Gaji Untuk Mama dan Papa

Dwi Dara Septi Putriani • 9 Mei 2021

Gaji Untuk Mama dan Papa

 

Aku Ara, umurku 11 tahun, Mamaku seorang wanita karier dan Papaku menjalankan bisnis ekspor impor peninggalan kakekku. Hari-hariku ditemani Mbak Tina yang merawatku dari kecil di rumah mewah lantai dua kami, ada Pak Tino yang selalu mengantarku kemana saja asal dapat izin dari Papa. Di rumah juga ada Mbok Ike dan Bude Anti yang selalu menyiapkan makanan dan membersihkan rumah serta taman. Aku sekolah di sekolah alam, yang biayanya jutaan. Papa dan Mamaku menyediakan apapun yang aku butuhkan, apalagi kebutuhan sekolah. Bulan lalu aku ingin jalan-jalan ke Tokyo, Papa langsung membelikan tiket pesawat untukku dan Mbak Tina. Papa dan Mama belum bisa ikut karena banyak kerjaan. Mbak Tina sudah lancar berbicara Bahasa Inggris, Papa memang memanggil guru privat untuk Mbak Tina katanya supaya Mbak Tina lebih mudah mendampingiku jika sedang ke luar negeri. Mbak Tina juga yang memegang uang jatah harian, mingguan, dan bulananku untuk belanja keperluanku atau hanya sekedar jajanku.

Aku, Mama, dan Papa jarang duduk sarapan bersama, biasanya tiga kali dalam sebulan saat hari Minggu, lalu Papa dan Mama kembali bekerja. Sarapan saja jarang, apalagi makan malam. Mungkin yang kuingat dua kali dalam setahun. Fasilitas di rumah dilengkapi Papa, supaya aku tidak bosan katanya. Mulai ruang musik, taman, alat melukis, alat olah raga, dan lainnya. Aku juga dipanggilkan guru les Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, les matematika.

“Ma, besok bisa kita makan di luar sama Papa?”

“Tidak bisa Sayang, Mama ada meeting sama rekan kerja Mama dan sepertinya pulangnya malam.”

“Mama lupa ya besok ulangtahunku?”

“Ohh… jelas tidak Sayang. Ara pilih saja resto yang Ara suka lalu Ara undang teman dekat Ara ke sana ya Sayang. Nanti ditemani Mbak Tina dan Pak Tino.” Papa dan Mama punya sopir pribadi, jadi Pak Tino selalu siap sedia mengantarku kemana saja.

“Mbok, Mama Papa di mana ya?” Tanyaku ke Mbok Ike yang sedang mencuci piring.

“Tadi subuh sudah pergi Neng, Ibu ke Jakarta Bapak Ke Singapura.”

Aahh….. Hari Minggu dan hari ulang tahunku sarapan saja tak bisa bersama pikirku. Siangnya aku diantar Mbak Tina dan Pak Tino ke restauran sushi pilihanku, di sana sudah di persiapkan semua, mulai dari dekor, kue ulang tahun, hampers untuk teman-temanku. Hari ulang tahunku terasa begitu biasa meski dirayakan, tak ada Papa dan Mama menemani hari bahagiaku.

Dua bulan berlalu, belum ada yang berubah. Sampai bulan lalu aku begitu sedih karena Mama Papa tidak bisa mengambil rapor kenaikan kelasku. Mama Papa tidak pernah menuntut aku harus juara, tapi aku selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk membuat Mama Papa bangga. Bu Putri padahal ingin menyampaikan prestasi-prestasiku di sekolah. Olimpiade matematika, juara dua melukis, dan banyak lagi prestasi yang lain. Sayangnya Mbak Tina yang mengambil raporku.

“Ma, berapakah gaji Mama dan Papa dalam sehari?”

“Mama menerima uang mingguan atau bulanan Sayang, bukan harian.”

“Iya Ara tahu Ma, kalau dihitung sehari gaji Mama berapa?”

“Hmmm satu hari ya, kira-kira tiga juta sampai lima belas juta Ara.”

Aku menanyakan gaji Mama dan Papa di sela makan sarapan hari Minggu kami, Mama juga sempat menanyakan tentang sekolahku juga kebutuhan sekolahku.

“Sayang, tadi Papa cek keuangan di Mbak Tina, kok masih banyak? Dipakai saja ya Sayang kalo kamu mau beli sesuatu.” Kata Papa kepadaku.

“Iya Pa, belum ada yang mau Ara beli kok.”

Satu bulan berlalu, aku menunggu Papa dan Mama pulang malam ini. Ada yang ingin aku sampaikan. Sudah jam 01.00 dini hari, belum ada suara mobil masuk garasi rumah. Sampai aku ketiduran di sofa ruang tamu. Aku dikejutkan oleh suara Papa dan Mama.

“Ara sayang, bangun Sayang. Kenapa tidur di sini?”

“Mama dan Papa sudah pulang”.

“Iya, Ara tunggu Mama dan Papa. Ini uang Ara untuk Papa dan Mama. Ada lima ratus ribu, hasil Ara jual lukisan.”

“Untuk apa Ara? Mama dan Papa ada uang kok.”

“Mama bilang gaji Mama sehari sekitar tiga juta sampai lima belas juta. Kalau dalam sehari gaji Mama tiga juta artinya satu jam Mama dibayar 125.000 kan? Ara jual lukisan dapat lima ratus ribu, ini berarti sama seperti gaji mama selama empat jam kan? Bisa besok Mama dan Papa di rumah empat jam dan Ara ganti dengan uang lima ratus ribu ini? Ara ingin merayakan ulang tahun Mama besok, bersama dengan Papa juga. Empat jam saja.”

Mama dan Papa tidak menjawab, tapi menitihkan air mata. Mama dan Papa meminta maaf kepadaku. Setelah hari itu Papa dan Mama selalu meluangkan dua hari dalam seminggu untukku. Sabtu dan Minggu mereka meluangkan untuk jalan-jalan bersamaku, makan di luar, masak bersama, liburan, dan banyak hal yang kami lakukan. Papa dan Mama selalu datang ke kamarku setiap pulang kerja meski hari sudah larut malam dan aku sudah tidur.

 

Dwi Dara Septi Putriani

PT Letawa, Astra Agro Lestari

 

 

 

Perusahaan Grup Astra
Astra Agro Lestari
Wilayah Grup Astra
Palu (Sulawesi Tengah)