Hikmah di Setiap Kejadian

Ada hikmah disetiap kejadian. Ya, mungkin kalimat itu yang terngiang-ngiang dalam kepalaku.
Ceritanya begini gan, rencana rihlah kita dulu sebenarnya ke bontang bukan ke Sekerat. Karena Ustad Hamim baru pulang dari Balikpapan jadi kita batalkan dan diganti off kerja kedepannya. Kecewa sih sebenarnya, karena ini calon rihlah pertama saya. Maklum, anggota baru hehe. Siangnya kajian off tetap berjalan seperti biasa. Jadi kita disini punya kajian off gan, off ke 2 ada tafsir dan yg ke 3 ada bahasa arab, keren kan? Hehe. Sambil kajian kita bahas rencana rihlah kita, dan Ustad Hamim punya ide rihlah nya di ganti ke pantai sekerat. Kali ini lebih matang persiapannya, kita bentuk panitia dan apa saja yang dibutuhkan.
Langsung ke hari H gan, kita berangkat dari sangatta pukul 15.00. Jalan aspalnya cuma sampai arah bengalon, setelah itu masuk ke Rawa Indah yang jalannya askoreanan. Di sini petualangan sebenarnya baru di mulai, dari jalan yang cukup menantang, menyebrang sungai dengan ponton, dan jalan kebun sawit yang penuh dengan teka teki. Sebelum menyebrang sungai, ada sebuah masjid. Kita singgah di situ sebentar untuk sholat asar. Dari sana ada pelajaran yg bisa kami ambil, bahwa kita harus hemat dalam menggunakan air bersih. Sulit untuk mendapat air bersih di sana, bahkan di bawah talang masjid di kasih ember untuk menampung air hujan.
Perjalanan berlanjut dengan menyebrang sungai dengan ponton. Setelah itu masuk ke kawasan kebun sawit. Ada cerita menarik saat melewati area tersebut, kami beberapa kali harus tersesat dan tanya orang. Gimana tidak tersesat, jalannya itu simpang empat semua, dan kelihatan sama semua. Seru dah pokoknya, hehe.
Setelah perjuangan ekstra berpadu dengan kesabaran, akhirnya kita keluar dari kawasan kebun sawit. Perjalan berlanjut beriringan hutan dan sesekali rumah penduduk. Lega rasanya saat ada petunjuk ke arah desa Sekerat, wiih sebentar lagi gan. Sekitar setengah jam kami sampai. Di lokasi ada teman ustad Hamim, namanya beliau Ustad Naim, sekalian dah silaturahmi. Setelah itu kami minta izin untuk main ke pantai sebentar untuk refresh pikiran. “Kami adalah sekelompok manusia tambang yang butuh vitamin SEA”, mungkin itu kalimat yang pas, hehe.
Adzan berkumandang, dengan segera kami menuju masjid. Setelah sholat magrib, ada salah satu warga sekitar yang punya hajat. Ustad Naim mengajak kami kesana, awalnya menolak, tapi untuk menghormati berangkatlah kami. Janji Allah terbukti disini, dengan memperbanyak silaturahmi rezeki akan di mudahkan. Semoga kita semua diringankan langkah kakinya untuk bersilahturahmi, amiiin.
Ba'da sholat isya, kami membaca surat Fatir dengan bergantian. Dan di lanjutkan tafsir oleh Ustad Hamim pada ayat ke 6-10. Setelah kajian kami bergegas ke pantai, kali ini untuk bakar bakar ayam. Ini acara yang di tunggu-tunggu,hehe. Tidak sulit di pantai ini untuk mencari kayu, banyak batok kelapa yang tersebar di sekitaran pantai. Setelah bakaran, kami lanjutkan dengan curhat dan pertanyaan ke Ustad Hamim tentang masalah-masalah kehidupan.
Jam 11 malam kami pindah ke masjid, untuk tidur dan persiapan Qiyamul Lail. Enggak semua yang balik ke masjid, saya dan empat teman lain memilih untuk tinggal. Belum puas rasanya, di sana saya merasakan kenyamanan baru. Tidur di atas pantai, beratapan langit yang berlukis bulan dan bintang yang benderang. Sungguh pengalaman tak terlupakan. Kami pun tertidur sampai kucing yang bertengkar membangunkan. Kali ini udara dingin menusuk ke tulang, bergegaslah kami berlima menuju masjid.
Alarm yang distel sebelumnya membagunkan kami perlahan-lahan untuk Qiyamul Lail, walau saya agak telat hehe. Ba'da subuh di isi tausiah sebentar oleh Ustad Hamim. “Yang mengingatkan kita bahwa keindahan alam yang kita lihat, jangan sampai membuat kita lupa bahwa sebenarnya Allah lah yang menciptakan itu semua, sungguh semua pujian untukNya semata.”
Acara pagi ini diawali dengan stretching yang di pimpin mas Riko. Dan dilanjuktkan lari menyusuri pantai, berlanjut terjun ke laut untuk renang atau sekedar main air. Tak terkira ada penghuni laut yang menggelikan di laut sekerat. Ada ubur-ubur gan, seumur hidup baru kali ini saya melihatnya, dan mungkin yang lain juga begitu. Kata salah satu teman, nutrijell hidup, haha. Memang ada spesies ubur-ubur yg berbahaya gan, yang muncul sekarang ini adalah ubur-ubur jamur. Kata warga sekitar dulu pernah ada korban yg terkena sengatan ubur-ubur. Jadi hati-hati gan kalau main kesini, tanya warga sekitar apakah muncul ubur-ubur yang bahaya tadi apa tidak, katanya sih munculnya musiman, bulan apa gitu saya kurang paham.
Lanjut ke cerita, setelah puas main air kami lanjut untuk main bola. Terbentuk 2 tim, tim operator dan tim mekanik. Saya tergabung di tim mekanik, pas nih dengan nilai inti Pama yg pertama “Tim yang Sinergis”. Baru sadar yah kalo main bola di pantai butuh tenaga berkali lipat di banding di lapangan biasa. Tapi itu yang bikin seru, banyak kejadian lucu, dan yang pasti lupa akan beban dan masalah hidup.
Setelah puas main bola, yang pas capek sih sebenarnya hehe. Kami pun langsung terjun ke air, acara selanjutnya bebas. Sampai pak Nur Kholis bawa ikan kakap merah yg gede. Wiihh bakar bakar lagi gan hehe. Eiits, perkenalkan dulu pak Nur Kholis ini dari Baznas Kutim. Jadi beliau ikut dengan rombongan kami ke Sekerat. Lanjut, ada yang membersihkan ikan, buat bara api dan menyiapkan kebutuhan lain. Tim yang sinergis lagi ini ceritanya. Tara,, siap untuk santap bersama. Ada yang unik nie dari cara makan bersama kami. Jadi ada dua nampan, lalu dikasih nasi yang banyak dan lauknya. Lalu makanlah dengan kebersamaan dengan satu nampan. Rasanya tuh berkali lipat lebih enak dan insya’ Allah lebih berkah. Pengalaman baru lagi nih gan, di coba yaa??hehe.
Setelah makanan habis, kami bersih-bersih perabotan dan badan di sungai. Kejutan lagi nih gan, baru kali ini selama 3 tahun di kalimantan saya menemukan sungai yang airnya jernih, jernih sekali malah, dingin lagi. Yang lain juga begitu ternyata. Lengkap dah bahagia hari ini, hehe.
Setelah sholat dzuhur kami istirahat sebentar, dan sekitar pukul 14.00 kami berpamitan pada ustad Naim untuk pulang. Perjalan pulang di iringi rahmat dari Allah berupa hujan. Sungguh perjalanan yang insya’ Allah penuh dengan pelajaran yg bisa di ambil.
Sekian cerita saya dari Sekerat.
Pesan moral:
1. Selalu berprasangka baik kepada Allah.
2. Lebih bijaklah dalam menggunakan air, banyak sodara kita di tempat lain yang kesulitan air bersih.
3. Malu bertanya sesat dijalan, dan sabar itu indah.
4. Silaturahmi melancarkan rezeki.
5. Tidur di pantai beratapan langit yang berlukiskan bulan dan bintang itu sungguh luar biasa.
6. Keindahan alam yang kita lihat, jangan sampai membuat kita lupa bahwa sebenarnya Allah lah yang menciptakan itu semua, sungguh semua pujian untukNya semata.
7. Makan bersama satu nampan itu berkali lipat lebih enak dan insya’ Allah lebih berkah.
8. Kita terlalu kecil dibanding alam ini, banyak hal-hal yang masih tersembunyi di alam ini yang belum kita tahu

April 2016
Aris Stiyawan


Agenda Terdekat

Rabu, 19 Des - 16.30 | Lain-lain
Tahsin Al Qur'an Bersanad Masjid Al Haqqul Mubiin Karawang PT Astra Honda Motor

Berita Terkait