Senja Namanya

Dwi Dara Septi Putriani • 9 Mei 2021

Senja Namanya

Pilihan terberat adalah memilih keluarga atau pekerjaan. Tapi aku rasa itu bukan dua pilihan yang memiliki makna sejajar. Keluarga tak pantas disejajarkan dengan pekerjaan. Jelas nomer satu. Tapi pekerjaan juga untuk keluarga. Sangat membingungkan. Semua bisa sejalan jika tak ada hambatan dan halangan. Aku harus memilih keluarga dan meninggalkan pekerjaanku.

Aku seorang pekerja di perusahaan, tepatnya security perusahaan. Kerjaku terjadwal shift, bisa pagi, sore, dan malam. Keputusanku mengundurkan diri bermula pada satu tahun lalu. Aku menikahi seorang wanita di desaku yang terkenal dengan makanan kapal selam dan krupuk ikannya, yang kemudian aku ajak merantau ke pulau seberang yaitu ke ibu kota. Kebahagian kami begitu lengkap saat istriku mengandung anak pertama kami, begitu kujaga.

Kehamilannya terlihat sangat baik-baik saja. Gajiku cukup untuk membayar kontrakan dan makan sehari-hari juga vitamin kehamilannya. Setiap bulan kami cek kandungannya, untuk memastikan kesehatan istri dan calon bayi kami sehat dan baik-baik saja. Sesekali aku bawakan makanan kesukaannya sepulang dari kerja. Hari-hari kami begitu indah, calon bayi kami tumbuh sesuai dengan usianya, perkembangannya bagus, berat badannya terus bertambah. Istriku juga tak ada keluhan sama sekali. Masuk bulan sembilan, kami sudah mempersiapkan semuanya, baju-baju dan perlengkapan persalinan sudah kami siapkan. Jika istriku kontraksi kami siap semua tanpa sibuk menyiapkan lagi dan mengantisipasi barang yang tertinggal.

Pagi itu istriku kontraksi, aku langusng membawanya ke rumah sakit daerah terdekat. IGD adalah tujuan utamaku, istriku langsung ditangani dengan sigap. Di cek tensinya, diambil darahnya, dipasang infus, dan dicek sudah masuk bukaan keberapa. Hampir bukaan lengkap kata dokter, aku diminta mengeluarkan sarung, handuk, baju bayi dan semuanya. Istriku dibawa ke ruang tindakan tak jauh dari IGD. Dokter, bidan, dan perawat sudah siap semua. Aku mendampingi istriku di sampingnya, kugenggam erat tangannya. Aku terus berdoa untuk keselamatan istri dan putri pertama kami. Istriku, melahirkan putri cantik kami. Beratnya 3,2 kg dan panjangnya 49 cm. Wajahnya begitu mirip dengan ibunya, sama-sama cantik.

Tak lama setelah melahirkan keadaan istriku menurun, istriku mengalami pendarahan hebat. Tak berselang lama, tiga jam setelah istriku melahirkan. Istriku harus meninggalkan kami. Senja itu aku sangat kehilangan, sangat sangat kehilangan. Senja yang akan kuingat seumur hidupku. Senja yang tak pernah kuharapkan sebelumnya. Sebelum putri kami lahir, kami sudah membayangkan kami berdua merawat dan membesarkan putri kami. Harapanku sirna, rasanya pupus. Tapi ada putriku yang harus aku jaga. Harus aku besarkan. Rasanya sedih, merantau dan jauh dari keluarga, kehilangan istri saat anak kami lahir.

Pemakaman istriku berlangsung lancar, hanya dihadiri tetangga dekat. Keadaan membuat keluarga istriku tak bisa datang ke ibu kota.

Kehidupan setelah ini harus berjalan, aku harus bekerja dan menjaga putriku. Memiliki tetangga yang baik, putri kecil kami aku titipkan ke tetangga bergantian. Sebenarnya tetangga kami yang menawarkan. Ketika aku tak kerja aku di rumah menjaga putri kami. Ketika malam, siang, atau pagi aku sedang kerja, putri kami bersama tetangga.

Malam, aku habiskan berdua dengan putri kecil kami. Wajahnya mengingatkan pada istriku. Sangat teduh, memori bersama istriku tercinta terpanggil. Rasa bersalahku tak bisa menjaga anakku dalam keseharian karena harus bekerja. Membayar orang untuk menjaga anak kami tentu gajiku tak cukup karena aku harus membeli popok, susu, perlengkapan bayi.

Hal ini membuatku memutuskan untuk kembali ke desa. Aku memutuskan resign dari pekerjaanku. Di desa ada keluargaku yang bisa membantu menjaga putri kami. Aku bisa mengurus kebun kecil yang akan aku beli dari tabunganku selama di ibu kota. Hidup kadang memang tak sesuai rencana, tapi yakinlah rencana Allah pasti yang terbaik. Skenario Allah yang terbaik untuk hamba-Nya. Di desa aku kerja seadanya, yang penting aku bisa bersama putriku tercinta. Senja namanya.

 

Dwi Dara Septi Putriani

PT Letawa, Astra Agro Lestari

 

 

Perusahaan Grup Astra
Astra Agro Lestari
Wilayah Grup Astra
Palu (Sulawesi Tengah)