Habib Ahmad Al Kaff, DR., MA., Phd.

Habib Ahmad adalah putra pasangan Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaff dan Syarifah Gamar binti Agil Al-Attas. Ia terkenal piawai mem­bangkitkan gairah cinta seseorang kepada sang Khalik, juga kepada utusan­nya, Ra­sulullah SAW. Saat memimpin doa, suaranya lembut penuh ha­rap, membuat banyak hati tera­sa disedot oleh kekuatan dahsyat ke da­lam sebuah lingkaran yang berputar ce­pat. Suasana khidmat namun hangat pun menyeruak, menyelimuti perasaan ja­ma’ah.

Dalam mengajar, Habib Ahmad selalu menyampaikan ilmu-ilmu agama dengan jelas dan terang. Tak bosan rasanya ber­lama-lama mendengarnya berbicara. Se­lalu saja ada hal-hal baru atau pun yang sempat tidak terpikirkan oleh jama’ah di­sampaikannya.

Habib Ahmad juga merupakan salah satu di antara dua belas bersaudara yang menjadi ulama terkenal. Saudaranya yang lain yang menjadi ulama, antara lain, Habib Thohir Al-Kaf, mubaligh kondang di Tegal, Habib Hamid Al-Kaf, pengasuh Pesantren Al-Haramain Asy-Syarifain Pon­dok Rangon, Cipayung, Jakarta Ti­mur, dan Habib Ali, pengasuh Pesantren Riyadlul Jannah, Gg. Bulu, Condet, Ja­karta Selatan.

Sejak kecil ia digembleng dengan ilmu agama oleh ayahandanya yang juga seorang ulama yang dikenal oleh para ulama lainnya. Bukan hanya di Indonesia, di Hadhramaut nama sang ayah juga cukup dikenal.

Habib Ahmad menyelesaikan pendi­dik­an dasar di SDI Al-Khairiyah Tegal, dan mulai 1982 bersekolah menengah di Mesir. Dilanjutkan ke Jurusan Sastra dan Bahasa Al-Quran di Universitas Al-Azhar untuk S-1, dan S-2 dengan jurusan yang sama di Universitas Yordania. Sedang untuk S-3 ditempuh lagi di Jurusan Tafsir Al-Quran Universitas Al-Azhar Mesir, dan lulus tahun 2000 dengan disertasi Pengertian Umat di Dalam Al-Qur’an. Ketika pulang ke Indonesia, ia langsung diangkat menjadi dosen Universitas Islam Negeri Jakarta.

Ia juga menimba ilmu pada Prof. DR. Say­yid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani. Atas restu gurunya itulah, pada 2003 ia mendirikan Pesantren Hikmatun Nuur di rumahnya, yang terletak di Jln. Olahraga I No. 11 RT 15 RW 05 Condet, Jakarta Ti­mur, yang diperuntukkan bagi anak yatim dan fakir miskin. Di rumah itu juga diadakan majelis ta’lim pada hari Sabtu ba’da subuh untuk para santri, dan hari Minggu sore untuk umum.

Selain aktif dalam komunitas habaib, Ha­bib Ahmad juga menjadi anggota De­wan Syariah Majelis Azzikra, pimpinan Ustadz M. Arifin Ilham, dan salah seorang Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Kini, hampir setiap hari, Habib Ahmad sibuk berceramah di berbagai wilayah Jabo­tabek, bahkan hingga ke negeri jiran, Malaysia, memenuhi permintaan jamaah untuk mengajar dan berdakwah.

Agar jamaah pengetahuannya ten­tang sebuah masalah atau hukum leng­kap, tidak sepotong-sepotong, tak jarang di setiap taklimnya ia mempersilakan me­reka untuk bertanya. Bahkan, ia senan­tiasa terbuka bagi umat yang ingin men­curahkan hati atau berkonsultasi menge­nai berbagai permasalahan. Katanya, itu adalah perwujudan cintanya kepada umat. Dan cintanya itu merupakan im­plikasi dari pengabdiannya kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.

Tak mengherankan bila Habib Ahmad begitu dicintai oleh murid-muridnya, yang ti­dak hanya dari kalangan awam. Tapi juga pebisnis, pelajar, mualaf, habaib, bah­kan ia juga guru bagi sejumlah da’i kon­dang seperti Ustadz Jefri Bukhari, Ustadz Arifin Ilham, dan Opick.



Arsip Kajian