Ramadhan-Ku Di Negeri Sakura Part #1

ditulis pada tanggal 01 Syawal 1445H

Oleh Bakharudin Yusuf

 

Mei 2018 - Alhamdulillah wa syukurilah, di awal Fiscal Year ’18 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program training untuk memperdalam ilmu mengenai design produk bus AC di negeri Sakura. Program ini merupakan program tahunan yang di selenggarakan oleh pihak Perusahaan untuk meningkatkan skill dari karyawan yang terpilih. Lama setiap Program yang dilakasanakan oleh peserta training adalah satu tahun dan terdapat persentasi akhir dipenghujung tahunnya guna mengetahui sklll yang sudah diperoleh selama melaksanakan training tersebut. Tempat training saya berada di 2 lokasi, yaitu di wilayah Osaka untuk belajar Bahasa Jepang selama 3 bulan pertama dan selanjutnya di Nagoya untuk mengikuti training di headquarter perusahaan.

Qodarullah pada bulan mei 2018 ini bertepatan dengan  bulan ramdhan 1439H. Sehingga pada tahun ini pula menjadi pengalaman pertama saya melakasanakn seluruh rangakain ibadah Ramadhan di negeri Sakura. Secara umum pada bulan Mei ini, negara jepang sudah memasuki musim semi . Dengan  suhu udara cenderung hangat (tidak panas namun masih banyak angin sejuk).

Selama bulan ramdhan ini, alhamdulillah semua kegiatan berjalan dengan baik dan lancar. Hanya perlu waktu adaptasi terkait perbedaan waktu makan sahur, lamanya shaum, dan waktu untuk berbuka. Karena pada musim semi ini, waktu subuh di Osaka sekitar jam 03.00 pagi dan akan berbuka sekitar jam 19.00 malam, sehingga kurang lebih pelaksanaan shaum ini sekitar 16 jam lamanya.

Selama melakasankan ibadah shaum ini, orang-orang jepang di sekitar saya benar-benar kagum dengan apa yang saya lakukan selama aktifitas ramdhan ini. Tidak sedikit dari mereka bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan ramdhan itu sendiri dan juga pertanyaan  tentang  keislaman lainnya. Salah satu yang menarik bagi mereka, mengenai kekutan fisik yang kita miliki, meskipun tidak makan dan minum selama 16 jam, namun kita masih bisa produktif dalam beraktifitas. Menurut logika mereka, dengan tidak adanya asupan makanan kecenderungan seseorang semakin lama akan semakin menurun produktifitas dan daya fikirnya. Namun dengan penjelasan dan diskusi ringan yang saya sampaikan, akhirnya mereka sedikit memahami tentang alasan, how to dan goal dari aktifitas puasa yang di lakukan olah seorang muslim.

Selain itu, ada satu pertanyaan lagi yang membuat mereka penasaran tentang kehidupan seorang muslim dalam kesehariannya. Mereka bertanya,mengapa orang muslim selalu menggunakan tangan kanannya saat sedang makan. Pertanyaaan yang cukup menarik bagi saya untuk memutar otak agar jawaban yang disampaikan tidak sekedar dari dalil yang ada, namun bagaiamana bisa menyampaikan jawaban dengan memasukan sedikit logika ke mereka. Alhamdulillah saat itu saya coba menjawabnya dengan contoh yang sangat sederhana. Yaitu bagaimana kebanyakan  orang melakukan aktivitas pembersihan saat setelah buang air kecil atau besar. Kebanyak orang akan menggunakan tangan kirinya untuk membantu aktifitas tersebut. Walaupun menggunakan air atau tisu, namun tangan kiri mereka akan secara langsung dekat dengan proses area pembersihan.

 

Bersambung…