Belajar Peduli

Nama Penulis: 
Andika Dwi Saputra
Perusahaan: 
Pamapersada Nusantara
Naskah Cerpen: 

Semburat Mentari pagi terlihat telah menembus di sela-sela tanaman depan rumah yang masih basah akan embun malam. Suara ayam berkokok pun dengan tegas terdengar seolah ingin mendobrak setiap manusia untuk segera memulai aktifitas paginya.

Mulai kupakai Safety Shoes, helm proyek dan tentunya masker yang sekarang menjadi alat pelindung diri wajib yg harus setiap hari digunakan pada masa pandemi virus corona ini. Kebiasaan baru pula kala menaiki bus karyawan harus berjarak dan ditata lebih longgar. Kala masuk pada gerbang tambang, kami pun harus diperiksa satu per satu suhu badan. Semua usaha dilakukan supaya bisa menghilangkan resiko terpapar virus covid-19 ini.

Hari demi hari dilalui dengan sabar dan penuh ikhtiar, hingga sampai tiba datangnya bulan ramadhan. Rutinitas Pagi di hari pertama ramadhan kali ini tak ubahnya seperti hari hari kemarin. Hari pertama puasaku kali ini saya jalani dengan penuh semangat karena menu sahur tadi malam begitu spesial. Nasi Putih hangat dengan Lauk Cumi Asam Manis, Selada segar, Sayur Bayam, Salad Buah dan ditutup dengan susu hangat. Masha Allah Kenikmatan kala sahur itu mendorong keriangan ini hingga ke suasana kerja. Semua ku kerjakan dengan riang, santai dan semua terasa nyaman meski sebenarnya pekerjaan itu bukan pekerjaan yang ringan bagi orang yang sedang berpuasa.

Akan tetapi, salah seorang partner kerja saya terlihat lesu, lemah dan seperti tak mampu melanjutkan aktifitasnya yang masih menumpuk itu. Tak tampak gairahnya saat bekerja dan terlihat beberapa terus membasahi muka dan kepalanya.

Saya mulai penasaran, apakah dia sedang sakit dan memaksakan puasanya ataukah dia lagi kesulitan mengerjakan pekerjaannya. Atau bahkan dia sedang menahan rindu yang sangat kepada keluarga karena yang harusnya dia harus balik cuti ke kampung harus ditahan sementara. Hmmmm....rasa penasaran ini terus menyeruak hingga akhirnya saya pun menghampirinya dan bertanya tentang keadaanya sekarang.

"Dwi...kamu kenapa,kok kayaknya lemes lunglai gitu kerjanya. Ga seperti biasanya?"Tanyaku kepada dia.

"Tidak papa dik,aq cuma ga sahur aja tadi malam. Aman saja, semua tetap ku kerjakan sesuai rencana kok" jawab Dwi yang masih terus mengerjakan pekerjaannya.

"Owh oke deh kalau seperti itu, Aman ya..Selamat bekerja dan tetap semangat" Pungkas obrolanku dengan dwi, salah satu karyawan baru di salah satu labour supply tempat saya bekerja.

Hari berlalu bahkan selama setelah 3 hari percakapanku kala itu, sepertinya gairah kerjanya belum tampak muncul seperti biasanya.

Ku coba mendekatinya lagi, berusaha berbicara secara personal. Siapa tahu ada hal yang disembunyikan yang kita tak tahu. Hingga dalam pertengahan obrolan kami, Dwi bercerita bahwa istrinya terkena lockdown dikampung halaman karena kemarin sempat menjenguk orangtuanya. Jadi, Dwi pun hanya sendiri dikontrakannya, semua dia lakukan sendiri. Bahkan beberapa hari ini dia sering tidak sahur karena telat bangun dan jikalau bisa sahur hanya makan mie instan saja.

Sepanjang obrolan ini saya lebih banyak diam, antara merasa bersalah atau merasa perlu banyak introspeksi akan rasa empati terhadap sesama. Bagaimana tidak, Dwi adalah tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Tentu ini tamparan keras bagi saya sebagai tetangga, kerabat kerja,bahkan saudara perantauan.Harusnya bisa lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Setelah selesai kerja dan pulang kerumah, saya pun bergegas meminta bantuan istri untuk membungkuskan menu untuk buka sobat saya,Dwi. Meski ala kadarnya setidaknya ini adalah bentuk kepedulian kami terhadapnya.

Dan beruntungnya saya memiliki istri yang luar biasa. Dari pengalaman tersebut, sekarang si istri lebih rajin memasak untuk bisa dibagikan ke tetangga, termasuk dwi.

Satu momen, Istri saya tidak belanja lebih seperti sebelumnya. Dia kebingungan karena rasa berbagi dengan orang lain sepertinya sudah mulai melekat pada pribadinya. Hingga akhirnya saya pun menyarankan untuk tidak perlu memberi orang lain dulu, toh kita juga ga berlebihan kondisinya. Kecuali kalau kita kelebihan, itu harus berbagi dengan orang lain.

Mendengar nasehat saya tersebut,sepertinya istriku belum puas. Bahkan dia menyanggah bahwasanya, bukankah kalau berbagi itu tak perlu menunggu kita berlebih dulu. Apalagi jika kita memasak makanan. Seperti kata Rasulullah, kita kan bisa menambahkan kuah lebih banyak supaya bisa tetap berbagi.

Mendengar jawaban itu, rasanya terharu dan bangga memiliki istri yang baik. Sehingga saya pun sebagai Imamnya harus bisa terus memperbaiki diri. Berawal dari niat untuk memberikan kebermanfaatan untuk orang lain, ternyata mampu membentuk karakter sholeh dilingkungan keluarga.

Semoga kita senantiasa bisa memberikan kebermanfaatan diri dan keluarga kita untuk orang lain tanpa menunggu kita dalam kondisi yang berlebih sekalipun. Karena semua berawal dari niat dalam hati yang selanjutnya digerakkan oleh iman hingga bermanfaat untuk sesama.

Allah lah yang akan membalas semuanya.

Lomba Cerpen

No. Judul Cerpen Nama Penulis Perusahaan
1 Makkah, I'm coming Zain Udin AS Astra Daihatsu Motor
2 Mengetuk Pintu Langit daitoryoo_95 Astra Daihatsu Motor
3 Gerakan 1000 Masjid Fadlu Rohman Astra Daihatsu Motor
4 Birrul Walidain i_sur Astra Daihatsu Motor
5 Dermawannya Rosulullah SAW Ahmad Rosyidi Chuhatsu Indonesia
6 Hikmah Kisah Nabi Allah Yusuf AS Jajat Supriatna Astra Daihatsu Motor
7 BUKAN ORANG BAIK Part 1. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
8 BUKAN ORANG BAIK Part 2. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
9 BUKAN ORANG BAIK Part 3. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
10 BUKAN ORANG BAIK Part 4. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
11 Rezeki Terbaik dari Ar-Razzaq @putripramudyo Astra Daihatsu Motor
12 Allah pasti beri jalan terbaik Part 1 Dani Herdiana Astra Daihatsu Motor
13 Allah pasti beri jalan terbaik Part 2 Dani Herdiana Astra Daihatsu Motor
14 Allah pasti beri jalan terbaik Part 3 Dani Herdiana Astra Daihatsu Motor
15 Allah pasti beri jalan terbaik Part 4 (End) Dani Herdiana Astra Daihatsu Motor
16 Kacang dan Kulitnya - Part 1 armelyadhika Astra Daihatsu Motor
17 Kacang dan Kulitnya - Part 2 armelyadhika Astra Daihatsu Motor
18 Kacang dan Kulitnya - Part 3 (END) armelyadhika Astra Daihatsu Motor
19 Manfaat Tak Terbatas Tempat - Part 1 Dini Kurnia Wardhani Astra Agro Lestari
20 Manfaat Tak Terbatas Tempat - Part 2 (End) Dini Kurnia Wardhani Astra Agro Lestari
21 Broker Hidayah Dini Kurnia Wardhani Astra Agro Lestari
22 BUKAN ORANG BAIK Part 5. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
23 BUKAN ORANG BAIK Part 6. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
24 BUKAN ORANG BAIK Part 7. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
25 BUKAN ORANG BAIK Part 8. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
26 BUKAN ORANG BAIK Part 9 END. Yudha Prawira Gatra Putra United Tractors
27 Belajar Peduli Andika Dwi Saputra Pamapersada Nusantara
28 Ustadz Ku Motivasi Hidup Ku USTUKRI Astra Graphia
29 Dunia Di Balik Helm - Part 1 Soni Guandis TOYOTA
30 Dunia Di Balik Helm - Part 2 Soni Guandis TOYOTA
31 Inovasi, Motivator Muljono AUTO 2000
32 Bermanfaat Meski Tanpa Materi Andika Dwi Saputra Pamapersada Nusantara
33 Samurai Paling Tajam Di Dunia Soni Gunadis TOYOTA
34 BERSYUKUR ATAS NIKMAT ALLAH Jajat Supritana Astra Daihatsu Motor
35 Pejuang Sodaqoh Fadlu Rohman Astra Daihatsu Motor
36 MUSLIMAH IN ACTION Devi Feriyanjani Astra Agro Lestari
37 [Bukan] Jumpa Yang Terpaksa Soni Gunadis TOYOTA
38 HABLUM MINALLAH HABLUM MINANNAS Brian Edwin Astra Daihatsu Motor
39 HABLUM MINALLAH HABLUM MINANNAS Brian Edwin Astra Daihatsu Motor
40 HABLUM MINALLAH HABLUM MINANNAS Brian Edwin Astra Daihatsu Motor
41 Ketika Hidayah Menyapa Basyiruddin Asyrof Astra Daihatsu Motor
42 RAMADHAN HENING Devi Feriyanjani Astra Agro Lestari
43 MENGGAPAI ASA Devi Feriyanjani Astra Agro Lestari
44 Aku Anak Sawit Gede Ardiantara, S.Pd. Gr. Astra Agro Lestari
45 DETAK REKAM JEJAK Dita Ramadhani Astra Daihatsu Motor

Cerpen Nominasi

Belum ada cerpen yang masuk dalam tahap nominasi.

Bermuamalah di Amaliah