutku aku akan meninggal dunia karena penyakitku ini. Silahkan kalian mencari penggantiku yang kalian pilih dan kalian sukai."

Abu Bakar tidak ingin setelah beliau meninggal kemudia terjadi kegaduhan, maka menurut beliau hendaknya memilih Amir atau pemimpin baru atau khalifah baru sebelum beliau meninggal dunia. Agar tidak terjadi kekacauan.

Beliau mengatakan,
"Kalau kalian berhasil dan bisa mengangkat seorang pemimpin sebelum aku meninggal dunia itu baik, agar kalian tidak berselisih setelah wafatku."

Akhirnya para sahabat mereka bermusyawarah. Setiap orang berusaha tidak mau untuk menjadi Amir atau Khalifah. Karena menjadi khalifah tidak gampang.

Abu Bakar 2 tahun dengan penuh perjuangan, 
- terjadi pemberontakan,
- orang2 murtad,
- muncul nabi2 palsu,
- orang tidak mau bayar zakat,
- Abu Bakar sampai mengirim pasukan kesana kemari.
Semua tidak gampang dan beban sangat berat.

Sehingga semua sahabat tidak mau, mereka menganggap saudara mereka lebih berhak, yang lain lebih berhak.
Akhirnya mereka balik kepada Abu Bakar, mereka berkata,
"Menurut kami wahai Khalifah, pilihanmu saja wahai Abu Bakar."
Karena mereka tidak bisa memilih, akhirnya Abu Bakar berkata,
"Berikan aku waktu agar aku mengamati apa yang terbaik karena Allah, karena agamanya dan juga untuk hamba2nya."

Maka Abu Bakar mulai bermusyawarah dengan sahabat2 yang mulia satu persatu, dan Abu Bakar sudah terbetik dibenaknya untuk memilih Umar bin Khattab radhiallahu'anhu.

◆ Maka beliaupun memanggil Abdurahman bin Auf.
Beliau berkata,
"Wahai Abdurahman bin Auf, kabarkan kepadaku tentang Umar, bagaimana menurut engkau tentang Umar.?"
Maka Abdurahman bin Auf berkata,
"Wahai Abu Bakar, engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu yang engkau lebih tau tentangnya dari pada aku."
Artinya yang lebih tau tentang Umar adalah Abu Bakar dari pada dirinya.
Kata Abu Bakar,
"Meskipun aku lebih tau, tapi aku ingin mendengar pendapatmu tentang Umar,"
Maka kata Abdurahman bin Auf,
"Menurutku wahai Abu Bakar, Umar itu lebih afdhol dari pendapatmu tentang Umar."
Artinya bahwa Umar lebih baik dari penilaiannya Abu Bakar.

◆ Kemudian Abu Bakar bermusyawarah dengan Utsman bin Affan radhiallahu'anhu.
Apa jawaban Utsman, kata Utsman bin Affan radhiallahu,anhu,
"Ya Allah.. sesungguhnya ilmuku tentang Umar, bahwasanya apa yang dia sembunyikan itu lebih Afdhol dari pada apa yang dia tampakkan, dan sesungguhnya tidak ada orang seperti dia diantara kita"
Artinya kegiatan Umar yang tidak diketahui orang itu lebih afdhol dari pada apa yang Umar tampakkan.
Ini jelas Umar yang terbaik.
Kemudian Abu Bakar berkata,
"Semoga Allah merahmatimu."

◆ kemudian Abu Bakar memanggil Usiad bin Hudhair salah seorang dari kaum Anshor.
Maka jawabannya sama,
"Ya Allah.. sungguh aku tahu bahwa Umar adalah yang terbaik setelah engkau wahai Abu Bakar."

◆ Kemudian Abu Bakar bermusyawarah dengan Said bin Zaid, dan sekelompok kaum Anshor dan Muhajirin.
Semua jawabannya sama, bahwa Umar adalah yang terbaik.
Kecuali Thalhah bin Ubaidillah, beliau mengatakan,
"Umar orangnya keras, wahai Abu Bakar apa yang akan kau jawab kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, jika Allah bertanya kepada engkau, kenapa engkau jadikan Umar sebagai penggantimu padahal Umar orangnya keras."
Abu Bakar berkata,
"Kau jangan menakut2i aku, aku akan menjawab kepada Allah, Ya Allah aku telah memilih penggantiku yang terbaik diantara hamba2mu."

Kemudian Abu Bakar menjelaskan, adapun sikap keras Umar, maka Abu Bakar berkata,
"Umar itu keras karena dia sering menemaniku dan melihat aku lembut, maka dia mengimbangi dengan sikap kerasnya, nanti kalau dia menjadi Khalifah maka dia akan meninggalkan banyak sikap kerasnya."
Umar sering menemani Abu Bakar dalam mengurus pemerintahan, nampak Umar yang keras.

Akhirnya semua orang setuju bahwasanya yang menjadi pengganti Abu Bakar adalah Umar bin Khatrab radhiallahu'anhu.
Dan ini adalah sikap terbaik Abu Bakar yang ditinggalkan bagi Umat Islam memilih Umar bin Khattab sebagai pengganti beliau.

Umar tidak tahu akan hal ini, ketika Abu Bakar sudah terfokus memilih Umar bin Khattab radhiallahu'anhu maka Abu Bakarpun memanggil Umar.
Dan menjelaskan hal ini kepada Umar,
"Bahwasanya engkau akan menjadi khalifah penggantiku,"
Umar tidak mau, tapi Abu Bakar mengancam dia dengan pedang bahwa Umar harus mau.
Akhirnya Umar menerima tawaran Abu Bakar.
Dan Abu Bakar pun berbicara kepada rakyatnya kaum muslimin.

Abu Bakar berkata,
"Apa kalian ridho dengan orang yang aku pilih menjadi penggantiku untuk memimpin kalian, Demi Allah aku berusaha keras untuk memilih penggantiku yang terbaik bagi kalian, dan aku tidak memilih kerabatku untuk menjadi penggantiku, dan sungguh aku telah mengangkat Umar bin Khattab menjadi penggantiku, maka ta'atlah dan dengarlah perintahnya."
Maka para sahabat berkata,
"Sami'na wa a to'na, kami dengan dan kami ta'at."

Setelah itu Abu Bakar berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'alaa, dia berkata,
"Ya Allah aku sungguh aku telah memilih Umar tanpa ada perintah dari Nabi-MU, aku tidak memilih Umar sebagai penggantiku Ya Allah kecuali aku menghendaki kebaikan bagi kaum muslimin. Aku khawatir fitnah akan menimpa kaum muslimin. Ya Allah aku bersungguh2 memilih maka akupun menjadikan pemimpin mereka adalah yang terbaik diantara mereka."

Akhirnya diangkatlah Umar bin Khattab radhiallahu'anhu sebagai pengganti Abu Bakar radhiallahu'anhu.
Setelah itu Abu Bakar menulis wasiat kepada Umar bin Khattab radhiallahu'anhu.
Wasiat dari seorang khalifah kepada khalifah berikutnya.
Abu Bakar disebut sebagai  Khalifaur Rasyidin, adapun Umar tidak dipanggil Khalifah tapi dipanggil sebagai Amirul Mukminin.
Ini istilah baru yang memulainya untuk Umar bin Khattab radhiallahu'anhu.
Karena kalau khalifah artinya pengganti, Abu Bakar khalifatu Rasulillah artinya pengganti Rasulullah,
Kalau Umar nanti di sebut Khalifatu khalifati Rasulillah, khalifahnya khalifahnya Rasulullah.
Kalau datang Utsman nanti khalifatu khalifati khalifati Rasulillah.
Maka Umar dia yang pertama yamg di panggil Amirul Mukminin.

◆ Nasihatnya Abu Bakar kepada Umar ketika menjadi khalifah,
"Wahai Umar bertaqwalah kepada Allah, 
- Ketahuilah ada amalan yang harus dikerjakan untuk Allah di siang hari yang Allah tidak terima di malam hari.
- Ada amal2 sholeh yang engkau kerjakan di malam hari untuk Allah yang Allah tidak terima di siang hari.
- Sesungguhnya Allah tidak menerima yang sunnah sampai kau mengerjakan yang wajib.
- Sesungguhnya timbangan seseorang menjadi berat kalau dia mengikuti kebenaran, apa yang dia lakukan akan menjadi berat pada hari kiamat, yaitu timbangan kebajikannya.
- Adapun orang2 yang timbangannya menjadi ringan (lebih berat maksiatnya dari pada kebaikannya), karena mereka mengikuti kebathilan.
- Sesungguhnya Allah menyebutkan tentang penghuni surga, dan Allah menyebutkan tentang amalan mereka yang terbaik, dan Allah maafkan dosa2nya. Jika engkau mengingat mereka wahai Umar, "katakanlah aku khawatir aku tidak termasuk mereka."
- Dan Allah juga menyebutkan tentang penghuni neraka Jahannam, dan Allah sebutkan amalan2 terburuk mereka, dan Allah menolak kebaikan mereka. Jika kau ingat tentang penghuni neraka wahai Umar, katakanlah, "sesungguhnya aku berharap aku tidak termasuk dari mereka."
- Agar seorang hamba senantiasa berada di antara berharap dan khawatir.
- Jangan sampai seorang berangan2 kepada Allah dan juga jangan sampai putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta'alaa.

Kemudian Abu Bakar berkata,
"Hafalkan wasiatku wahai Umar, ketahuilah kalau kau sudah menghafalkan wasiatku, maka kau akan khawatir dengan kematian, ingatlah dengan kematian dan kau tidak bisa menolaknya."

Bagaimana intinya Abu Bakar radhiallahu'anhu ketika memilih Umar bin Khattab radhiallahu'anhu, Abu Bakar menyerahkan kepada para sahabat, para sahabat kembalikan peekaranya kepada Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar bermusyawarah satu persatu kepada para sahabat, dan mereka semua sepakat bahwasanya Umar adalah pengganti Abu Bakar radhiallahu'anhu.

Sebenarnya ada banyak dalil ya g mengisyaratkan bahwasanya Umar adalah pengganti Abu Bakar.
Isyarat dari Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bahwa Umar adalah pengganti Abu Bakar. Sebagaimana Nabi shalallahu'alaihi wasallam meskipun tidak pernah berkata, yang menggantiku adalah Abu Bakar. Tapi Nabi memberiku isyarat2 bahwasanya Abu Bakar adalah penggantinya.

▪️Contohnya :
- Kalau Nabi lagi tidak di kota Madinnah yang jadi Imam Abu Bakar.
- Ketika Nabi sakit yang jadi imam Abu Bakar.
Ini isyarat bahwasanya Abu Bakar penggantinya Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam.


💠 Di antara Isyarat Nabi bahwa Umar bin Khattab Pengganti Abu Bakar.

◆ Dalam Hadist disebutkan,
"Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku, aku mengambil timba air disebuah sumur, maka datanglah Abu Bakar dia mengambil 2 timba, isyarat bahwasanya Abu Bakar hanya sekitar 2 tahun menjadi khalifah, kemudian aku melihat dalam mimpiku setelah Abu Bakar datang Umar, tiba2 timbanya menjadi besar dan aku tidak melihat ada seorang pemimpin yang melakukan seperti sikap2nya sampai orang2 semua puas minum dan hilang dahaga mereka, bahkan onta2 juga puas minum dari timba yang diambil oleh Umar."
(HR. Imam Muslim)
Ini Isyarat bahwasanya setelah Abu Bakar datang Umar bin Khattab radhiallahu'anhu.

◆ Dalam Hadist lain.
Dari Khudzaifah radhiallahu'anhu,
"Suatu hari kami sedang bersama Nabi sedang duduk, aku tidak tahu sampai kapan aku bersama kalian, mungkin aku akan meninggal dunia."
Kemudian kata Nabi,
"Teladanlah kalian oleh terhadap dua orang setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar."
Ini juga Isyarat yang kuat bahwasanya Umar adalah pengganti Abu Bakar radhiallahu'anhu.

◆ Dalam riwayat yang lain.
Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, 
"Suatu hari Bani Mustolik mengutusku untuk bertanya kepada Nabi sahalallahu 'alaihi wasallam, Wahai Anas tanyakanlah pertanyaan kami kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, "kalau engkau sudah meninggal kami bayar zakat kepada siapa wahai Rasulullah?"
Akupun datang kepada Nabi dan aku bertanya, kata Rasulullah,
"Kalau aku sudah meninggal maka serahkan zakat kepada Abu Bakar,"
Dan akupun kabarkan kepada Bani Mustolik, aku kabarkan kalau Nabi meninggal, bayar zakat kepada Abu Bakar.
Kembalilah lagi kepada Rasulullah.
Mereka berkata,
"Kalau seandainya terjadi sesuatu kepada Abu Bakar, lalu kaki membayar zakat kepada siapa.?"
Aku datang kepada Nabi lalu aku bertanya lagi, kata Rasulullah,
"Berikanlah zakat kalian kepada Umar."
Dan aku datang kepada mereka, aku kabarkan kepada mereka.
Ini adalah Isyarat bahwasanya setelah Abu Bakar adalah Umar bin Khattab.
Intinya para sahabat ijma bahwasanya yang menjadi Khalifah setelah Abu Bakar adalah Umar, dan tidaknada yang kemudian ribut2 setelah itu.
Tidak seperti pernyataan orang Syiah yang mengatakan, "semua khalifah tidak ada yang sah kecuali Ali bin Abi Thalib.

Setelah itu ketika Umar menjadi Khalifah maka Umar berkhotbah, beliau berkata,
"Ya Allah sesungguhnya aku ini keras, maka lembutkan aku (Umar mengakui kekurangannya), aku ini lemah ya Allah maka kuatkanlah aku dalam menjalankan pemerintahan, Ya Allah aku ini pelit maka jadikanlah aku dermawan."

Kemudian di antara Khutbah beliau juga mengatakan kepada rakyat kaum muslimin,
"Wahai kaum muslimin sesungguhnya Allah telah menguji kalian dengan aku, aku ini ujian bagi kalian, dan kalian menjadi ujian bagiku setelah kedua sahabatku (Rasulullah dan Abu Bakar). Kalau ada perkara yang sampai kepadaku tidak ada orang lain yang akan mengurusi, aku akan mengurusi langsung. Tidak ada perkara urusan kalian sampai kepadaku kemudian ada orang lain yang mewakiliku, tidak, aku yang akan mengurusi langsung.
Kalaupun aku tidak bisa mengerjakannya maka sungguh2 aku akan memilih orang yang memang berparas dan punya kredilitas untuk mewakiliku.
Demi Allah.. kalau mereka berbuat kebaikan maka aku akan berbuat baik kepada mereka, kalau ternyata mereka wakil2ku berbuat buruk, maka aku akan memberi balasan dan hukuman kepada mereka."

Salah seorang yang menghadiri khutbahnya Umar bin Khattab, orang ini berkata,
"Demi Allah.. Umar senantiasa akan demikian sampai Umar meninggal dunia."

Kalau dilihat dari khutbah Umar, nampak bahwasanya Umar menyadari bahwasanya kepemimpinan, khilafah, jabatan adalah ujian.
Bukan suatu yang dibangga2kan.. tidak.

Maka ketika Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam menasehati Abu Dzar,
"Wahai Abu Dzar, aku melihat engkau seorang yang lemah, maka jangan kau menjadi pengatur dua orang."

Karena tidak semua orang mampu memikul tugas yang berat ini. Jabatan bukan sesuatu yang dibangga2kan, jabatan adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'alaa yang Allah akan minta pertanggung jawaban atas apa yang kita dipimpin tersebut. Perkara yang mengerikan.


💠 Umar bin Khattab menjalankan Pemerintahannya.

Diantara hal yang di lakukan oleh Umar, setelah beliau diangkat menjadi Khalifah.

1️⃣ Undang2 pertama yang beliau lakukan yaitu,
Beliau mengembalikan seluruh tawanan2 wanita yang ditawan oleh Abu Bakar ketika terjadi perang terhadap Arab Baduy yang murtad.
- ada yang beriman kepada nabi baru,
- ada yang meninggalkan Islam,
- ada yang murtad, sampai Abu Bakar kirim pasukan.
Kemudian tawan2an wanita ini dikembalikan kepada kabilah2 mereka.
Dan ini adalah suatu tindakan Umar yang luar biasa dan ternyata dampaknya sangat positif.
Akhirnya orang2 Arab Baduy yang ada dipedalaman2, mereka merasa dihargai dan mereka merasa Umar menghormati mereka, dan akhirnya merekapun masuk Islam.

2️⃣ Metode Umar dalam menjalankan kekhilafahan adalah dengan Bermusyawarah.
Umar adalah khalifah bukan Raja. Beliau selalu letakkan keadilan.
Oleh karenanya Umar pernah berkata,
"Saya tidak tahu saya ini seorang khalifah atau seorang Raja. Kalau ternyata saya ini bersikap seperti seorang Raja maka perkara besar." (Umar tidak mau disebut seorang Raja, dia Khalifah yang mengatur urusannya kaum muslimin).

Kemudian ada yang berkata kepada Umar,
"Adapun khalifah dia tidak akan mengambil kecuali hak dan dia tidak meletakkan kecuali kepada al-hak. Dan engkau Alhamdulillah wahai Umar, engkau demikian. Adapun namanya Raja, menyusahkan masyarakat, mengambil dan memberikan terserah dia."
Maka Umarpun terdiam.

Umar pernah bertanya kepada Salman Al Farisi,
"Wahai Salman.. jujur saja aku ini Raja atau Khalifah, menurutmu bagaimana.?"
Maka Salman al-Farisi berkata,
"Kalau kau memang mengambil sesuatu dari hasil bumi, kemudian kau meletakkan pada tempat yang tidak tepat, maka engkau Raja bukan khalifah."
Tapi Umar tidak demikian, Umar berusaha memposisikan diri sebagai khalifah yang memegang amanah yang luar biasa.

3️⃣ Menjalankan kekhalifahannya dengan metode Syuro, yaitu musyawarah.
Dan ini adalah metode Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam yang diikuti oleh Abu Bakar.

Rasulullah adalah seorang Nabi, kata Allah Subhanahu wa Ta'alaa,
"Rasulullah dalam banyak kondisi, bermusyawarah dengan para sahabat."
Contohnya, dalam kondisi2 genting dalam perang Uhud, perang Khandak, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat.
Padahal Beliau seorang Nabi dan beliau sangat cerdas, pandangannya sangat jitu.
Tetapi Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam selama tidak ada Nash tegas dari Allah, maka Nabi tetap musyawarah kepada para sahabat.

Dan ini juga dilakukan oleh Umar bin Khattab radhiallahu'anhu.
Apalagi setelah Umar menjadi Khalifah, 
- Banyak perkara2 baru kontemporer yang dihadapi oleh Umar. 
- Dimana tatkala terjadi ekspansi, kaum muslimin semakin luas arealnya.
- Kmudian muncul banyak orang masuk Islam, Romawi, Persia.
- Bagaimana menghadapi mereka.
- Bagaimana datang penghasilan2 baru bagi kaum muslimin, harta mau diletakkan dimana.
- Adanya pasukan yang lebih banyak untuk pertempuran2.
Ini semua butuh ijtihad-ijtihad.
Yang ijtihad2 ini tidak bisa dikerjakan oleh Umar sendiri, maka Umar senantiasa bermusyawarah.

Oleh karenanya Umar bermusyawarah terutama dengan "Asiah Badar yaitu orang2 tua yang pernah ikut perang Badar."
Mereka punya pandangan2 jitu dan mereka dimuliakan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam.

Bahkan Umar juga mengirim kepada pejabat2 beliau,
- Kepada Saad bin Abi Waqas,
"Hendaknya kau punya teman untuk bermusyawarah."
- Kepada Amr bin Ash, pejabat Umar yang di Mesir,
"Kau harus punya teman untuk bermusyawarah."

Umar, beliau menerapkan musyawarah dan beliau juga  menyuruh pejabat2nya untuk musyawarah.
Karena pendapat banyak orang dimusyawarahkan lebih baik dari pada pendapat satu orang saja.
Oleh karena Umar selalu menghadirkan sahabat2 senior kalau dia ada permasalahan.

4️⃣ Umar juga menghadirkan sahabat2 junior dalam bermusyawarah.
Umar punya majelis Syuro yaitu yang hadir orang2 senior saja, yang mereka orang alim yang bertaqwa dan punya ilmu.

Tapi Umar juga menghadirkan sebagian2 remaja seperti contohnya ;
- Ibnu Abbas radhiallahu'anhu.
Tujuannya adalah regenerasi agar bisa diketahui bagaimana Musyawarah, agar yang muda belajar dari yang tua.
Dan demikianlah Umar tatkala mengambil keputusan beliau dengan bermusyawarah.
Tidak dengan semua orang tapi dengan orang2 yang pakar dan ahli yang memnag memberikan pemdapat2nya.

◆ Bahkan kata Ibnu Sirin,
"Umar selalu bermusyawarah dalam segala urusan, bahkan terkadang dia minta pendapat seorang wanita. Mungkin dari perkataan seorang wanita ada suatu pendapat yang baik dari sisi tertentu, maka bisa saja Umar mengambil pendapat tersebut."

Diantara contoh yang Ma'ruf Umar bermusyawarah;

- Tentang ketika Umar dan para sahabat sebagian kaum muslimin dan sebagian kaum Anshor berjalan ke negeri Syam, sementara dinegeri Syam sedang terjadi wabah Thoun.
Maka Umar pun mengumpulkan mereka, kita lanjut perjalanan menuju Syam, atau kita balik karena sementara disana ada Thoun.
Dan Umarpun bermusyawarah dengan mereka.
Merekapun berkhilat, ada yang mengatakan, 
> Kita keluar keluar karena Allah jangan kita mundur, maju terus.
> Sebagian lagi berkata, ada wabah dan bisa menimbulkan kematian, maka jangan maju.

Intinya Umar meminta beberapa pendapat dan akhirnya beliau mengambil keputusan, Umar berkata kepada orang2, 
"Kita besok akan balik."

Abu Ubaidah berkata,
"Ya Umar.. kau balik, karena kau lari dari takdir Allah."
Umar berkata,
"Iya.. kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain."

Kemudian akhirnya datang Abdurahman bin Auf (datang terlambat), dan menyampaikan tentang hadist yang sesuai dengan pendapat Umar,

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." 
(HR Bukhari).
Akhirnya Umar kembali menjalankan keputusan Musyawarah.

5️⃣ Diantara landasan2 kekhilafahan Umar adalah Umar berbuat Adil dan Perkesamaan.
Beliau tidak diskriminasi tapi melakukan perkesamaan dan juga keadilan.


💠 Contoh Bagaimana Umar bin Khattab Bersikap Adil.

◆ Di zaman beliau ada perselisihan seorang Yahudi dengan Muslim.
Jadi dalam pemerintahan Umar banyak orang Nasoro, Yahudi yang tinggal dalam pemerintahan Umar dan tinggal didaerah kaum muslimin dan mereka bayar jiziyah. 
Jiziyah tersebut tidak banyak, masih lebih banyak zakat dari pada jiziyah.
Dan fungsi jiziyah tersebut adalah, 
- bahwasanya ini dianggap sebagai warga negara,
- dijaga hak2nya,
- tidak dilanggar hak2nya orang kafir tersebut,
- bahkan kalau ada yang ingin menyakiti orang kafir tersebut, maka negara akan membela karena mereka adalah bagian dari pada warga negara. Tapi syaratnya bayar jiziyah.
Sebagai bentuk ketundukan dan juga ada timbal baliknya adalah pengamanan bagi mereka, menjaga mereka dan hak2 mereka jangan sampai di dzolimi.

Suatu ada perselisihan antara Yahudi dan Muslim, tetapi akhirnya setelah Umar meneliti kejadiannya maka Umar menyatakan bahwasanya yang benar adalah sang Yahudi.
Umar tidak menjadikan kekufuran Yahudi membuat Umar membela seorang Muslim.

◆ Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik,
"Ada pertiakain antara seorang Muslim dan Yahudi maka Umar pun memenangkan pihak Yahudi, maka Yahudi berkata, "Wahai Umar demi Allah kau telah berhukum dengan kebenaran."

Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab radhiallahu'anhu bersikap dengan keadilan, tidak membedakan Yahudi maupun Muslim.
Yang benar maka Umar bela.

◆ Demikian juga Umar menyuruh pejabat2nya untuk datang kalau musim Haji untuk berkumpul.
Kalau mereka sedang berkumpul ada pertemuan dengan Umar maka Umar hadapkan kepada Masyarakat.

Kata Umar kepada Masyarakat kaum Muslimin dihadapan para pejabat2nya,
"Aku tidak mengutus pejabat2ku untuk mengambil harta2 kalian yang terbaik, untuk merampas harta2 kalian.
Tetapi aku mengutus mereka untuk menjadi hakim diantara kalian, untuk membagi2 sesuai dengan aturannya.
Barangsiapa yang ternyata disikapi tidak sesuai dengan tugas yang aku berikan kepada pejabat2ku, maka berdirilah."

Tidak ada yang berdiri kecuali satu orang, orang ini protes kepada Umar, orang ini berkata,
"Wahai Umar sesungguhnya salah seorang pejabatmu memukul aku dengan 100 cambuk."
Umar bertanya,
"Kenapa dia memukul engkau?, kalau dia memukul engkau tidak benar maka Qisoslah darinya."
Maka Amr bin Ash radhiallahu'anhu berkata,
"Ya Umar jangan kau lakukan ini, kalau kau metode seperti ini nanti menjadi tradisi yang akan dilakukan oleh khalifah2 setelah engkau.
Dan aku tidak akan melakukan Qisos pada diriku, sementara aku melihat Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam melakukan Qisos untuk dirinya.
Ya Umar.. jangan dulu Qisos, biarkan kami minta keridhoannya."
Kata Umar,
"Kalau gitu silahkan kalian minta keridhoannya."

Akhirnya lelaki ini yang pernah dipukul merasa tidak adil dipukul dengan 100 cambuk, maka diganti dengan 500 dinar. 
(1 cambuk diganti dengan 2 dinar, 1 dinar = 4 seperempat emas, kalau 2 dinar = 8,5 gr emas. Karena dicambuk dengan 100 cambukan = 850 gr emas).
Akhirnya orang itu ridho dan tidak jadi Qisos.

◆ Demikian juga ada orang yang melapor dari penduduk Mesir.
Dia melaporkan tentang putranya Amr bin Ash,
Amr bin Ash adalah gubernur Mesir, pejabat yang dipilih oleh Umar untuk menjadi Gubernur Mesir.
Orang iti berkata,
"Wahai Umar aku berlindung kepada engkau dari perbuatan kedzoliman,"
Kata Umar,
"Kau berlindung kepada tempat yang tepat."
Orang itu berkata,
"Aku mengadakan lomba, maka putranya Amr bin Ash tidak mau kalah. Ketika kalah dalam berlomba diapun mencambukku, dan dia berkata "aku adalah putra dari 2 orang yang termulia".

Akhirnya Umar kirim surat kepada Amr bin Ash, suruh datang dan suruh bawa anaknya.
Kemudian datanglah Amr bin Ash beserta putranya dari Mesir datang ke Madinah.
Kemudian Umar berkata,
"Mana orang Mesir yang mengadu, ambil cambuk dan cambuklah anak dari 2 orang yang mulia ini."
Maka akhirnya dia pukul.

Anas bin Malik ketika melihat kejadian itu dan ketika orang Mesir tadi mulai mencambuk putranya Amr bin Ash, kata Anas bin Malik,
"Kami pingin dia dicambuk,"
Dan ketika cambukkannya mulai keras, Anas bin Malik berkata,
"Kami berharap dia berhenti dari pukulannya, karena pukulannya sangat keras."
Maka Umar berkata kepada orang Mesir tersebut,
"Wahai orang Mesir, pukul juga kepala Amr bin Ash."
Tapi orang Mesir itu berkata,
"Wahai Umar.. yang mukul aku bukan Amr bin Ash tapi anaknya, aku sudah balas dendam."

Umar berkata,
"Wahai Amr sejak kapan engkau memperbudak manusia, anakmu berani mukul orang, sementara ibu2 mereka telah melahirkan mereka dalam kondisi merdeka."
Kata Amr bin Ash,
"Wahai Umar.. aku tidak tahu kejadian ini dan diapun tidak melapor kepadaku."
Jadi orang Mesir ini lansung melapor kepada khalifah Umar bin Khattab, tidak lapor kepada Amr bin Ash.

Intinya lihat Umar bagaimana menegakkan hukum. Sampai ada pejabatnya di lapor tidak benar maka Umar di hukum, Umar tidak perduli.

◆ Perkataan Ibnu Taimiyah dalam sebuah syair beliau berkata,
"Sesungguhnya Allah akan menolong suatu negeri yang adil meskipun kafir."

Karena kalau orang berbuat baik, Allah ganti duniawi.
Ada orang kafir berbuat baik, Allah berikan kebaikan duniawi, akhirat tidak dapat, tapi dunia Allah berikan.

Bahkan kata Ibnu Taimiyah,
"Ada suatu negara yang Muslim, kalau dzolim, maka Allah tidak akan tolong."

◆ Umar menjalan Metode Persamaan.
Bagaimana dia menyamakan dirinya dengan rakyatnya.
Umar merasa dirinya pekerja rakyat, karena Umar makan dari hasil Baitul Maal (uang negara yang Umar makan darinya).
Sehingga Umar merasa berkhidmat untuk masyarakat.

◆ Ketika dimusim kemarau dan kelaparan, tatkala harga2 naik, maka Umar mengatakan.
"Tidak mau minum susu, tidak mau makan minyak samin, dan tidak mau makan daging, masyarakat tidak makan maka saya juga tidak, sampai mereka makan baru saya mau makan."

Sampai pada suatu hari Umar makan roti pakai minyak biasa, kemudian beliau makan, maka perutnya bunyi kelaparan, maka Umar berkata kepada perutnya,
"Wahai perutku, bunyilah terserah engkau, Demi Allah kau tidak akan bakalan makan minyak samin sampai orang2 makan semuanya."

◆ Dimusim kelaparan, Umar selalu makan roti dicampur dengan minyak.
Sampai suatu hari ada anak buahnya yang menyembelih onta. Kemudian dihidangkan makanan dari onta dihadapan Umar. 
Umar bertanya,
"Dari mana ini onta.?" (sementara orang2 sedang kelaparan).
Mereka berkata,
"Ya Amirul mukminin.. tadi kami baru menyembelih Onta wahai Umar, kami hidangkan daging buat engkau."
Kata Umar,
"Sungguh buruk aku menjadi pemimpin, kalau aku makan dari makanan yang terbaik dari Onta ini (Diambil dari punuk Onta dan hati Onta), sementara kalian memberi makan kepada masyarakat kaki2nya. Angkat ini piring saya tidak mau makan, datangkan makanan yang lain."
Maka Umar tidak jadi makan Onta, dia makan roti.

◆ Suatu hari datang harta kepada Umar, maka diapun bagi harta tersebut kepada kaum muslimin, orang2pun datang berkumpul.
Kemudian datang Sa'ad bin Abi Waqas (sahabat yang mulia dan orang2 menghargai Sa'ad bin Abi Waqas) dengan melewati orang2, diapun ingin mendapat bagian, maka Umar pun memukul Sa'ad dengan tongkatnya.
Umar berkata,
"Kau datang melewati orang2, tidak takut Sultan Allah yang ada di muka bumi, aku ingin kasih tau engkau bahwasanya Sultonnya Allah yaitu khalifah, tidak gentar kepada engkau Sa'ad bin Abi Waqas."
Intinya Umar tidak perduli walaupun Sa'ad bin Abi Waqas adalah 10 orang yang dijamin masuk surga, tetap harus mengantri.

◆ Demikian juga Amr bin Ash radhiallahu ketika di Mesir.
Ada anaknya Umar yaitu Abdurahman bin Umar melakukan kesalahan, dia minum khamar.
Akhirnya Amr bin Ash radhiallahu'anhu, karena ini anaknya Umar, maka Amr bin Ash menegakkan hukum Had.
Dia cambuk anaknya Umar, tapi di cambuk di dalam rumah, tidak dilapangan.
Harusnya menegakkan hukum Had dihadapan banyak orang.
Sebagai bentuk penghormatan kepada Umar.
Sampailah kabar ini kepada Umar "bahwasanya putranya Abdurahman bin Umar minum khamar dan di cambuk di dalam rumah tidak di cambuk di depan umum dilapangan."

Maka Umar menulis surat kepada Amr bin Ash dari Madinnah ke Mesir.
Isinya..!
"Dari hamba Allah Umar Amirul Mukminin kepada orang yang membangkang putranya Al-Ash. Aku heran kepada engkau wahai Amr bin Ash kepada engkau berani kepadaku. Engkau menyelisihi janjiku. Kau memukul putraku dirumahmu, padahal kau tahu aku tidak suka seperti ini. Sesungguhnya Abdurahman adalah salah satu rakyatmu yang tinggal di Mesir walaupun dia putraku. Maka lakukanlah kepadanya sebagaimana kau lakukan dengan kaum muslimin yang lain. Tapi kau bilang ini adalah putranya Amirul Mukminin, dan kau sudah tahu wahai Amr, tidak ada toleransi dan pilih kasih diantara manusia disisiku. Pada Hak Allah yang harus diterapkan pada dia tidak ada pilih kasih. Kalau datang suratku ini kepadamu, maka datangkan dia di Madinnah untuk di cambuk dihadapan umum."

Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab tidak main2, sampai anaknya pun sudah di cambuk di dalam rumah, kata Umar pulang, harus di cambuk dihadapan umum.

◆ Diantara yang menakjubkan juga, kisah Umar bin Khattab dengan Jabalah ibn al-Aiham.

Jabalah ibn al-Aiham adalah salah seorang dari penguasa terakhir kota Gossan, tadinya beragama Nasrani pengikut Heroklius. Mereka tinggal di Syam dibawah pemerintahan Negara Romawi dan Romawi selalu berusaha menyerang Islam, sampai akhirnya Jabalah masuk Islam tatkala umat Islam mulai berkembang.
Pengikutnya pun masuk Islam.

Dan dia mengirim surat kepada Umar Al Faruq untuk izin datang kekota Madinnah.
Umar pun gembira, dia masuk Islam dan dia datang ke Madinnah.
Kemudian dia tinggal lama di kota Madinnah. Dan Umar bin Khattab memperhatikan dia, menyambutnya.

Sampai akhirnya Jabalah minta izin untuk Haji. Maka Jabalah berhaji.
Ketika dia sedang Tawaf di Kabah, tiba2 sarungnya di injak oleh seorang Bani Fazarah (Arab Baduy).
Maka sang Amir inipun marah, kemudian dia tampar orang tersebut sampai nampak dihidungnya.
Akhirnya orang yang ditampar ini melapor kepada Umar bin Khattab.
Akhirnya Umar bin Khattab menyuruh Jabalah untuk datang kepada Umar.
Kemudian Umar bertanya,
"Apa kau telah melakukan demikian? Wahai Jabalah apa yang membuat engkau harus menampar saudaramu tersebut sampai kau melukai hidungnya.?"
Kata Jabalah,
"Ya Amirul Mukminin.. saya sudah lembut kepada dia, kalau bukan karena penghormatan kepada Kabbah maka saya sudah cabut kedua matanya."
Maka Umar berkata,
"Kau sudah mengakui kesalahanmu, orang ini rela tidak memberikan hukuman kepadamu, kalau tidak aku akan qisos engkau."
Jabalah ibn al-Aiham kaget,
Kok Umar menyingkapi aku seperti ini, dia berkata,
"Ya Umar bagaimana kau menyamakan aku dengan dia, saya ini bekas Raja Gosan bagaimana mau disamakan dengan dia yang orang pasaran."
Kata Umar,
"Islam telah menyamakan kalian berdua."
Kata Jabalah,
"Aku menyangka kalau aku masuk Islam aku lebih mulia dari pada di zaman jahiliyah."
Kata Umar,
"Kalau kau tidak bisa membuat orang ini ridho, aku terpaksa Qisos."
Kata Jabalah,
"Kalau begitu aku Nasrani kembali."
Kata Umar,
"Kalau kau kembali Nasrani maka aku akan penggal kepalamu, karena kau murtad. Dalam hukum Islam kalau ada yang murtad maka dipenggal kepalanya."

Akhirnya Jabalah mengerti dan percuma berdebat dengan Umar karena dia tidak akan berubah, dan dia tidak mau di Qisos dari orang pasaran ini.
Akhirnya dia minta izin kepada Umar untuk memberikan kesempatan berfikir.
Dan Umar mengizinkan.
Akhirnya orang ini berfikir dan dia pergi kabur pergi meninggalkan Mekkah, kemudian dia kembali ke Constantinovel dan kembali lagi menjadi Nasrani.

Inti dari cerita ini adalah bagaimana Umar berusaha untuk tetap adil mensikapi orang2 tersebut.


📔 SOAL - JAWAB

1️⃣ Terkait dengan hadist irbath bin Sariyah,
"Barangsiapa yang hidup diantara kalian sepeninggalku, maka ia aoan menyaksikan banyak perselisihan, oleh karena itu hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk."
Apakah pengertian Khulafaur Rasyidin di sini hanya membatasi 4 saja, dan bagaimana memahami Khulafaur Rasyidin dengan tepat sesuai dengan penjelasan para Ulama Salaf.?
↪️  Jawab :
Wallahu'alam bishowab, ustadz belum bisa menjawab pertanyaannya, ditunda pekan depan Insyaa Allah.

2️⃣ Jawaban dari pertanyaan pekan lalu tentang Kisah Umar mengirim surat kepada Sungai Nil.
↪️ Jawab :
Kisahnya disebutkan oleh Ibnu Katsir,
Tatkala Mesir dikuasai, Islam ekspansi sampai ke Mesir, maka penduduk Mesir datang kepada Amr bin Ash. Saat itu gubernur Mesir adalah Amr bin Ash.
Kemudian mereka berkata,
“Wahai Amir, nil kami sudah setahun ini tidak mengalir kecuali dengan cara ini.”
“Dengan apa?”
“Jika sudah malam ke 12 di bulan ini, kami akan melemparkan seorang gadis perawan dari orang tua yang ridha anaknya dijadikan tumbal, dan gadis itu kami pakaikan perhiasan dan baju yang bagus, lalu kami buang gadis itu ke sungai nil ini.”
Lalu nil mengalir kembali.
Maka Amr berkata, 
“Sungguh, ini adalah perbuatan yang tidak dibenarkan Islam, Islam menghancurkan praktek-praktek sebelum datangnya Islam (jahiliyah).”
Lalu, Amr bin Ash mengirim surat kepada Umar bin Khatab mengenai kondisi di Mesir. 
Dan Umar pun membalas surat Amr.
Kata Umar dalam suratnya,
"Wahai Amr jika kau telah membaca suratku, sesungguhnya aku mengirim suatu kartu dalam suratku tersebut, lemparkan kartu tersebut dalam sungai Nil."
Lalu Amr mengambil surat tersebut yang tertulis di dalamnya, 
“Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin kepada sungai Nilnya penduduk Mesir. Amma ba’du. Jika engkau mengalir karena dirimu sendiri dan atas urusanmu, maka janganlah mengalir, karena kami tidak butuh denganmu. Dan jika kamu mengalir karena perintah Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa, Dialah yang mampu mengalirkanmu, maka kami memohon kepada Allah ta’ala agar Allah mengalirkanmu.”
Maka Amr bin Ash pun melemparkan kartu Umar itu ke dalam sungai nil ketika dihari jumat. Dan pada hari sabtu Allah telah mengalirkan sungai Nil tersebut langsung tinggi mengalir.
Hadist ini atau Riwayat ini adalah riwayat yang dhoif, karena beberapa penyakit diantaranya, 
- Ibnu Lai'ah (orang yang bermasalah)
- Qois bin Jaz (dia tidak bertemu dengan sahabat)
Secara sanad tidak benar.
Wallahu'alam bishowab.

3️⃣ Dipenjelasan Ustadz sempat menyebutkan bahwa Muslim berselisih dengan Yahudi, apakah ini kisah Gubernur Amr bin Ash yang ingin membangun masjid megah dan menggusur tanah petak milik si Yahudi.?
↪️  Jawab :
Wallahu'alam bishowab.
Tepatnya kisah itu sebabnya seperti apa, karena dalam riwayat Imam Malik tidak disebutkan secara detailnya.
Hanya menyebutkan ada Muslim bersengketa dengan Yahudi. Dan Umar memandang kebenaran pada seorang Yahudi. Adapun sebab tepatnya wallahu'alam bishowab.

4️⃣ Setelah Rasulullah wafat, apakah sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab memakai sebutan Sayyidinah ketika berdoa atau bersalawat.? Kapan saja diperbolehkan untuk menyebutkan Sayyidah, mohon petunjuknya.!
↪️  Jawab :
Ucapan Sayyidinah, tidak diragukan bahwasanya Nabi adalah Sayyid. Kata Rasulullah shallahu'alaihi wasallam,
"Sesungguhnya aku adalah pemimpin anak2 Adam pada hati kiamat dan aku tidak sombong."
Rasulullah mengatakan ketika datang Sa'ad bin Muadz atau Sa'ad bin Ubadah, Rasulullah berkata kepada para sahabat, "sambutlah sayyid kalian."
Jadi istilah sayyid itu tidak jadi masalah.
Tapi sayyid yang sesungguhnya adalah Allah Subhanahu wa Ta'alaa tentunya.
Tapi kalau kita menyebut pemimpin kita dengan sayyid boleh, apalagi kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam maka boleh.
Yang jadi perselisihan ketika kita bershalawat dalam sholat, kalau diluar sholat tidak jadi masalah. Kita mengatakan sayyid atau almustasyfa, pujian2 kepada Nabi boleh2 saja selama tidak sampai pada sikap mengkhultuskan. Jadi Sayyid kepada Nabi tidak jadi masalah, bahkan kepada sebagian sahabat juga tidak jadi masalah. Dan Nabi menamakan dirinya Sayyid aku adalah pemimpin anak2 Adam pada hari kiamat.
Nabi juga menamakan Hasan sayyid, "sesungguhnya cucuku ini Hasan adalah Sayyid (pemimpin) dan Allah dengan sebab dia akan mendamaikan 2 pasukan kaum muslimin yang sangat besar pada suatu hari.
Yang menjadi perselisihan adalah sahalawat dalam sholat. Maka sebagian ulama mengatakan tidak pernah menggunakan sayyid salam sholat, karena ketika para sahabat meminta diajarka  bagaimana cara bershalawat kepada Nabi dalam sholat maka Nabi tidak menggunakan lafaz Sayyidinah.
Yang lebih hati2 kita tidak usah menambahkan sayyid dalam sholat.
Sebagaimana ketika adzan tidak perlu kita menambahkan sayyidina.
Tanpa lafaz Sayyid kita tidak merendahkan Nabi.
Tapi kalau diluar sholat dan adzan tidak mengapa kita mengatakan Sayyidina Muhammad.
Wallahu'alam bishowab.

5️⃣ Umar bin Khattab radhiallahu'anhu menolak dimuliakan dengan makanan yang dihidangkan untuknya, lantas bagaimana cara kita memuliakan pemimpin untuk saat ini, sementara kita melihat terkadang pemimpin dimuliakan dengan cara yang berlebihan.!
↪️  Jawab :
Umar dia mensikapi dirinya dengan mengatakan, "saya ini mengurusi harta kaum muslimin seperti saya wali anak yatim."
Ini pendapat Imam Syafi'i, beliau mengatakan, "seorang pemimpin ketika mengurus harta kaum muslimin seperti mengurus sebagaimana wali mengurus harta anak yatim."
Maksudnya bagaimana..?
Dalam Al Quran Allah sebutkan, 
QS. An-Nisa ayat 6:

وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِٱلْمَعْرُوفِ

"Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut." 
(QS. An-Nisa : 6)
Barangsiapa yang punya penghasilan maka jangan makan dari harta anak yatim. Barangsiapa yang kekurangan boleh memakai harta anak yatim dengan secukupnya.
Kata Umar "saya mengurus harta kaim muslimin sebagaimana saya mengurus harta anak yati. Kalau saya mampu maka saya tidak akan makan dari Baitul Maal.
Tapi Umar ngambil secukupnya. Itulah Umar.
Berbeda dengan aturan kita dizaman sekarang.
Menjadi pejabat itu adalah perkara yang berat, karena akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah pada hari kiamat.
Wallahu'alam bishowab.


📔 PENCATAT :
~ Tim Kajian Online Masjid Astra ~