ajian Online Interaktif Ikhwan & Akhwat
     - MASJID ASTRA -
SELASA, 23 Maret 2021
                09 Sya'ban 1442 H
Pukul, 19.45 WIB - Selesai

? Nara Sumber :
"Ustadz DR. Firanda Andirja, LC., MA."


~ KISAH MULIA SAHABAT HASAN DAN HUSSEIN - Bagian 3 ~


Melanjutkan pembahasan kisah dua cucu Nabi shalallahu'alaihi wasallam, Al Hasan dan Al Hussein radhiallahu'anhuma.
Pada pertemuan lalu telah dibahas bagaimana tentang Al Hasan radhiallahu'anhu yang mengorbankan kekhilafannya demi untuk persatuan umat sehingga dia menanggalkan kekuasaannya, kemudian meninggalkan dunia yang penuh dengan kemewahannya.
Kemudian Al Hasan pun pergi bersama Al Hussein ke Madinah untuk mengajarkan ilmu kepada masyarakat, sampai akhirnya Al Hasan radhiallahu'anhu dibunuh dengan diracun.
Ketika Al Hussein ingin mengetahui siapa yang meracuninya, dia tidak mau karena dia tidak ingin darah tertumpahkan karena sebab dia, dan dia rela menanggalkan kekuasaan demi persatuan umat.
Dan itulah yang dianjurkan oleh Nabi shalallahu'alaihi wasallam.

◆ Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda;

إِنَّ ابْنِي هَذَا لَسَيِّدٌ، إِنْ يَعِشْ يُصْلِحْ بَيْنَ طَائِفَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Sejatinya cucuku ini adalah seorang pemimpin besar. Dan bila ia berumur panjang, niscaya dia akan mempersatukan / mendamaikan antara dua kelompok besar ummat Islam yang sedang bertikai”
(HR Ahmad dan lainnya).

Kemudian setelah itu Muawiyyah radhiallahu'anhu mengambil tampuk kepemimpinan dan menjadi khalifah kaum muslimin, dan tahun tersebut disebut dengan "Amul Jamaah".

Muawiyyah radhiallahu'anhu bersikap baik kepada Hasan dan Hussein, memberikan pemberian tahunan kepada mereka dan dia tahu bagaimana jasa pengorbanan Hasan memberikan kekhilafahan kepadanya. Sehingga Muawiyyah punya perhatian besar, demikian juga sepeninggal Al Hasan, maka Muawiyyah radhiallahu'anhu masih terus memperhatikan Al Hussein. Tentunya Al Hussein bersedih ketika ditinggal oleh Al Hasan.
Dan Al Hasan meskipun kakak tapi dia seperti seorang ayah yang sangat perhatian kepada Al Hussein, meskipun mereka berbeda cuma setahun.

Di zaman Muawiyyah, dia tetap menghormati Al Hussein. Bahkan ketika Muawiyyah berhaji bertemu dengan Al Hussein, maka diapun menyapa Hussein dan mengatakan;
"Selamat wahai putra dari putri Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, wahai pemimpin pemuda kaum muslimin. Ini ada tunggangan aku siapkan untuk Abu Abdillah (Hussein), silahkan Abu Abdillah memakainya."
Maka disiapkanlah pelananya kemudian beliau mempersilahkan Al Hussein untuk menunggangi tunggangan tersebut.

Ini dalil bahwasanya Muawiyyah mengagungkan dan menghormati Al Hussein radhiallahu'anhu.

Kita tahu bahwa Ali bin Abi Thalib meninggal di Kuffah dan Ali bin Abi Thalib tinggal bersama Hasan dan Hussein dan keluarganya di Kuffah, dan pemerintahannya di Kuffah. 
Ketika zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman pemerintahan di Madinah, ketika zaman Ali bin Abi Thalib memindahkan pemerintahan ke Kuffah.
Karena mungkin dia melihat Kuffah adalah daerah yang rawan yang banyak orang-orang suka menentang.
Dengan ijtihad beliau pemerintahan harus di Kuffah. Kalau Kuffah sudah aman maka yang lain lebih aman.
Dan juga Kuffah dekat dengan perbatasan kerajaan-kerajaan orang-orang kafir sehingga perlu perhatian khusus.

Setelah tampuk kepemimpinan diberikan kepada Muawiyyah, dan pemerintahan pindah ke negeri Syam karena Miawiyyah adalah Gubernur Syam. Maka Hasan dan Hussein kembali ke Madinnah.

Ketika kabar tentang Al Hasan radhiallahu meninggal dunia, maka orang-orang Kuffah di Iraq mulai mengirim surat kepada Hussei memprovokasi.
Menunjukan bahwasanya mereka cinta kepada Al Hussein dan minta agar Hussein datang ke Kuffah dan menanggalkan baiat kepada Muawiyyah dan mereka membaiat Hussein
Karena Hasan dan Hussein sudah membaiat Muawiyyah.

Tetapi Hussein tidak akan melaksakan demikian. Tidak mungkin dia sudah berbaiat kepada Muawiyyah kemudian dia berkhianat.
Maka sampailah kabar ini kepada Muawiyyah bahwasanya orang-orang kirim surat kepada Hussein, maka Mauwiyyah mengirim surat kepada Al Hussein dan menanyakan masalah ini.

Kemudian Hussein memberikan jawaban kepada Muawiyyah, Hussein berkata;
"Telah datang padaku suratmu wahai Muawiyyah, dan aku sangat tidak pantas untuk sebagaimana beritaku yang sampai kepada engkau, itu semua tidak benar hanyalah fitnah."

Bagaimana Muawiyyah tabayyun kepada Al Hussein, dan Al Hussein menyangkal semuanya itu semua hanyalah fitnah.
"Dan kebaikan tidak ada yang memberi petunjukkan kepada kecuali Allah."

Hussei berkata;
"Dan aku sama sekali tidak ingin memerangi engkau wahai Muawiyyah, dan aku tidak menyelisi engkau wahai Muawiyyah."

Kemudian Muawiyyah menjawab suratnya Al Hussein dan berkata;
"Kami tidak mendapati Abu Abdillah (Al Hussein) kecuali seorang singa yang jagoan (hebat)."

Lihatlah bagaimana Al Hussein tidakningin menyelisihi Muawiyyah dan Muawiyyah menghormati Al Hussein radhiallahu'anhu.

Al Hussein mengisi hari-harinya dengan mengajar sunnah-sunnah Nabi shalallahu'alaihi wasallam. Sampai akhirnya ada peperangan, ketika Muawiyyah radhiallahu'anhu mengajak kaum muslimin untuk memerangi Bizantium kemudian Konstantania (Konstantinopel).
Muawiyyah melihat bahwasanya musuh yang paling bahaya adalah Romawi.
Sementara kondisi kaum muslimin sebelumnya dalam keadaan tidak stabil kemanannya, pertikaian antara Muawiyyah dan Ali. Saat kaum muslimin sudah bersatu padu saatnya Muawiyyah memikirkan ekspansi bagaimana menyebarkan dakwah Islam kedaerah luar. 
Karena tidak mungkin ke Romawi berdiam saja, suatu saat mereka akan menyerang kaum muslimin.

Maka saatnya Muawiyyah ingin melawan daulah Bizantium dan mengirim pasukan-pasukan pada tahun 47 Hijriah sampai tahun 48 Hijriah ke Binzantium.
Intinya sebagai pembuka jalan menuju ke Konstantania.

Ternyata pasukan yang dikirim pertama tahun 47 - 48 Hijriah mengalami kesulitan, banyak diantara kaum muslimin yang terkena penyakit menular dan banyak yang meninggal. Ketika itu musim dingin yang amat sangat, kemudian kaum muslimin menghadapi ujian yang sangat berat.

Ketika itu pasukan di pimpin oleh Fadhalah bin 'Ubaid al-Ausi, maka diapun mengirim surat kepada Muawiyyah minta pertolongan, setelah lama bertahan disana dan melakukan peperangan-peperangan.
Maka Muawiyyahpun mengirim bantuan pada tahun 49 Hijriah dengan pasukan yang begitu banyak sahabat.

◇ Diantara sahabat yang dikirim:
- Abdullah bin Umar
- Abdullah bin Zubair
- Abdullah bin Amr bin Ash
- Abu Ayyub Al Anshori
- Abdullah bin Abbas
- Al Hussein bin Ali bin Abi Thalib.
Dan pasukan bantuan tersebut di pimpin oleh Yazid bin Muawiyyah.

Dan pasukan perang ini telah di puji oleh Nabi shalallahu'alahi wasallam yaitu pasukan yang pertama yang menyerang Romawi yang kemudian yang menyerang masuk ke Konstantinopel.

◆ Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda;

أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ

”Pasukan pertama di kalangan umatku yang memerangi kotanya Kaisar (Konstatinopel), mereka diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.”
(HR. Bukhari)

Disitulah kemudian Abu Ayyub Al-Anshori radhiallahu'anhu meninggal dunia, dia masuk kedalam medan pertempuran padahal beliau sudah sangat tua ketika itu.

Pada tahun 56 Hijriah setelah perang Konstantinopel, Muawiyyah radhiallahu'anhu dia merasa akan meninggal dunia maka dia perlu pengganti.
Maka Muawiyyah mengangkat anaknya Yazid bin Muawiyyah diangkat sebagai Khalifah pada tahun 56 Hijriah.

Tentu ini ijtihad dari Muawiyyah dan tidak tahu pasti apa ijtihad dari beliau, tapi yang jelas para ulama mengatakan;
"Keinginan besar Muawiyyah adalah tidak terjadi pertikaian, dia memandang bahwasanya anaknya yang memegang tampuk kepemimpinan maka akan terjadi persatuan diantara kaum muslimin."

◇ Padahal ketika itu masih banyak sahabat-sahabat yang mulia, yaitu;
- Ibnu Umar
- Ibnu Abbas
- Abdullah bin Zubair
- Abdullah bin Amr bin Ash
- Al Hussein bin Ali
- Abdurahman bin Abi Bakr.
Mereka semua sahabat, sementara Yazid bukan sahabat, tapi Muawiyyah memilih Yazid.

◇ Sebagian Ulama mengatakan, 
"Sepatutnya Muawiyyah memilih dari seseorang sahabat yang terkenal bertaqwa dan tidak memilih anaknya."

Tapi kita tidak tahu pasti apa yang ada dibenak Muawiyyah, dan kita tahu bagaimana penduduk Syam begitu cinta dan ta'at kepada Muawiyyah dan juga begitu cinta kepada putranya yaitu Yazid.

Sebagian para ulama mengatakan bahwa ijtihad yang diambil oleh Muawiyyah kurang tepat, akhirnya menimbulkan permasalahan dan problem ketika beliau mengangkat putranya Yazid bin Muawiyyah sebagai Khalifah sebelum beliau meninggal dunia.

Apalagi disebut Yazid mempunyai beberapa kelebihan yang mungkin membuat Muawiyyah kagum.

◇ Seperti kata Ibnu Katsir;
Yazid bin Muawiyyah memiliki beberapa akhlak yang mulia seperti;
"Baik, sabar, pandai bicara, pandai bersyair, keberanian, ide yang tepat dalam masalah perpolitikan dan kekuasaan. Dan dia pernah memimpin perang Konstantinopel."

Ini yang menjadikan Muawiyyah memilih putranya, meskipun masih banyak sahabat yang lebih afdhol dari pada Yazid.
Kita tidak tahu permasalahn ketika itu, bagaimana kondisi penduduk negeri Syam, Muawiyyah punya ijtihad bisa sallah bisa benar dan kita hargai ijtihad beliau dan Allah lebih mengetahui.

Ketika Muawiyyah mengangkat anaknya menjadi khalifah sementara dia masih hidup, maka diapun pergi bertemu dengan sebagian sahabat untuk mendiskusikan hal ini membaiat putranya Yazid.

Muawiyyah memerintahkan Marwan bin Hakam gubernur kota Madinah untuk mengambil baiat dari penduduk kota Madinah terhadap Yazid, karena dikota Madinah banyak sahabat.

◇ Muawiyyah kirim surat kepada Marwan.
Muawiyyah berkata;
"Aku sudah tua dan aku khawatir terjadi perselisihan kalau aku meninggal dunia, dan aku harus memilih orang yang menggantiku kalau aku meninggal dunia. Wahai Marwan bin Hakam sampaikanlah kepada penduduk kota Madinah dan bagaiman jawaban mereka kabarkan kepadaku."

Ketika sampai kabar kepada penduduk kota Madinah bahwa Muawiyyah akan memilih penggantinya, maka banyak penduduk kota Madinah setuju, mereka berkata;
"Muawiyyah benar, diberi taufiq oleh Allah dan tidak jadi masalah."

Namun ketika disebut yang mengganti ya adalah Yazid mereka tidak setuju dam banyak penduduk Madinah yang tidak mau membaiat Yazid bin Muawiyyah.

Maka Marwan kemudian berkhotbah dan menyuruh penduduk untuk ta'at kepada khalifah dan menyuruh untuk membaiat Yazid, beliau berkata;
"Inilah Sunahnya Abu Bakar yang menunjuk Umar, apa salahnya Muawiyyah memilih Yazid."

Dibantah oleh Abdurrahman bin Abu Bakar, dia berkata;
"Beda antara Muawiyyah dan Abu Bakar, Abu Bakar ketika memilih dia tidak memilih dari keluarganya, dia tidak memilih anaknya, dia tinggalkan Bani Taim kemudian dia pergi kepada suku yang lain dari Bani Adi sukunya Umar bin Khattab, kemudian dia pilih Umar menjadi pemimpin katena dia memandang Umar pantas. Bagaimana engkau mau menyamakan dengan baiatnya Muawiyyah terhadap Yazid, ini baiatnya mirip dengan Baiatnya Heroclius dan Kisroh."

Akhirnya terjadi perdebatan, intinya ketika diangkat Yazid sebagai khalifah maka sebagian sahabat tidak setuju, bahkan sebagian sahabat kemudian meninggalkan kota Madinah, tidak mau ribut, tidak mau baiat dan pergi ke Mekah.

Ibnu Umar juga didatangi oleh Muawiyyah dan ditanya. Maka Ibnu Umar mengatakan;
"Dia jelaskan bagaimana Khulafaur Rasyidin memilih, dia mengatakan kalau para sahabat dahulu dia tidak memilih anak-anak mereka."

Intinya Ibnu Umar ada kritikan ke Muawiyyah, tetapi dia juga mengatakan,
"Saya tidak ingin memecah belah kaum muslimin."
Dan dia juga setuju dengan orang yang dipilihnya dan saya akan membaiat.
Dan Muawiyyah berkata;
"Yarhamukallahu"

◇ Diantara yang tidak mau membaiat;
- Abdullah ibnu Zubair
- Abdurrahman bin Abu Bakar
- Al Hussein bin Ali.

Intinya itu ijtihadnya Muawiyyah, dia punya cara pandang tentang penduduk Kuffah, penduduk Syam, penduduk Madinah. Kita juga tidak bisa menyalahkan Muawiyyah karena kondisi tidak semudah yang kita bayangkan.

Akhirnya Muawiyyah radhiallahu'anhu meninggal pada tahun 60 Hijriah dengan Usia 78 tahun, dan dia berkuasa kurang lebih sekitar 19 tahun 3 bulan 27 hari (19 thn 4 bln).
Dengan demikian resmilah Yazid bin Muawiyyah menjadi Khalifah kaum muslimin.

Pada tahun 60 Hijriah di bulan Rajab, Yazid memegang tampuk kepemimpinan dan dia sangat dicintai oleh penduduk negeri Syam, karena dia memberikan janji kepada mereka.
Apalagi mereka tau bapaknya adalah Muawiyyah dan Yazid pernah menjadi pemimpin dalam peperangan melawan Konstantinopel.
Akhirnya mereka sangat cinta kepada Yazid bin Muawiyyah.

Diantara kesalahan Yazid adalah dia sibuk memaksa Al Hussein dan Ibnu Zubair untuk membaiat dia.
Akhirnya Ibnu Zubair kabur ke Mekah dan bikin kekhilafahan, karena dia menganggap bahwa khilafah Yazid tidak benar, apalagi Yazid diangkat jadi khalifah sementara Muawiyyah masih hidup. Dan tidak ada dua khalifah, jadi dianggap tidak sah oleh Ibnu Zubair.
Akhirnya Ibnu Zubair pergi ke Mekah dan orang-orangpun mengangkat dia sebagai Khalifah di Mekkah.


▶️ Al Hussein ketika Muawiyyah meninggal dunia.

Adapun Al Hussein ketika Muawiyyah meninggal dunia maka lebih gencar lagi.
Bahwasanya penduduk kota Kuffah sudah mengirim surat kepada Hussein semenjak Hasan meninggal dunia untuk tinggalkan Muawiyyah.
Tapi Al Hussein tidak bisa karena dia sudah berbaiat kepada Muawiyyah, dan Muawiyyah juga sudah berbuat baik kepadanya dan tidak akan menyelisihi perintah kakeknya, membangkang dari pemerintahan yang sah.

Tapi kasus Yazid berbeda, Hussein belum berbaiat kepada Yazid.
Ketika Muawiyyah meninggal dunia maka semakin gencar surat, sampai disebutkan surat-surat dengan bawa nama sekitar 100.000 orang siap untuk membaiat Al Hussein di Kuffah.

◇ Kata Ibnu Katsir rahimahullah dalam Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah.

Terlalu banyak surat-surat datang kepada Hussein, mereka bilang Hussein kemarilah ke Kuffah.
Ketika penduduk Kuffah tahu Muawaiyyah sudah meninggal dan khalifahnya Yazid, mereka tidak suka dengan Yazid.

Kemudian mereka dengar juga Hussein pergi ke Mekah karena tidak mau membaiat Yazid, maka ini kesempatan. Mereka kirim surat sekitar 150 surat isinya sekitar 100.000 nama siap membaita Al Hussein dan tidak ingin membaiat Yazid.

Dan mereka mengatakan;
"Wahai Hussein Kami belum membaiat siapapun sampai sekarang, datanglah engkau kepada kami dan kami yang akan baiat engkau."

Akhirnya Hussein tergerak, dan Hussein punya pandangan ingin perbaiki umat.
Maksudnya menurut dia Yazid tidak pantas untuk jadi pemimpin, beda dengan bapaknya Muawiyyah. 
Dan saatnya harus ada Khalifah yang pantas di Iraq, maka Hussein siap menjadi pemimpin di Iraq.

Sebelum Hussein ke sana Hussein mengirim utusan ke Kuffah untuk mengecek kondisi di Kuffah, benar tidak surat-surat tersebut bahwa 100.000 orang siap membaiat Hussein.
Maka dikirimlah Muslim bin Aqil bin Abi Thalib (sepupunya) ke Iraq untuk mengecek kondisi disana.
Setelah Muslim bin Aqil sampai di Kuffah, maka datanglah 12.000 orang dari penduduk Kuffah membaiat atas nama Hussein dirumahnya salah seorang yaitu Haani bin Urwa.

Tatkala benar-benar kenyataan yang dia lihat bahwasanya semua orang cinta kepada Hussein, dan mereka sudah berbaiat langsung melalui perwakilan Hussein yaitu Muslim bin Aqil.
Maka Muslim bin Aqil kirim surat kepada Al Hussein.
Dia berkata;
"Wahai saudaraku Al Hussein sesungguhnya penduduk Kuffah semuanya bersamamu, engkau lihat suratku segera datang ke sini."

Akhirnya Al Hussein bin Ali bin Abi Thalib siap keluar dari Mekkah menuju ke Kuffah sesuai permohonan penduduk Kuffah.


▶️ Apa yang terjadi ketika Hussein siap berangkat ke Kuffah.

Nu'man bin Basyir al-Anshari  radhiallahu'anhu seorang sahabat yang kebetulan dia adalah Gubernur Kuffah.
Dia melihat kondisi gerak-gerik ini, dia seorang suabat yang Mulia, dia hanya memberikan perkataan secara Global;
"Bertaqwalah kepada Allah, janganlah kalian bersegera menuju fitnah dan perpecahan, ingat fitnah dan perpecahan akan banyak yang meninggal dunia, banyak darah-darah akan tertumpahkan dan banyak harta dirampas. Aku tidak akan membunuh orang yang tidak memerangiku, aku tidak akan menerkam orang yang tidak menerkamku.
Tapi kalau kalian ternyata memang menyelisihi, membatalkan baiat kalian dan menyelisihi imam kalian, maka aku akan menghantamnya dengan pedangku, dan aku berharap orang mengerti kebaikan lebih banyak dari pada yang terjebak dengan kebathilan."

Tetapi metode Nu'man bin Basyir ini tidak terang-terangan, tidak tegas dan bicara seperti itu aja, dia tidak suka fitnah.
Sikap yang ditunjukan oleh Nu'man bin Basyir ternyata tidak suka dan tidak disetujui oleh para penguasa di Dualah Ummawiyyah.
Salah seorang dari Bani Ummayah berkata;
"Wahai Nu'man bin Basyir, sikapmu ini menghadapi musuh seperti sikap orang lemah, tegaslah kalau memang bunuh ya bunuh saja. Kenapa kau lemah.?"

Maka Nu'man bin Basyir berkata;
"Aku dianggap orang lemah didalam ketaatan kepada Allah lebih baik dari pada aku dianggap orang mulia didalam kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Akhirnya sikap Nu'man bin Basyir Gubernur Kuffah yang kelihatan tidak tegas sampailah kepada Yazid bin Muawiyyah.
Yazid bin Muawiyyah tidak setuju akhirnya Nu'man bin Basyir dilengserkan / dima'zulkan, kemudian diganti dan penggantinya adalah Ubaidillah bin Ziyad yang menyuruh membunuh Hussein.

Ubaidillah bin Ziyad tadinya adalah Gubernur Basrah, maka dia diberi kekuasaan lebih luas. Basrah dan Kuffah sama-sama di Iraq dikuasai oleh Ubaidillah bin Ziyad.
Maka masuklah Ubaidillah bin Ziyad masuk ke Kuffah dengan menutup wajahnya, dan dia mendengar bahwasanya Al Hussein sedang berjalan menuju dari Mekah menuju Iraq.
Penduduk Iraq sedang menunggu kedatangan Hussein.

Ketika Ubaidillah bin Ziyad datang dengan rombongannya dan memakai penutup kepala, orang menyangka dia Hussein, dan orang-orang mengatakan;
"Selamat datang wahai putra dari putrinya Rasulullah, kau datang dengan kedatangan yang baik."
Banyak orang yang memberi salam, mereka menyangka bahwa yang datang adalah Hussein.

Tatkala dia tahu bahwa kondisi berat dan serius, ini penduduk Iraq sedang menanti kedatangan Hussein untuk membaiat. 
Ini membuat Ubaidillah bin Ziyad makin tau bahwa kondisi genting.

Ketika Ubaidillah bin Ziyad tau permasalahannya berat, maka diapun mengambil Maklumat, yaitu kabar-kabar informasi dari mata-mata tentang kondisi yang terjadi di Kuffah.
Dan dia tahu keberadaan Muslim bin Aqil yang sedang berada dirumahnya Hani bin Urwa.

Akhirnya Ubaidillah bin Ziyad menyuruh orang-orang untuk mengepung rumah Hani bin Urwa, dan pasukannya mengatakan; "Datangkan Muslim bin Aqil kepadaku, kalau tidak kau akan kami bunuh."

Hani bin Urwa berkata;
"Apakah mungkin aku akan menyerahkan tamuku untuk di bunuh, aku tidak akan melakukan ini semua."
Akhirnya diapun ditangkap dan di pukul wajahnya sampai hancur.

Tatkala Muslim bin Aqil mendengar kabar bahwasanya wajah Hani bin Urwa telah dipukul, maka dia meminta orang-orang yang telah membaiat tadibuntuk berkumpul bersama dia.
Ketika dia berkata, 
"Ayo berkumpul bersamaku,"
Ternyata yang berkumpul hanya 4000 dari 12.000.

Yang 4000 orang tadi datang mengepung istananya Ubaidillah bin Ziyad.
Kemudian Ubaidillah bin Ziyad memanggil pembesar-pembesar di Kuffah, kemudian dijadikan sarana untuk menundukkan penduduk kota Kuffah.

Ubaidillah bin Ziyad mengatakan;
"Bawa Kabilahmu dan tinggalkan Muslim bin Aqil, kalau kau bisa saya kasih kau duit sekian."
Selain ditakut-takuti dan di iming-imingi pemberian. Akhirnya mereka keluar sedikit demi sedikit tinggal ratusan.
Mereka ditakut-takut jangan mengikuti Muslim bin Aqil karena pasukan Syam akan datang mereka semua akan tewas, tinggalkan Muslim bin Aqil.

Akhirnya penduduk Iraq berkhianat dari 12.000 kemudian 4000 kemudiam ratusan dan terakhir tersisa 60 orang, tatkala menjelang Maghrib tinggal Muslim bin Aqil sendirian.
Kemudian Muslim bin Aqil berjalan sendirian, dia tidak tahu mau pergi kemana maka diapun ditangkap atas perintah Ubaidillah bin Ziyad.
Kemudian diperintahkan untuk di bunuh.

Ketika hendak meninggal dia sempat tulis surat kepada Hussein.
Dia mengatakan;
"Bawa pulang keluargamu wahai Hussein, jangan kau terpedaya oleh penduduk kota Kuffah, sesungguhnya mereka adalah teman-teman bapakmu dahulu yang bapakmu dulu berharap terpisah dari mereka, ingin mati meninggalkan mereka. Bapakmu dulu sudah bosan dengan mereka, mereka ini pengkhianat. Sesungguhnya penduduk kota Kuffah telah berdusta kepadamu dan telah berdusta kepadaku. Dan tidak ada pendapat bagi pendusta."

Kemudian Ubaidillah bin Ziyad menyuruh membunuh Muslim bin Aqil di hari Arafah, kemudian Hani bin Urwa juga dibunuh. Setelah keduanya dibunuh, orang-orang menjadi takut, karena mereka tau siapa yang dekat dengan Hussein maka akan mati.

Yazid bin Muawiyyah kirim surat kepada Ibnu Abbas. Ibnu Abbas adalah Ahlul Bait yang tertua.
Yazid mengatakan;
"Engkau adalah pembesar disukumu Bani Hasyim, kau dipandang oleh mereka, tahanlah Hussein jangan sampai dia berusaha terjadi perpecahan."

Ibnu Abbas membalas suratnya;
"Wahai Yazid, aku berharap keluarnya Hussein bukan pada perkara yang kau benci. Tapi aku akan menasehatinya."

Hussein keluar sehari sebelum terbunuhnya Muslim bin Aqil, dan dia tidak tahu kalau Muslim bin Aqil di bunuh.
Hussein keluar pada tanggal 8 Dzulhijjah 60 Hijraiah dan Muslim bin Aqil dibunuh tanggal 9 Dzulhijjah 60 Hijriah.
Yang menjadi masalah bahwa Hussein membawa keluarganya, semua anak-anaknya Ali bin Abi Thalib yang dari selain Fatimah dia bawa, ponakan-ponakannya dan semua Ahlul Bait ikut Hussein.


▶️ Ketika Hussein mulai keluar maka dia dihadang oleh banyak sahabat. 

▪️Diantara sahabat yang menasehati agar Hussein tidak keluar adalah Abdullah bin Abbas.

Abdullah ibnu Abbas adalah orang yang paling senior di antara Ahlul Bait ketika itu dari Bani Hasyim.

Ibnu Abbas berkata;
"Kemana engkau hendak pergi wahai putra Fatimah.?"
Kata Hussein;
"Aku akan pergi ke Iraq menuju kepada para penolongku."
Ibnu Abbas berkata;
"Aku tidak suka dengan arah pergimu ini ke Iraq, aku tidak setuju. Kamu pergi kepada satu kaum yang telah membunuh ayahmu Ali bin Abi Thalib, kalau seandainya kita tidak dihina oleh orang, aku akan tahan tanganku dikepalamu agar kau tidak pergi. Aku tidak akan biarkan kau pergi, aku ingin melakukan demikian, jangan kau pergi wahai keponakanku putra Fatimah."
Lalu Ibnu Abbas menangis

Kemudian Al Hussein berkata;
"Wahai Ibnu Abbas, seandainya aku terbunuh di tempat ini atau tempat itu lebih aku sukai dari pada aku terbunuh di kota Mekah."

Hussein tidak mendengar Ibnu Abbas, dia tetap berjalan. Kemudian tatkala sore hari Ibnu Abbas datang lagi kepada Hussein ingin memberi nasehat lagi.
Maka Ibnu Abbas berkata lagi;
"Wahai ponakanku, aku berusaha bersabar, tapi aku tidak sabar, aku khawatir kau berjalan menuju kebinasaan wahai Al Hussein. Ingat penduduk Iraq adalah kaum pengkhianat, jangan kau terpedaya dengan mereka. Tinggalah di negeri ini di kota Mekkah, engkau adalah pemimpin Hijaz penduduk kota Mekah, cucu Nabi hanya tinggal engkau, jangan pergi ke Iraq. Kalau memang mereka serius dengan engkau wahai Al Hussein, tulis surat sama mereka, lengserkan pemimpin kalian dan musuh kalian baru aku akan datang, kalau mereka sudah usir musuh mereka, lengserkan anak buah Yazid, baru kau datang kesana. Kalau kau memang harus pergi wahai ponakanku, pergilah ke arah Yaman, jangan pergi ke arah Iraq. Disana ada orang-orang yang akan menjagamu dan suku-suku yang akan membelamu. Lihatlah negeri yang sangat luas dan ayahmu banyak punya penolong disana."
(Ibnu Abbas tahu ini bahaya dan dia tidak bisa bersabar membiarkan Hussein pergi begitu saja).

Kemudian Ibnu Abbas berkata lagi;
"Ya sudah kau pergi ke Yaman saja, jauh dari pertikaian-pertikaian ini, tulis surat kepada mereka, kirimlah utusan-utusanmu kepada mereka, aku berharap akan datang kebaikan dari arah negeri Yaman."

Hussein berkata;
"Wahai putra pamanku, demi Allah engkau adalah pemberi nasehat yang sangat perhatian sama aku, yang sangat sayang kepadaku. Tapi aku sudah berazam untuk berjalan."

Ibnu Abbas berkata;
"Wahai Hussein kalau kau memang ingin pergi ke Iraq jangan bawa istrimu dan jangan bawa anak-anakmu, pergi saja sendiri, karena bahaya. Aku khawatir kau akan terbunuh sebagaimana terbunuhnya Utsman bin Affan sementara istrinya melihat dia terbunuh. Dia meninggal dihadapan keluarganya. Aku tidak ingin engkau meninggal dihadapan keluargamu. Pergilah sendiri jangan bawa keluargamu."
(Tapi Hussein tetap berjalan, sudah takdir).

▪️Diantara sahabat yang menasehati adalah Ibnu Umar.

Ibnu Umar datang, ada yang mengatakan dia di Madinah. Ketika dia mendengar Hussein mau pergi ke Iraq, Ibnu Umar segera berangkat, padahal jarak sudah berselang 3 hari, tapi dia menyusul.
Bagaimana perhatiannya Ibnu Umar.

Ibnu Umar berkata;
"Hendak kemana kau pergi.?:
Hussein berkata;
"Aku hendak pergi ke Iraq, kenapa aku hendak pergi ke Iraq, inilah ratusan surat-surat dan nama-nama yang sudah membaiat aku."
(Hussein tidak tahu kalau Muslim bin Aqil sudah meninggal dunia)

Kata Ibnu Umar;
"Jangan kau datangi mereka, wahai Hussein, aku sampaikan kepada engkau sebuah Hadits yang berkaitan dengan kakekmu Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam. Ingat Hadits ini wahai Hussein,
"Sesungguhnya Jibril datang kakekmu Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam, kemudian jibril menyuruh Rasulullah memilih dunia atau akhirat, maka kakekmu memilih akhirat meninggalkan dunia."
Dan kau adalah bagian dari darah daging Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam. Tidak ada yang menguasai dunia dari seorangpun dari kalian, tidak pantas kalian menguasai dunia.
(Seakan-akan Ibnu Umar berkata, lihatlah dan ikutilah cara kakekmu, tinggal dunia, tidak usah jadi penguasa atau khalifah)
Dan Allah memalingkan kalian dari dunia kepada akhir itu pasti yang terbaik pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Ibnu Umarpun sudah menasehati tetapi Hussein tidak mau, dan Hussein tetap bersikeras untuk berjalan, maka Ibnu Umarpun memeluk Hussein, kemudian Ibnu Umar mencium kening Hussein.
Kemudian Ibnu Umar berkata dengan perkataan yang menyedihkan;
"Aku titipkan orang yang akan terbunuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."
(Kemudian berjalanlah Hussein melanjutkan perjalanan)

▪️Diantara sahabat yang menasehati adalah Abdullah bin Zubair.

Ketika Hussein akan berjalan didatangi oleh Abdullah bin Zubair.
Dia berkata;
"Kemana kau hendak pergi.? Kau ingin pergi ke suatu kaum yang telah membunuh bapakmu dan telah meracuni kakakmu.?"

Hussein berkata;
"Lebih baik aku terbunuh ditempat ini dan tempat itu dari pada aku di bunuh di kota Mekah."

▪️Diantara sahabat yang menasehati adalah Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib.

Abdullah bin Jafar menulis surat kepada Hussein. Dia kirim melalui dua putranya yaitu Muhammad dan Aun.

Dalam surat tersebut dia berkata;
"Saya minta kepada engkau dengan nama Allah wahai Hussein, kalau kau baca suratku maka pulang, aku khawatir kepada engkau wahai Hussein kearah yang kau datangi (Iraq), aku khawatir kau binasa disana, aku khawatir keluargamu semua akan binasa."
(Tetapi Hussein tetap melanjutkan berjalanan)

▪️Diantara sahabat yang menasehati adalah Muhammad ibnu Hanafiah.

Muhammad Ibnu Hanafiah adalah saudaranya Hussein dari istri Ali yang lain.
Tatkala dia melihat suadaranya/kakaknya keluar dengan keluarganya, anak-anaknya, istrinya dan ponakam-ponakannya, maka diapun mengejar Hussein.
Kemudian dia menasehati;
"Bahwasanya ini sikap yang tidak tepat harus pergi meninggalkan Mekah menuju Iraq."

Tapi Hussein tidak terima, akhirnya Muhammad ibnu Hanafiyah menahan anaknya Hussein jangan ikut Hussein. Akhirnya Hussein agak marah kepada Muhammad.
Hussein berkata;
"Kau ingin anakmu selamat ditempat yang aku akan terbunuh, kau tahu aku akan terbunuh lalu kau biarkan anakmu selamat dan biarkan aku mati sendirian.."

Maka Muhammad membantah, dia berkata kepada kakaknya;
"Apa keperluanmu, engkau tertimpa musibah lantas mereka juga tertimpa musibah bersamamu, meskipun musibah yang menimpamu lebih besar bagiku dari pada anak-anakku yang mati."

Maksudnya Muhammad mengatakan,
"Saya menahan anak-anak saya bukannya saya lebih mereka dari pada engkau wahai Hussein. Engkau lebih saya sayangi, anakku mati masih lebih ringan dari pada engkau yang mati. Jadi tidak perlu anak-anak ikut mati."

Dan akhirnya Husseinpun terus berjalan menuju ke Iraq menuju ke wafatnya beliau radhiallahu'anhu.

Kita lanjutkan kepertemuan berikutnya bagaimana wafatnya Al Hussein radhiallahu'anhu.

Wallahu Ta'ala 'alam bishowab.


?  PENCATAT :
~ Tim Kajian Online Masjid Astra ~