Amalan-Amalan Terbaik

Bang Pitung • 6 April 2021

 

TABLIGH AKBAR Online Interaktif Ikhwan & Akhwat.
Launching Program Relawan Donor Darah 
     - MASJID ASTRA -
JUMAT, 02 April 2021
              19 Sya'ban 1442 H
Pukul, 08.30 WIB - Selesai

📔 Nara Sumber :
"Ustadz DR. Firanda Andirja, LC., MA."


~ AMALAN-AMALAN TERBAIK ~


Tentang amalan-amalan terbaik perlu kita pelajari karena bahwasanya umur kita terbatas, dan juga potensi dan kemampuan kita terbatas.
Kita manusia adalah makhluk yang penuh dengan kelemahan, maka kita harus mengenal potensi kita agar bisa kita gunakan semaksimal dan seoptimal mungkin.
Dan ini juga bukan hanya difikirkan oleh kita, juga difikirkan oleh para sahabat, bagaimana bisa melakukan amalan yang terbaik. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala yang memerintahkan dalam Alquran untuk berlomba.
Kalau kita lihat ayat-ayat berkaitan dengan beramal sholeh maka ayat-ayat datang dalam konteks memacu, berlomba-lomba dan cepat tidak ada tunda-tunda.

★ Allah Ta'ala berfirman;

فَاسۡتَبِقُوا الۡخَيۡرٰتِؕ 

"Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan."
[QS. Al-Baqarah : 148]

★ Demikian juga Allah Ta'ala berfirman;

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
[QS. Ali-Imran : 133]

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh untuk bersaing ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang nikmat Surga.

★ Allah Ta'ala berfirman;

 وَفِىۡ ذٰلِكَ فَلۡيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوۡنَ

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.
[QS. Mutofifin : 26]

Kita disuruh berpacu dalam urusan akhirat, karena kita tahu hidup kita didunia sementara dan kehidupan sesungguhnya yang abadi adalah diakhirat kelak.
Maka potensi yang kita miliki sekarang, kita harus efektifkan semaksimal mungkin untuk bisa melakukan amalan terbaik.

Datang dalam banyak Hadits dimana para sahabat bertanya kenapa Nabi shalallahu'alaihi wasallam tentang amalan-amalan yang terbaik. Tidak lain karena mereka ingin bisa melakukan yang maksimal dan optimal, mengingat potensi yang mereka miliki terbatas.
Yang menakjubkan Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam menjawab dengan berbagai macam jawaban, tidak hanya dengan satu jawaban ketika ditanya tentang amalan terbaik.

◇ Sebagian Ulama mengatakan kenapa Rasulullah menjawab dengan berbagaia macam jawaban;
"Rasulullah menjawab ditinjau dari penanya, Rasulullah melihat potensi masing-masing penanya."


💠 Diantara Hadits-Hadits Tentang Amalan Terbaik.

◆ Dari Abdullah Ibnu Mas'ud radhiallahu'anhu;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

"Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah.” Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku minta tambah kepada beliau, pasti beliau akan menambahkan kepadaku."
(HR. Bukhari no. 527, 5970; Muslim no.139/85)

◆ Dari Ibnu Umamah Al Bahili radhiallahu'anhu;

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِعَمَلٍ قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عَدْلَ لَهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِي بِعَمَلٍ قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ

Dari Abu Umamah beliau berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, perintahkan kepadaku (untuk mengerjakan) suatu amalan. Rasul bersabda: Hendaknya engkau berpuasa, karena (amalan itu) tidak ada tandingannya. Aku (Abu Umamah) berkata (lagi): Wahai Rasulullah, perintahkan kepadaku (untuk mengerjakan) suatu amalan. Rasul bersabda: Hendaknya engkau berpuasa, karena (amalan itu) tidak ada bandingannya 
(H.R Imam an-Nasaai dan Imam Ahmad dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Albany)

◆ Dari Mar bin Abbasah;
Bahwasanya Nabi shalallahu'alaihi wasallam berkata kepada seseorang.
"Nabi berkata, ada dua amalan adalah amalan yang terbaik kecuali ada orang yang bisa mengamalkan keduanya, yaitu Haji Mabrur atau Umroh."
(HR. Imam Ahmad)

◆ Dari Abu Musa Al Asyary;

قَالُوا يا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الإِسْلامِ أَفْضَلُ قَالَ: مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدِهِ أخرجه البخاري.

Mereka bertanya kepada Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam,
“Wahai Rasulullah, Islam bagaimanakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang lisan dan tangannya selamat (tidak menyakiti) orang-orang Muslim lainnya.” 
(HR. Al-Bukhari).

Lisannya dia jaga, tangannya dijaga, komentarnya dia jaga tidak ganggu orang lain, statusnya dia jaga tidak ganggu orang lain. 
Ini muslim yang baik berusaha tidak ganggu orang lain.

◆ Dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,

 قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ قَالَ : « لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ ». قَالَ : فَأَعَادُوْا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا . كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ : « لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ ». وَقَالَ فِيْ الثَّالِثَةِ : « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ . لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى » . 

Dikatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Amalan apa yang setara dengan jihad fii sabiilillah? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kalian tidak bisa (mengerjakan amalan yang setara dengan jihad).” Para shahabat mengulangi pertanyaan tersebut dua kali atau tiga kali, dan Nabi tetap menjawab: “Kalian tidak bisa (mengerjakan amalan yang setara dengan jihad).” Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada kali yang ketiga: “Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah itu seperti orang yang berpuasa, shalat, dan khusyu’ dengan (membaca) ayat-ayat Allah. Dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala itu kembali.”
(HR. Bukhari)

◆ Hadits yang Masyhur dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu;

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ 

"Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: “Janganlah engkau marah”.
(HR. al-Bukhari)

◆ Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, 
“Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” 
(HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi).

◆ Dalam riwayat lain dikatakan;
"Ya Rasulullah tunjukanlah kepadaku satu amalan yang menjauhkan aku dari kemurkaan Allah, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam menjawab, 
"Jangan marah maka kau akan selamat dari kemurkaan Allah."

◆ Dalam hadits yang lain mereka bertanya tentang;
"Ya Rasulullah siapa manusia yang paling baik yang dicintai oleh Allah, maka Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam berkata,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ وَأَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Daripada Ibnu ‘Umar, bahawasannya ada seorang laki-laki yang mendatangi Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam. Ia berkata : “Wahai Rasulullah, manusia apa yang paling dicintai oleh Allah?. Dan amal apa yang paling dicintai oleh Allah ?”. 
Nabi menjawab, "Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lain. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk suatu keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan penuh."
(HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Status: Hadis Hasan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Kalau kita perhatikan dari hadits-hadits tersebut, ternyata Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam ketika menjelaskan amalan yang terbaik, beliau menjawab dengan berbagai macam jawaban, tidak hanya satu jawaban.

》Rasulullah tidak mengatakan yang terbaik adalah Birulwalidain, karena kalau begitu banyak yang mungkin orang tuanya sudah tidak ada, bagaimana dia mau mengamalkan amalan terbaik.
》Rasulullah juga tidak mengatakan yang terbaik adalah Jihad, karena tidak semua orang mendapat kesempatan untuk berjihad. Banyak jihad-jihad palsu yang terjadi sekarang yang tidak sesuai syariat.
》Rasulullah juga tidak mengatakan bahwasanya yang terbaik adalah Puasa secara mutlak, karena tidak semua orang mampu untuk berpuasa.

Sehingga jawaban Nabi shalallahu'alaihi wasallam bervariasi. 
Inilah yang dibahas oleh para Ulama kenapa jawaban Nabi menyebutkan banyak variasi, karena ketika Nabi memberikan jawaban tersebut melihat kondisi si penanya atau melihat kondisi orang yang diajak oleh Nabi siapa dihadapannya.

Contoh.. Ketika Nabi memberi nasihat jangan marah.
Bisa jadi Nabi tahu kalau orang tersebut suka marah-marah, sehingga ini nasihat yang terbaik baginya, karena kalau dia tidak marah akan terbuka banyak kebaikan bagi dia dan orang lain.

Ada yang fokus terhadap Al-Quran, dia punya potensi untu hafal Quran dan mengajarkannya.

◆ Rasulullah shallallahu'alaihi waSallam bersabda;

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)

Ada seorang muslim yang memang tidak mampu untuk menghafal Quran, jangan dipaksakan untul mondok. Kita cari potensi yang lain, mungkin dia kuat untuk membantu orang susah, atau dia punya kecerdasan dalam Kimia atau Fisika atau Matematika sehingga dia bisa memberi sumbangsih kepada Islam dan kaum Muslimin dari sisi yang lain.

◇ Kata para Ulama, diantara kesalahan adalah;
"Memaksa seseorang untuk menekuni sesuatu yang bukan potensinya, itu adalah sebuah kesalahan."


💠 Penjelasan Para Ulama.

Dari sini kita dapati penjelasan para Ulama, mereka mengatakan bahwasanya;
"Kebanyakan amalan terbaik kembali kepada potensi seseorang apa yang mampu dia lakukan."

◇ Salah satu tinjauan amalan terbaik kembali kepada;
1. Kondisi orang tersebut
2. Kondisi kaum muslimin yang ada ketika itu.
Ini diantara dua hal yang paling mempengaruhi amalan terbaik.

🔰Diantara Faktor Syariat yang menjadikan Amalan Terbaik.

1️⃣ Amalan terbaik dipengaruhi oleh kondisi dan potensi masing-masing orang.

▪️Dijelaskan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah.
"Bisa jadi suatu amal tertentu lebih baik pada seseorang, namun bukan yang terbaik bagi orang lain."

CONTOH : 
⚡Ada orang kaya yang ternyata dia agak pelit, maka apa amalan yang terbaik bagi dia.
"Amalan yang terbaik bagi dia adalah dia disuruh sedekah, jangan katakan yang terbaik adalah sholat malam atau puasa, karena itu akan bikin dia jadi tambah pelit. Karena dia tidak akan mengeluarkan hartanya."
Dia harus bersedekah agar bisa melawan nafsunya yang pelit terhadap hartanya.

⚡Seorang yang alim yang dia mengerti tentang sunnah-sunnah Nabi shalallahu'alaihi wasallam, dia mengerti tentang hukum-hukum fiqih halal dan haram, dia tahu jalan-jalan kebaikan, tahu bahaya jalan-jalan keburukan.
"Maka yang terbaik bagi dia adalah bercampur dengan masyarakat, mengajarkan ilmu kepada mereka, menasehati mereka. Itu lebih baik bagi dia daripada dia bersendirian kemudian sholat, baca Quran dan bertasbih saja, lebih baik dia mengajarkan orang. 
Sebaliknya ada orang yang tidak pandai dengan ilmu agama lebih baik dia baca Quran."

⚡Seorang penguasa yang Allah telah berikan kekuasaan kepada dia untuk memberi hukum diantara hamba-hamba Allah;
"Dia duduk sebentar untuk mengurusi urusan masyarakat, menolong orang yang didzalimi dan menghukum orang yang berbuat dzalim. Menegakkan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala, menolong orang diatas kebenaran, menghukum orang dalam kebathilan.
Itu lebih afdhol daripada ibadah orang lain yang bertahun-tahun.
Karena berkaitan dengan kemaslahatan umat.

◇ Ibnu Taimiyyah pernah berkata;
"Bahwasanya Imam yang adil dan penguasa yang adil adalah seorang mujahid yang terbaik dizamannya."

Ini diantara faktor yang menjadikan amalan terbaik adalah faktor masing-masing orang tersebut, ini di lihat berdasarkan syariat, yang satu dengan yang lainnya berbeda amalan terbaik bagi dia.

2️⃣ Amalan terbaik dipengaruhi oleh kondisi kebutuhan kaum muslimin terhadap dirinya.

Semakin besar kebutuhan kaum muslimin terhadap dirinya maka semakin besar pahala yang dia dapatkan.

CONTOH :
⚡Allah menyebutkan tentang keutamaan amal sholeh yang bisa membuat seseorang masuk kedalam surga.

★ Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Balad ayat 11-16 ;

فَلَا اقۡتَحَمَ الۡعَقَبَةَ

11. tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar?

وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا الۡعَقَبَةُ

12. Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?

فَكُّ رَقَبَةٍ

13. (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya),

اَوۡ اِطۡعٰمٌ فِىۡ يَوۡمٍ ذِىۡ مَسۡغَبَةٍ

14. atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan,

يَّتِيۡمًا ذَا مَقۡرَبَةٍ

15. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,

اَوۡ مِسۡكِيۡنًا ذَا مَتۡرَبَةٍ

16. atau orang miskin yang sangat fakir.
[QS. AL-Balad : 11 - 16]

- Memberi makan kepada faqir miskin secara umum adalah ibadah yang mulia, terlebih lagi ketika di musim kelaparan.
Sehingga kondisi masyarakat yang semakin membutuhkan menjadikan amalan menjadi semakin besar pahalanya.
Karena berbeda kita memberi makan kepada faqir miskin dihari-hari biasa dengan kita memberi faqir miskin dihari kelaparan, pahalanya lebih besar.
- Atau membantu seorang miskin yang super miskin (tidak punya apa-apa).
Orang yang kita bantu semakin sulit maka pahala kita semakin besar.

Dari sini, karena kita ingin mengajak kaum muslimin untuk membantu kaum muslimin yang lainnya dari sisi Donor Darah, mengingat kebutuhan darah bagi kaum muslimin sangat tinggi.
Maka diantara amalan terbaik adalah membantu orang lain terutama ketika mereka dalam kebutuhan yang mendesak.

Karenanya diantara kesalahan sebagian orang memandang bahwa ibadah itu hanyalah hubungan antara seorang dengan Rabbul'alamin.
Padahal ibadah yang diperintahkan oleh Allah juga adalah bagaimana kita berbuat baik kepada sesama kaum muslim. 
Bagaimana berinteraksi sosial kepada sesama manusia secara umum dan sesama kaum muslimin secara khusus.

Dalam Alquran banyak sekali ayat-ayat yang menyuruh kita untuk berbuat baik kepada orang lain, ayat-ayat tentang berbuat baik kepada kerabat, kepada anak yatim, kepada Ibnu sabil, kepada orang miskin, dn masih banyak lagi.
Ini menunjukan keperdulian Islam terhadap masyarakat yang dalam kondisi sulit, banyak sekali ayatnya dalam Alquran.

Diantaranya;
★ Allah Ta'ala berfirman Quran Surat An-Nisa Ayat 114;

لَا خَيۡرَ فِىۡ كَثِيۡرٍ مِّنۡ نَّجۡوٰٮهُمۡ اِلَّا مَنۡ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوۡ مَعۡرُوۡفٍ اَوۡ اِصۡلَاحٍۢ بَيۡنَ النَّاسِ‌ ؕ وَمَن يَّفۡعَلۡ ذٰ لِكَ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰهِ فَسَوۡفَ نُـؤۡتِيۡهِ اَجۡرًا عَظِيۡمًا

"Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar."
[QS. An-Nisa : 114]

◇ Diantara tingkatan tertinggi dalam tingkatan kaum muslimin;
1. Muslim
2. Mukmin
3. Muhsin

◇ Diantara makna Muhsin yaitu;
- Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
- Engkau berbuat baik kepada orang lain.

◇ Para Ulama Tafsir menafsirkan;
"Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan."

★ Allah Ta'ala berfirman;

اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ

"Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."
[QS. Al-A'raf : 56]

Itulah kebiasaan para Anbiya dan para Sahabat, ibadah mereka bukan hanya sebatas diantara mereka dengan Allah, tapi diantara ibadah yang mereka agungkan adalah bagaimana berbuat baik kepada sesama.

◆ Dari Jabir Ibnu Abdillah, beliau berkata;
"Tidaklah Nabi shalallahu'alaihi wasallam diminta sesuatu apapun kemudian Nabi bilang tidak. Itu tidak ada dalam kamus Nabi."
Nabi kalau dimintai sesuatu pasti bilang iya selama dia mampu, tidak pernah Nabi bilang tidak.

◆ Dalam satu Hadist;
Ketika Nabi shalallahu'alaihi wasallam dilihat oleh seorang wanita baju beliau lusuh, maka Nabi sahalallahu'alaihi wasallam diberikan hadiah oleh wanita tersebut baju yang bagus. 
Sang Perawi berkata;
"Maka Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam pun mengambil baju bagus tersebut karena dia lagi butuh bajunya lusuh."
Baru Rasulullah pakai bajunya kemudian datang seorang sahabat berkata;
"Ya Rasulullah betapa indah bajumu tersebut, ya Rasulullah berikan baju itu kepadaku."
Maka Rasulullah lepas baju tersebut dan Rasulullah berikan kepada sahabat tersebut. Padahal Rasulullah lagi butuh kepada baju tersebut. 
Rasulullah berkata;
"Kalian tidak mungkin mendapati aku Bakhil (pelit).

◆ Dalam Hadits lain;
Ada seorang Arab Baduy meminta ghonimah karena dia lihat Rasulullah dapat ghonimah banyak, dia minta kambing diantara dua gunung, kambing banyak sekali dan Rasulullah kasih. Dan Arab Baduy tersebutpun masuk Islam, kemudian dia berkata kepada kaumnya;
"Wahai kaumku masuk Islamlah kalian, Muhammad kalau memberi sesuatu tidak pernah takut miskin."

◆ Dalam Hadits Masyhur;
Ketika Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam baru didatangi oleh Malaikat Jibril dalam keadaan ketakutan, Rasulullah berkata kepada Khadijah;
"Sungguh aku khawatir keburukan menimpa diriku."
Khadijah berkata;
"Tidak mungkin, Allah tidak akan menghinakan engkau, engkau suka menyambung silahturahim, engkau suka jujur, engkau membantu orang yang tidak mampu, engkau suka menyambut tamu, engkau membantu orang terkena musibah."

Jadi Nabi sebelum diangkat menjadi Nabi sifatnya sudah seperti itu, apalagi setelah diangkat menjadi seorang Nabi.

⚡Bicara tentang Sahabat, merekapun demikian.

◆ Lihatlah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu ketika dia ditekan oleh orang-orang musyrikin dikota Mekah, sehingga akhirnya diapun meninggalkan kota Mekah berhijrah, ingin bisa beribadah dibumi yang lain.

Ketika sudah berjalan jauh, bertemu dengan seorang kafir yang bernama Ibnu Dughunnah.
Dia berkata;
"Wahai Abu Bakar kemana engkau hendak pergi.?"
Abu Bakar berkata;
"Aku ingin beribadah kepada Allah, mereka melarangku untuk ibadah."
Maka berkata Ibnu Dughunnah;
"Orang seperti engkau wahai Abu Bakar tidak boleh keluar dari negerinya dan tidak boleh di usir dari negerinya, engkau suka menyambung silahturahmi, engkau senantiasa jujur, engkau selalu membantu orang yang susah, engkau bekerja hasilnya untuk mereka, engkau suka menjamu tamu dan engkau suka membantu orang yang terkena musibah, orang seperti engkau tidak mungkin di usir. Engkau kembali kekota Mekah, beribadah kepada Tuhanmu dan aku yang akan menjadi jaminan."

◆ Suatu hari ketika Nabi bertanya kepada para sahabat;
Siapa yang hari ini puasa, kata Abu Bakar, 'saya ya Rasulullah'. 
Siapa yang hari ini memberi makan kepada faqir miskin, kata Abu Bakar, 'saya ya Rasulullah'. 
Siapa diantara kalian yang menjenguk orang sakit, kata Abu Bakar, 'saya ya Rasulullah'.
Siapa yang hari ini melayat orang yang meninggal, kata Abu Bakar, 'saya ya Rasulullah'.
Kata Nabi;
"Tidak mungkin ini berkumpul pada seorang dalam satu hari mengerjakan ini semua, kecuali masuk surga."

Allah sudah puji para sahabat dalam Alquran.
★ Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Surat Al-Hasyr Ayat 9;

وَالَّذِيۡنَ تَبَوَّؤُ الدَّارَ وَالۡاِيۡمَانَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّوۡنَ مَنۡ هَاجَرَ اِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُوۡنَ فِىۡ صُدُوۡرِهِمۡ حَاجَةً مِّمَّاۤ اُوۡتُوۡا وَيُـؤۡثِرُوۡنَ عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌ ؕ وَمَنۡ يُّوۡقَ شُحَّ نَـفۡسِهٖ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ‌ۚ

"Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."
[QS. Al-Hasyr : 9]

Allah sebutkan ciri-ciri penghuni Surga,
★ Allah Ta'ala berfirman dalam Quran Surat Al-Insan Ayat : 8-9 ;

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

"Dan mereka memberikan makanan yang dia sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan perang."

اِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِـوَجۡهِ اللّٰهِ لَا نُرِيۡدُ مِنۡكُمۡ جَزَآءً وَّلَا شُكُوۡرًا‏

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu."
[QS. Al-Insan : 8-9]

◇ Oleh karenanya sepakat Para Ulama;
"Membantu non muslim tidak jadi masalah, apalagi membantu sesama kaum muslimin."

Perhatikan dalam ayat tersebut diatas, mereka memberi makanan yang mereka suka makanan tersebut.
Jadi bukan makanan yang sudah mau basi atau yang mereka tidak suka atau tidak habis lalu mereka kasih orang, tidak.
Jadi sahabat kalau sedekah tidak asal-asalan, sedekah dengan apa yang mereka sukai.

★ Allah Ta'ala berfirman;

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ 

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."
[QS. Ali-Imran : 92]

Disebutkan dalam perang Badar ketika para sahabat menang, kemudian sebagian orang-orang kafir Quraisy ditawan, maka mereka menjalankan ayat tersebut.

Mereka memberi makan kepada tawanan perang, mereka memberi roti dan ada Kurma. Roti mereka berikan kepada tawanan perang yang kafir, sementara mereka makan kurma. 
Jelas Roti lebih enak dari pada Kurma, sampai tawanan perang merasa malu bagaimana kami tawanan perang, kami makan roti sementara yang memberi makan Kurma.

Intinya, sikap suka menolong orang lain adalah kebiasaan Nabi shalallahu'alaihi wasallam dan para Sahabat bahkan kebiasaan para Nabi-nabi dahulu.

◇ Diantaranya kisah Nabi Musa 'alaihisallam.
Ketika Nabi Musa 'alaihisallam dikejar oleh Fir'au dan bala tentaranya, maka Musa kabur dari Mesir menuju kota Madyan

★ Allah Ta'ala berfirman;

وَلَـمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسۡقُوۡنَ وَوَجَدَ مِنۡ دُوۡنِهِمُ امۡرَاَتَيۡنِ تَذُوۡدٰنِ‌ ۚ قَالَ مَا خَطۡبُكُمَا‌ ؕ قَالَـتَا لَا نَسۡقِىۡ حَتّٰى يُصۡدِرَ الرِّعَآءُ‌ۖ وَاَبُوۡنَا شَيۡخٌ كَبِيۡرٌ

"Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua (perempuan) itu menjawab, "Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya."
[QS. Al-Qasas : 23]

Artinya, Musa membantu kedua wanita tersebut ambil air, dan kemudian Musa pergi dan duduk dibawah pohon dalam kondisi sangat lapar, dan Musa lakukan itu tanpa pamrih.
Itulah kebiasaan orang-orang sholeh para Anbiya, menolong orang lain tanpa pamrih.

Demikianlah, bagaimana kita bisa membantu sesama kaum muslimin atau sesama manusia secara umum tentang adanya program Donor Darah.
Bagi siapa yang mampu hendaknya membantu program tersebut dan semoga menjadi amalah terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Wallahu'alam Bishowab.


📔  SOAL - JAWAB

1️⃣ Apakah ada pandangan khusus dari para ulama terkait tentang donor darah dan bagaimana gambaran keutamaannya agar kami bisa mengambil hikmahnya sebagai motivasi.?
↪️  Jawab :
Wallahu'alam.. yang tadi disampaikan sudah cukup, bahwasanya semakin seorang dalam kebutuhan dan keperluan kalau kita bantu dia maka semakin besar pahala yang kita dapatkan.
Pahala menjadi besar di tinjau dari pribadi kita pelaku amal, dan ditinjau dari yang kita bantu. Dan amal yang berkaitan dengan orang lain itu lebih baik dari pada amal yang berkaitan dengan kemaslahatan sendiri.
Contohnya seperti Ilmu.
◆ Ketika Nabi mengatakan;

فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

"Keutamaan seorang alim dibandingkan ahli ibadah seperti rembulan dibandingkan seluruh bintang."
Rembulan cuma satu, bintang mungkin berjuta-juta. Tapi kata Nabi rembulan lebih baik. Kenapa.. karena rembulan yang memberikan cahaya kepada bumi.
Orang alimpun demikian, mungkin dia ibadahnya kurang, tetapi dia mengajarkan ilmu, memberi bimbingan kepada masyarakat. Dan itu yang dibutuhkan oleh masyarakat, ini boleh dan tidak boleh, ini haram, ini dianjurkan dan tidak dianjurkan. 
Kenapa dia lebih afdhol.. karena manfaat dia berkaitan dengan orang lain.
Banyak hal yang Nabi contohkan, bagaimana Nabi pernah didatangi oleh seorang yang agak terganggu pikirannya, dia bicara dengan Nabi shalallahu'alaihi wasallam.
Maka Nabi sisihkan waktu untuk bicara dengan dia.
Demikian juga Nabi dibawa tangannya oleh jariah, dibawa ada keperluan dan Nabi biarkan dibawa jalan dengan orang tersebut.
Sebagian Ulama mereka sampai membatalkan puasa sunnah mereka demi untuk membantu kaum muslimin.
Kebutuhan darah apalagi yang berkaitan dengan kesehatan, siapa yang ragu bahwasanya kesehatan adalah nikmat yang sangat besar.
◆ Nabi mengatakan;

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Dua nikmat yang orang banyak terpedaya adalah nikmat sehat dan waktu luang."
(HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)
Orang sakit dia kehilangan nikmat yang sangat besar. Ketika kita membantu dia untuk memulihkan kesehatannya dengan menyumbangkan darah kita, maka dia akan merasakan kebahagian yang luar biasa.
Kita gak butuh dia bilang terima kasih, dia mendapatkan kebahagian maka kita otomatis mendapatkan pahala yang besar Insyaa Allah.
Berapa orang mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan kesehatan. Kalau sudah sakit mau keluar uang puluhan juta bahkan milyaran orang akan keluarkan. Karena sehat itu mahal. 
Ternyata kita bisa bantu orang lain untuk dapatkan kesehatannya dengan darah yang dia butuhkan. Bahkan sebagian donor darah dengan sebab itu menyelamatkan nyawa seseorang. Dengan sebab tersebut Allah menyelamatkan nyawanya.
Kalau kita kasih makan orang miskin saja padahanya banyak, apalagi kita bantu darahnya. Darah berkaitan dengan hidup dan matinya. Maka kita menyumbangakan darah tu lebih baik.
Wallahu'alam bishowab.

2️⃣ Bagaimana cara untuk dapat menenangkan keikhlasan dalam membantu orang lain dan bagaimana cara menjawab perkataan berupa pujian-pujian dari seseorang yang kita berikan bantuan.?
↪️  Jawab :
Wallahu'alam.. diantaranya kalau kita ingin ikhlas, kita harus tahu bahwasanya segala amalan kita adalah kaitan kita dengan Allah. 
Allah yang menyuruh kita untuk berbuat baik.
Kata Allah, "berbuat baiklah untuk orang lain."
◇ Makna Ihsan ada dua;
1. Dia beribadah seakan-akan Allah sedang melihat dia, mengawasi dia, menilai dia dan demikianlah yang terjadi.
2. Dia berbuat baik kepada orang lain.
Ketika kita berbuat baik kepada orang lain, kita jangan pikir orang tersebut.
◇ Perkataan para penghuni surga;
"Kami memberi makan karena Allah, kami tidak butuh terima kasih dan balas budi."
Kalau dia terima kasih.. Alhamdulillah, dia balas budi.. Alhamdulillah, kita tidak berharap itu.
Dia mau berterima kasih itu urusannya dengan Allah dan kita punya urusan dengan Allah juga. Urusan kita dengan Allah yaitu Allah sedang melihat saya memberi bantuan kepada orang susah.
Kalau kita sudah kasih ya sudah selesai, yang penting Allah sudah lihat kita melakukannya. Tidak usah mikir apa setelahnya, jangan tunggu apa perkataan mereka kepada kita atau ucapan terima kasih dari mereka. Kalau kita hanya mau melihat bagaimana hasil bantuan kita itu tidak ada masalah.
Itu kita lakukan kepada semua, kita berbuat baik kepada tetangga kita, kita berbuat baik kepada teman kita, bahkan kepada kerabat kita, Jangan berharap terima kasih. Itu untuk melatih kita beribadah kepada Allah bukan karena ingin disanjung atau dihormati oleh orang lain, lakukan semua karena Allah.
◇ Agar kita bisa ikhlas;
1. Ketika kita berbuat baik, muamalah kita dengan Allah;
"Ya Allah engkau sedang melihatku bersedekah, maka sudah saya kerjakan ya Allah, terimalah amal perbuatanku."
Selesai.. itu membuat kita fokus kepada Allah ketika kita sedang berbuat baik, bukan fokus kepada orang itu ekspresinya gimana.
2. Agar kita tidak berharap terima kasih dari orang yang kita bantu, kita rubah cara setting fikiran kita. Kalau kita bantu orang lain, sesungguhnya kita yang diuntungkan bukan dia.
Kalau kita kasih makan orang miskin, keuntungan yang didapat orang miskin hanya dapat makan dan kenyang. Kita dikasih kebahagian oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, ditambahkan rezeki kita, dijauhkan dari marabahaya, derajat kita diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, pada hari kiamat kelak sedekah tersebut akan menjadi naungan kita pada hari kiamat kelak. Banyak sekali keuntungan yang kita dapat, jadi yang lebih beruntung adalah kita.
Dengan demikian kita akan ikhlas, Allah kasih kita banyak pahala dari sedikit apa yang kita lakukan.
Adapun kalau orang memuji kita, cukup kita ungkapkan seperti doa yang diajarkan.
◆ Ketika dipuji;

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

[Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.]
"Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka." 
(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876)
Artinya mereka memuji kita mereka hanya melihat yang baik-baik. Kita masih banyak dosanya dan kekurangannya, masih banyak maksiat yang kita lakukan tatkala kita bersendirian. 
Jangan terpedaya dengan pujian-pujian tersebut, karena itu tidak akan menambah derajat kita disisi Allah kalau ternyata kita rendah disisi Allah.
Wallahu'alam bishowab.

3️⃣ Saya sangat menginginkan pahala sholat fardhu berjamaah dimasjid, tetapi keluarga masih tidak memperbolehkan karena masih Covid, apakah saya tetap dapat pahala berjamaah dimasjid seandainya saya sholat dirumah.? 
↪️  Jawab :
Kita katakan bahwasanya hukum asal jika seseorang terbiasa melakukan amalan kemudian ada udzur yang menghalanginya, maka Allah tetap menilai sebagaimana kebiasaannya.
◆ Ketika Nabi sedang berjihad bersama para sahabat Nabi mengatakan, dalam sebuah Hadits;

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُالْعُذْرُ

"Sesungguhnya beberapa orang di Madinah tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak pula kalian melewati satu lembah kecuali mereka bersama kalian."
(HR. Muslim)
Kok bisa padahal mereka di Madinah, karena kebiasaan mereka seperti itu, hanya saja kali ini mereka tidak bisa ikut karena mereka ada udzur.
Jadi yang dinilai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah kebiasaan seseorang. Kalau dia terbiasa melakukan sesuatu kemudian ada udzur maka tetap argo pahala berjalan sebagaimana kebiasaannya.
◆ Hadits yang lebih jelas Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.”
(HR. Bukhari, no. 2996)
Ketika seseorang sehat dia banyak melakukan kegiatan, ketika sakit, tetap argo pahalanya berjalan sesuai dengan amalan ketika dia sehat, begitupun ketika dia safar. Karena yang jadi patokan bagi Allah adalah kebiasaan yang dia lakukan.
Ini diantara indahnya Islam dan kebaikan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Allah mencatat berdasarkan kebiasaan seseorang.
Kalau seseorang ketika sebelum masa pandemi dia biasa ikut pengajian, biasa hadir sholat berjamaah, biasa bersedekah.. maka dimasa pandemik ini jika dia tidak bisa melakukannya pahalanya akan tetap mengalir sebagaimana kebiasaannya.
Dan sebagian masjid mulai membuka dengan berbagai protokol kesehatan. Kalau memang kita memandang diri kita bisa untuk ke masjid dengan protokol kesehatan, kemudian tidak ada kekhawatiran maka kita hendaknya kemasjid. Tapi kalau ada kekhawatiran dan rasa takut , maka kembali kepada masing-masing orang. Tidak sama kondisi yang satu dengan yang lainnya. Kalau memang kondusif untuk sholat dimasjid maka lakukan, tapi kalau belum kondusif maka tidak mengapa sholat dirumah dan Insyaa Allah mendapatkan pahala sebagaimana biasanya.
Wallahu'alam bishowab.

4️⃣ Terkait dengan sodakoh, Jika memberikan hutangan kepada saudara, tetapi ternyata membuat saudara ini akhirnya sering berhutang dan tidak mandiri, apakah harus terus memberi hutang.?
↪️  Jawab :
Kita membantu dan mendidik, sebagaimana anak kita yang kita sayangi tidak terus kita cekokin uang terus karena kita mendidik dia, kita sayang sama dia. Demikian juga saudara kita, kita bantu dia sambil mendidik. Kalau ternyata kita tahu dia sudah berusaha dan berusaha dan selalu gagal, maka bantu aja terus. Semoga Allah bukan kebaikan dari sisi membantu saudara kita, tapi kita berusaha mendidik.
Kalau kita lihat dia malas-malasan maka kita tahan agar dia rajin. Tapi kalau dia sudah rajin dan maksimal ternyata tetap kekurangan, maka kita bantu saja. Berarti Allah bukakan pintu surga melalui kita bantu kerabat kita. 
Diantara amalan yang mulia adalah membantu kerabat. Bahkan dalam Alquran Allah sebutkan membantu kerabat lebih didahulukan dari pada membantu anak yatim dan faqir miskin, karena membantu kerabat dapat pahala membantu orang susah dan juga menyambung tali silahturahmi. 
Jadi lihat situasi dan kondisi, kalau memang kalau dikasih terus akhirnya menjadi tergantung ya sebaiknya kita tahan, karena kita sayang kepada dia sambil kita motivasi.
Wallahu'alam bishowab.

5️⃣ Bagaimana hukumnya jika bekerja dengan niat untuk membantu bisnis atau klien, tetapi beberapa klien atau customer adalah orang-orang non muslim, saya tahu dalam bisnis saya beberapa ada yang tidak jujur demi mendapatkan sebuah PO, bagaimana saya harus bersikap, saya sudah mengajukan resign tetapi bos saya menahan saya malah bersikap baik sekali dan memberikan tambahan agar tidak resign, apakah saya ikut berdosa.?
(Seperti sogokan agar dapat PO)
↪️  Jawab :
Kalau ditanya haram ya haram, dosa ya dosa. 
Berbuat baik kepada siapapun, kepada muslim dan non muslim sangat dianjurkan.
★ Allah Ta'ala berfirman;

وَيُطۡعِمُوۡنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسۡكِيۡنًا وَّيَتِيۡمًا وَّاَسِيۡرًا

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan."
[QS. Al-Insan : 8]
Jadi berbuat baik kepada siapapun itu adalah hal yang dianjurkan. 
Oleh karenanya bagaimana ketika seorang sahabat menyuruh keluarganya untuk membuat makanan, diberikam kepada tetangganya Yahudi. 
◆ Dia berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda;

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Senantiasa malaikat Jibrīl ‘alayihissalām berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku menyangka malaikat Jibrīl akan menuliskan atau menetapkan warisan bagi tetangga.”
(HR. Bukhari no. 6.014 dan Muslim no. 2.624)
Dan tetangga disini umum, diantaranya tetangga non muslim. Makanya sahabat tersebut menyuruh tetangganya bikin makanan yang enak untuk dia berikan kepada tetangganya yang Yahudi.
Nabi shalallahu'alaihi wasallam pernah punya pembantu, ketika dia sakit Nabi datang menjenguknya dan Nabi mendakwahinya dan akhirnya dia masuk Islam.
Intinya berbuat baik kepada siapapun dalam Islam dituntut untuk berakhlak mulia. Baik sesama muslim demikian juga kepada non muslim. 
Adapun berkaitan dengan masalah sogok-menyogok maka masing-masing ada hisabnya diakhirat kelak, yang dosa tetap dosa, yang baik tetap baik.
Wallahu'alam bishowab.


📔  PENCATAT :
~ Tim Kajian Online Masjid Astra ~